Theodore, sang Kakak, memberikan tantangan kepada Celestine untuk mencari calon suamimu sendiri dalam satu bulan, atau dia yang akan memilihkan.
Celestine setuju.
Baginya, pangeran-pangeran di ibu kota terlalu "lembut" karena dia ingin seseorang yang bau mesiu, darah, dan sihir kuat. Dia berangkat sebagai utusan diplomasi ke Kekaisaran Heavenorth, wilayah yang dikenal paling keras.
Demi menemukan pria impian yang memenuhi standar kejam namun ajaib nya, Putri Celestine melakukan perjalanan ke perbatasan Kekaisaran yang paling berbahaya, hanya untuk menemukan bahwa pria yang ia cari adalah seorang monster di medan perang dan penyihir dingin yang menjaga gerbang kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 15 : Kedatangan sang adik
Pagi itu, Lapangan Merdeka di jantung kota Valley tidak lagi dipenuhi oleh pedagang atau alkemis yang santai. Suasana terasa tegang dan penuh desas-desus. Ribuan rakyat Valley berkumpul di tribun tinggi, mata mereka tertuju pada satu sosok yang berdiri tegak di tengah arena pasir putih. Di atas podium kehormatan, Theodore duduk dengan raut wajah serius, didampingi Celestine yang jari-jemarinya saling bertautan karena gugup.
"Apakah menurutmu ini perlu, Kak?" bisik Celestine. "Dia baru saja sampai, dan kau membiarkan para jenderal lama dan sekutu dagang menantangnya seperti ini?"
"George sendiri yang memintanya, Celestine," jawab Theodore tanpa mengalihkan pandangan. "Di Valley, emas bisa membeli kesetiaan, tapi hanya kekuatan yang bisa membeli rasa hormat yang mutlak. Para sekutu dari pesisir dan jenderal kavaleri kita tidak akan pernah tunduk pada 'pria es' kecuali mereka melihat sendiri daya serangnya."
Di tengah arena, tiga ksatria elit dari Pasukan Meriam Emas sekutu militer terkuat Valley maju dengan zirah berat yang dilengkapi pelontar alkimia. Mereka telah berkali-kali menentang pengangkatan George, menganggapnya hanya seorang pengungsi yang beruntung.
"Tuan George!" teriak salah satu ksatria sambil mengarahkan laras senjatanya yang mulai membara merah. "Tunjukkan pada kami apakah es utara itu bisa menahan ledakan api Alkimia tingkat empat, atau kau akan mencair sebelum matahari mencapai puncak!"
George tidak menjawab. Ia hanya meluruskan punggungnya, membiarkan jubah birunya tertiup angin. Tangan kristal putihnya mulai berpendar dengan cahaya platinum yang sangat terang, memberikan sensasi dingin yang mendadak membuat suhu di seluruh arena merosot tajam.
"Silakan," kata George singkat. Suaranya datar namun menggelegar di seluruh lapangan.
Tanpa peringatan, ketiga ksatria itu melepaskan tembakan serentak. Tiga bola api raksasa melesat dengan kecepatan tinggi, menciptakan gelombang panas yang membuat penonton di baris depan harus menutupi wajah mereka.
George menghentakkan kaki kanannya ke tanah. "Es Abadi: Perisai Fajar!"
Seketika, sebuah pilar kristal transparan setinggi sepuluh meter mencuat dari bawah tanah, membentuk lengkungan yang melindungi George. Saat bola api menghantam kristal itu, tidak ada ledakan. Sebaliknya, api itu justru terserap ke dalam struktur es, mengubah warnanya dari putih menjadi oranye membara namun tetap padat.
"Hanya itu?" tanya George dari balik perisainya.
"Jangan sombong!" Ksatria itu kembali menyerang, kali ini mereka berlari mendekat sambil mengayunkan palu godam yang dialiri listrik statis.
George melompat mundur dengan sangat ringan, seolah gravitasi tidak berlaku baginya. Ia menarik pedang hitamnya yang kini telah ditempa ulang oleh para master alkemis Valley. "Kalian bicara tentang daya serang? Biar kutunjukkan apa yang terjadi jika es bertemu dengan energi matahari."
George mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Cahaya matahari yang terik di atas kepala mereka seolah-olah ditarik masuk ke dalam bilah pedang itu melalui tangan kristal George. "Tarian Platinum: Hujan Bintang Beku!"
Ia mengayunkan pedangnya secara horizontal. Dari udara kosong, muncul ratusan jarum kristal yang bercahaya keemasan. Jarum-jarum itu melesat dengan daya tembus yang mengerikan. Dalam hitungan detik, senjata dan perisai berat milik ketiga ksatria itu hancur berantakan, terpaku ke tanah oleh kristal yang tidak bisa mereka hancurkan.
