Di sekolah, semua orang mengenal Aurora Kayanza sebagai gadis yang selalu mengejar uang. Baginya, uang bisa menyelesaikan banyak hal, bahkan menjadi alasan untuk menerima tantangan paling nekat sekalipun. Demi imbalan yang menggiurkan dari teman-temannya, Aurora setuju melakukan satu hal yang dianggap mustahil—mendekati cowok paling dingin dan sulit disentuh di sekolah mereka.
Namun semuanya berubah ketika Aurora tiba-tiba menemui Gama di rooftop sekolah dan tanpa ragu mengajaknya berpacaran.
Ajakan yang awalnya hanya dianggap permainan dan tantangan perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit. Di balik sikap dingin Gama, tersimpan luka dan rahasia yang tidak diketahui siapa pun. Sedangkan Aurora mulai terjebak di antara uang, rasa bersalah, dan perasaan yang tumbuh tanpa ia sadari.
Hubungan yang dimulai karena kepentingan itu perlahan mengubah hidup mereka berdua, membawa Aurora dan Gama pada kisah penuh rahasia, konflik sekolah, perasaan yang tak pernah mereka rencanakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xylona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAGIAN 22.
Malam akhirnya datang. Mereka sampai di pasar malam tepat saat suasananya sedang ramai dan penuh cahaya. Lampu warna-warni menggantung di sepanjang jalan, bercampur dengan suara musik, tawa orang-orang, dan teriakan dari area permainan yang nggak ada habisnya.
Aroma jajanan langsung terasa begitu mereka masuk ke dalam. Bau jagung bakar, sosis, sampai manisan yang dijual di pinggir jalan bikin suasana malam terasa makin hangat.
Gama berjalan sambil memasukkan kedua tangan ke saku hoodie-nya, sesekali menoleh ke belakang melihat teman-temannya yang mulai terpencar sendiri karena sibuk melihat stand permainan. Aurora berjalan di dekatnya, diam seperti biasa, tapi wajahnya terlihat lebih tenang dibanding sebelumnya.
Suasana di antara mereka perlahan tidak seaneh tadi. Keramaian pasar malam seolah membuat semuanya terasa lebih ringan. Untuk malam ini, mereka cuma ingin menikmati waktu bersama tanpa memikirkan hal lain.
"Lo mau naik itu?." Tanya Gama memecah keheningan menunjuk ke arah kora kora.
Aurora mengikuti arah pandang Gama menuju ke kora kora, Aurora yang tidak pernah naik kora kora. Setiap teman temannya mengajak Aurora naik kora kora selalu di tolak, entah kenapa sekarang Aurora ingin menaikinya bersama Gama memang sudah gila dirinya pikir Aurora.
Gama akhirnya membawa mereka menuju stan kora kora mengantri untuk mendapatkan tiket, setelah mereka mendapatkan tiketnya mereka menunggu sambil melihat pengunjung lain yang sedang naik kora kora. Berbagai teriakan pun terdengar bahkan ada yang sampai menangis, Aurora meremas kedua jari tangannya agak khawatir untuk menaiki kora kora nyali yang awalnya berani seketika langsung ciut.
Gama yang sadar ekspresi Aurora yang tegang entah kenapa malah jadi lucu mengulum senyum yang ingin terbit di bibirnya, Gama menepuk pelan bahu Aurora menyadarkan Aurora dari ketegangan di wajahnya.
"Kenapa? takut?." Tanya Gama.
Aurora yang gengsi mengatakan yang sebenarnya." Enggak."
Gama terkekeh pelan." Yang bener."
Aurora mendelik menyadari Gama tengah mengejek dirinya, mencebikkan bibir kesal Aurora tidak mau di anggap penakut oleh Gama.
Akhirnya giliran Aurora dan Gama tiba untuk naik kora-kora. Dari bawah saja wahana itu sudah terlihat menyeramkan bagi Aurora, apalagi setiap kali ayunannya bergerak tinggi, suara teriakan orang-orang langsung terdengar memenuhi udara malam.
Aurora berdiri kaku di samping pagar pembatas sambil menatap wahana itu tanpa berkedip. Tangannya bahkan mulai dingin sendiri karena gugup. Berbeda jauh dengan Gama yang terlihat biasa saja, malah tampak santai sambil memperhatikan ekspresi panik Aurora dari samping.
"Masih bisa batal, kalau mau," ucap Gama dengan nada santai yang jelas terdengar seperti godaan.
Aurora langsung menoleh kesal, walau wajahnya masih terlihat tegang. Ia akhirnya tetap naik setelah petugas mempersilakan mereka duduk. Begitu sabuk pengaman dipasang, Aurora langsung mencengkeram besi pengamannya kuat-kuat sampai jemarinya memutih.
Sementara di sebelahnya, Gama justru menahan senyum melihat Aurora yang sejak tadi terus melihat ke bawah dengan wajah waspada. Semakin kora-kora mulai bergerak dan ayunannya makin tinggi, Aurora makin panik sendiri sampai tanpa sadar menarik lengan hoodie Gama.
