NovelToon NovelToon
Aku Harus Mengulang Tiga Tahun Masa SMA

Aku Harus Mengulang Tiga Tahun Masa SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Slice of Life / Komedi / Time Travel
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: RS Star

Bagi Raka Aditya, menyendiri adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dari tekanan dunia yang melelahkan. Ia merasa asing dan tak dimengerti, hingga akhirnya beberapa orang datang menawarkan persahabatan yang tulus. Perlahan, cara pandang Raka mulai berubah. Ia pun belajar bahwa untuk menemukan tempatnya di dunia, ia harus lebih dulu belajar menerima dirinya sendiri dan orang lain apa adanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RS Star, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 7

Yah ... setelah itu aku pun meninggalkan rooftop sekolah. Agar tidak terlihat bahwa aku dan Maya habis bertemu, aku sengaja menunda bergerak untuk beberapa saat. Aku yakin sekolah akan heboh kalau sampai ada yang melihat aku dan Maya berduaan di atap sekolah. Serigala penyendiri bertemu dengan bintang sekolah paling imut ... haah, mungkin bumi pun akan berguncang karenanya.

Aku mengikuti sisa pelajaran hari ini dan segera pulang ketika bel sekolah berdering. Bersamaan dengan itu, sebuah pesan masuk di ponselku. Pesan itu dari Maya, menginformasikan tentang tempat pertemuan kami setelah pulang sekolah hari ini. Sebuah kafe keluarga yang letaknya mungkin sekitar sepuluh kilometer dari sekolah. Sialnya, aku harus berjalan kaki untuk sampai ke sana dan aku yakin itu akan sangat melelahkan.

Terpaksa aku berjalan kaki ke sana karena aku lebih memilih kelelahan daripada harus melihat ekspresi wajah marah Maya. Mungkin karena aku memang mudah terintimidasi, atau pada dasarnya raut wajah Maya ketika marah itu memang menakutkan ... entahlah. Aku sudah merasa sangat lelah hari ini untuk memikirkan hal semacam itu. Aku hanya ingin agar Maya menjauh dari kehidupanku.

Setelah beberapa saat berjalan sendirian, akhirnya aku sampai juga di kafe yang ditunjuk Maya. Secara mengejutkan, Maya sudah berada di sana bahkan sebelum aku tiba. Entah bagaimana ceritanya dia bisa sampai secepat itu. Dengan lambaian tangan, Maya memintaku untuk mendekat ke mejanya.

Sebuah kafe keluarga yang terlihat cozy. Di sini tidak berisik sama sekali, meski tidak bisa disebut sepi juga. Terlihat ada beberapa orang yang duduk dan sedang mengobrol bersama teman nongkrong mereka masing-masing. Terdapat banyak kursi panjang dengan sebuah meja besar; satu meja bisa memuat empat sampai enam orang. Pengunjung bisa saling berhadapan atau duduk bersebelahan.

AC-nya juga tidak terlalu dingin. Lalu, sepertinya minuman bisa diambil sendiri sebanyak apa pun karena aku melihat galon-galon berisi jus, teh, kopi, dan lain-lain. Harga makanannya pun cukup murah, terlihat dari papan menu beserta harganya.

Ini jadi kali pertama aku nongkrong di kafe bersama .... Hei ... aku sedang di kafe bersama seorang cewek, lho, ini ... aku baru sadar betapa menegangkannya situasi ini. Bukankah ini seperti sebuah kencan?

“Baiklah, mari kita mulai membahas tentang cara membuatmu mendapatkan seorang teman di sekolah,” celetuknya saat aku baru saja duduk di depannya. Maya sudah terlihat mengambil minuman dengan sebuah gelas di atas meja berisi teh dingin, dan sepertinya dia juga sudah memesan sebelumnya.

“Sebelum itu, tolong beri tahu cara memesan di kafe ini,” pintaku. Maya pun menghela napas, lalu dia menekan sebuah tombol di atas meja.

Tidak lama setelah Maya menekan tombol itu, seorang pelayan wanita datang mendekat membawa buku menu dan sebuah catatan. Maya menatap pelayan itu lalu berkata ...

“Tolong menu all you can eat satu paket lagi, ya,” ucap Maya.

“Paket all you can eat lima puluh ribu,” timpal pelayan. Lalu Maya melirikku, dan aku tahu apa maksud dari lirikannya itu.

Aku segera mengeluarkan uang dari dompetku lalu memberikannya kepada pelayan wanita itu. Setelah itu, pelayan pun meninggalkan meja kami tanpa mengatakan apa pun lagi. Saat itu aku bingung apa yang harus kulakukan, jadi aku kembali menatap Maya dengan raut wajah bengong.

“Haah ... serius kamu enggak tahu cara ambil makan dan minuman di sini?” tanya Maya. Aku menggelengkan kepala beberapa kali.

