Di lembah Brantas yang tenang, Wira hidup sebagai pemuda desa biasa, tanpa nama besar, tanpa warisan, dan tanpa tahu bahwa darah yang mengalir di tubuhnya menyimpan rahasia berbahaya. Ketika desa tempat ia tinggal dibakar dalam pusaran perebutan kuasa antara Gelang-Gelang, Singhasari, dan para penguasa yang saling mengkhianati, Wira kehilangan segalanya dalam satu malam. Dari reruntuhan itu, ia dipaksa melarikan diri, bertahan hidup, dan perlahan menapaki jalan yang mengubahnya dari anak desa menjadi pendekar yang disegani.
Di bawah bimbingan Ki Rangga, bersama sahabat setianya Panca, Wira melewati latihan keras, perburuan, pengkhianatan, dan pertarungan hidup-mati. Sementara itu, Jayakatwang dan kekuatan-kekuatan besar lain bergerak di atas panggung sejarah, menjatuhkan kerajaan dan membangun tatanan baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Saksi di Bawah Tanah
Lorong itu turun sedikit lalu berakhir pada ruang sempit yang gelap dan dingin.
Wira melangkah paling depan, satu tangan menyentuh dinding batu yang kasar agar tak terpeleset. Di belakangnya, Ki Rangga, Jaya, Raden Seta, dan Panca menyusul satu per satu. Begitu semua masuk, suara dari luar tertutup oleh tanah dan batu, membuat ruangan itu terasa lebih sunyi daripada mana pun yang pernah mereka lewati. Udara di dalamnya lembap, tapi tidak berbau busuk. Lebih seperti udara yang lama tidak disentuh manusia.
Jaya mengangkat lampu kecil, dan cahaya kekuningannya menyingkap ruang bawah tanah yang tidak besar, namun terawat lebih baik dari yang Wira kira. Dinding kiri dan kanan disusun dari batu tua, sedangkan lantainya rata seperti pernah dipadatkan sengaja. Di sisi seberang ruangan ada meja batu rendah, dan di atasnya tergeletak tumpukan benda yang dibungkus kain lusuh. Di belakang meja, tampak panel kayu menempel pada dinding, nyaris tak terlihat karena warna gelapnya menyatu dengan batu.
Panca menatap sekeliling dan menghela napas pendek. “Aku mulai percaya tempat bawah tanah memang suka menyimpan masalah.”
“Bukan tempatnya,” kata Ki Rangga. “Orang yang menyimpannya.”
Wira tidak langsung bicara. Pandangannya tertuju pada meja batu di depan. Ada sesuatu pada ruangan ini yang terasa berbeda dari ruang simpan sebelumnya. Bukan sekadar tempat menyembunyikan barang, tapi tempat yang pernah dipakai untuk meninggalkan pesan. Atau mungkin menyaksikan sesuatu yang tidak boleh dilupakan.
Raden Seta maju pelan, lalu membuka kain lusuh di atas meja. Di bawahnya tampak beberapa lembar dokumen tua, sebuah pecahan logam pipih, dan satu kotak kayu kecil yang sudah retak di salah satu sudutnya. Wira menatap benda-benda itu dengan cermat.
“Ini milik siapa?” tanyanya.
Raden Seta tidak langsung menjawab. Ia justru mengambil lembar paling atas dan membacanya cepat. Wajahnya berubah sedikit, seperti orang yang baru menemukan sesuatu yang memang ia takutkan.
“Ini catatan lama,” katanya akhirnya. “Bukan sekadar simpanan.”
Jaya mencondongkan badan. “Apa isinya?”
Raden Seta menyerahkan lembar itu pada Ki Rangga. “Catatan tentang saksi.”
Wira mengerutkan dahi. “Saksi apa?”
Ki Rangga membaca cepat lalu menatap Wira. “Saksi atas perpindahan nama.”
Kalimat itu membuat ruangan terasa lebih dingin.