Para sekutu yang menonton dari pinggir lapangan terkesiap. Mereka melihat bagaimana George bergerak seperti bayangan cepat, efisien, dan sangat mematikan. Tidak ada gerakan yang sia-sia.
"Cukup!" teriak salah satu sekutu dari wilayah pesisir sambil berdiri dari kursinya. "Itu hanya pertahanan! Bisakah kau menghancurkan benteng bergerak kami?"
Ia memberi isyarat, dan sebuah mesin perang alkimia berbentuk kura-kura raksasa yang terbuat dari baja hitam dikeluarkan ke arena. Mesin itu dikenal tidak bisa ditembus oleh serangan sihir maupun fisik biasa.
George menatap mesin itu tanpa ekspresi. Ia menutup matanya sejenak, membiarkan mana dari Celestine yang terikat dalam jiwanya mengalir ke ujung pedangnya. "Satu serangan. Itu saja yang kubutuhkan."
George melesat secepat kilat. Ia tidak menyerang dari depan, melainkan melompat tinggi ke udara, berputar di antara sinar matahari, dan turun seperti meteor yang terjatuh.
"Hancurkan: Pedang Penghakiman Es Surya!"
Bilah pedangnya menghantam pusat mesin baja itu. Terjadi keheningan sesaat sebelum sebuah ledakan cahaya platinum membutakan semua orang di arena. Saat cahaya meredup, mesin baja hitam itu telah terbelah menjadi dua bagian sempurna, dengan bekas potongan yang membeku dan mengeluarkan uap dingin yang aneh.
George berdiri di tengah reruntuhan mesin itu, tidak ada satu pun debu yang menempel di pakaian sutranya. Ia memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarungnya dengan suara *klik* yang tajam.
Seluruh tribun terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya suara sorak-sorai yang memekakkan telinga meledak. Rakyat Valley berdiri, meneriakkan namanya. Para jenderal lama yang tadinya mencibir kini hanya bisa menunduk malu, mengakui bahwa mereka baru saja menyaksikan kekuatan yang melampaui logika militer mereka.
"Kau melihatnya, Theodore?" tanya Celestine dengan mata yang berkaca-kaca karena bangga. "Itu pria yang kau ragukan kekuatannya."
Theodore berdiri, bertepuk tangan dengan mantap. "Aku tidak pernah meragukannya, Celestine. Aku hanya ingin mereka semua tahu bahwa mulai hari ini, siapa pun yang menantang Valley, mereka tidak hanya akan berhadapan dengan emas kami, tapi juga dengan kedinginan abadi yang dibawa oleh sang Jenderal."
George menengadah ke arah podium kehormatan, matanya bertemu dengan mata Celestine. Ia memberikan hormat kecil, bukan sebagai bawahan, melainkan sebagai pasangan sejati yang telah membuktikan bahwa mereka tak terkalahkan.
"Jadi," kata George saat Celestine menghampirinya di arena sesaat setelah ujian berakhir. "Apakah ini sudah cukup untuk membuat mereka diam?"
"Lebih dari cukup, George," jawab Celestine sambil tertawa bahagia. "Aku rasa setelah ini tidak akan ada lagi yang berani menantang mu, kecuali jika mereka ingin menjadi patung es di tengah pasar dagang."
George tersenyum, kali ini dengan penuh kemenangan. "Mari kita pulang. Aku butuh teh hangat setelah mengeluarkan semua energi itu."
"Apapun untuk Jenderalku," sahut Celestine sambil menggandeng lengannya, membiarkan seluruh rakyat Valley menyaksikan persatuan abadi antara sang matahari dan sang pelindung es yang baru saja mengukir sejarah di atas pasir putih arena.
Debu dari reruntuhan mesin alkimia masih mengepul di udara saat George berjalan tenang menuju pinggir arena. Para bangsawan dan perwakilan sekutu yang tadinya duduk dengan angkuh kini berdiri dengan wajah pucat. Beberapa di antaranya bahkan tidak berani menatap mata kelabu sang jenderal saat ia lewat.
Celestine turun dari tribun dengan langkah tergesa, mengabaikan protokol istana yang mengharuskan seorang putri berjalan anggun. Ia langsung berdiri di depan George, matanya memindai setiap inci tubuh ksatria itu.
"Kau tidak terluka? Serangan terakhir tadi... aku merasakan lonjakan mana yang sangat besar melalui ikatan kita," tanya Celestine dengan nada khawatir yang tertahan.
"Aku baik-baik saja, Celestine. Mesin itu memang kuat, tapi jantungnya terbuat dari logam yang sangat peka terhadap perubahan suhu ekstrem. Aku hanya perlu mencari celahnya," jawab George. Ia melirik tangan kristalnya yang masih mengeluarkan uap dingin tipis.
Theodore menyusul di belakang mereka, diikuti oleh para pengawal pribadinya. Ia bertepuk tangan sekali lagi dengan raut wajah puas yang tak bisa disembunyikan.