“Di sana ada berbagai makanan dan minuman yang boleh kamu ambil sepuasnya setelah membayar paket all you can eat,” ucap Maya sambil menunjuk sebuah meja berisi makanan kecil dan berbagai jenis minuman yang tersedia di dalam wadah galon.

Aku berjalan menuju meja yang sebelumnya ditunjuk oleh Maya untuk mengambil beberapa makanan kecil seperti biskuit, kue, dan kentang goreng, serta mengambil segelas Cola. Setelah itu, aku kembali berjalan ke mejaku. Di sana Maya sudah menunggu dengan sebuah senyuman yang membuatku merinding. Aku tahu ke arah mana pembicaraan ini akan berkembang; dia benar-benar serius dengan apa yang dikatakannya tadi di sekolah.

“Sekarang kita bahas bagaimana cara membuatmu bisa mendapatkan seorang teman,” celetuknya lagi. Aku pun memasang ekspresi kesal padanya.

“Kita beneran membicarakan soal ini?” tanyaku memastikan.

“Ya jelas!! Kamu pikir kita ngapain berada di sini?!” jawab Maya agak membentak. Aku pun menghela napasku.

“Aku sudah bilang berkali-kali kalau aku enggak butuh dan aku mau jadi serigala penyendiri secara sukarela,” ucapku dengan helaan napas. Aku sudah tidak mengerti lagi bagaimana cara menjelaskannya pada cewek ini.

“Bukannya sayang, ya, kalau sendirian saja selama tiga tahun? Kamu, kan, punya pengalaman dari kehidupan lamamu,” timpal Maya.

“Sudah kujelaskan tadi di sekolah, kan? Aku juga merasa kita hanya mengulang pembicaraan tadi siang di sekolah,” ucapku.

“Nah, itu! Yang mau aku katakan sekarang adalah kamu harus mengubah pola pikirmu itu. Apa ada orang yang ingin kamu jadikan teman?” tanya Maya terdengar antusias. Tanpa pikir panjang, aku pun menjawab,

“Enggak ada! Aku enggak bisa bergaul dengan orang yang punya teman lebih banyak dariku,” jawabku tegas, singkat, dan padat. Maya pun menatapku seolah-olah aku benar-benar sudah tidak memiliki masa depan apa pun.

“Berarti semuanya, dong ...,” ucap Maya dengan helaan napas. Aku pun hanya mengangguk beberapa kali untuk mempertegas perkataannya.

“Lalu di kehidupan sebelumnya, kamu berinteraksi sama siapa saja?” tanya Maya.

“Enggak ada! Level serigala penyendiriku itu sudah level dewa. Jangankan berinteraksi dengan teman, bahkan aku hanya membuka mulut untuk hal-hal yang enggak bisa kuhindari,” jawabku kembali tegas, singkat, dan padat. Lagi-lagi Maya menatapku seperti sedang melihat sesuatu yang sangat menyedihkan.

“Itu hanya akan memperburuk situasimu sebagai seorang penyendiri, tahu,” ucap Maya dengan nada iba.

“Berisik!” kataku dengan perasaan kesal, dan kembali Maya menghela napas.

“Bukannya enggak enak, ya, kalau seperti itu? Misalnya kamu enggak bisa masuk karena sakit atau ada urusan keluarga, mungkin juga kamu lupa bawa buku dan lupa mengerjakan PR, lalu ada juga kondisi di mana kamu harus kerja kelompok, kan? Bagaimana kamu bisa melalui semua itu tanpa teman?” tanya Maya lagi, dan kali ini dia terdengar sudah cukup kesal padaku.

“Bukannya pamer, tapi aku selalu sehat sepanjang tahun, jadi itu tidak pernah menjadi masalah buatku. Aku juga tidak pernah ada urusan keluarga yang mengharuskanku absen sekolah selama ini. Kalau lupa bawa buku dan enggak mengerjakan PR, ya aku pasrah saja. Yang terjadi, terjadilah,” jawabku santai. Seketika Maya memegang kepala dengan kedua tangannya, seolah-olah dia sudah sangat kesal namun berusaha menahan diri agar tidak berkata kasar.

“Masalah kelompok memang agak canggung, tapi selalu saja ada sisa-sisa orang yang kelompoknya kekurangan anggota, dan biasanya guru akan merekomendasikan aku untuk bergabung ke kelompok tersebut,” jelasku lagi, meneruskan kalimat sebelumnya. Maya kembali menghela napas, lalu tersenyum manis penuh kebanggaan menatapku.

“Meski aku sama sekali enggak punya rasa hormat padamu, aku sangat mengagumi kekuatan mental yang kamu miliki karena bisa bertahan dalam situasi menyedihkan itu selama ini,” timpal Maya.

