NovelToon NovelToon
Bayi Kesayangan Caelan

Bayi Kesayangan Caelan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Single Mom / Suami amnesia
Popularitas:737
Nilai: 5
Nama Author: Ann Soe

Amelia Cameron nekad mendatangi kantor Best Idea Design milik seorang arsitek terkemuka, Caelan Harrison, untuk menuntut hak keponakannya, Emi. Amelia percaya bahwa Caelan merupakan ayah biologis dari Emi, putri kecil dari adiknya, Olivia yang sudah meninggal. Namun, seperti sebelumnya ketika Olivia menuntut hal yang sama, Caelan menolak untuk bertanggung jawab. Caelan berkata dirinya bukan ayah Emi, bahkan belum pernah bertemu Olivia sebelumnya.
Amelia berkeras, karena memiliki bukti hubungan Olivia dan Caelan. Akan tetapi, Caelan sama kerasnya dan meminta bukti tes DNA. Sebelum tes DNA yang dijadwalkan dilakukan, Caelan muncul di pintu rumah Amelia, berkata ingin bertanggung jawab membesarkan Emi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Soe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 35

Ketika Amelia melewati ruang duduk untuk mengantarkan Caelan ke ruang makan, Clara ada di ruang duduk bersama Anna. Clara menangis dan Anna sedang membujuk Clara. Awalnya, Amelia hanya ingin melewati ruangan itu agar bisa sarapan bersama Caelan, kemudian mengurus rutinas pagi Emi. Sudah lama sejak Amelia mengurus rutinitas pagi Emi, dan ia merindukan waktu yang dihabiskan bersama keponakannya itu.

Namun, niat Amelia menuju ruang makan urung dilakukan setelah mendengar namanya disebut Clara. Ia menghentikan langkah dan membuat Caelan yang duduk di kursi roda menatapnya bingung. Amelia memberi kode dengan menunjuk ke dalam ruangan.

“Amelia memang tidak pernah menyukaiku, dia selalu tampak bermusuhan denganku. Seolah aku sudah melakukan kejahatan besar padanya. Padahal aku tidak pernah jahat padanya.”

Clara membersit hidung dengan tisu.

“Padahal dia yang jahat padaku. Dia yang merebut Caelan.”

Kening Caelan berkerut bingung, lalu menatap Amelia meminta penjelasan yang dibalas Amelia dengan mengangkat bahu.

“Seharusnya, aku yang menikah dengan Caelan,” ujar Clara dengan yakin. “Tante juga menginginkan itu, bukan? Makanya, Tante mengatur perjodohanku dan Caelan lagi. Kalau tidak ada Amelia, pasti aku yang sekarang jadi menantu Tante, dan yang terpenting, pasti Caelan tidak akan mengalami kecelakaan itu.”

Amelia memerhatikan Caelan dengan gugup. Meskipun sudah menceritakan pada Caelan mengenai penyebab kecelakaan dan reaksi Caelan tidak terlihat marah, tapi Amelia masih merasa bersalah. Sebab Caelan harus mengalami dislokasi di angkle kaki kiri karena kecelakaan itu. Selain itu, juga kehilangan sebagian kecil ingatan.

“Tante lihat bagaimana kelakuan wanita itu, kan?” Suara Clara kembali terdengar. “Dia naik ke ranjang Caelan padahal Caelan masih belum mengingatnya. Dia jelas terburu-buru ingin membuat Caelan mengingatnya agar status sebagai istri Caelan tidak hilang. Karena dengan status itu dia bisa hidup nyaman tanpa perlu bekerja keras.”

Amelia mencengkeram pegangan kursi roda hingga jarinya memutih. Perkataan Clara benar-benar membuatnya marah. Wanita itu menjelek-jelekkannya dengan begitu fasih di depan Anna, dan Anna tidak mengeluarkan sanggahan sedikit pun. Merasa perlu membela citra diri di depan Caelan, Amelia mendorong kursi roda Caelan ke dalam ruang duduk.

