NovelToon NovelToon
Terikat Luka, Terlahir Cinta

Terikat Luka, Terlahir Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: M. ZENFOX

Erlangga Mahardika Pratama—seorang CEO muda yang dikenal dingin dan tak tersentuh—terbiasa mengendalikan segalanya dalam hidupnya. Hingga satu hari, sebuah kegagalan cinta menghancurkan pertahanannya, dan mempertemukannya dengan Zea Anindhita Kirana, gadis sederhana yang datang tanpa rencana… namun perlahan mengisi ruang kosong di hatinya.

Hubungan mereka tumbuh dalam diam—penuh tarik ulur, perbedaan dunia, dan luka yang belum sembuh. Di tengah kehangatan yang mulai tercipta, kebahagiaan itu justru direnggut oleh sebuah kebohongan kejam.

"Kadang, cinta datang bukan untuk dimulai... tapii untuk di perbaiki"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. ZENFOX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bos vs Sekertaris

Jam dinding digital di sudut ruangan mewah itu menunjukkan pukul dua belas lewat sepuluh menit. Sinar matahari siang Jakarta yang terik menabrak kaca jendela besar di ruangan, namun suhu di dalam ruangan tetap sejuk. Di balik meja kerjanya yang terbuat dari kayu jati solid, Erlangga Mahendra Wijaya akhirnya menghentikan aktivitas mengetik setelah hampir tiga jam tanpa jeda.

Ia menyandarkan punggungnya ke kursi ergonomis berbalut kulit asli. Bahunya terasa kaku, ada denyut halus di pelipisnya akibat terlalu lama membedah laporan audit yang membosankan. Langga melirik jam tangan pintarnya, lalu menghela napas panjang.

“Sudah siang ternyata…” gumamnya pada kesunyian ruangan.

Perutnya mulai memberikan protes kecil yang tidak bisa diabaikan. Biasanya, di jam seperti ini, ia akan menelepon sekretarisnya untuk memesankan menu katering sehat dari restoran ternama. Namun hari ini, pikirannya langsung melayang pada satu hal: tote bag kain yang tergeletak di sofa ruang tamu kecil di dalam kantornya.

Langga bangkit, melangkah dengan tegap menuju sofa tersebut. Ada rasa antusiasme yang aneh, sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya untuk urusan makanan. Ia duduk di sofa, meraih tas kain itu, dan membuka tutup kotak makannya dengan hati-hati. Begitu terbuka, aroma hangat tongseng ayam dengan rempah yang kuat langsung menyeruak, memenuhi setiap inci ruangan yang biasanya berbau aroma kopi dan parfum mahal.

Langga menatap isi kotak itu. Ada nasi putih yang rapi, beberapa potong bakwan jagung yang masih tampak renyah, ayam goreng dan kuah tongseng yang bumbunya terlihat sangat meresap. Entah kenapa, hanya dengan melihat masakan buatan Zea, mood Langga yang tadinya keruh karena pekerjaan mendadak membaik.

Baru saja ia hendak menyendokkan nasi tersebut ke mulutnya, tiba-tiba...

Tok. Tok. Tok.

Urat di pelipis Langga berkedut seketika. Siapa pun yang datang, waktunya benar-benar tidak tepat.

“Masuk,” ucapnya dengan nada dingin yang menusuk.

Pintu terbuka lebar. Masuklah Rian Pradipta Mahesa dengan senyum lebar yang sangat menyebalkan. Di tangannya, ia membawa kotak bento eksklusif dari restoran Jepang langganan mereka.

“Waduh, Bos, jangan galak-galak amat mukanya. Gue cuma mau ngajak makan siang bareng doang, biar lo nggak kesepian jadi bujangan tua di gedung ini,” celoteh Rian tanpa dosa.

Langga mendengus, matanya kembali fokus pada kotak makannya. “Kenapa tidak makan sendiri saja di ruanganmu?”

“Karena makan sendiri itu menyedihkan, Lang,” Rian berjalan masuk tanpa diundang, lalu menjatuhkan diri di sofa tepat di hadapan Langga. Namun, gerakannya terhenti saat hidungnya menangkap aroma rempah yang menggoda. Mata Rian langsung tertuju pada kotak plastik di tangan sahabatnya. Ia menyipitkan mata. “Ohhhh…”

Langga menatapnya datar mata Rian yang sejak tadi melihat ke belalnya. “Oh apa?”

Rian menarik napas dalam-dalam. “Ohhh anjir, bahkan baunya saja enak banget. Ini siapa yang masak? Si wanita misterius itu?”

Langga tetap makan dalam diam. Sikap diamnya justru menjadi konfirmasi bagi Rian.

“Wah… diam berarti iya. Fix, ini dari dia,” gumam Rian dengan binar jahil di matanya.

“Kalau lo terus berisik, gue benar-benar akan ngelempar lo keluar dari ruangan ini,” ancam Langga tanpa menoleh.

Rian malah makin lebar tersenyum. “Bro… sadar nggak sih? Lu berubah.”

“Tidak.”