“Kenapa rasanya aku mau menangis gara-gara perkataanmu itu, ya?” gumamku pelan. Aku meminum Cola-ku, lalu menarik napas dalam-dalam setelah sempat terdiam beberapa saat.

“Kalau dipikir dengan baik, sebenarnya kita ini kan sama-sama sendirian awalnya. Aku cuma merasa, kenapa hanya aku yang harus memohon-mohon untuk masuk ke dalam suatu kelompok pertemanan? Kenapa enggak ada yang memohon padaku untuk menjadi temanku?” tanyaku keheranan. Maya menatapku seolah-olah aku ini orang aneh dan menjijikkan, tergambar jelas dari raut wajahnya.

“Entahlah, aku enggak paham apa yang Raka pikirkan sebenarnya. Udah deh, lupakan. Sekarang aku paham harus mulai dari mana. Aku akan mencoba masuk ke dalam levelnya Raka saja. Jadi, Raka ... apa kamu membuka mata saat berada di dalam kelas?” tanya Maya dengan senyum penuh rasa iba.

“Kamu pikir tiap hari di sekolah itu pelajaran berenang anak SD, apa?!! Standarmu itu terlalu rendah buat aku!!” bentakku padanya. Bukankah itu terlalu merendahkan, bahkan untukku sekalipun? Dia bukan Vanya, kan?

“Ooh, enggak buka mata toh ~,” celetuknya.

“Bukaaaa!! Aku membuka mata tiap ada di dalam kelas!! Aku akan bertanya kepada teman sekelas kalau itu penting dan berhubungan sama sekolah!!” timpalku dengan rasa yang sangat kesal. Aku sudah cukup pusing menghadapi Vanya yang hobi menghinaku, jangan sampai cewek di depanku ini ikut-ikutan.

“Ooh ~ dengan siapa?!” serunya terdengar begitu antusias.

“Ya ... itu ... ketua kelas,” jawabku.

“Ketua kelas 1-A itu ... siswi bernama Luna Adelia, kan?” tanya Maya mencoba memastikan.

“Hah? Kok bisa tahu? Lagian aku yang satu kelas saja enggak tahu nama panjangnya,” jawabku heran.

Luna Adelia, ya ... Ya, dia ketua kelasku di SMA dari kelas satu, dua, dan tiga berturut-turut. Dia seorang cewek berambut hitam panjang lurus yang punya bentuk tubuh paling 'wow' di sekolah. Suaranya yang cukup keras memang cocok untuk menjadi pemimpin, atau setidaknya, ya, jadi ketua kelas. Di kehidupanku sebelumnya, dia adalah anak paling pintar di kelas selama tiga tahun berturut-turut. Dan menurutku, dia lumayan cantik ....

“Di kehidupan sebelumnya aku ini berteman sama Luna, lho,” jawab Maya sambil menunjuk dirinya sendiri. Tidak heran, sih, dua cewek populer memang biasanya saling berteman.

“Oh, begitu. Aku kira kamu itu menguntitku,” ucapku dengan nada sindiran.

“Kamu pikir aku perempuan apaan?! Tapi setidaknya aku tahu kamu ingat sama nama teman sekelasmu!” sahut Maya, terdengar penuh rasa kesal.

Bukan aku ingat sebenarnya. Aku bisa ingat karena dia pernah menjadi ketua kelasku selama tiga tahun berturut-turut, dan aku juga pernah berbicara dengan Luna beberapa kali dalam kurun waktu tersebut. Yah, meski semua pembicaraan kami hanya seputar urusan sekolah dan segudang kegiatannya, seperti pindah kelas, mengumpulkan PR, atau saat dia memberitahuku kalau besok ada hari libur. Sisanya ... aku rasa aku tidak pernah membicarakan hal lain selain hal-hal yang kusebutkan tadi.

“Hmm ... hmm ... baguslah kalau orang pertama itu Luna. Anaknya baik dan jujur. Dia juga baik sama semua orang, bahkan sama orang kayak Raka sekalipun,” gumam Maya. Meski begitu, aku masih bisa mendengarnya dengan sangat jelas.

“Hei, hei ... apa yang kamu pikirkan?” tanyaku penuh rasa curiga. Aku sudah memiliki firasat buruk melihatnya berpikir seperti itu.

Ketika melihatnya terdiam setelah bergumam sambil tersenyum-senyum seperti itu, aku membatin dalam hati, "Jangan-jangan dia berpikiran untuk membuatku berteman sama" ...Belum selesai aku menuntaskan kalimat di kepala, tiba-tiba Maya menunjukku dengan semangat yang berapi-api.

“Tentu saja aku memikirkan cara membuatmu bisa mendapatkan teman! Sekalipun kamu cuma berbicara masalah sekolah sama Luna, tapi itu sudah jadi permulaan yang baik. Menjalin komunikasi dengan orang yang pernah kamu ajak bicara sebelumnya pasti akan jadi lebih mudah, kan? Nah, untuk permulaan, sebaiknya kamu mulai dengan berteman sama Luna!!” seru Maya begitu bersemangat.