"Luar biasa, George. Kau baru saja membuat Master Persenjataan Pesisir menangis karena mesin kebanggaannya hancur dalam satu tebasan," ujar Theodore sambil tertawa. "Lihat wajah mereka di sana. Itu adalah wajah orang-orang yang baru saja menyadari bahwa politik mereka tidak lagi memiliki taring di hadapan kekuatanmu."
"Aku tidak bermaksud menghancurkan mesin itu sepenuhnya, Yang Mulia. Tapi mereka terus menantang tentang 'daya serang', jadi aku memberikan apa yang mereka minta," sahut George datar.
"Dan kau melakukannya dengan gaya yang sangat Valley, George. Megah dan tak terbantahkan," tambah Celestine.
Tiba-tiba, seorang jenderal tua dengan banyak medali di dadanya Jenderal Kaelen, pemimpin kavaleri lama Valley melangkah maju ke arah mereka. Ia membungkuk dalam, sebuah penghormatan yang hanya diberikan kepada sesama pemimpin tertinggi militer.
"Tuan Jenderal George," suara Kaelen terdengar parau namun penuh hormat. "Saya mewakili para veteran Valley memohon maaf atas keraguan kami. Kekuatanmu bukan hanya tentang es, tapi tentang presisi yang hanya dimiliki oleh ksatria sejati. Kami akan bangga bertarung di bawah komandomu."
George menatap pria tua itu sejenak, lalu ia membalas hormatnya dengan menempelkan tangan di dada. "Terima kasih, Jenderal Kaelen. Aku tidak di sini untuk menggantikan posisi siapa pun. Aku di sini untuk memastikan bahwa cahaya matahari kerajaan ini tetap bersinar tanpa terhalang oleh bayangan apa pun."
"Jawaban yang sangat bijak," gumam Theodore. "Nah, sekarang semua orang sudah tahu siapa kau sebenarnya. Aku ingin kita mengadakan pertemuan tertutup malam ini. Para sekutu pesisir ingin membicarakan kontrak perlindungan baru, dan aku ingin kau, George, yang menentukan syarat-syaratnya."
"Aku?" George tampak sedikit terkejut. "Aku bukan seorang diplomat, Yang Mulia."
"Kau adalah orang yang baru saja membelah baja hitam mereka menjadi dua, George. Di mata mereka, kata-katamu sekarang lebih berharga daripada segunung emas," kata Celestine sambil tersenyum lebar. "Tenang saja, aku akan mendampingi mu untuk memastikan kau tidak terlalu galak pada mereka."
"Baiklah, jika itu memang diperlukan," jawab George pasrah.
Mereka mulai berjalan meninggalkan lapangan Merdeka menuju kereta kuda istana. Di sepanjang jalan, rakyat yang masih berkumpul di pinggir jalan meneriakkan nama George dan Celestine secara bergantian. Beberapa anak kecil bahkan mencoba menyentuh jubah George, ingin merasakan dinginnya sang legenda dari utara.
"Rasanya aneh dicintai oleh banyak orang seperti ini," bisik George saat mereka sudah berada di dalam kereta.
"Kau harus mulai terbiasa, George," sahut Celestine sambil menyandarkan kepalanya di bahu George. "Di Valley, kami mencintai pahlawan kami hampir sama besarnya dengan cinta kami pada matahari. Dan kau... kau adalah pahlawan yang paling bersinar saat ini."
"Matahariku ada di sini," balas George sambil menoleh ke arah Celestine, senyum tipis yang jarang terlihat kini menghiasi wajahnya secara permanen.
"Tolong, simpan kemesraan kalian sampai kita sampai di istana," Theodore memotong dari kursi di depan mereka sambil memutar bola matanya, meski ia sendiri tidak bisa menahan senyum puas. "Kita punya banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Kerajaan-kerajaan tetangga pasti sudah mendengar kabar ini, dan mereka akan segera mengirimkan utusan untuk melihat 'Penyihir Es dari Selatan' ini dengan mata kepala mereka sendiri."
George menatap ke luar jendela kereta, melihat menara-menara emas Valley yang menjulang tinggi. Ia menyadari bahwa ujian di arena tadi hanyalah awal dari tanggung jawab besarnya. Namun, dengan Celestine di sisinya dan kepercayaan dari Theodore, ia merasa tidak ada tantangan yang terlalu besar untuk dihadapi.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Celestine pelan.
"Aku berpikir tentang masa depan," jawab George. "Tentang bagaimana kita akan membangun akademi itu, dan bagaimana aku akan memastikan tidak ada lagi ksatria yang harus menderita karena kutukan yang salah dipahami seperti yang kualami dulu."
"Kita akan membangunnya bersama, George. Itu janji kita," kata Celestine mantap.
Kereta kuda itu melaju menuju istana di bawah sinar matahari sore yang hangat, membawa sang jenderal baru menuju takdir yang jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan di tengah badai es utara.