Siapa sangka, Playboy yang paling ditakuti di sekolah itu ternyata hanyalah pria patah hati. Pria yang menyimpan dendam selama tujuh tahun karena ditinggal pergi oleh sahabat masa kecilnya bernama Melody.
Selama bertahun-tahun ia sangat membenci wanita, dan menjadikan mereka hanya sebagai pelampiasan.
Hingga takdir mempertemukannya kembali dengan gadis yang selama ini ia benci sekaligus rindukan. Gadis itu kembali dengan membawa cerita pahit dari panti asuhan dan kehidupan jalanan.
Dan sialnya ... gadis itu ternyata saudara tiri dari sahabatnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pewaris Keluarga
Melody diam terpaku.
Cowok itu terkekeh. “Iseng doang. Ayok sini.”
Dia berjalan ke belakang tubuh Melody. Gadis itu merasa sedikit lebih tenang. Melody menunduk, melihat kedua tangan cowok itu muncul di samping tubuhnya dengan telapak menghadap ke atas.
“Jangan takut. Aku bakal pegang pinggul kamu buat benerin posisi, biar pukulannya ngena dan tekniknya bener, oke?”
Melody mengangguk. Suara cowok itu merendah, terdengar berat di telinganya.
“Lain kali kalau ada cowok yang nyerang atau bikin kamu ngerasa terancam, Melody... jangan cuma ditampar. Kamu harus tau cara pukul yang bener biar tangan kamu sendiri nggak yang sakit. Penyerang mungkin lebih kuat, tapi kalau kamu bisa bela diri dengan benar, itu bisa nyelamatin nyawa kamu.”
“Oke,” jawabnya singkat.
Alis Melody mengerut saat dia merasakan tangan itu melingkar di pinggangnya. Jari-jarinya terasa kokoh menekan pelan di balik kain sweter, membuat bulu kuduknya meremang seketika.
“Jaga keseimbangan,” ucap cowok itu lembut sambil mengarahkan postur tubuhnya ke posisi yang tepat.
Selama satu jam ke depan, Adden mengajarinya cara memukul samsak dengan benar. Saat akhirnya pukulannya berhasil mendarat dengan keras, cowok itu langsung memujinya.
Senyum tipis terukir di wajah Adden setiap kali Melody menghajar samsak itu berkali-kali. Dia melampiaskan semua rasa frustrasi dan amarah yang terpendam di dadanya.
Bayangan ayah tirinya dan malam mengerikan saat bajingan itu hampir memperkosanya terus berputar di kepala. Melody memukul lagi dan lagi, fokus penuh pada titik tinjunya.
Dunia di sekitarnya seakan menghilang. Dia tidak mendengar apa pun sampai pandangannya mulai kabur dan seseorang memanggil namanya dengan keras.
“Melody!”
Suara Adden menggema, memecah lamunannya.
Melody mengerjap dan membiarkan lengannya terkulai lemas. Otot lengannya terasa panas dan perih karena dipaksa bekerja keras. Napasnya tersenggal, dadanya naik turun mencari udara.
Dia mendongak saat tiba-tiba ada sepasang lengan kuat yang memeluknya dari belakang. Melody menoleh sedikit dan melihat itu adalah Adden.
“Udah, tenang. Udah aman,” ucap cowok itu pelan.
Dia mengulang kalimat itu lagi, dan Melody sadar betapa dekatnya wajah cowok itu dengan lehernya, tepat di pertemuan antara bahu dan tengkuk.
Messy dan Jojo berjalan mendekat. Mata Messy bergantian menatap Melody dan Adden, seakan sedang mencoba menebak apakah ada hubungan lebih dari sekadar teman di antara mereka.
Suasana itu pecah saat Jojo mengangkat alis dan berseru, “Wah, Melody ... jangan-jangan kalau lagi marah serem banget ya? Tadi samsaknya dihajar terus nggak berhenti-berhenti.”
“Kalau Adden yang ajarin, pasti bahaya tuh. Tadi keren banget, nggak ada hentinya,” timpal Giggi sambil tersenyum.
“Maaf...” Melody menjawab terengah-engah. “Kelamaan jadi semangat sendiri. Rasanya enak banget.”
Adden tertawa kecil tepat di dekat telinganya. Getaran suaranya terasa sampai ke kulit, sementara dagunya masih bersandar di bahu gadis itu.
