NovelToon NovelToon
Di Balik Topeng Kembar

Di Balik Topeng Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / CEO
Popularitas:592
Nilai: 5
Nama Author: Diyanathan

Ziva kembali ke keluarga kandungnya setelah dua puluh tahun terpisah, namun ia harus menyembunyikan identitas aslinya sebagai bos mafia yang kejam.

Di sana, ia bertemu Arsen—pria yang dikenal sebagai pengusaha sukses, tapi ada aura bahaya yang tak bisa dibohongi oleh naluri Ziva.

Mereka saling tertarik, tapi sama-sama memakai topeng.

Saat rahasia terbongkar, akankah cinta mereka bertahan... atau justru menjadi alasan untuk saling menghancurkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diyanathan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bantuan Tak Terduga & Pengakuan di Pantry

Di balik pintu ruangan kerja yang mewah dan kedap suara, Arsen duduk tegak di balik meja besarnya. Wajahnya yang biasanya selalu tenang dan penuh senyum hangat, kini berubah serius dengan raut kening yang berkerut dalam. Di hadapannya berdiri sang asisten pribadi yang setia, menunduk hormat sambil memegang buku catatan kecilnya.

Pikiran Arsen terus berputar kembali pada kejadian di jalan raya beberapa hari lalu. Ia masih ingat betul detail gerak-gerik orang-orang yang menyerang Daniel dan Ziva. Seorang pengamat tajam seperti dirinya tidak mungkin salah menilai: cara mereka bergerak, cara mereka mengepung, hingga senjata yang mereka bawa... itu bukan gaya preman jalanan atau penagih utang biasa. Mereka adalah orang-orang yang terlatih, dingin, dan berbahaya. Itu adalah ciri khas para pembunuh bayaran yang disewa untuk menyelesaikan masalah sampai ke akarnya.

"Cek kembali semua data yang ada. Aku ingin tahu secara rinci apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam Sterling Group, mulai dari struktur manajemen, pemegang saham, hingga perselisihan internal keluarga mereka. Orang-orang yang menyerang Ziva dan kakaknya itu bukan amatiran, mereka dibayar mahal untuk membungkam seseorang. Dan aku curiga, masalah ini jauh lebih besar daripada sekadar persaingan bisnis biasa," perintah Arsen dengan suara rendah namun penuh tekanan.

Sang asisten mengangguk paham, lalu membuka berkas yang baru saja ia kumpulkan dan pelajari dengan mendalam.

"Sebagaimana dugaan Tuan, situasi di keluarga Sterling saat ini memang sangat kacau. Masalah utamanya bukan datang dari pesaing luar, melainkan dari kalangan sendiri. Anggota keluarga cabang, khususnya Paman Rendra dan pendukung-pendukungnya, telah lama ingin merebut kekuasaan penuh dan mengambil alih kepemilikan perusahaan utama. Mereka sengaja menggerogoti aset dari dalam, membocorkan rahasia, dan melakukan sejumlah permainan kotor untuk menjatuhkan reputasi Tuan Daniel dan seluruh pemimpin utama dari jalur utama," lapor sang asisten dengan jelas.

Arsen menatap tajam, matanya menyala dingin. "Jadi... saat ini posisi Sterling Group sudah berada di ambang kehancuran dan kebangkrutan akibat perebutan kekuasaan itu? Mereka benar-benar berani mengorbankan masa depan ribuan karyawan dan nama baik keluarga demi ambisi pribadi?"

"Betul sekali, Tuan. Nilai saham perusahaan terus merosot tajam, banyak mitra bisnis menarik kerja sama, dan arus kas semakin sulit. Jika tidak ada suntikan dana besar yang masuk dalam waktu dekat, perusahaan itu bisa saja bangkrut dan beralih kepemilikan sepenuhnya ke tangan pihak yang ingin menjatuhkannya," jawab asisten itu lagi.

Hening sejenak. Arsen bersandar malas di kursi kerjanya, jari-jarinya mengetuk pelan permukaan meja, berpikir cepat dan matang. Ia tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Bukan hanya karena Sterling Group adalah aset penting di kota ini, tapi lebih karena di balik nama besar perusahaan itu ada keluarga Ziva, ada wanita yang paling ia cintai. Jika perusahaan itu jatuh, maka keamanan dan ketenangan hidup Ziva pun akan terancam.

Tanpa ragu lagi, Arsen mengangkat wajahnya dengan tekad yang bulat.

