Kayla, Alfian, Joy, dan Jenny berusaha memecahkan dalang di balik penculikan dan pembunuhan. Puzzle demi puzzle mereka susun, hingga membentuk sebuah petunjuk, bahwa Seseorang yang sangat dekat dengan mereka adalah pelakunya. Lalu tindakan apa yang akan mereka ambil? Dan apa motifnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Kayla segera bangkit dan menghujani Alfian dengan pukulan yang keras. Kedua mata dan bibir Alfian membiru akibat pukulan keras itu.
"Aduh!" Ucap Alfian meringis kesakitan.
Alfian hanya tersenyum senang, pukulan keras itu sama sekali tidak membuatnya takut atau marah.
Alfian menyisir rambutnya ke belakang dengan tangannya. Dia yang tadinya tersenyum jahil kini berubah jadi senyum yang aneh. Sorot matanya tampak semakin tajam. Ia menatap lekat perut Kayla sambil mengusap bibir bawahnya menggunakan ibu jarinya.
Kayla segera mengusir Alfian dari kamarnya. Ia mendorong Alfian dengan seluruh tenaganya hingga membuat Alfian tersungkur ke belakang.
"Nanti kalau kau ada masalah jangan cari aku! Kau sudah melewati batas!" Ucapnya dengan wajah yang memerah karena emosi.
Bum!
Kayla menutup jendela kaca dengan sangat kuat, sehingga menimbulkan suara tabrakan antara jendela dan dinding penyanggah.
"Benarkah?" Ucap Alfian seraya tertawa kecil.
Ia sangat tahu sifat Kayla. Dia hanya akan marah sesaat lalu melupakan kejadiannya. Mungkin hari ini dia marah besar kepada Alfian, tapi besoknya dia akan seperti biasa seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
.....
"Aduh! Pelan-pelan dong!" Protes Alfian saat Lucas terlalu keras menekan wajahnya.
"Kau pasti sudah melakukan tindakan yang diluar batas, kan? Makanya wajahmu seperti ini!" Omel Lucas. Ia mengobati luka Alfian dengan cara yang agak kasar.
Dia adalah pria yang selalu menjunjung tinggi kehormatan wanita. Mengetahui anaknya yang sudah melakukan tindakan di luar batas, membuatnya emosi dan kecewa.
"Apa yang telah kau perbuat? Sehingga wajahmu hancur seperti ini." Tanya Lucas dengan nada serius.
"Ayah jangan salah paham! Ini... Adalah pukulan cinta. Dia memukulku karena dia mencintaiku," ucap Alfian sembari tertawa kecil. Seolah-olah luka diwajahnya adalah sesuatu yang membanggakan.
"Nih, obati sendiri lukamu itu!" Ucap Lucas seraya melempar plester ke arah Alfian.
"Ayah tega! Apakah aku masih anak kandungmu? Ya sudah! Akan ku obati sendiri." Ucap Alfian sembari memungut plester yang dilempar oleh ayahnya.
Kini Alfian dan Lucas berada di ruang pribadi Lucas. Mereka sedang membicarakan sesuatu hal yang penting.
"Perhatikan baik-baik infomasi tentangnya! Perhatikan setiap langkah yang kau ambil! Dia bukanlah orang biasa, dia bisa mengetahui gerak gerik seseorang hanya dalam waktu kurang dari tiga puluh menit." Ucap Lucas tegas, seraya memberikan sebuah map yang berisi informasi.
"Wah... Informasinya sangat detail. Bagaimana caranya ayah mendapatkannya? Aku berusaha mencari tahu tapi informasinya terkunci rapat." Ucap Alfian sambil menatap ayahnya dengan tatapan kagum.
"Kalau kemampuan Ayah sehebat ini, mengapa Ayah tidak bisa membawa ibu pulang?" Tanya Alfian penasaran. Ibunya sudah bertahun-tahun disandera oleh orang itu. Namun, Lucas tidak bisa membawanya pulang.
"Terlalu banyak kode dan perangkap disana. Sebenarnya aku bisa melewatinya dengan mudah. Namun... Tempat dimana Ibu disekap dilindungi oleh serangkaian kode yang rumit dan sulit ku mengerti." Ucapnya dengan wajah yang lesu tak bersemangat.
Lucas kembali mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu. Dimana dia berjuang mati-matian untuk melewati setiap perangkap yang telah disediakan. Namun, perjuangannya menjadi sia-sia. Saat dia sudah berada tepat dimana istrinya disekap, Kode rumit itu menjadi penghalang terbesar. Ia berusaha memecahkan kode itu, namun tak berhasil. Akhirnya dia pulang dengan hati yang berat dan beban yang semakin bertambah.
"Apakah sesulit itu?" mendengar fakta dari Ayahnya membuatnya semangatnya mulai goyah. Muncul keraguan-keraguan tentang, apakah ia mampu untuk melakukannya.
"Tidak apa! Sehebat apapun dia, pasti punya kelemahan." Alfian yang tadinya mulai ragu kini bersemangat kembali.
...........
(Rumah Jenny)
Jenny dan Ayahnya terlihat sedang menunggu makanan di meja makan. Mereka tak sabar memakan makanan yang disiapkan oleh Cassandra.
"Ayah, aku mau cerita tentang kejadian yang terjadi di kemarin."