“Kamu emang jago, cepet banget nangkepnya. Nanti aku ajarin yang lain lagi deh,” kata Adden.
Cowok itu mundur sedikit, tapi tidak sebelum menggeserkan hidungnya pelan di bahu sweter Melody, menghirup aroma tubuh gadis itu.
Wajah Melody terasa panas. Meski keringat bercucuran membasahi bajunya, dia justru gemetar karena kedekatan itu. Dan kata-kata Adden yang berjanji akan mengajari dia lagi lain waktu ... Melody menyukai perasaan itu.
Setelah semua orang bersiap untuk pulang, Melody masuk ke dalam mobil Messy.
“Masih nggak nyangka aja kalian bertiga suka kickboxing.”
“Iya. Adden yang kenalin kita ke olahraga ini. Dia jago banget, malah bisa jadi atlet profesional kalau dia mau.”
Melody percaya, soalnya dia sudah melihat sendiri kemampuan cowok itu. Cara Adden mengajar juga terlihat sangat menyenangkan, sabar, dan perhatian. Dia guru yang baik.
“Terus kenapa sikapnya di sekolah bisa beda banget?” tanya Melody penasaran.
Messy menghela napas panjang. “Adden belajar ini waktu dia ikut Papanya ke Thailand, umur kira-kira dua belas tahun. Dia suka banget, terus Papanya nego sama pelatihnya buat pindah ke sini dan buka gym bareng. Sekarang gym itu jadi milik Adden sepenuhnya karena dia udah delapan belas tahun. Nanti dia juga bakal ngambil alih perusahaan arsitektur keluarga pas Papanya pensiun.”
“Papa aku, papanya Adden, sama Papanya Jojo itu partner bisnis. Adden bakal belajar ngurus perusahaan dari sekarang. Aku juga kurang tau dia mau kuliah atau enggak, soalnya dia jarang bahas itu.”
“Adden orangnya rumit sih. Aku sama Jojo sih rencana kuliah ambil arsitektur.”
“Emangnya itu yang kamu mau?” Melody bertanya karena dia belum terlalu mengenal Messy, tapi dia ragu apakah cowok itu benar-benar menyukai dunia rancang bangunan.
“Iya. Aku pengen kerja bareng sama sahabat-sahabat aku. Aku percaya sama mereka. Tapi kalau ngomongin masalah hidup ... Adden yang paling banyak dapet ujian berat dibanding kita bertiga.”
Messy berdeham pelan. “Bukan maksud aku ngebandingin sama hidup kamu juga ... maaf.”
Melody memasukkan tangannya ke saku sweter dan menatap keluar jendela.
“Gak apa-apa, Messy. Nasib aku emang begini adanya. Udah biasa.”
Messy melirik sekilas saat berhenti di lampu merah. “Biasa apanya?”
Melody menatap pantulan kaca jendela yang gelap. “Biasa nggak punya apa-apa. Kalau pun ada, ujung-ujungnya bakal diambil juga. Lama-lama sadar deh, emang takdirnya gitu, jadi ya harus nerima.”
“Terima apa? Maksud kamu apa?”
Melody mengeratkan genggaman tangannya di dalam saku, kuku tajamnya menusuk telapak tangan. Dengan suara pelan dia berkata apa adanya.
“Nerima kenyataan kalau kita ini ... nggak berarti apa-apa.”
Suara nada dering HP Messy memecah keheningan. Cowok itu langsung mengangkatnya begitu lampu berubah hijau.
“Iya. Kapan? Sekarang?”
Messy melirik Melody lagi sambil membelokkan mobil ke jalan kecil. Melody sadar, ini jalan menuju rumah Adden.
“Iya, aku di deket situ. Nanti aku anter Melody dulu baru nyamperin, ... Yakin? Oke, bentar lagi sampai.”
Messy mematikan sambungan. “Itu Adden. Katanya lagi ada kumpul kecil-kecilan di rumah.”
“Nggak bisa anter aku pulang dulu aja?”
Terakhir kali Melody ke sana, ke bagian belakang rumah itu, hasilnya tidak baik-baik saja. Dia ragu apakah Adden benar-benar mau dia datang lagi, dan jujur saja dia capek kalau harus menghadapi sikap cowok itu yang berubah-ubah.
“Udah gapapa. Tadi di telepon dia bilang nggak masalah kok.”
Tapi insting Melody berkata lain. Ada yang aneh.