Maira, seorang istri yang harus membagi penghasilan nya untuk istri dari kakak ipar nya yang sudah meninggal dunia.
Sang suami dan mertua hanya memanfaatkan uang nya, demi kepentingan mereka semua.
Tidak hanya itu, Suami nya, Azam malah menjalin hubungan dengan kakak ipar nya dengan alasan mau membantu janda kakak nya tersebut.
Mereka semua kelimpungan saat Maira memutuskan untuk tidak mau membantu lagi, dan menyerahkan semua nya pada Azam, suami nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
"Mai, kamu tetap tidak mau membantu mbak Nia? Kasihan dia baru saja di tipu!" Azam masih membujuk Maira,
Maira hanya diam, dia segera mengeluarkan motor nya dari dalam garasi lalu memanaskan nya selama beberapa menit.
"Mai, coba bayang kan jika kau berada di posisi mbak Nia. Ku rasa kau tak akan sanggup, tidak punya suami dan kini harus kehilangan rumah nya!" Azam tetap tidak mau menyerah juga.
"Mas, jika aku tidak mau membantu mbak Nia. Mungkin saat ini aku sudah mengusir nya dari rumah ini, tapi nyata nya tidak kan?. Aku membiarkan nya tinggal di rumah ini, aku juga memberi makan semua orang di rumah ini. Jadi bantuan seperti apa lagi yang mas maksud kan?" Tanya Maira dengan suara yang sudah mulai meninggi.
"Bukan begitu maksud ku Mai, kan mbak Nia butuh uang untuk semua kebutuhan Ayu, jadi aku minta tolong pada mu, tolong kamu transfer uang sama mbak Nia!" Bujuk Azam lagi.
"Maaf mas, aku tidak bisa. Harus berapa kali lagi aku tegas kan pada mu, aku bukan mesin Atm keluarga mu!" Jawab Maira dengan ketus.
Maira sudah muak dengan permintaan Azam, dia langsung memakai helm di kepala nya. Maira langsung menarik gas motor nya, melaju meninggal kan Azam di halaman rumah sendirian.
"Maira, dasar istri durhaka kamu Maira!!!" Teriak Azam.
Tapi Maira tidak menoleh sama sekali, dia tidak perduli dengan apa yang di katakan oleh Azam. Azam mengusap rambut nya sendiri dengan kasar, Maira sudah jauh berubah. Maira sudah bukan lagi Maira yang dulu, Maira yang selalu menuruti semua ucapan nya.
"Kenapa lagi istri mu, Zam?" Tanya Mama Wina yang bergegas keluar karena mendengar teriakan Azam.
"Aku minta dia kirim kan uang sama Nia, Ma. Tapi dia menolak nya!" Jawab Azam dengan gusar.
"Udah, sekarang sebaik nya kamu nikahi aja Nia secepat nya. Kasihan Nia, dia butuh tempat unyuk bersandar. Apalagi saat ini dia sudah tidak punya apa - apa lagi, Mama tidak mau cucu Mama tidak punya masa depan!" Mama Wina menghasut putra nya.
"Nanti aku pikirkan lagi, Ma! Aku pergi dulu!" Azam langsung pamit pada Mama nya.
"Gak usah kelamaan mikir nya, Nia itu janda kakak mu. Dari pada dia di nikahi oleh orang lain lebih baik kamu, dengan begitu Mama tidak perlu khawatir lagi dengan masa depan Ayu!" Ujar Mama Wina.
Azam ingin sekali menikahi Nia, dia terlanjur jatuh cinta dengan janda kakak nya tersebut. Tapi bagai mana dia bisa menikahi Nia, karena Maira ada di rumah ini. Azam masih belum sanggup kehilangan Maira, karena peran Maira di rumah ini masih sangat besar. Azam akan kehilangan rumah ini jika Maira pergi, untuk membayar cicilan sendiri itu sangat tidak mungkin. Gaji nya sudah habis untuk Mama nya, Lara dan juga Nia.
*****
Maira tiba di kantor nya, dia memarkirkan motor nya di parkiran khusus karyawan. Maira tidak pernah malu pulang pergi naik motor, padahal dia adalah seorang manager. Maira sebenar nya di berikan fasilitas mobil oleh kantor, tapi dia sengaja menolak nya. Karena dia tahu Azam akan dan keluarga nya akan semakin bersikap keterlaluan jika dia membawa mobil kantor ke rumah.
