"Menikahlah dengan cucu keluarga Wijaya, setelah kakek meninggal. "
"Menikah!, sekarang? "ucap Salsa terkejut.
Salsa tidak percaya dengan ucapan kakeknya yang terbaring lemah di rumah sakit, tiba-tiba saja dia harus menikah dengan cucu temannya yang seorang polisi bernama Rian.
karena itu wasiat kakeknya yang sudah membesarkan dirinya setelah kedua orang tuanya meninggal, dirinya pun pergi ke kota membawa alamat, surat wasiat yang akan diberikan oleh keluarga Wijaya dan cincin pertunangan mereka.
Tapi Salsa menutupi identitas aslinya yang bisa melihat arwah, karena Rian orang yang sensitif jika menyangkut masalah seperti itu.
Tapi kemampuan special Salsa itu bisa membantu Rian memecahkan beberapa kasus yang sulit untuk di pecahkan.
bagaimana cerita pernikahan mereka yang banyak sekali perbedaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21.Sketsa dan koper berisi mayat.
Malam itu berlalu dengan tenang. Sesuai kesepakatan dan rasa hormat Rian pada Salsa yang masih sangat muda, malam pertama mereka tidak diadakan. Rian memilih tidur di kamar tamu di lantai bawah, sementara Salsa tidur nyenyak di kamar yang luas dan nyaman di lantai dua. Tidak ada kecanggungan, tidak ada tekanan. Hanya ada rasa aman yang mulai tumbuh di antara mereka berdua.
Matahari pagi mulai menyelinap masuk melalui celah tirai jendela. Salsa terbangun dengan segar. Ia meregangkan tubuhnya, merasa hari ini akan menjadi hari yang sangat sibuk namun menyenangkan.
Salsa berjalan menuju lemari pakaiannya. Ia memilih baju yang santai namun rapi—kaos oblong berwarna pastel dipadukan dengan celana jeans panjang dan sepatu kets. Penampilannya terlihat sangat muda, ceria, dan polos. Ia menyisir rambut panjangnya lalu mengikatnya setengah ke belakang dengan pita.
Sebelum turun, ia tidak lupa mengambil buku sketsa besar yang berisi gambar wajah wanita misterius itu semalam. Ia memeluknya erat-erat di dada.
"Tunggu ya, kak Rian bisa mengungkapkan siapa dirimu," bisiknya dalam hati.
Salsa berjalan menuruni tangga kayu yang lebar dengan langkah ringan. Bau harum yang sangat menggugah selera langsung menyergap hidungnya begitu sampai di lantai bawah. Bau roti bakar, telur dadar, dan kopi hangat.
"Wah... wangi banget," gumam Salsa takjub.
Di ruang makan, di balik meja makan yang panjang dan megah, terlihat sosok Rian yang sedang sibuk mengatur piring. Pria itu tidak lagi mengenakan seragam polisi lengkap dengan rompi anti peluru atau senjata, melainkan hanya menggunakan kemeja flanel lengan panjang yang digulung hingga siku dan celana chinos. Penampilannya terlihat jauh lebih santai, tampan, dan... seperti suami idaman.
"Pagi, Kak Rian!" sapa Salsa ceria sambil melambai tangan kecilnya.
Rian menoleh, dan seketika wajah seriusnya meleleh menjadi senyum hangat. Melihat Salsa yang berdiri di sana dengan wajah polos, baju santai, dan membawa buku gambar di pelukan, ada perasaan hangat yang menjalar di dadanya. Gadis ini benar-benar menggemaskan.
"Pagi, Sal. Tidur nyenyak?" tanya Rian sambil menarik kursi untuk istrinya.
"Nyenyak banget! Kasurnya empuk kayak awan," jawab Salsa jujur lalu duduk dengan manis. "Eh, Kak Rian yang masak semua ini? Wah hebat banget!"
"Iya dong. Kan sekarang kita tinggal berdua. Kakak harus jaga kesehatan istri kecil Kakak biar cepat besar," canda Rian sambil meletakkan sepiring roti bakar dengan selai dan telur dadar yang cantik di depan Salsa. "Silakan dinikmati, Chef Rian spesial."
Salsa tertawa kecil. Suasana pagi itu terasa sangat akrab dan hangat. Tidak ada jarak antara majikan dan pembantu, tidak ada jarak antara bos dan bawahan. Mereka benar-benar seperti suami istri yang sudah lama hidup bersama.
Mereka makan dengan lahap. Sesekali Rian memperhatikan cara makan Salsa yang tertib dan sopan, membuatnya semakin suka. Gadis ini meski masih kecil, tapi punya tata krama yang sangat baik.
"Enak banget Kak! Kak Rian jago masak juga ya, padahal kan polisi," puji Salsa dengan mulut penuh.
"Harus bisa dong. Kadang kan kalau lagi dinas jauh atau di posko, harus masak sendiri," jawab Rian bangga. "Udah habiskan semuanya, nanti kamu lelah di sekolah."
Setelah piring mereka bersih dan suasana menjadi lebih santai, Salsa menghela napas panjang. Saatnya tiba.
