Sejak ibu kandungku meninggal, aku hidup sebagai orang asing di rumahku sendiri. Saat perjodohan datang, harapanku hancur ketika kakak tiriku merebut segalanya dan aku dipaksa menikah dengan pria lumpuh yang tak kukenal. Namun, dari perjodohan yang tidak adil itu, aku justru menemukan ketulusan dan cinta yang selama ini tak pernah kudapatkan. Ketika kebenaran terungkap dan masa laluku ingin mengklaimku kembali, aku harus memilih—kembali pada yang seharusnya, atau bertahan pada cinta yang telah menjadi rumahku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uzumaki Amako, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 7
Langkah kakiku terasa lebih ringan saat kembali ke kamar.
Entah sejak kapan, perasaan yang biasanya menekan dadaku setiap kali selesai berbicara dengan seseorang… tidak muncul kali ini.
Aku menutup pintu pelan, lalu bersandar sebentar di baliknya.
Sunyi.
Namun bukan sunyi yang menyakitkan.
Lebih seperti… jeda.
Aku berjalan perlahan ke arah tempat tidur, lalu duduk di tepinya. Tanganku tanpa sadar menyentuh kartu debit yang tadi diberikan Adrian. Masih terasa asing di genggamanku.
Aku menatapnya lama.
Selama ini, aku terbiasa hidup dengan apa yang diberikan—atau lebih tepatnya, dengan apa yang tersisa.
Tidak pernah ada sesuatu yang benar-benar diberikan untukku.
Namun sekarang…
Aku menggenggam kartu itu sedikit lebih erat, lalu meletakkannya di meja samping tempat tidur.
“Aneh…” gumamku pelan.
Aku tidak tahu harus merasa apa.
—
Sore hari datang perlahan.
Cahaya matahari masuk dari jendela besar kamarku, menerangi ruangan dengan warna keemasan yang hangat. Aku berdiri di depan jendela, menatap taman luas di bawah.
Tempat ini indah.
Terlalu indah.
Namun masih terasa jauh.
Seolah aku hanya penonton yang kebetulan berada di dalamnya.
Aku menghela napas pelan, lalu berbalik menuju lemari.
Besok malam.
Acara makan malam.
Aku membuka lemari perlahan. Di dalamnya, sudah tergantung beberapa pakaian yang jelas bukan milikku sebelumnya. Gaun-gaun elegan, sepatu mahal, bahkan aksesori yang terlihat sangat berkelas.
Aku menyentuh salah satu gaun itu.
Lembut.
Indah.
Namun terasa… bukan aku.
“Aku harus pakai ini?” bisikku pelan.
Bayangan diriku di acara formal seperti itu langsung muncul di kepalaku. Duduk di antara orang-orang penting. Mendengar pembicaraan yang tidak kumengerti. Menjadi pusat perhatian—meski aku tidak menginginkannya.
Dadaku sedikit sesak.
Aku menutup lemari kembali.
“Tenang saja…” kataku pada diri sendiri. “Dia bilang aku tidak perlu bicara banyak.”
Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri.
Namun tetap saja…
Rasa gugup itu ada.
—
Malam datang tanpa terasa.
Aku duduk di meja kecil di kamar, membuka buku yang tadi sempat kubaca. Namun mataku hanya menatap halaman tanpa benar-benar membaca.
Pikiranku melayang.
Tentang rumah lama.
Tentang ibu.
Tentang semua yang sudah terjadi.
Dan sekarang… tentang Adrian.
Aku berhenti sejenak.
Memikirkan pria itu terasa… sulit.
Dia dingin.
Jelas.
Tidak memberikan harapan.
Namun juga tidak menyakitiku.
Bahkan… beberapa tindakannya terasa bertentangan dengan kata-katanya sendiri.
“Aku harap kamu tidak berharap apa-apa dari pernikahan ini.”
Aku mengingat ucapannya.
Namun di sisi lain—
Ia memberiku kebebasan.
Ia memberiku perlindungan.
Ia bahkan… memperhatikanku.
Aku menutup buku pelan.
“Dia sebenarnya orang seperti apa…” bisikku.
Tidak ada jawaban.
—
Keesokan paginya, aku kembali bangun lebih awal.
Kali ini, aku tidak tersesat lagi saat menuju dapur.
Aku bahkan sedikit tersenyum mengingat kejadian kemarin.
Begitu sampai di dapur, para pelayan langsung menyapaku dengan sopan.
“Nyonya, selamat pagi.”
“Selamat pagi,” jawabku pelan.
Aku mulai menyiapkan sarapan lagi.
Dan seperti yang ia katakan—
Adrian datang.
Tanpa banyak bicara, ia duduk dan makan.
Tanpa disuruh.
Tanpa komentar berlebihan.