Baskara yang memperhatikan punggung istinya itu langsung mengubah posisi duduknya. Dia sekarang menatap serius wajah Jenny seakan-akan sedang menunggu kelanjutannya.
"Ibu ingat dengan Joy? Cowok yang pernah aku cerita itu loh!" Tanya Jenny kepada Casandra.
"Ingat, kenapa dengan dia? Wah! Pasti ada hal yang seru ya?" Ucap Casandra seraya meletakan ayam panggang di meja.
Casandra segera menarik salah satu kursi yang berada tepat di depan Jenny. Ia memfokuskan pandangannya ke wajah putri kesayangannya ini.
"Kemarin aku menciumnya!" Ucap Jenny seraya tersenyum senang.
Ia menumpukkan wajahnya di kedua telapak tangan lalu tersenyum sambil menutup mata. Ia membayangkan kembali sensasi saat bibirnya menyentuh bibir Joy.
"Eits... Kamu tidak boleh melakukan hal itu kepada pria! Apalagi dia adalah pria yang normal!" Omel Baskara. Ia tidak suka mendengar apa yang dilakukan oleh Jenny terhadap Joy.
Casandra melempar Baskara dengan sendok yang baru di ambilnya. Ia menatap tajam seolah tidak suka dengan apa yang dilakukan Baskara.
"Sakit, Bun!" Baskara memegangi kepalanya yang sakit itu sambil memperlihatkan wajah kesal.
"Jangan menceramahinya! Kau tidak ingat kelakuanmu dulu? Perlu ku ingatkan lagi!" Ucap Casandra seraya melemparkan tatapan tajam.
"Hehehe...Ampun, Bun." Ucap Baskara seraya menyatukan kedua tangannya seperti seseorang yang sedang memohon.
"Gimana pola makan kamu disana? Apakah teratur?" Tanya Casandra sambil memberikan Sepiring nasi dan ayam panggang.
"Bunda kreatif dikit dong! Masa setiap kali pulang selalu nanya begitu! Aku bosan dengarnya!" Jawab Jenny yang sedikit bosan dengan pertanyaan yang selalu di tanya oleh sang Bunda.
Jenny mengarahkan pandangannya kepada Baskara. Ia menatap lekat wajah ayahnya sebelum memberikan pertanyaan yang membuatnya bingung.
"Ayah... Joy itu orangnya baik. Dia yang selalu merawat ku ketika aku jatuh sakit. Namun, setiap kali tubuhnya bersentuhan denganku, dia selalu saja membersihkan diri. Aku saja sempat insecure dengan tubuhku! Aku pikir dia seperti itu karena merasa aku kotor! Aku selalu merawat tubuhku dengan baik kok, aku selalu mandi 3 kali sehari. Lalu kenapa dia bersikap seperti itu?" Tanya Jenny seraya menggembungkan pipinya.
"Kamu pernah bilang Joy itu dingin banget kan? Kamu juga pernah bilang dia selalu menjauh kalau ada wanita lain yang mendekatinya? Tapi kenapa dia bisa dekat denganmu? Kenapa dia sangat perhatian padamu?" Ucap Casandra seraya menatap Baskara. Ia ingin mendengar sudut pandang dari Baskara.
"Mungkin dia suka sama kamu, sayang. Untuk sikapnya yang seperti itu Ayah tidak mengerti. Seorang pria nafsunya akan sangat tinggi kepada wanita yang dicintainya. Dia akan sangat kesulitan mengontrol dirinya, gejolak dalam dirinya akan sangat besar. Apakah mungkin sikapnya itu karena dia ingin menjaga dirinya? Sejauh ini alasan itu cukup masuk akal." Jawab Baskara.
Mendengar penjelasan Ayahnya dia sangat lega. Akhirnya semua pertanyaan yang tidak ada jawaban itu sudah terselesaikan.
"Jadi dia berbuat seperti itu karena ingin menjagaku? Dia tidak ingin melakukan hal yang akan merugikan ku?" Tanya Jenny lagi.
"Tepat sekali! Dia terlalu mencintaimu sayang. Ayah sangat suka dengan pria yang pikirannya seperti itu! Jarang sekali ada pria yang pemikirannya sekeren ini." Puji Baskara.
"Joy tak seperti dirimu!" Ledek Casandra.
"Bunda ih! Nggak usah ungkit masa lalu! Ayah kan udah tobat!" Kini Bagaskara yang terlihat cemberut. Ia tak suka Casandra mengungkit perbuatannya dulu.
"Jenny! Kau harus menjauhi Kayla jika kalian bertemu di suatu tempat. Dia orang yang jahat! Dia tak mau mengungkapkan kebenaran tentang kematiannya Kak Denis! Kau harus selalu ingat itu!" Ucap Casandra dengan nada yang tegas.
Dia sama sekali tidak terlihat sedang bercanda. Matanya pun memancarkan kebencian saat menyebut nama Kayla.
Suasana harmonis itu menjadi dingin. Tatapan Baskara dan Casandra membuat suasananya berubah. Mereka sangat terpukul atas kematiannya Denis.
Bagaimana kalau kalian tahu aku satu tim dengan Kak Kay? Apalagi hubungan kita yang akrab seperti saudara kandung... Membuatku merasa bersalah kepada Kak Denis.
Jenny hanya menunduk. Ia tak mampu menatap mata kedua orangtuanya. Dia juga bingung dengan diri sendiri, apalagi rasa sayangnya yang begitu besar kepada Kayla.