Sinopsis:
Arkan Dirgantara, CEO dingin dan angkuh, terpaksa menikahi Nara—gadis sederhana yang dijodohkan—hanya demi memenuhi permintaan keluarga dan menyelamatkan bisnis. Pernikahan ini hanyalah perjanjian dua tahun tanpa cinta, karena hati Arkan sudah lama tertutup dan milik wanita lain di masa lalu.
Di bawah satu atap, mereka berdua berjuang dengan perasaan masing-masing. Nara yang sabar dan tulus perlahan meruntuhkan tembok tinggi di hati Arkan, sementara Arkan berusaha menepis rasa nyaman yang tumbuh, merasa bersalah pada kenangannya. Saat wanita masa lalu itu kembali hadir, ujian terbesar pun datang: akankah Arkan tetap pada janji setianya pada kenangan, atau ia sadar bahwa Nara-lah kenyataan yang selama ini ia cari? Sebuah kisah tentang pernikahan terpaksa, luka masa lalu, dan cinta yang tumbuh perlahan di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Febrianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5: Bayang Masa Lalu dan Ketiadaan
Sejak kejadian sore itu, suasana di rumah besar itu berubah drastis. Dulu hening karena jarang bicara, sekarang hening karena ada jarak yang sengaja dibentangkan. Nara memilih menarik diri sepenuhnya. Ia menghabiskan waktunya di kamar atau di sudut taman yang paling sepi, menghindari bertemu pandang dengan Arkan sebisa mungkin. Setiap kali Arkan pulang, Nara akan pura-pura sedang tidur, sedang membaca, atau sedang ada urusan di tempat lain. Hatinya masih perih, luka akibat ucapan Arkan di depan Rania belum kering sama sekali.
Di sisi lain, Arkan merasa gelisah luar biasa. Ia pikir setelah hari itu, Nara akan tetap sama seperti biasa—lembut, sabar, dan selalu ada di dekatnya. Tapi kenyataannya, ketiadaan kehadiran Nara justru terasa sangat menyakitkan. Rumah yang biasanya terasa hidup walau sunyi, kini berubah menjadi gedung kosong yang dingin dan hampa. Tidak ada lagi sapaan lembut, tidak ada lagi teh hangat di meja ruang tengah, tidak ada lagi sosok kecil yang bergerak tenang di sudut ruangan.
Arkan mencoba bersikap biasa saja. Ia berangkat dan pulang seperti biasanya, namun matanya selalu mencari keberadaan Nara di setiap sudut rumah. Setiap kali ia melihat punggung gadis itu yang menjauh secepat kilat saat melihatnya, rasa bersalah di dada Arkan makin membesar. Ia ingin menjelaskan, ingin bilang bahwa semua ucapannya sore itu bohong belaka, strategi agar Rania puas dan pergi. Tapi gengsinya sebagai laki-laki, sebagai pemimpin yang selalu benar, menahannya. Ia bingung, kenapa dirinya sekecewa ini hanya karena diabaikan oleh istri kontraknya sendiri?
Pagi itu, Arkan sengaja pulang lebih awal dari kantor. Ia ingin mencari kesempatan bicara, ingin sedikit saja melihat wajah Nara lebih dekat. Saat ia melangkah masuk ke halaman, ia melihat Nara sedang duduk di bangku taman belakang, sendirian. Angin sore mengibarkan rambut panjangnya, dan dari jauh, Arkan bisa melihat dengan jelas—gadis itu sedang menangis. Bahunya bergemuruh pelan menahan isak tangis, tangannya meremas ujung gaunnya erat sekali.
Hati Arkan diremas sakit. Ia ingin berlari mendekat, memeluk dan menenangkan gadis itu. Tapi sebelum ia sempat bergerak, suara Bu Inah terdengar mendekat, menghampiri Nara.
"Non Nara... kenapa menangis lagi, Nak?" tanya Bu Inah lembut, duduk di samping Nara.
Nara mengusap kasar air matanya, berusaha tersenyum. "Tidak apa-apa, Bu. Cuma... tiba-tiba teringat rumah, teringat Ayah dan Ibu. Rasanya rindu sekali."
"Kalau rindu, kenapa tidak pulang saja main ke rumah orang tua? Tuan Arkan pasti mengizinkan," saran Bu Inah pelan.
Nara menggeleng lemah. "Tidak bisa, Bu. Saya kan istri kontrak. Saya di sini cuma tamu, cuma pelengkap. Kalau saya pergi, nanti Mas Arkan bilang saya tidak tahu diri, atau melanggar aturan. Lagipula... Bu Inah lihat sendiri kan? Di mata Mas Arkan, saya ini tidak ada harganya. Saya cuma gadis sederhana yang kalah jauh sama wanita-wanita hebat di sekitar dia. Saya tidak pantas apa-apa, Bu."