Namun kali ini, suasananya terasa lebih… terbiasa.
Seperti ini adalah rutinitas baru yang diam-diam terbentuk.
—
Waktu berjalan cepat hingga sore hari.
Aku kembali ke kamar lebih awal untuk mempersiapkan diri.
Gaun yang kupilih akhirnya adalah yang paling sederhana di antara semua yang ada. Warnanya lembut, tidak terlalu mencolok.
Aku berdiri di depan cermin.
Menatap diriku sendiri.
“Ini saja,” kataku pelan.
Tidak perlu sempurna.
Tidak perlu menarik perhatian.
Cukup… tidak membuat masalah.
Aku menarik napas dalam, lalu keluar dari kamar.
—
Di lantai bawah, Adrian sudah menunggu.
Ia mengenakan setelan jas hitam yang rapi. Penampilannya… sempurna. Dingin. Tegas. Sulit didekati.
Aku berhenti beberapa langkah darinya.
“Aku sudah siap,” kataku pelan.
Ia menatapku.
Beberapa detik.
Tatapannya tidak berubah, tapi kali ini terasa berbeda.
Lebih lama.
Lebih memperhatikan.
“Kamu tidak pakai yang lebih mencolok?” tanyanya.
Aku sedikit gugup. “Apa… ini tidak cocok?”
Ia menggeleng kecil.
“Cocok.”
Aku menghela napas lega tanpa sadar.
Lalu ia berkata lagi—
“Lebih baik seperti ini.”
Aku sedikit terdiam.
Lalu mengangguk kecil.
—
Perjalanan menuju tempat acara dilakukan dalam diam.
Mobil melaju tenang di jalanan malam yang mulai ramai dengan lampu kota.
Aku duduk di sampingnya, tangan menggenggam pelan di pangkuan.
Gugup.
Sangat.
Namun aku berusaha menyembunyikannya.
Tiba-tiba—
“Kalau kamu tidak nyaman, bilang.”
Aku menoleh.
Adrian masih menatap ke depan.
Aku sedikit terkejut.
“Kamu bisa lihat?” tanyaku tanpa sadar.
Ia menjawab singkat,
“Kelihatan.”
Aku menunduk sedikit, malu.
“Aku hanya… belum terbiasa.”
Ia mengangguk kecil.
“Tidak perlu terbiasa. Cukup jalani saja.”
Aku terdiam.
Kalimat itu sederhana.
Namun entah kenapa… menenangkan.
Aku mengangguk pelan.
“Iya.”
—
Mobil berhenti di depan sebuah gedung besar yang dipenuhi lampu.
Orang-orang berpakaian rapi keluar masuk.
Suara percakapan, tawa, dan musik lembut terdengar dari dalam.
Aku menelan ludah.
“Inilah dunia yang mereka maksud…” bisikku dalam hati.
Adrian memutar kursi rodanya setelah pintu mobil dibuka.
Ia menatapku sebentar.
“Dekat denganku.”
Aku mengangguk.
Dan untuk pertama kalinya—
Aku melangkah masuk ke dunia yang asing ini,
Tidak sendirian.
Aku berdiri di belakang Adrian beberapa detik sebelum akhirnya memegang pegangan kursi rodanya.
Tanganku sempat ragu.
Bukan karena tidak mau membantu, tapi karena aku tidak tahu… apakah dia akan tersinggung atau tidak. Sejak awal, Adrian terlihat seperti orang yang tidak suka dikasihani.
“Aku boleh… bantu dorong?” tanyaku pelan.
Adrian menoleh sedikit, menatap tanganku yang masih menggantung di udara, lalu kembali menatap ke depan.
“Kursi ini sebenarnya bisa jalan sendiri,” katanya tenang. “Tapi kalau kamu mau jalan di belakangku, silakan.”
Aku sedikit malu.
“Oh… maaf, aku kira—”
“Tidak apa-apa,” potongnya singkat. “Dorong saja pelan. Aku bisa kontrol arahnya.”
Aku mengangguk. “Iya.”
Akhirnya tanganku benar-benar memegang pegangan kursi roda itu. Pelan-pelan aku mulai mendorongnya masuk ke dalam gedung.
Lantainya halus, kursi rodanya juga sangat ringan, jadi tidak sulit. Namun tetap saja, jantungku berdebar kencang.
Bukan karena mendorong kursi roda.
Tapi karena semua orang mulai melihat ke arah kami.
Tatapan mereka berbeda-beda.
Ada yang terkejut.
Ada yang penasaran.
Ada yang berbisik pelan.
Aku bisa merasakannya meski tidak mendengar jelas.
“Dia itu Adrian Kusuma, kan?”
“Iya, yang kecelakaan itu…”
“Itu istrinya?”
“Cantik juga…”
“Tapi kasihan ya…”
Kata kasihan itu lagi.
