Tujuh tahun lalu, malam penyerangan musuh menghancurkan segalanya.
Venus terpaksa pergi membawa rahasia kehamilan yang belum sempat diungkapkan pada suaminya—Dante.
Kini, Venus harus bertahan hidup bersama Sean, putra mereka yang memiliki tatapan sedingin es milik ayahnya.
Saat takdir mempertemukan mereka kembali, dunia Venus seketika runtuh. Dante telah menikah lagi dengan wanita yang menyelamatkan nyawanya.
Meski Dante tak pernah mencintai istri barunya dan terus mencari Venus, Venus memilih bungkam. Venus tak ingin menghancurkan rumah tangga pria itu.
Namun, saat mata Dante tertuju pada sosok Sean, rahasia tujuh tahun itu terancam
Akankah Dante berhasil menemukan Venus dan mengenali Sean sebagai putranya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 3 Dante Masih Hidup?
"Detektif Ve, masuk ke ruangan saya sekarang!"
Venus membetulkan letak topeng kulit di wajahnya sebelum melangkah masuk ke ruang kepala detektif, Jacob.
Langkahnya mendadak kaku. Oksigen di paru-parunya seolah tersedot habis saat melihat siapa yang sedang duduk di kursi tamu.
Dante—suaminya.
Pria itu masih sama seperti dulu, tapi auranya kini jauh lebih gelap dan berbahaya. Di sampingnya, seorang wanita cantik dengan gaun merah ketat. Memeluk erat lengan Dante seolah memamerkan kepemilikan.
"Ve, ini tuan Dante. Dia ingin membuka kembali kasus penyerangan mansion tujuh tahun lalu," ujar Jacob tanpa tahu, ada badai yang mengamuk di hati staf barunya.
Venus tertegun. Suara Jacob terdengar jauh di telinganya. Sementara tatapan matanya hanya tertuju pada Dante yang selalu ia tangisi setiap malam. Venus ingin berteriak, ingin menghambur ke pelukan itu dan mengatakan bahwa ia masih hidup, bahwa mereka punya seorang putra.
Namun, pemandangan jemari Bianca yang mengelus lengan Dante dengan begitu mesra, membuat lidahnya kelu.
"Astaga, Sayang! Wajahnya menjijikkan sekali!" Bianca tiba-tiba memekik, menutup hidung dan mulutnya dengan menahan mual. "Jacob, apa tidak ada detektif lain yang lebih layak dilihat? Aku bisa muntah melihat bekas luka itu."
"Maafkan saya, Nyonya," ucapnya, masih terpaku pada Dante.
"Jaga pandanganmu! Jangan menatap suamiku dengan tatapan menjijikkanmu itu!" ketus Bianca lagi, matanya menyala penuh kebencian. "Kau itu hanya pesuruh, jangan bermimpi bisa menarik perhatian pria seperti Dante dengan mata melasmu itu."
Dante tetap diam, hanya matanya yang tajam mengamati setiap gerak-gerik Venus yang sedikit gemetar.
"Cukup, Bianca," ucapnya dingin.
"Tapi Sayang, dia mengerikan!" Bianca menghentakkan kakinya, lalu beralih menatap Dante dengan manja. "Aku tunggu di luar saja, ya? Malas sekali melihat wajah wanita ini. Rasanya kulitku ikut gatal." Setelah mengecup pipi Dante dengan sengaja di depan Venus, Bianca melenggang keluar dengan angkuh.
Begitu pintu tertutup, Dante melangkah perlahan mendekati Venus hingga jarak mereka hanya tersisa satu meter. Venus bisa mencium aroma parfum maskulin yang sangat ia rindukan, aroma yang selalu membuatnya rindu.
"Tujuh tahun berlalu," ucap Dante lirih. "Aku sudah mengerahkan seluruh intelijenku, tapi seolah ada tangan tak terlihat yang menutup semua akses informasi tentang istriku. Jika kau memang sehebat yang Jacob katakan, temukan mereka."
Venus meremas jemarinya kuat-kuat di balik meja. "Kenapa Tuan tetap mencari istri anda? Anda sudah memiliki nyonya."
Dante terdiam. Ia menatap lurus ke arah mata Venus, satu-satunya bagian wajah yang tidak tertutup luka palsu. Untuk sesaat, Dante merasa jantungnya berdenyut aneh, sebuah debaran familiar yang sudah lama mati.
"Ada hutang yang belum lunas," jawab Dante dingin. "Dan ada hati yang tidak bisa dipaksa pindah, meski dunia menganggapnya sudah menjadi abu. Lakukan tugasmu, Detektif Ve. Jangan kecewakan aku."
Dante berbalik pergi tanpa tahu bahwa detektif yang ia sewa adalah jawaban dari seluruh pencariannya selama ini.
Venus jatuh terduduk, air matanya luruh membasahi topeng kulitnya. Dante masih mencintainya, tapi Dante kini milik wanita lain.
******
Perjalanan pulang dari sekolah Sean sore itu terasa lebih dingin daripada biasanya. Venus duduk di samping Leo dengan pandangan lurus yang kosong.
Sejak meninggalkan kantor pusat tadi siang, jiwanya seolah tertinggal di sana, di ruangan pengap tempat Dante menatapnya tanpa mengenali siapa dia sebenarnya.