“Menurutku, Amelia tidak benar-benar mencintai Caelan. Dia hanya menginginkan uang Caelan. Kalau dia menyayangi Caelan, pasti bisa lebih sabar menunggu ingatan Caelan pulih, bukan memaksa seperti itu.”

Clara menutup mulut ketika Amelia masuk ke ruangan bersama Caelan.

Amelia hanya menatap Clara dengan tangan terlipat di depan dada. Tatapannya dibalas tantangan oleh Clara, dan Amelia tidak gentar sedikit pun. Amelia tidak mengalihkan mata dari Clara hingga akhirnya Clara yang mengalihkan pandangan.

“Lihat, Tante Anna, Amelia memang sebenci itu padaku,” adu Clara pada Anna. Clara masih mencoba mencari pembelaan.

“Tidak, Clara. Amelia tidak begitu.” Akhirnya Anna mengeluarkan suara untuk membela Amelia. “Kau salah mengerti mengenai Amelia.” Anna menoleh pada Caelan, “Jangan dengarkan Clara, dia tidak mengerti keadaannya.”

“Aku tahu, Ma. Amelia menceritakannya padaku,” sahut Caelan. “Di malam aku melamar Amelia untuk yang kedua kalinya, Mama malah mengatur perjodohanku dengan Clara.”

“Kau mengingatnya?” tanya Anna penuh harap.

Caelan menggeleng. “Sudah kukatakan, kalau Amelia menceritakannya padaku,” jawab Caelan. “Semalam aku meminta Amelia menceritakan mengenai hal-hal yang kulupakan. Itu yang membuat Amelia ada di kamarku.”

Pembelaan Caelan seharusnya sudah cukup untuk membuat Clara bungkam. Namun, Clara sepertinya belum menyerah untuk menjelek-jelekkan Amelia.

“Kau yakin yang diceritakannya adalah kebenaran?” tanya Clara. “Bisa saja dia berbohong, memanfaatkan ingatanmu yang hilang untuk menyembunyikan fakta sebenarnya.”

“Kau menuduhku berbohong?” Amelia naik pitam.

“Apa salah jika aku meragukanmu?” Clara balas bertanya. “Asal usulmu tidak benar-benar jelas. Kau muncul begitu saja, mengklaim keponakanmu adalah anak dari Henry, dan memanfaatkan bayi kecil itu untuk menjerat Caelan. Kau bisa saja berbohong dan mengatur semua ini agar bisa hidup nyaman dengan uang Caelan.”

Amelia membuka mulut untuk membela diri, tapi Clara lebih cepat mengeluarkan serangan.

“Entah cara apa yang kau gunakan sehingga Caelan terpaksa menikahimu. Karena kalau benar kalian menikah karena saling cinta, Caelan tidak mungkin lupa padamu, kan?”

Mulut Amelia merapat membentuk garis lurus. Kata-kata Clara menusuknya tepat di ulu hati. Apa yang dikatakan Clara sebenarnya pernah terlintas dalam pikiran Amelia, tapi tidak pernah berani Amelia akui. Karena ia takut kalau pemikiran itu benar, maka kebahagiaan yang dirasakannya beberapa bulan terakhir hanyalah semu.

Apalagi mengingat pembicaraan Caelan dan Simon yang pernah Amelia dengar. Rasanya, kemungkinan Caelan menikahinya bukan karena cinta melainkan sebuah tanggung jawab atau penebusan dosa, benar-benar nyata.

“Selain itu, Emi juga belum tentu benar-benar anak Henry, seperti apa yang kau katakan.”

Tepat setelah Clara mengatakan hal itu, Sandra masuk ke ruangan membawa Emi yang menangis.

“Aku tidak bisa menghentikan tangisnya, sepertinya dia mencarimu,” ujar Sandra.

Amelia langsung menghampiri dan mengambil Emi dari gendongan Sandra. Amelia membujuk Emi yang mencengkeram erat pakaian Amelia sambil menyembunyikan wajah di leher Amelia.

Amelia berusaha membujuk Emi untuk meredakan tangis anak itu. Ia membisikkan kata-kata menenangkan, hingga tangisan keras Emi berubah menjadi isak tangis.