"Baiklah... Segera lakukan perintahku. Alirkan dan suntikkan modal yang cukup besar ke dalam Sterling Group. Atur semuanya agar terlihat sebagai kerja sama bisnis resmi, dan pastikan nama Grup Arganza berada di posisi yang kuat namun tidak mencolok. Aku ingin perusahaan itu bertahan, dan aku ingin mereka tahu bahwa mereka memiliki pendukung yang tidak bisa dianggap remeh," perintah Arsen tegas.

Setelah memastikan semua urusan di kantornya berjalan lancar, Arsen segera beranjak keluar. Ia tidak bisa diam saja menunggu kabar. Ia ingin melihat langsung keadaan di sana, dan yang paling penting, ia ingin bertemu dengan Ziva. Ia melajukan mobilnya menuju gedung pusat Sterling Group dengan perasaan yang tak sabar.

Sesampainya di sana, Arsen tidak langsung menuju ruangan pimpinan. Ia memilih berjalan santai menyusuri lorong kantor yang sibuk itu, matanya terus mengawasi setiap sudut hingga akhirnya ia melihat sosok yang dicarinya. Ziva berjalan sendirian menuju ruang pantry, mungkin ingin mengambil minum sejenak di sela-sela kesibukannya.

Arsen tersenyum tipis, lalu dengan langkah cepat namun senyap, ia mengikuti gadis itu dari belakang. Begitu Ziva baru saja melangkah masuk ke ruangan pantry yang saat itu sedang kosong dan sepi, Arsen segera mendekat. Tanpa memberi kesempatan bagi Ziva untuk menoleh, ia langsung merangkul pinggang ramping gadis itu dan menarik punggung Ziva hingga bersentuhan erat dengan dadanya yang bidang. Tubuhnya mendekap erat, memberikan rasa aman dan hangat yang mendominasi seluruh ruang di sana.

Ziva yang awalnya terkejut dan hendak memberontak, seketika menghentikan gerakannya begitu ia mencium aroma khas yang sangat ia kenal—aroma yang menenangkan, aroma milik Arsen. Alih-alih melepaskan diri atau marah, tubuh Ziva justru melemas dan bersandar pasrah. Lama kelamaan, hati dan perasaannya memang sudah terbuka lebar untuk pria ini. Ia sudah tidak lagi merasa risih atau asing dengan sentuhan dan kehadiran Arsen. Justru sebaliknya, ada rasa nyaman yang aneh namun indah setiap kali Arsen berada di dekatnya.

"Arsen... Apa yang sebenarnya sedang kamu lakukan di sini? Bukannya kamu harusnya ada di kantormu sendiri?" tanya Ziva dengan nada bingung namun tidak lagi tegas, jantungnya berdegup kencang namun bukan karena takut.

Arsen mengeratkan sedikit pelukannya, menundukkan kepalanya hingga bibirnya berada tepat di dekat telinga gadis itu.

"Aku datang membawa berkas penting. Berkas penawaran resmi dari atasanku untuk kerja sama dengan Sterling Group," jawab Arsen pelan, lalu ia melepaskan pelukannya perlahan dan memutar tubuh Ziva agar berhadapan dengannya. Ia menyerahkan sebuah map tebal berisi dokumen resmi dengan lambang Grup Arganza yang terpampang jelas di sampulnya.

Dengan rasa penasaran yang memuncak, Ziva menerima berkas itu dan mulai membaca isinya baris demi baris. Semakin ia membaca, mata indahnya semakin membelalak lebar, mulutnya sedikit terbuka karena tak percaya. Angka yang tertulis di sana... itu adalah nilai modal yang sangat besar, jumlah yang bisa dibilang fantastis dan mampu mengubah nasib perusahaan yang sedang sekarat itu dalam sekejap. Grup Arganza bersedia menanamkan modal dalam jumlah yang sangat tinggi dan menguntungkan.

"Arsen... Aku... Aku tidak bisa menerima ini," kata Ziva pelan namun tegas sambil mengembalikan berkas itu ke tangan Arsen. Wajahnya terlihat serius dan khawatir. "Kamu tahu betul kondisi Sterling saat ini sedang sangat kacau, penuh masalah, dan dikejar kebangkrutan. Jika Arganza masuk dan menanamkan modal sebesar ini, aku sangat takut nanti nama baik dan aset perusahaanmu pun akan ikut terkena imbas kerugian atau masalah yang sedang kita hadapi. Ini terlalu berisiko besar."