Dan hal itu malah bikin Gama makin terhibur. Jarang-jarang ia melihat Aurora setegang ini hanya karena sebuah wahana pasar malam.
Gama membiarkan Aurora memegang lengan hoodienya sebenarnya Gama rasa wahana ini tidak terlalu menakutkan, tapi Gama menikmati ekpresi Aurora yang tegang dengan mata tertutup karna takut dan teriakkan tertahan dari Aurora.
"Kalau mau teriak, teriak aja." Goda Gama.
Aurora mendongak memandang Gama kesal Aurora memukul lengan Gama agak kencang.
"Aduh." Sebenarnya Gama tidak merasa sakit atas pukulan Aurora, hanya saja Gama ingin menggoda Aurora.
Aurora mendelik kesal melihat respon Gama yang semakin mengejeknya, ia melepaskan tangannya yang awalnya di lengan Gama sebagai tameng. Sedang marah ceritanya.
"Kenapa di lepas?." Tanya Gama.
Aurora tidak menjawab memalingkan wajahnya ke samping asal jangan ke arah Gama.
Gama menahan senyum melihat Aurora yang sedang ngambek kepadanya.
"Marah?." Tanya Gama suaranya yang dalam dan agak serak berbisik tepat di samping telinga Aurora.
Aurora mendengar bisikan Gama suaranya yang serak dan dalam membuat badannya seketika meremang, ia bergidik geli menghindari tatapan Gama yang menatapnya intens.
Akhirnya wahana kora-kora berhenti juga. Aurora langsung menarik napas lega begitu kakinya menginjak tanah lagi. Wajahnya masih tegang, bahkan langkahnya sedikit goyah setelah turun dari kursi wahana.
Di sampingnya, Gama malah kelihatan santai banget. Cowok itu beberapa kali menahan senyum melihat Aurora yang sejak tadi diam sambil berusaha mengembalikan napasnya jadi normal.
Angin malam membuat rambut Aurora sedikit berantakan. Ia buru-buru merapikannya sambil menghindari tatapan Gama yang jelas sedang menahan tawa.
"Kalau mau ketawa, ketawa aja." Sindir Aurora kesal.
Gama semakin tidak bisa menahan tawa ia akhirnya tertawa kecil, Aurora mempercepat langkahnya enggan bersama dengan Gama. Gama menyadari langkah Aurora cepat buru buru mensejajarkan langkahnya.
Setelah menemukan teman temannya yang lain mereka sedang duduk sambil tangannya ada berbagai makanan, Aurora duduk di samping Zara enggan menatap ke arah Gama yang mana masih ada sisa sisa tawanya.
"Kenapa nih Aurora datang kayak cemberut gitu, ini Gama malah berseri gini." Tanya Elvano.
Tidak ada jawaban dari mereka Aurora yang masih kesal dan Gama yang masik menikmati kekesalan Aurora.
"Gama cipok lo lagi Ra?." Tanya Billy tanpa di saring.
Zara dan Khanza menoleh kaget apa benar temannya ini habis cipokan, tidak menyangka Aurora yang paling suci di antara mereka cipokan dengan Gama.
Aurora makin malu dan kesal di saat teman temannya menatap dirinya seolah menuntut Aurora menjelaskan apa maksud ucapan dari Billy.
Gama menendang tulang kering Billy kencang ucapannya yang tanpa di saring itu, Gama melirik Aurora yang makin ketar ketir karna malu kepada teman temannya. Semakin membuat Gama menendang tulang kering Billy dua kali, Billy mengaduh kesakitan merasakan tendangan Gama yang tidak main main, Gama tidak peduli sama sekali melihat ringis kesakitan dari Billy.
"Bener itu Ra?." Tanya Khanza.
Aurora tidak menjawab matanya menatap ke segala arah enggan menatap kepada teman temannya.
Mereka sebenarnya ingin menanyakan lebih lanjut akan tetapi Gama menginterupsi mereka.
"Kalian mau jajan? nih ambil bebas kalian mau jajan apa aja gue yang traktir." Tanya Gama mengalihkan pembicaraan teman teman Aurora, karna tidak tega melihat wajah Aurora yang terlihat panik dan menahan malu.
Zara dan Khanza tidak bisa menolak gratisan dengan semangat mereka berdiri dan mengajak Aurora, Aurora terpaksa berdiri mengikuti langkah teman temannya yang kelewat senang karna di traktir Gama.
Mereka sekarang berada di stan makanan ala korea mereka memaafkan moment dimana mereka akan menghabiskan uang Gama, memesan segala macam makanan yang ada di pasar malam.
Bukan hanya teman teman Aurora tapi teman teman Gama juga seolah senang dengan traktiran Gama, Aurora hanya jajan sewajarnya masih sadar diri untuk membeli makanan lain pakai uang Gama.