NovelToon NovelToon
Istri Putra Mahkota Yang Kejam

Istri Putra Mahkota Yang Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Romansa Fantasi
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Di jantung Kekaisaran Valerieth yang agung, sebuah titah kaisar mengguncang pilar-pilar bangsawan. Lilianne von Eisenhardt, putri tunggal dari penguasa wilayah Utara yang disegani, Duke Kaelric von Eisenhardt, dipaksa memasuki ikatan suci di usianya yang baru menginjak 15 tahun.

Lilianne, yang memiliki kecantikan selembut bunga musim semi namun ketabahan layaknya baja Nordik, dijodohkan dengan sang pewaris takhta yang menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuhnya: Putra Mahkota Arthur Valerius de Valerieth.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 25

***

Pintu kamar tamu agung terbanting menutup dengan dentuman yang menggetarkan dinding marmer. Suara kunci yang diputar kasar tiga kali bergema di ruangan yang luas itu, terdengar seperti vonis mati yang dijatuhkan oleh hakim paling kejam. Arthur tidak meletakkan Lilianne di ranjang dengan kelembutan yang biasanya ia paksakan kali ini, ia setengah menjatuhkannya. Tubuh Lilianne yang lemas dan gemetar menghantam tumpukan bantal sutra, membuat mahkota safirnya terlepas dan menggelinding di lantai.

Wajah Arthur memerah padam, urat-urat di lehernya menonjol seperti akar pohon yang hendak meledak. Matanya memancarkan kegilaan yang jauh lebih pekat daripada malam-malam sebelumnya. Tekanan diplomasi, tatapan menyelidik Julian, dan hilangnya Lilianne selama beberapa menit di tangan Ratu Isolde telah meruntuhkan sisa-sisa kewarasan yang ia miliki.

"Bangun," desis Arthur. Suaranya rendah, namun mengandung ancaman yang mematikan.

Lilianne mencoba bangkit, tangannya gemetar menumpu pada kasur yang empuk. "Yang Mulia... saya kesakitan... Ratu Isolde hanya menolongku—"

"JANGAN SEBUT NAMA WANITA ITU!" Arthur menerjang maju, mencengkeram lengan Lilianne dan menariknya berdiri dengan paksa. Ia menyeret Lilianne menuju cermin besar berbingkai emas yang berdiri di sudut ruangan.

Arthur mendorong Lilianne hingga punggung gadis itu menghantam permukaan kaca yang dingin. Dengan gerakan kasar, ia mulai menanggalkan perhiasan Lilianne.

Anting-anting ditarik hingga telinga Lilianne memerah, kalung mutiara diputus hingga butirannya berhamburan ke lantai seperti tetesan air mata yang mengeras.

"Lihat dirimu, Lili," bisik Arthur, berdiri tepat di belakangnya. Ia mencengkeram rahang Lilianne, memaksa wajah gadis itu menghadap pantulan mereka di cermin. "Lihat betapa cantiknya dirimu saat kau ketakutan. Kau pikir Isolde bisa melindungimu? Kau pikir kau bisa mencari perlindungan pada ular tua itu?"

Lilianne menatap bayangannya sendiri. Rambut peraknya terurai berantakan, menutupi bahunya yang gemetar. Di belakangnya, Arthur tampak seperti iblis berbaju zirah perak, matanya berkilat penuh obsesi.

"Dia tahu, bukan?" tanya Arthur, suaranya kini bergetar karena paranoid. "Dia tahu aku bukan Arthemus. Apa yang kau katakan padanya?! JAWAB AKU!"

"Aku tidak mengatakan apa-apa!" jerit Lilianne. "Dia yang bicara! Dia hanya memberiku obat untuk bayi ini—"

"Bayi ini milikku!" Arthur menempelkan telapak tangannya yang besar ke perut buncit Lilianne, menekannya sedikit terlalu keras hingga Lilianne meringis. "Hanya aku pelindungmu. Hanya aku tuamu. Mulai detik ini, kau tidak akan pernah menginjakkan kaki di luar kamar lagi. Bahkan setelah kita kembali ke Valerieth, kau akan membusuk di dalam Sayap Timur sampai kau menyadari bahwa dunia luar tidak ada bagimu tanpa izinku!"