Panca menatap mereka bergantian. “Kalian memang sengaja pakai kata-kata yang bikin kepala orang nyut-nyutan, ya?”
Raden Seta mengabaikannya. Ia membuka lembar berikutnya dan menunjuk bagian tengah. Di sana ada tulisan tangan yang rapat, dengan beberapa kalimat yang dicoret tipis.
“Pada malam yang sama, tiga orang hadir. Satu membawa cincin. Satu membawa nama. Satu lagi menjadi saksi agar yang dihapus tetap hidup.”
Wira menatap tulisan itu tanpa berkedip. “Yang dihapus tetap hidup?”
Raden Seta mengangguk pelan. “Itu terdengar seperti orang yang berusaha menghapus garis keluarga, tapi gagal sepenuhnya.”
Wira menggenggam liontin di balik kainnya lebih erat. Satu bagian dalam dirinya ingin bertanya apakah yang dihapus itu keluarganya, apakah ayahnya termasuk di dalamnya, apakah ibunya benar-benar menyaksikan semuanya. Namun sebelum ia sempat bicara, Ki Rangga menunjuk ke pecahan logam pipih di atas meja.
“Ini bukan sembarang benda.”
Jaya mengangkatnya dan menatap permukaannya. Ada ukiran yang hampir sama dengan yang ada pada cincin, hanya lebih kecil dan rusak di pinggir. “Bagian dari penanda.”
Raden Seta mengangguk. “Mungkin penanda yang diserahkan kepada saksi.”
Wira menatap kotak kayu kecil yang retak. “Kalau begitu, kotak ini apa?”
Raden Seta menggeser kotak itu perlahan. Di bawahnya ada cekungan kecil berbentuk melingkar, seolah benda itu memang sengaja ditaruh di sana. Ketika kotak diangkat, terlihat garis-garis ukiran membentuk pola yang mengarah ke dinding belakang ruangan.
Ki Rangga langsung mengerti. “Ada kunci rahasia.”
Ia menghampiri panel kayu di belakang meja batu lalu menekan salah satu sisinya. Suara klik halus terdengar. Panel itu bergeser sedikit, memperlihatkan celah sempit di baliknya.
Panca langsung menegang. “Jangan bilang masih ada ruangan lain.”
Jaya menatapnya sekilas. “Kalau ada, justru itu yang kita cari.”
Panel itu dibuka lebih lebar, menyingkap ruang kecil di balik dinding. Tidak jauh berbeda dengan ruangan sebelumnya, tapi di dalamnya ada satu bangku panjang, rak kecil, dan sebuah peti baja tua yang tertutup debu tebal. Di dinding belakang, tertempel selembar kain yang telah menguning, seperti pengumuman atau ikrar lama.
Wira melangkah masuk lebih dulu. Napasnya tertahan.
Di kain itu tertulis kalimat yang cukup besar untuk dibaca, walau sebagian huruf sudah pudar.
“Jika saksi datang kembali, pintu nama harus dibuka.”
Wira mematung.
Panca membaca keras-keras lalu langsung menoleh. “Pintu nama? Apa lagi itu?”
Raden Seta menatap kain itu lama sekali sebelum menjawab, “Kemungkinan tempat untuk memulihkan identitas yang dihapus.”
Ki Rangga menghela napas pendek. “Jadi ini benar-benar tentang nama.”
Wira menatap mereka. “Nama siapa?”
Raden Seta menoleh padanya dengan sorot yang berat. “Nama keluargamu. Dan mungkin juga nama ayahmu.”
Kata-kata itu menghantam Wira seperti batu keras.
Ia menatap kain itu lagi, lalu ke peti baja tua di ujung ruang. Dalam pikirannya, semuanya mulai tersusun sedikit demi sedikit: cincin, kunci, peta, ruang bawah tanah, rumah lama, dan kini “pintu nama.” Benda-benda itu bukan sekadar petunjuk untuk menemukan harta atau rahasia. Mereka adalah alat untuk mengembalikan sesuatu yang sudah dicabut.