Arsen hanya tersenyum lembut mendengar penolakan itu. Ia kembali merangkul pinggang gadis itu dengan tangan kekarnya, menarik tubuh Ziva agar berdiri lebih dekat lagi dengannya. Tatapannya begitu dalam, menembus hingga ke dalam jiwa.

"Ziva... Dengar aku. Tujuan utama dari penawaran ini adalah untuk mengatasi semua masalah yang ada di perusahaanmu, bukan? Jika ini bisa menyelamatkan Sterling dan membuatmu tidak perlu lagi memikul beban berat sendirian, maka risiko apa pun akan aku terima. Bagiku, melihatmu tenang dan aman jauh lebih berharga daripada angka-angka di atas kertas ini," ucap Arsen dengan nada lembut namun penuh ketegasan yang tak terbantahkan.

Hening sejenak. Ziva menatap balik manik mata Arsen, hatinya bergejolak hebat antara rasa haru dan bimbang.

"Baiklah... Nanti akan aku bawa dan diskusikan ini dengan Kak Daniel dan Ayah. Kita akan pertimbangkan baik-baik," jawab Ziva pelan, lalu ia berusaha mengalihkan pembicaraan. "Sekarang, sebaiknya kamu kembali ke kantormu. Nanti ada orang yang melihat, dan aku jadi sulit menjelaskannya."

Namun Arsen menggeleng pelan, ia sama sekali tidak berniat melepaskan gadis itu. Justru ia semakin mendekatkan wajahnya, jarak di antara mereka kini hanya tersisa beberapa sentimeter saja.

"Biarkan aku diam di sini sebentar saja, ya... Hanya sebentar. Ziva, kamu pasti sudah tahu kan? Aku sudah mencintaimu sejak pandangan pertama. Sejak hari itu saat kamu menolongku, saat kamu berdiri tegak dan berani menghadapi bahaya... Sejak saat itu, aku tahu hidupku sudah berubah. Aku terus mencari cara, terus berusaha agar bisa selalu berada di dekatmu, selalu bisa menjagamu," ungkap Arsen terus terang, meluapkan semua isi hatinya yang selama ini tersimpan rapi.

Ziva tersenyum malu, menundukkan pandangannya sejenak. "Aku tahu... Aku sadar betul. Kamu selalu saja membuat berbagai alasan dan cara agar bisa ada di dekatku. Awalnya aku sempat berpikir kamu punya tujuan lain atau ada kepentingan tertentu. Tapi... aku juga sadar, aku belum pernah dekat atau berhubungan dengan lelaki mana pun sebelumnya. Aku belum pernah pacaran, belum pernah merasakan ini semua. Jadi... jujur saja, aku sedikit bingung dengan perasaanku sendiri. Apakah rasa nyaman ini wajar? Apakah rasa ingin selalu bersamamu ini namanya cinta?"

Arsen mengangkat dagu Ziva perlahan agar gadis itu menatapnya kembali. Wajahnya semakin mendekat, napas mereka saling bertautan, kehangatan di antara keduanya semakin terasa membara.

"Kamu tidak perlu bingung, Sayang. Biarkan aku yang mengajarkanmu, biarkan aku yang meyakinkanmu... Biarkan aku tunjukkan apa itu rasa cinta yang sesungguhnya..." bisik Arsen lirih.

Wajah Arsen semakin mendekat, bibirnya hampir menyentuh bibir Ziva yang sedikit terbuka. Detik itu, waktu seolah berhenti berputar. Dunia terasa milik berdua saja.

Namun, tepat saat momen itu terjadi...

"HEI! APA YANG SEDANG KALIAN LAKUKAN DI SINI?!"

Sebuah suara keras dan melengking tiba-tiba memecah keheningan dan suasana romantis itu. Arsen dan Ziva tersentak kaget seketika, segera menjauhkan wajah mereka satu sama lain. Mereka menoleh cepat ke arah pintu masuk pantry, dan di sana berdiri sekelompok karyawan yang kebetulan lewat dan melihat adegan itu dengan mata terbelalak kaget.

Wajah Ziva seketika memerah padam karena malu, sementara Arsen hanya menghela napas panjang sambil menahan senyum geli yang belum tuntas, namun tatapannya tetap menatap gadis itu dengan penuh rasa cinta yang tak tersembunyi.

1
YusWa
karya baru Thor? semangat semoga sukses
Diyanathan: Terimakasih suportnya ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!