Kemarahan Arthur mencapai puncaknya. Ia memutar tubuh Lilianne, mencengkeram kedua pergelangan tangan istrinya dan menguncinya di atas kepala dengan satu tangan yang sekuat besi. Ia tidak peduli pada gaun emas mahal yang kini ia robek paksa hingga kainnya menjuntai tak berbentuk.

"Kau harus membayar untuk kecemasanku malam ini, Lili," bisik Arthur di ceruk lehernya. "Kau harus ditandai lagi... agar aroma wanita itu hilang dari kulitmu."

Arthur menjatuhkan Lilianne kembali ke ranjang, namun kali ini ia tidak memberikan ruang untuk napas. Ia menyerang bibir Lilianne dengan ciuman yang menghancurkan, bukan ciuman cinta, melainkan klaim kekuasaan. Lilianne merintih, air mata mengalir deras membasahi bantal sutra. Rasa nyeri di perut bawahnya kembali menyerang, namun Arthur yang sedang dirasuki kegilaan seolah buta dan tuli.

"Nngh... Yang mulia... k-kumohon... bayinya..." rintih Lilianne saat Arthur mulai memasuki dirinya dengan keganasan yang tak tertahankan.

Arthur mengerang berat, kepalanya mendongak ke arah cermin besar yang memantulkan setiap gerakan brutalnya. Ia ingin melihat dirinya sendiri menghancurkan mawar utara itu. Ia ingin melihat Lilianne hancur di bawahnya.

"Ahh... kau adalah milikku... kau dengar?! Ahh!" Arthur bergerak dengan ritme yang ganas, setiap sentakannya membuat ranjang kayu ek itu berderit memprotes. "Nngh... rintihlah namaku! Katakan kau membenciku, tapi kau tidak bisa hidup tanpaku!"

Lampu minyak yang meredup di sudut ruangan seolah enggan menyaksikan kebiadaban yang terjadi di atas ranjang kayu jati berukir naga itu. Kamar tamu agung Kerajaan Aethelgard yang seharusnya menjadi tempat peristirahatan, kini berubah menjadi arena penaklukan yang paling kelam.

Arthur mencengkeram rahang Lilianne dengan satu tangan, memaksa wajah istrinya yang sepucat pualam untuk menatap ke arah cermin besar di samping ranjang. Ia ingin Lilianne menyaksikan sendiri kehancurannya. Ia ingin Lilianne melihat siapa yang memegang kendali penuh atas napas dan tubuhnya.

"Lihat ke cermin itu, Lili!" geram Arthur, suaranya parau oleh nafsu yang bercampur dengan kemarahan posesif. "Lihat siapa pria yang sedang berada di dalam dirimu. Apakah Julian bisa memberimu rasa sakit yang senikmat ini? Apakah ayahmu bisa menyelamatkanmu dari genggamanku?"

Lilianne tidak menjawab. Ia mencengkeram sprei sutra hingga kuku-kukunya memutih dan jemarinya kaku. Setiap sentakan Arthur terasa seperti hantaman yang mengguncang rahimnya yang sudah terbebani oleh usia kehamilan tujuh bulan. Rasa sakit fisik itu membakar, namun rasa sakit di jiwanya jauh lebih melumpuhkan. Ia merasa seperti wadah kosong yang dipaksa menampung kegilaan seorang pria yang hidup dalam bayang-bayang orang mati.

"Jawab aku, Lilianne! Katakan siapa pria yang memilikimu!" Arthur membentak, tangannya yang lain mencengkeram perut buncit Lilianne, menekannya dengan cara yang sangat tidak manusiawi.

"A-Ahhh... hiks... kau... k-kau adalah monster, Arthur!" rintih Lilianne di sela isak tangisnya yang tertahan. "Hentikan... b-bayinya... kau bisa membunuh anakmu sendiri!"

Arthur tertawa sebuah tawa dingin yang memuakkan. Ia memutar tubuh Lilianne dengan kasar, memaksa gadis itu dalam posisi menungging yang sangat merendahkan martabatnya. Ia tidak peduli pada rintihan kesakitan istrinya. Baginya, setiap erangan Lilianne adalah musik kemenangan yang membuktikan bahwa dialah penguasa tunggal atas mawar utara itu.