Jaya menatap peti baja itu. “Bisa dibuka?”
Raden Seta mengangguk. “Seharusnya.”
Ki Rangga maju dan memeriksa tutup peti. Di bagian tengahnya terdapat lubang kecil berbentuk bulat, sangat mirip dengan ukuran pecahan logam pipih yang ada di meja tadi. Jaya mengangkat benda itu dan menyerahkannya. Ki Rangga menempatkannya ke lubang itu, lalu memutar perlahan.
Terdengar bunyi dalam dari dalam peti.
Semua langsung diam.
Panca menahan napas. Wira bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Peti itu bergeser perlahan lalu terbuka dengan suara berat. Di dalamnya bukan emas, bukan perhiasan, melainkan tumpukan naskah, segel tanah liat, dan satu papan kayu tipis yang diikat dengan tali merah pudar. Di atas papan kayu itu terdapat tulisan tangan yang langsung membuat Wira terpaku.
“Aku tahu kau akan datang.”
Wira membeku.
Tulisan itu jelas milik ibunya.
Tangannya gemetar saat meraih papan kayu itu. Di bawah kalimat pertama terdapat beberapa baris lagi, lebih pendek, namun lebih menghantam.
“Jika kau menemukan saksi ini, maka kau sudah cukup dekat. Jangan percaya pada orang yang datang membawa nama lama, karena tidak semua nama lama kembali untuk menolong.”
Wira menatap tulisan itu, lalu perlahan mengangkat wajah. “Ibu menulis ini untukku.”
Raden Seta mengangguk. “Sepertinya begitu.”
Wira menelan ludah. “Berarti dia tahu aku akan menemukan tempat ini.”
“Ya,” kata Ki Rangga.
Panca memandang tulisan itu dengan kening berkerut. “Kau serius? Ibumu benar-benar menyiapkan semua ini berlapis-lapis?”
Wira tidak menjawab. Ia masih terpaku pada papan kayu yang dipegangnya. Di balik kalimat itu, ia merasa ibunya seperti masih berbicara padanya, jauh sebelum ia tiba. Bukan suara nyata, tapi jejak yang sengaja ditinggalkan agar ia tidak tersesat. Hal itu membuat dadanya perih.
Raden Seta mengeluarkan satu naskah lain dari peti baja dan membukanya hati-hati. “Ada daftar nama.”
“Nama siapa?” tanya Jaya cepat.
Raden Seta membaca sebentar, lalu wajahnya mengeras. “Nama orang-orang yang hadir pada malam penghapusan.”
Wira menatapnya tajam. “Ada nama ayahku?”
Raden Seta diam. Itu cukup untuk membuat Wira tahu jawabannya belum sepenuhnya mudah.
Ki Rangga mengambil naskah itu lalu membaca lebih teliti. Setelah beberapa detik, ia menunjuk satu baris di tengah halaman. Wira mendekat, lalu membaca nama yang ditunjuk gurunya.
Nama itu sangat singkat.
Tetapi cukup untuk membuat darahnya berdesir.
“Danar.”
Wira mengulang pelan. “Danar.”
Ki Rangga mengangguk perlahan. “Itu kemungkinan besar ayahmu.”
Wira menatap nama itu lama sekali. Danar. Ia mengucapkan nama itu di kepalanya beberapa kali, mencoba merasakan apakah nama itu punya tempat di dalam dirinya. Ada sesuatu yang aneh. Tidak akrab sepenuhnya, tapi juga tidak asing. Seolah nama itu sudah lama menunggu ditemukan.
Raden Seta memandang Wira. “Di samping nama itu ada tanda.”
Wira menoleh. Benar saja, di sisi kanan baris nama Danar terdapat coretan kecil berbentuk lingkaran setengah terbuka. Sama seperti ukiran pada cincin.