Suara Nara terdengar begitu lirih dan menyedihkan, menusuk langsung ke telinga Arkan yang masih bersembunyi di balik tiang serambi.
"Masih soal ucapan Tuan Arkan waktu Mbak Rania datang ya?" tanya Bu Inah mengerti. "Nak, coba deh Non pikir lagi. Tuan Arkan itu orangnya kaku, gengsinya setinggi langit. Beliau itu... sebenarnya tidak pernah bicara jujur soal perasaannya. Kalau beliau benar-benar menganggap Non tidak berharga, tidak akan beliau diam-diam bertanya ke saya tiap hari: 'Nara makan belum? Nara ke mana? Nara sakit tidak?' Beliau itu cuma tidak pandai ngomong, Nak. Beliau takut kalau terlalu baik, Non malah masuk ke hatinya, padahal beliau masih merasa berhutang janji sama masa lalunya."
Nara terdiam, menatap kosong ke arah bunga mawar yang sedang mekar. "Bu Inah tidak perlu menghibur saya. Saya tahu kenyataannya. Mas Arkan mencintai Kirana, itu wanita yang sempurna untuknya. Saya cuma pengganti. Dan kemarin, saat dia bilang saya sederhana, beda jauh sama Rania... itu kenyataan yang paling jujur keluar dari mulutnya. Saya sadar diri, Bu. Saya tidak akan berharap lebih. Saya cuma berharap dua tahun ini cepat berlalu, supaya saya bisa pergi dari sini dengan selamat, tanpa membawa hati yang makin hancur."
Kata-kata itu terasa seperti belati tajam yang menusuk dada Arkan.
"Supaya saya bisa pergi dari sini..."
Arkan mundur perlahan, menjauh kembali ke dalam rumah. Perasaannya kacau balau. Mendengar Nara bilang ingin pergi, mendengar Nara menganggap dirinya sekadar beban yang harus ditunggu kepergiannya... rasanya jauh lebih sakit daripada saat ia kehilangan Kirana dulu. Dulu ia kehilangan karena terpaksa, tapi sekarang rasanya ia akan kehilangan sesuatu yang berharga karena kelakuan bodohnya sendiri.
Malam harinya, hujan turun lagi. Seolah langit ikut merasakan kesedihan yang menyelimuti rumah itu. Arkan duduk sendirian di ruang tengah, memegang gelas berisi minuman keras, sama seperti malam saat ia bercerita tentang Kirana pada Nara. Tapi kali ini, ia tidak mabuk untuk melupakan masa lalu, ia mabuk karena bingung dengan hatinya sendiri.
Pintu kamar Nara tertutup rapat di lantai atas. Arkan tahu gadis itu ada di sana, sendirian, sedih, dan merasa tidak diinginkan.
Arkan menatap kosong ke arah tangga. Ia sadar sekarang. Sikapnya yang dingin, kata-katanya yang tajam, usahanya menjaga hati demi Kirana... semua itu ternyata sia-sia. Karena di saat ia sibuk menjaga hatinya agar tidak mencintai siapa pun selain Kirana, ia malah membiarkan Nara masuk, mengisi setiap ruang kosong di hidupnya, dan membuatnya bergantung tanpa sadar.
Dan rasa takut terbesarnya bukan lagi takut melupakan Kirana... tapi rasa takut kalau Nara benar-benar pergi meninggalkannya saat waktu perjanjian habis nanti.
"Kenapa kau harus sesabar itu, Nara?" bisik Arkan lirih pada keheningan. "Kenapa kau harus sebaik itu, sampai aku merasa begitu jahat padamu? Kenapa kau harus datang ke hidupku, saat aku sedang berusaha mati-matian menutup diri?"
Di lantai atas, di balik pintu kamarnya yang terkunci, Nara sedang duduk bersandar di pintu, memeluk lututnya. Air matanya sudah kering, hatinya sudah mati rasa. Ia berjanji pada dirinya sendiri, ia akan bertahan dua tahun ini dengan diam, tanpa menuntut, tanpa berharap, dan menjaga hatinya agar tidak jatuh lebih dalam lagi pada pria yang hatinya sudah milik orang lain.
Malam itu, dinding di antara mereka makin tebal karena kesalahpahaman, namun tanpa mereka sadari, benih-benih rasa sayang justru makin kuat berakar di dalam hati masing-masing—terkubur dalam diam dan kepahitan.
Dan di antara hujan dan kesunyian itu, takdir mulai menenun benang merah mereka dengan cara yang pelik. Sebuah kabar sedang dalam perjalanan, sebuah kabar yang akan mengguncang seluruh dunia Arkan, dan memaksa pria itu akhirnya berhadapan dengan perasaannya yang sesungguhnya.
Bersambung...