Emi masih menempel pada Amelia ketika Clara menghampiri dan memerhatikan Emi. Amelia refleks menjauhkan Emi dari Clara karena merasa wanita itu hendak mencelakai Emi.

“Kalau diperhatikan, anak ini sama sekali tidak mirip dengan Henry. Warna matanya, rambutnya, ataupun hidungnya tidak terlihat seperti Henry,” kata Clara.

Kemarahan Amelia naik ke ubun-ubun mendengar tuduhan Clara. Ia bisa bersabar dengan tuduhan dan hinaan yang diarahkan Clara padanya. Namun, ketika Emi yang harus menerima tuduhan, Amelia langsung angkat bicara untuk membela.

“Emi mirip dengan ibunya. Kalau kau tidak tahu apa-apa, jangan menuduh sembarangan.”

Emi yang berada di gendongan Amelia kembali gelisah. Namun, Amelia menepuk-nepuk punggung Emi agar tenang. Akan tetapi, Clara terus menyerang tanpa peduli yang diserang adalah seorang bayi yang tidak bisa membela diri sendiri.

“Coba perhatikan dengan saksama, Caelan, Tante Anna. Anak ini sama sekali tidak mirip dengan Henry.”

Ketika Clara hendak menyentuh Emi, Amelia menepis tangan Clara.

“Cukup! Kau sudah keterlaluan. Tidak apa jika kau menuduh dan menghinaku, aku bisa membalasnya, tapi jangan sentuh keponakanku. Dia tidak boleh kau jadikan objek untuk menyerangku.”

“Clara, sebaiknya kau pergi,” kata Caelan. “Keberadaanmu di sini tidak dibutuhkan.”

“Tidak, Caelan.” Clara langsung bersimpuh di depan Caelan. Menyentuh lutut Caelan sambil membujuk. “Aku tidak punya maksud jahat. Aku di sini untuk membantumu.”

Caelan memundurkan kursi roda dengan memutar roda menggunakan kedua tangan. “Terima kasih, tapi bantuanmu tidak diperlukan,” sahut Caelan. “Justru kehadiranmu hanya memperkeruh keadaan.”

“Aku tidak akan pergi!” Clara berkeras.

“Clara, tolonglah. Jangan memperburuk keadaan.” Kali ini Anna mencoba membujuk Clara. Sementara Simon muncul di ambang pintu ruang duduk dan mengamati situasi.

“Aku tidak memperburuk apa pun, Tante,” protes Clara. “Justru aku ingin membuat semua ini jelas.”

“Clara, to-“

Namun, Clara mengabaikan bujukan Anna dan kembali mendatangi Amelia. “Kalau memang anak ini adalah anak Henry, aku ingin kau membuktikannya,” tantang Clara.

Amelia tidak gentar sedikit pun, karena ia yakin Emi memang putri Henry dan sudah melakukan tes DNA untuk membuktikan hal itu.

“Aku punya buktinya.” Amelia menyahuti tantangan Clara dengan berani. “Aku sudah membawa Emi untuk tes DNA dan hasilnya sudah keluar.”

Sesaat Clara terlihat terkejut dengan jawaban Amelia. Namun, tidak membuat wanita itu berhenti menantang Amelia. “Kalau begitu, tunjukkan.”

“Surat dari rumah sakit ada di rumah kami. Aku akan mengambil dan menunjukkannya pada kalian.”

Amelia berderap keluar ruangan sambil membawa Emi. Tujuannya pintu utama rumah. Namun, langkahnya terhenti karena tersadar bahwa ia membutuhkan mobil untuk bisa pergi ke rumah.

“Papa akan mengantarmu,” ujar Simon sembari menepuk bahu Amelia. “Tenanglah, Sayang. Semua akan baik-baik saja.”

Amelia hanya mengangguk, lalu mengikuti langkah Simon ke pintu yang mengarah ke garasi.

Beberapa menit kemudian, mereka sudah melaju menuju rumah pernikahan Amelia dan Caelan yang hanya berjarak sekitar lima belas menit dari kediaman Harrison.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!