Jaya mengernyit. “Ini berarti Danar bukan orang biasa.”
“Tidak,” jawab Raden Seta. “Dia salah satu dari mereka yang terlibat langsung.”
Panca menatap Wira dengan wajah tidak enak. “Jadi ayahmu ada di dalam lingkaran itu?”
Wira tidak langsung menjawab. Ia menggeleng sangat pelan, lebih seperti menolak kenyataan daripada benar-benar menjawab. Semua ini terlalu banyak. Selama ini ia hanya berharap bisa menemukan ibu. Sekarang ia menemukan ayahnya juga—atau setidaknya namanya—dan nama itu justru masuk dalam daftar orang yang hadir pada penghapusan keluarganya sendiri.
“Kau baik-baik saja?” tanya Ki Rangga dengan suara lebih lembut dari biasanya.
Wira menatapnya. “Aku tidak tahu.”
Itu jawaban paling jujur yang bisa ia berikan.
Raden Seta menaruh naskah itu kembali ke peti. “Masih ada satu hal.”
Ia mengambil papan kayu yang ditulis ibunya dan membaliknya. Di bagian belakang ternyata ada gambar kecil: sebuah rumah, lalu di bawahnya garis putus-putus menuju titik yang diberi tanda silang. Di samping titik itu, tertulis singkat: “Tempat ketiga.”
Jaya langsung menegakkan badan. “Masih ada lokasi lain?”
Raden Seta mengangguk. “Tampaknya begitu.”
Panca memejamkan mata sebentar. “Aku benar-benar tidak suka kalimat itu.”
Ki Rangga menatap gambar itu lebih lama. “Tempat ketiga mungkin bukan ruang simpan.”
“Bisa jadi tempat pertemuan,” kata Raden Seta. “Atau tempat orang terakhir kali menyerahkan sesuatu.”
Wira menatap papan kayu itu dengan hati berdebar. Ibu masih menyimpan arah. Dan bukan hanya arah, tapi jejak yang menuntunnya kepada orang-orang lama yang pernah menyentuh hidup keluarganya.
Tiba-tiba terdengar suara dari atas ruangan kecil itu.
Bukan suara langkah kali ini.
Melainkan suara pintu ditarik keras.
Semua langsung tegang.
Jaya menoleh cepat ke arah celah masuk. “Mereka menemukan kita.”
Ki Rangga menyambar papan kayu dari tangan Wira. “Kita tidak punya waktu.”
Raden Seta segera menutup peti baja, tetapi tidak sempat menguncinya kembali. “Lewat celah belakang.”
Panca langsung mundur. “Tolong bilang ada celah belakang.”
“Ada,” jawab Ki Rangga.
Wira masih memegang liontin ayahnya dengan satu tangan. Dalam beberapa menit, dunia seakan berubah lagi. Ia bukan hanya menemukan saksi, daftar nama, dan petunjuk ibu. Ia juga menemukan bahwa ayahnya punya nama, Danar, dan nama itu justru terhubung dengan peristiwa yang menghapus keluarganya.
Ki Rangga menepuk bahunya. “Jangan terpaku. Bergerak.”
Wira mengangguk, lalu mengikuti yang lain masuk ke lorong sempit di belakang ruang saksi itu. Di belakang mereka, suara pintu dipaksa terbuka terdengar makin keras. Musuh sudah sampai. Mereka belum sempat mengerti siapa yang mengkhianati siapa, tetapi satu hal menjadi jelas: masa lalu keluarga Wira sudah punya nama, dan sekarang nama itu mulai bangkit lagi.
Di dalam lorong gelap itu, Wira menggenggam liontin dan papan kayu ibunya erat-erat.
Langkah mereka terus bergerak maju, sementara di belakang sana, saksi-saksi lama yang disembunyikan akhirnya kehilangan diamnya.
bukin pusing aja