Dengan hati-hati, ia membuka buku sketsanya dan membalik halaman ke gambar yang dibuat semalam. Ia mendorong buku itu perlahan ke arah Rian.
"Kak Rian... inget janji semalam?" tanya Salsa memancing.
Rian mengerutkan kening, lalu menunduk melihat gambar di atas meja. Matanya membelalak sedikit. Itu adalah gambar wajah wanita yang sangat detail dan nyata. Goresan pensilnya begitu rapi seolah itu adalah foto cetak.
"Wah... kamu gambar ini sendiri? Bagus banget Sal, detail banget," puji Rian sambil memegang buku itu dengan hati-hati. Ia mengamati wajah wanita di gambar itu. "Ini siapa? Teman kamu?"
Salsa menggeleng cepat. "Bukan. Ini... ini orang yang aku temui semalam di mobil. Dia butuh bantuan banget Kak. Dia nggak ingat siapa namanya, keluarganya siapa, atau dia tinggal di mana. Dia kayak tersesat gitu."
Salsa berusaha menjelaskan sebaik mungkin tanpa menyebut kata 'hantu' atau 'arwah'. Ia tahu Rian agak sensitif dan tidak terlalu suka hal-hal yang berbau mistis.
Rian terdiam. Ia menatap wajah gadis istrinya yang polos dan tulus. Ia penasaran sebenarnya siapa wanita ini dan bagaimana Salsa bisa bertemu, tapi melihat Salsa yang begitu bersungguh-sungguh meminta bantuan, Rian tidak tega bertanya lebih dalam atau menolaknya. Ada perasaan bahwa ini penting.
"Oke... Kakak mengerti," jawab Rian akhirnya dengan nada lembut. "Kakak janji. Nanti sampai di kantor, Kakak akan masukkan wajah ini ke sistem data kependudukan. Kita cari tahu siapa identitasnya, alamatnya, dan keluarganya. Janji deh."
Mata Salsa langsung berbinar-binar penuh sukacita. "Benar? Makasih banyak Kak Rian! Kakak memang terbaik!"
Salsa begitu senang hingga tanpa sadar ia melompat sedikit dari kursinya dan memeluk lengan Rian dengan antusias.
Rian tersenyum lebar, jantungnya berdegup kencang merasa bangga dan sayang. Istri kecilnya ini benar-benar membuat hari-harinya terasa lebih berwarna.
"Sip, beres. Tapi sekarang..." Rian melirik jam tangannya, "...kita harus siap-siap. Hari ini hari pertama kamu masuk sekolah baru. Seragam dan buku-bukunya sudah siap di mobil ya."
"Iya siap, Komandan!" jawab Salsa dengan gaya hormat ala tentara yang lucu.
Rian tertawa lepas. Perasaan bahagia memenuhi ruang makan pagi itu. Mereka berdua tidak menyadari bahwa bahaya dan kebenaran yang mengerikan sedang menunggu di luar sana.
Di Tempat Lain: Dekat Kantor Polisi
Pagi itu, suasana di sekitar kantor polisi biasanya ramai oleh aktivitas petugas dan warga yang mengurus surat menyurat. Namun hari ini, suasana berubah menjadi mencekam dan penuh kehebohan.
Beberapa petugas kebersihan kota sedang mengumpulkan sampah di sebuah tong sampah besar yang terletak di gang sempit tidak jauh dari gedung kepolisian.
"Heh, ini koper apa sih? Besar banget nyampah di sini," gerutu salah satu petugas sambil menendang pelan sebuah koper jinjing berwarna hitam yang ukurannya sangat besar dan tebal. Koper itu terlihat mahal, tapi ditinggalkan begitu saja di sudut gelap.
"Mungkin orang buang barang rusak kali, Bung. Angkat aja," jawab temannya.
Mereka berdua mencoba mengangkat koper itu. Berat sekali. Saat mereka mencoba membuka resletingnya karena terkunci dan ingin tahu isinya agar bisa dibuang dengan benar, tangan mereka gemetar begitu melihat apa yang ada di dalamnya.
Wajah mereka pucat pasi, napas mereka tertahan.
"ASUUUUUUUUU!!!" teriak salah satu petugas itu hingga suaranya menggema.
Di dalam koper besar itu, bukan berisi pakaian atau barang berharga. Melainkan tubuh seorang wanita yang sudah tidak bernyawa. Tubuhnya dibungkus rapi dengan plastik hitam, namun wajahnya terlihat jelas.
Wanita itu... wajahnya persis seperti yang ada di sketsa gambar Salsa!
Berita itu menyebar dengan cepat layaknya api membakar rumput kering.
"Kasus baru! Ada mayat di dalam koper!"
"Lokasinya persis di belakang kantor!"
"Korban wanita, usia diperkirakan 20-an tahun!"
Para penyidik dan tim forensik langsung dikerahkan. Suasana menjadi sangat tegang. Pita polisi dipasang, orang-orang berkerumun dengan rasa penasaran dan takut.
up nya tiap hari doooooooo😅🙏
bagus banget
bisa dinikmati
lanjut 👍👍👍👍👍