Elizabeth Zamora atau yang biasa di panggil dengan Liz telah terjebak dalam pernikahan kontrak yang membawa dia pada titik terendah dalam hidupnya.
Akankah Liz bisa melalui takdir yang telah digariskan semesta untuknya ??
Happy Reading 💜
Enjoy 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratu_halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8
Tama turun ke lantai bawah. Disana masih ada Liz dan Nenek yang sedang mengobrol, entah apa yang dibicarakan tetapi dari jarak Tama berdiri, Tama bisa melihat Nenek tertawa begitu lepas. Tawa yang jarang sekali Nenek perlihatkan setelah kepergian suaminya, kakek Tama.
Ekhem
Tama berdehem, membuat Nenek dan Liz melirik nya bersamaan. Tapi bukannya menyapa, Nenek dan juga Liz malah kembali mengobrol lagi membuat Tama mendengus kesal, keberadaannya seolah tak di anggap sama sekali.
"Nanti aku ajarkan Nenek buat puding Caramel. Kebetulan nek, dikantor aku sering menjualnya. Tapi itu pun kalau ada yang pesen saja."
Mata Nenek berbinar, "Benarkah ? Besok kita buat, ya, ini.... Kamu catat bahan-bahannya, biar nanti nenek suruh pembantu membelikannya." Nenek menyerahkan pulpen serta satu lembar kertas pada Liz.
Tama geleng-geleng kepala, "Astaga. Nenek saja sudah cukup merepotkan. Ini tambah satu lagi. Ck! Beban hidup bukannya berkurang malah bertambah." Tama pun berlalu ke ruang kerjanya.
"Ini, nek..." Liz memberikan kembali kertas yang sudah di catat nya.
"Surti," Panggil nenek pada pembantunya.
"Iya, Nya.." ART bernama Surti itu langsung datang dari belakang dengan langkah cepat.
"Ini, tolong belikan ini sekarang." Nenek menyerahkan kertas beserta uang sebanyak berwarna merah sebanyak tiga lembar.
"Baik, Nya. Ada lagi ?" tanya Surti.
Nenek menggeleng, "eh, sekalian kamu panggilkan supir, satpam dan ART yang lain. Saya mau mengenalkan kalian seorang penghuni baru dirumah ini."
Takut-takut Surti melirik ke arah Liz.
"Baik, Nyonya."
Setelah Surti pergi, Nenek kembali bicara pada Liz.
"Di rumah ini kedudukan kamu sama seperti Yurike. Tidak perlu sungkan dengan pekerja disini."
Liz mengangguk pelan, tak lama datang para pekerja dirumah tersebut.
"Ini istri kedua Tama. Namanya Nona Liz."
Kelima orang pekerja yang datang langsung mengangkat kepala mereka menatap Liz serentak saking kagetnya mendengar kalimat 'Istri kedua' Tama.
"Ingat! Jangan sampai kabar ini bocor keluar! Kalau sampai terjadi, saya akan menuntut atas pencemaran nama baik. Dan saya pastikan hakim akan berpihak pada mereka yang memiliki uang dan kuasa!"
Glek!
Liz sampai meneguk ludah susah payah. Ternyata sikap Tama yang arogan menurun dari sang nenek.
"Ba-baik, Nyonya." Jawab mereka.
"Yasudah. Silahkan kalian kembali bekerja."
Ruang keluarga kembali sunyi.
Nenek menoleh ke Liz yang tampak shock.
Sambil tersenyum Nenek berkata, "Jangan kaget. Nenek melakukan ini agar Tama maupun kamu tidak dirugikan. Lagi pula, para pekerja disini bisa dikatakan hidup dengan sangat nyaman. Mereka tinggal disini, makan disini, gaji dan tunjangan mereka pun utuh, dan Tama memberikan asuransi kesehatan ke mereka semua tanpa memotong sepeserpun dari upah yang mereka dapatkan tiap bulan. Anggap saja ini balas budi mereka pada Tama."
Liz manggut-manggut.
"Yasudah, kamu istirahat dulu saja. Sebentar lagi pasti Yurike keluar dari kamar nya. Nenek ingin bicara berdua dengan kakak madumu."
"Baik, Nek. Permisi," Liz beranjak dari ruang keluarga menuju kamar tamu. Tak lama Nenek mendengar langkah kaki mendekat ke arah nya. Tanpa Nenek lihat pun, wanita itu sudah tau siapa yang datang menghampiri.
"Duduklah, Yurike. Nenek ingin bicara dengan mu." Suara Nenek dingin. Kontras sekali perbedaan nada bicaranya ketika Nenek bicara dengan Liz tadi.
"Maaf, Nek. Aku mau bicara dengan Liz dulu!" Yurike memutar langkah, tapi Nenek tidak berhenti sampai disitu.
"Duduk atau keluar dari rumah ini!"
Deg.
Ayunan kaki Yurike yang hampir sampai ke kamar tamu seketika terhenti. Yurike menggeram dalam hatinya.
'Sial! Dasar Nenek sihir! Kapan sih lo mati," Batin Yurike.
Rumah besar ini memang turun temurun milik keluarga Baskoro. Nenek-pun lahir dan tumbuh dirumah ini. Meski rumah tua, tapi bukan berarti rumah ini memiliki kesan menyeramkan. Justru karena seringnya di renovasi, bangunan awalnya sudah tak sama lagi.
Kelak ketika Nenek sudah tidak ada, Nenek ingin Tama tetap tinggal disini beserta anak dan istrinya. Sebab kenangan dirumah ini terlalu berharga untuk ditinggalkan.
Mau tak mau Yurike berbalik. Berjalan ke arah Nenek kembali.
Yurike duduk di sofa lain.
"Ada apa, Nek ?" tanya Yurike malas.
Nenek meletakkan rajutan nya yang hampir selesai diatas meja, membuat Yurike ikut melihat ke benda itu.
"Nenek tidak akan berbasa basi. Nenek minta kamu biarkan Liz dan Tama tidur bersama selama sebulan ini. Jangan merengek apalagi memaksa Tama untuk tidur di kamar kalian! Nenek ingin segera memiliki cucu."
Deg.
Nafas Yurike terdengar berat, penuh gejolak antara kaget dan tidak terima.
"Kenapa ? Kenapa Nenek tega sekali padaku ?" gumam Yurike lemas. Suaranya nyaris menyerupai bisikan putus asa.
"Apa kamu bilang ? Saya tega ?!"
Yurike mengangkat wajah, membalas tatapan Nenek tak kalah tajam.
"Bukankah ini semua rencana kamu ? Seharusnya kamu senang karena rencana yang kamu rancang ini akhirnya berhasil. Kamu sudah menyeret Elizabeth, sahabatmu sendiri ke dalam masalah rumah tangga kalian, seharusnya kamu malu!" Suaranya mulai sedikit ketus.
"Ta-tapi, Liz juga tidak dirugikan ? Dia butuh biaya banyak untuk operasi kanker Ibunya dan aku bisa membantu dia untuk membayar semua tagihan itu!" Yurike tetap bersikeras merasa dirinya tidak bersalah.
Nenek menyeringai, "Ya. Seperti itu lah wujud asli mu, Yurike! Kau memanfaatkan kesulitan orang lain demi mencapai tujuanmu, bahkan pada sahabat mu sendiri!"
Sepersekian detik kedua wanita itu saling beradu pandang. Yurike merasa tatapan Nenek Zalia seolah-olah sedang menertawakan dirinya tanpa suara.