“Berubah banget. Dulu, lo lebih milih kelaparan daripada makan dari wadah plastik kalau bukan dari restoran terkenal.”

“Tidak.”

“Berubah.”

"Tidak."

"Berubah."

Langga meletakkan sendoknya dengan suara denting yang tegas. “Rian. Cukup.”

“Oke, oke, lanjut makan.” Rian membuka bentonya, memperlihatkan potongan salmon mentai premium yang tampak lezat.

Beberapa menit mereka makan dalam ketenangan yang rapuh. Rian mencoba menikmati salmonnya, tapi matanya terus-menerus melirik ke arah kotak makan Langga. Aroma tongseng itu benar-benar mengganggu konsentrasinya. Apalagi saat melihat Langga menuangkan plastik berisi tambahan kuah ke atas nasi. Uap hangat dan aroma kunyit, jahe, serta santan gurih langsung menyeruak keluar. Mata Rian membesar seketika.

“ANJIR! BAUNYA ENAK BANGET!” seru Rian refleks.

Langga secara otomatis menarik kotak makannya menjauh. “Jangan macam-macam.”

Rian menatap nasi di kotak Langga seperti orang yang sudah kelaparan selama tiga hari. “Bro… satu suap saja. Gue penasaran banget sama rasa---.”

“Tidak.”

“Gue bahkan belum selesai ngomong!” protes Rian.

“Karena gue tahu persis isi kepala lo itu. lo mau minta, kan? Jawabannya tidak.”

“Cuma satu suap, Lang! Gue mau verifikasi apakah baunya berbanding lurus sama rasanya.”

“Tidak.”

“Kita tukeran! Nih, lo ambil setengah salmon mentai gue, kasih gue dua sendok saja,” tawar Rian dengan wajah memelas.

“Tidak tertarik.”

"Yaudah satu sendok saja deh."

"Tidak."

“Gue tambahin pudding mangga!”

“Tidak.”

“Mobil gue?”

Langga mendongak, menatap Rian dengan tatapan yang sangat datar. “Jauhkan muka lo dari makanan gue.”

Rian, yang sifat keras kepalanya sudah mendarah daging, tiba-tiba bergerak sangat cepat. Ia mencoba menyodokkan sendoknya ke arah kotak makan Langga dalam upaya pencurian kilat. Namun, refleks Langga jauh lebih baik. Ia langsung menangkis tangan Rian dan menarik kotaknya ke pelukan.

“JANGAN SENTUH!” bentak Langga.

“ANJIR! PELIT BANGET! CUMA MAU NYICIP SEDIKIT!” teriak Rian tak mau kalah. Ia mencoba merangsek lagi, tangannya berusaha menggapai kotak plastik itu.

“LEPAS! JANGAN COBA-COBA, RIAN!”

“SATU SENDOK DOANG WOY! GUE PENASARAN!”

“RIAN!”

"DASAR BOS KORETT!."

Dua pria dewasa yang menyandang jabatan petinggi perusahaan itu kini terjebak dalam aksi tarik-tarikan kotak makan di sofa, layaknya anak TK yang memperebutkan bekal. Rian terus berusaha menyodok dengan sendoknya, sementara Langga menahan kepala Rian dengan telapak tangannya agar sahabatnya itu tidak bisa mendekat.

“Dasar rakus! Lo sudah punya makanan sendiri!” maki Langga sambil berusaha menjaga keseimbangan kotaknya agar tidak tumpah.

“Yang masak siapa sih sampai lo se protektif ini?! Gue cuma mau tahu standarnya!” balas Rian terengah-engah.

“Bukan urusan lo!”

“WAJAR GUE CURIGA KALAU ENAK GINI! JANGAN-JANGAN LO DIKASIH PELET YA?!”

TOK. TOK. TOK.

Suara ketukan pintu yang kali ini terdengar lebih mendesak membuat keduanya langsung membeku. Refleks tingkat tinggi. Rian melepaskan cengkeramannya pada kotak makan. Langga langsung duduk tegak dengan punggung sekeras papan, wajahnya berubah sedingin es dalam waktu kurang dari satu detik. Rian dengan cepat berdiri dan membenarkan letak jasnya yang agak berantakan, berdeham pelan untuk menormalkan napasnya.

Dalam sekejap, dua pria yang tadi nyaris baku hantam demi sesuap tongseng itu kembali berubah menjadi eksekutif profesional yang berwibawa.

“Masuk,” ucap Langga tenang, seolah-olah tidak terjadi apa pun.

Pintu terbuka. Masuklah seorang sekretaris divisi wanita membawa beberapa map dokumen. Namun, langkah wanita itu langsung melambat saat ia merasakan atmosfer aneh di dalam ruangan. Ia menatap ke arah sofa. Pemandangannya cukup membingungkan: CEO mereka yang biasanya kaku kini duduk tegak di sofa dengan kotak makan plastik di pangkuannya, sementara Direktur Operasional, Rian, berdiri di sampingnya dengan wajah yang sedikit memerah dan tangan yang masih memegang sendok yang mengarah ke udara kosong.