Leo, yang duduk di kursi kemudi depan dengan topeng buruk rupa yang sudah dilepas sebagian, melirik Venus dengan dahi berkerut. Biasanya, Venus akan mengomel tentang tugas sekolah Sean atau mengkritik gaya mengemudi Leo yang serampangan.
Tapi hari ini, wanita itu diam seribu bahasa.
"Kakak Ipar, kau masih bernapas, kan?" tanya Leo mencoba memecah keheningan. "Wajahmu lebih pucat dari biasanya. Apa Jacob memberimu tugas untuk menangkap hantu?"
Venus tidak menjawab.
Sean, yang duduk di kursi belakang sambil memangku tabletnya, akhirnya bersuara tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Mama bertemu suaminya tadi siang," sahutnya.
Leo menginjak rem mendadak hingga mobil terhenti di pinggir jalan yang sepi. Kepalanya nyaris terbentur dasbor. Ia menoleh dengan mata melotot ke arah Venus, lalu ke arah Sean.
"Apa?! Kau bilang apa tadi, Sean? Bertemu siapa?" pekik Leo dengan jantung berdegup kencang.
Venus menyandarkan kepalanya. Napasnya terdengar berat. "Dia datang ke kantor, Leo. Dia menyewa detektif untuk mencari kita."
Leo tertegun, tangannya seketika gemetar. "Dia hidup? Kak Dante benar-benar masih hidup? Lalu kenapa kau lemas begini? Seharusnya kita merayakannya! Kita bisa berhenti bersembunyi di lubang tikus ini!"
"Tapi semua tidak sesederhana itu, Leo," bisik Venus.
Sean meletakkan tabletnya di samping tas sekolah. Bocah enam tahun itu menatap ibunya melalui spion tengah dengan sorot mata sendu. "Lalu apa yang membuat Mama sedih? Bukankah Mama seharusnya bahagia karena akhirnya bertemu suami Mama? Bukankah itu tujuan Mama menjadi detektif?"
Venus memejamkan mata rapat-rapat. "Dia sudah menikah, Sean. Dia datang bersama seorang wanita. Dia terlihat sangat menghargai wanita itu."
Leo kehilangan kata-kata. Ia tahu betul betapa hancurnya perasaan Venus yang selama tujuh tahun ini menjaga kesetiaan dalam pelarian yang menyiksa.
"Jadi hanya karena itu?" tanya Sean tiba-tiba.
"Hanya karena itu katamu? Sean, dia suamiku! Dia papa kandungmu yang belum sempat tahu kalau kau ada di rahim Mama!" tangis Venus pun pecah.
Sean menghela napas panjang, lalu bersedekap. "Ma, dengarkan aku. Jika seorang lelaki sudah memilih untuk memberikan tempat di hatinya kepada orang lain, untuk apa dia ditangisi? Jika dia benar-benar mencintaimu seperti dalam dongeng yang Mama ceritakan, dia tidak akan membiarkan wanita lain menggenggam tangannya, sesulit apa pun situasinya."
"Kau tidak mengerti, Sean. Dia mengira aku sudah mati," bela Venus lirih.
"Itu alasan klasik untuk orang yang lemah, Ma," potong Sean telak. "Dan dari apa yang aku lihat di berita tentang keluarga Carson, dia adalah orang yang punya segalanya. Jika dia mau, dia bisa membalikkan bumi untuk mencari kebenaran. Tapi dia memilih untuk melanjutkan hidup dengan orang lain. Itu adalah pilihan, bukan kecelakaan."
Leo melongo mendengar ucapan keponakannya. "Bocah ini... dia bicara seperti konselor pernikahan," gumamnya.
Sean mengabaikan pamannya dan terus menatap Venus. "Mama membuat kesalahan besar dengan menerima tugas itu. Jika Mama ingin melupakannya, Mama seharusnya pergi jauh saat melihatnya tadi. Tapi Mama malah memilih masuk ke dalam dunianya lagi. Untuk apa? Untuk menyiksa diri sendiri melihat mereka bermesraan?"
Venus terisak, menatap putranya dengan perasaan campur aduk.
"Jangan menjadi lemah karena cinta yang sudah basi, Ma," lanjut Sean, kali ini suaranya sedikit melembut tapi tetap tegas. "Kalau dia sudah mengkhianati janji masalalu kalian, maka dia tidak layak mendapatkan air matamu, apalagi rahasia tentang keberadaanku. Kita hidup dengan baik selama tujuh tahun tanpa dia. Kita bisa melakukannya tujuh puluh tahun lagi."
Sean kembali mengambil tabletnya. "Jalankan mobilnya, Paman Leo. Aku lapar. Sandwich dua lapis keju jauh lebih penting daripada drama pria yang lupa jalan pulang."
Leo berkedip beberapa kali, lalu perlahan mulai menjalankan mobil kembali. Ia menatap Venus yang sedang mengusap air matanya. Kata-kata Sean memang pahit, tapi kebenaran di dalamnya menghujam tepat ke jantung.
sampe punya anak seJenius Sean??
Eh tapi kayaknya Anak seJenius Sean cuma ada di Novel deh
tapi loe masih punya istri lain???
Huweeeeekkkkkkk, Venus gak akan sudiii Oiiiiii 😠
Boleh juga idenya si Leo 🤪🤣🤣
gimana donk??
kata² cinta loe 7 tahun lalu itu Beneran pretttttttt pada waktunya 🙎