Bisa - bisa nanti nya mereka akan mengakui mobil itu sebagai mobil milik mereka, dan ada satu hal lagi yang Maira tidak ingin jika sampai keluarga suaminya tahu. Jabatan nya sebagai manager, karena yang mereka tahu Maira hanya lah staf biasa yang bergantung pada uang nya Azam.
'Kasihan mbak Nia dan Ayu, mereka harus kehilangan rumah peninggalan almarhum mas Damar. Tapi semua itu terjadi karena kesalahan mereka sendiri, percaya sama investasi bodong' Batin Maira di dalam hati.
Sebelum memulai semua pekerjaan nya, Maira mengecek keadan rumah nya melalui kamera pengawas yang sudah di pasang nya. Dia melihat rekaman saat dia pergi tadi, di mana Mama Wina dan Azam sedang berbincang. Hati Maira sangat geram dan marah saat dia mendengar, bahwa Mama Wina meminta Azam segera menikah dengah Nia.
"Keterlaluan kau Ma, sedikit pun kau tidak punya rasa empati sebagai sesama Wanita. Bagai mana jika suatu saat anak perempuan mu yang di perlakukan seperti ini, apa kau bisa menerima nya!" Maira bermonolog pada diri nya sendiri.
Maira berfikir sejenak, mungkin akan lebih baik jika dia membiarkan Azam dan Nia menikah. Dengan begitu dia bisa mendapatkan bukti untuk bisa mengajukan gugatan cerai pada Azam, setidaknya akan lebih cepat dia keluar dari jeratan keluarga toxic itu.
"Baik lah mas, akan ku permudah jalan mu dan mbak Nia untuk menikah. Dengan begitu aku nisa benar - benar lepas dari semua ini, aku bisa pergi dengan kepala tegak dari sana!" Maira pun akhir nya memutuskan sesuatu.
Jam kerja sudah di mulai, Maira fokus pada pekerjaan nya saat ini. Untuk masalah rumah tangga nya dan Azam, dia sudah menemukan cara agar bisa lepas secepat nya dari mereka. Maira memutuskan untuk berbohong pada mereka, bahwa dia ditugaskan keluar kota selama satu minggu.
Dengan begitu, Maira yakin Azam pasti tidak akan menyia - nyiakan kesempatan saat Maira tidak ada di rumah. Azam pasti akan segera menikahi Nia, Maira bisa memantau nya melalui kamera pengawas yang sudah dia pasang di semua sudut rumah nya.
"Mungkin ini memang nasib rumah tangga ku, harus berakhir dengan ketuk Palu hakim di pengadilan!" Guman Maira sambil menghela nafas kasar.
Maira ingin sekali memiliki keturunan, tapi Azam selalu menolak nya dengan alasan ingin fokus pada Ayu terlebih dahulu. Maira sudah tidak sanggup lagi, selalu di tuduh dan di sebut wanita mandul oleh Mama Wina.
Tidak terasa jam istirahat makan siang sudah tiba, tapi Maira masih termenung di depan laptop nya. Sejujur nya dia masih menyayangkan nasib rumah tangga nya yang sebentar lagi akan berakhir, tapi dia juga tidak bisa mentolerir pengkhianatan yang sudah di lakukan oleh Azam.
Mungkin jika hanya masalah keluarga nya, Maira tidak begitu ambil pusing. Tapi perselingkuhan Azam dan Nia, hingga mereka berdua yang sudah melakukan hubungan suami istri membuat Maira tidak bisa memaafkan suami nya.
"Hei, kok malah ngelamun di sini sih? Di tungguin dari tadi gak keluar - keluar!" Omel Arini yang tiba - tiba muncul di depan pintu.
"Kamu Rin, ngagetin aja!" Omel Maira yang terkejut dengan kedatangan sahabat nya itu.
"Ngelamunin apa sih? Pasti masalah suami mu kan?" Tebak Arini tepat sasaran.
"Ya udah makan yuk, nanti aku ceritain sama kamu!" Maira langsung menarik tangan Arini menuju ke kantin.
Kedua sahabat itu langsung makan siang, Maira menceritakan rencana nya pada Arini. Maira membutuhkan bantuan Arini, agar semua nya terlihat lebih meyakinkan di hadapan Azam dan keluarga nya.
menurutku dia sudah berusaha agar tetap dapat uang agar dia bisa lanjut kuliah.
kalau tuk yg lain ya terserah mu thor beri peljarannya yg mantep 🤣