Tu ... tunggu dulu!! Bukannya menjalin pertemanan dengan lawan jenis itu jauh lebih sulit, ya?!! Kenapa bisa cewek ini berpikir aku harus memulai menjalin hubungan pertemanan dengan seorang cewek yang cukup populer di kelasku?!! Apa dia benar-benar sehat? Aku semakin yakin kalau sebenarnya Maya ini sudah cukup gila!! Tolong aku!!!

1
Chizuru
cekatan sama pesimis beda tipis gak sih 🤣🤣🤣🤣🤣
SS Star
tuh kan Raka!!! /Sob//Sob/ hasil dari suicide mission lo buat nyelametin orang malah bikin lo berakhir jadi public enemy dibenci satu sekolah, iih kzl!! /Sob//Sob//Sob/ elma juga napa diem bae, gak sadar apa ya kalau dia baru aja bikin raka dapet villain role sewilayah sekolah? gw sekarang literally jadi paham banget gimana perasaan maya, instinct buat nampol raka tuh emang sekuat itu rasanya /Sob//Sob//Brokenheart/
SS Star
iih lowkey kzl bet sama raka!!! /Sob//Sob/ kek gak ada cara buat save elma yang lebih gentle apa ya? /Sob//Sob/ meskipun gw kagum sih dia masih care dan mau bantu elma biar kejadian drop out itu gak keulang, tapi ya mikir dikit kek. minimal cari cara yang lebih cool dan berestetika gito loh/Sob//Sob/ rakaaa!!!
Cece
tragis bgt 🤣.. udahlah reinkarnasi Krn Maya...masih di bully habis2an SMA mayaaa....🤣🤣
You Know me So well
sadizz coeg 🤣🤣
i'm your
ampun dah, kesian bet sama raka/Cry//Cry//Cry//Cry//Cry//Cry//Cry//Cry/
Fatieh
tutup MBG, biarkan Maya dan Elma yang memasak 🔥🔥🔥
Raudhatul
elma gak enakan orangnya🤣🤣🤣
Chizuru
mayaa badash🤭🤭🤣
BiNtAnG kEjOrA
lanjutkan Maya...jangan berhenti😄😄😄😄
H5 (halima) :v
Maya sadiiiissss 🤣🤣🤣
i'm your
wkwkwk kesian amat
You Know me So well
ya ya ya bangga aja udah gpp 🗿🗿
Silvia: ayo Qt beri tepukan...😄
total 2 replies
SS Star
sari apaan sih, fix kesel banget sama nih orang /Panic//Panic//Panic/ keliatan banget kalah saing sama elma sampai harus playing dirty buat jatuhin dia /Panic//Panic/ tapi jujurly gw penasaran banget sih sama next move yang bakal raka lakuin buat mutar roda kenangan dia, lagian maya udah meremehkan raka banget ya, tapi aku kalau jadi maya sama aja sih responnya /Facepalm//Facepalm//Facepalm/ which is emang bener sih raka tuh keliatan useless banget dan gak guna sama sekali jadi manusia /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
SS Star
udah baca sejauh ini dan gw dapet konklusi: Raka emang takdirnya buat ditampol massal /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ Elma, Maya, sekarang Sari, semuanya punya insting yang sama buat ngeplak si raka/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ tapi jujurly alurnya makin seru pas masuk ke misteri hilangnya memory kehidupan pertama dia, fix ini sih topik yang bakal seru banget buat diexplore ke depannya, semngat Thorku /Determined//Determined//Determined/
SS Star
eh ko tumben ch ini agak deep, tapi seru sih jadinya gak bercanda mulu /Facepalm//Facepalm/ agak mempertanyakan kok raka bisa lupa sama Elma padahal teman sekelas, padahal diawal dia kyk dapet flashback sama kehidupan pertamanya gitu kan /Shy//Shy//Shy//Shy/ tapi ttp ya, point minusnya itu elma gak nampol raka ditempat /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ padahal aku menantikan itu loo thor, sepanjang ch ini raka pure bikin emosi jiwa /Facepalm//Facepalm/
pie gemilang
jangan berharap banyak Raka...sepertinya kamu akan mendengar kalimat itu setiap saat!🤣💪
Kerak Telor
🤣🤣🤣terjebak situasi apa lagi Raka ini?😄😄
Cece: kaga ada yg bener cara Raka ketemu cewek 🤣
total 1 replies
Kenzie
elma suka raka?? hmm.. maya terus gimana thor??
4rafah: Maya SMA Elma berantemin aja.🤣🤣🤣
total 2 replies
pie gemilang
go ahead maya🤣🤣🤣💪💪💪...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!