"Anak ini akan hidup karena dia adalah darahku!" Arthur menghujamkan dirinya kembali dengan ritme yang lebih brutal. "Dia akan menjadi bukti bahwa aku nyata, bahwa aku bukan hanya bayangan Arthemus! Dan kau... kau adalah tanah yang membesarkan benihku. Kau tidak punya hak untuk lari, kau tidak punya hak untuk bernapas tanpa izinku!"

"Nnggh... ahh! S-sakit... Arthur, kumohon!" Lilianne memekik saat Arthur menjambak rambut peraknya, menarik kepalanya ke belakang hingga lehernya menegang.

Dari sudut matanya yang kabur oleh air mata, Lilianne melihat pantulan mereka di cermin besar itu. Ia melihat pemandangan yang mengerikan: seorang pria yang tampak seperti binatang buas yang sedang mencabik mangsanya. Arthur bergerak dengan keganasan yang tak terkendali, otot-otot punggungnya yang penuh bekas luka baru dan lama tampak berkontraksi dengan liar di bawah cahaya temaram.

"Ahhh... Lili... kau begitu sempit... begitu pasrah... nngh!" Erangan kenikmatan yang menjijikkan keluar dari mulut Arthur. Ia membenamkan wajahnya di leher Lilianne, menghirup aroma keringat dan ketakutan istrinya seolah itu adalah candu yang paling kuat. "Kau adalah milikku... setiap tetes darahmu, setiap inci kulitmu... semuanya adalah milikku!"

Arthur mempercepat gerakannya, mengabaikan fakta bahwa Lilianne mulai lemas dan napasnya tersengal-sengal. Ia mencapai puncak kegilaannya dengan sebuah teriakan yang memenuhi ruangan. Tubuhnya gemetar hebat, mendekap Lilianne seerat mungkin seolah ingin menyatukan tulang-tulang mereka menjadi satu saat ia menanamkan eksistensinya sedalam mungkin ke dalam rahim istrinya.

"Ahhhh! Lilianne! Kau tidak akan pernah bisa lepas dariku!"

Setelah semuanya berakhir, Arthur ambruk di atas punggung Lilianne, napasnya memburu di dekat telinga gadis itu. Ia tidak segera melepaskan dekapannya. Ia membiarkan berat tubuhnya menindih Lilianne, seolah ingin memastikan istrinya benar-benar tidak berdaya.

Lilianne hanya bisa terisak tanpa suara, wajahnya terbenam di atas bantal yang kini basah oleh air mata dan keringat. Di bawah permukaan sutra, ia merasakan denyutan kram yang hebat di perutnya. Ia merasa kotor, hancur, dan dikhianati oleh takdirnya sendiri.

Arthur bangkit perlahan, merapikan pakaiannya yang berantakan tanpa sedikit pun rasa bersalah. Ia menatap Lilianne yang tergeletak seperti boneka rusak di atas ranjang, lalu beralih menatap cermin besar yang tadi menjadi saksi bisu kebiadapannya.

"Bersihkan dirimu," perintah Arthur dingin, topeng kaku sang Putra Mahkota kembali terpasang. "Besok pagi kita pulang. Dan ingat, Lili... jika kau mencoba bicara lagi dengan wanita itu atau pangeran mana pun, aku tidak akan hanya memberikan rasa sakit fisik padamu. Aku akan membakar habis setiap harapan yang masih kau miliki."

Arthur melangkah keluar menuju balkon, membiarkan angin dingin menyapu sisa-sisa nafsunya. Sementara itu, di dalam kegelapan kamar, Lilianne perlahan meringkuk, memeluk perutnya dengan tangan yang gemetar. Matanya yang perak kini menatap pecahan kaca kecil yang terjatuh dari mahkotanya yang pecah tadi.

Kebenciannya telah mencapai titik didih. Di dalam hatinya, ia bersumpah: jika ini adalah penjara yang dipilih Arthur untuknya, maka ia akan memastikan penjara ini juga menjadi liang lahat bagi sang Bayangan.

***

Bersambung...

1
MARWAH HASAN
bagus loh ceritanya
entah kenapa
komen ini hilang
MARWAH HASAN
aku tinggalkan komen🤣
Intan Aprilia Rahmawati
up dong kk
Reni Anggraeni
up tor
Erni Wati
cerita nya keren tp kok sepi ya?
Lilia_safira: kurang update author nya
total 2 replies
Erni Wati
semangat thor,,,💪💪💪
Heresnanaa_: maaciw kaka🥹🫂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!