Hening sejenak. Sekretaris itu berkedip berkali-kali. “Maaf, saya mengganggu jam makan siang Bapak?” tanyanya ragu.

Rian langsung memasang senyum kaku andalannya. “Oh, tidak sama sekali. Kami… eh, kami baru saja mendiskusikan… strategi logistik baru. Ya, logistik distribusi makanan.”

Langga melirik Rian tajam, lalu menatap sekretaris itu dengan suara datar. “Ada perlu apa?”

Wanita itu cepat-cepat berjalan mendekat dan menyerahkan map di tangannya. “Ini dokumen revisi untuk tanda tangan Bapak.”

Langga mengambil map tersebut. “Taruh di meja saya.”

“Baik, Pak. Permisi.” Namun sebelum benar-benar keluar, sekretaris itu sempat melirik lagi ke arah mereka berdua dengan ekspresi penuh tanda tanya besar.

Begitu pintu tertutup rapat, Rian langsung memegang kepalanya dan mengembuskan napas panjang. “Fix, Lang. Tamat riwayat kita.”

“Apa?” tanya Langga, mulai menyuap makanannya lagi dengan tenang.

“Besok seluruh kantor bakal mikir kita punya hubungan terlarang. Lo lihat nggak tatapan dia tadi? Dia pasti mikir kita lagi rebutan suapan romantis!” keluh Rian frustrasi.

Langga menatapnya dingin. “Kalau itu sampai terjadi gara-gara ulah rakus lo itu, gue pastiin, gue bakal ngebunuh lo dengan tangan gue sendiri.”

Rian tertawa keras. “Makanya, kasih gue satu suap biar gue tutup mulut dan nggak menyebarkan versi cerita yang lebih parah!”

Langga tidak beranjak, ia justru semakin asyik menikmati sisa bekalnya. “Tunggu saja di mimpi lo itu.”

“WOI! PELIT BANGET SUMPAH!”

Rian akhirnya duduk kembali dengan wajah cemberut, menusuk-nusuk salmon mentainya dengan tidak ikhlas. “Tunggu ya. Suatu hari gue bakal ketemu sama siapa pun yang masak tongseng ini. Gue bakal minta dia bikinin satu porsi khusus buat gue, biar lo nggak bisa pelit lagi!”

Langga berhenti menyuap sesaat. Gerakannya membeku. Ia mendongak, menatap Rian dengan tatapan yang berbeda dari sebelumnya. Tidak ada amarah yang meledak-ledak, melainkan sebuah nada yang pelan namun sangat tegas dan menusuk.

“Jangan ganggu dia, Rian. Jangan pernah berpikir untuk mencarinya.”

Rian terdiam. Ia menyadari sesuatu. Nada suara Langga barusan, itu bukan nada bercanda. Bukan pula nada kesal biasa. Itu adalah nada protektif, seperti seekor predator yang sedang menandai wilayah dan miliknya.

Rian menyipitkan mata, menatap sahabatnya yang kembali fokus pada makanan di kotak plastik itu. Sebuah senyum tipis yang penuh arti muncul di wajah Rian.

“Ohhhh…” gumam Rian penuh makna.

Langga mendelik tajam, siap melemparkan apa pun di dekatnya. Namun, tepat sebelum perdebatan mereka berlanjut...

TOK. TOK. TOK.

Pintu ruangan itu kembali diketuk. Kali ini ketukannya terdengar sangat berbeda, membawa atmosfer yang membuat Langga dan Rian serempak menoleh ke arah pintu.

1
Faiz Utama
gws hp
Fatma
Kasian hp nyaa
Nadia Julia
Enaknya punya temen kyk Rian
M. ZENFOX: Author kak💪
total 1 replies
Nadia Julia
Semangat thorr, aku tunggu updatenya ;)
M. ZENFOX: Siapp
total 1 replies
Nadia Julia
Jail amat
Nadia Julia
Perbedaan kael & Erlangga :)
M. ZENFOX: Apatuh?
total 1 replies
Nadia Julia
Jangan pernah pelit untuk memberi intinya, bolee
Nadia Julia
Semangat Thorrr>
M. ZENFOX: Makasih kakkk💪
total 1 replies
ELVI NI'MAH
Bagus, aku suka happy ending, inginku ibunya langga menyukai zea
M. ZENFOX: Makasihh kakk🤩
total 1 replies
Nessa
lapor donk zea jangan diam aja
M. ZENFOX: Tau ya, ngapain diem 😄
total 1 replies
Nessa
yakin ni g tertarik kita liat aja nanti 🤭
M. ZENFOX: hehe🙄😁
total 1 replies
Nessa
gimna nasib zea
M. ZENFOX: Di tunggu ya kakk
total 1 replies
Nessa
diihh sarah sombong kali
Nessa
erlangga 😤😤😤
Nessa
salut banget padamu zea, intinya bersyukur
Nessa
smngat zea
Nessa
ikut sedih 😢
M. ZENFOX: Sama kak🥲
total 1 replies
Nessa
zea kenapa g minta erlangga menikahimu
M. ZENFOX: Ending tamatnya cepet kak😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!