Aku menunduk sedikit, berusaha tidak mendengarkan. Tanganku tetap mendorong kursi roda Adrian dengan pelan dan stabil.
Tiba-tiba Adrian berbicara tanpa menoleh.
“Jangan menunduk.”
Aku sedikit kaget. “Hah?”
“Kalau kamu menunduk terus, mereka akan semakin berani melihatmu seperti tontonan,” katanya tenang. “Angkat kepalamu.”
Aku terdiam beberapa detik.
Lalu perlahan aku mengangkat kepalaku.
Mataku melihat lurus ke depan.
Dan benar saja—beberapa orang memang sedang melihat kami.
Namun kali ini, aku tidak menghindar.
Aku tetap berjalan.
Di belakang Adrian.
Masuk lebih dalam ke ruangan acara.
Lampu gantung besar bersinar terang. Meja-meja bundar tertata rapi. Orang-orang berpakaian formal berdiri sambil mengobrol dan tertawa kecil.
Dunia yang benar-benar berbeda dari kehidupanku sebelumnya.
Seorang pria paruh baya tiba-tiba mendekat dengan senyum lebar.
“Adrian! Sudah lama tidak melihatmu datang ke acara seperti ini.”
Adrian tersenyum tipis. “Saya hanya datang karena undangan Anda terlalu banyak, Pak.”
Pria itu tertawa. “Kamu masih sama saja.”
Lalu pandangannya beralih ke aku.
“Dan ini pasti istrimu.”
Aku sedikit gugup, tapi tetap mengangguk sopan. “Selamat malam.”
“Wah, cantik sekali,” kata pria itu. “Kamu beruntung sekali, Adrian.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa, jadi aku hanya tersenyum kecil.
Adrian hanya menjawab singkat, “Ya.”
Pria itu kemudian pamit setelah berbicara sebentar tentang bisnis.
Setelah ia pergi, aku kembali mendorong kursi roda Adrian menuju meja yang sudah disiapkan.
Begitu sampai, aku membantu memposisikan kursinya di dekat meja.
“Terima kasih,” katanya pelan.
Aku sedikit terkejut.
Ini pertama kalinya dia mengucapkan terima kasih padaku secara langsung.
“Iya…” jawabku pelan.
Kami duduk—lebih tepatnya dia duduk, dan aku duduk di kursi di sebelahnya.
Beberapa orang datang silih berganti menyapa Adrian. Mereka berbicara tentang bisnis, proyek, investasi, dan hal-hal yang tidak terlalu kupahami.
Aku hanya duduk diam, mendengarkan, sesekali tersenyum sopan.
Sesuai kesepakatan kami.
Tidak banyak bicara.
Namun di tengah percakapan, salah satu pria tiba-tiba berkata,
“Tuan Adrian, aku dengar kamu menikah mendadak. Kami semua terkejut loh.”
Adrian menjawab santai, “Aku juga.”
Mereka tertawa kecil.
“Jadi ini pernikahan yang diatur keluarga?” tanya pria itu lagi.
Adrian tidak langsung menjawab. Ia mengambil minumannya dulu, lalu berkata,
“Bisa dibilang begitu.”
Lalu pria itu menoleh ke arahku.
“Berarti kamu yang dipilih keluarga ya?”
Pertanyaan itu membuatku sedikit kaku.
Aku tersenyum kecil. “Iya.”
“Wah, berarti kamu harus kuat. Adrian ini orangnya susah,” katanya bercanda.
Beberapa orang tertawa.
Aku ikut tersenyum kecil, meski tidak tahu harus menjawab apa.
Namun tiba-tiba Adrian berbicara,
“Dia lebih kuat dari yang kau kira.”
Aku langsung menoleh ke arahnya.
Ia tidak menoleh balik. Wajahnya tetap tenang seperti biasa, seolah ia tidak mengatakan sesuatu yang penting.
Tapi kalimat itu…
Entah kenapa membuat dadaku terasa hangat.
Tidak ada yang pernah mengatakan itu padaku sebelumnya.
Acara makan malam dimulai. Makanan disajikan satu per satu dengan sangat rapi dan mewah. Aku makan pelan, menjaga sikap agar tidak terlihat canggung.
Di bawah meja, tanganku masih sedikit gemetar.
Tiba-tiba Adrian berkata pelan tanpa melihatku,
“Kamu tegang.”
Aku tersenyum kecil. “Sedikit.”
“Tidak ada yang akan memakanmu di sini,” katanya datar.
Aku hampir tertawa mendengarnya, tapi aku menahan diri.
“Ini pertama kalinya aku datang ke acara seperti ini,” kataku pelan.
Ia mengangguk kecil. “Kelihatan.”
Aku menoleh sedikit. “Kelihatan banget ya?”
“Iya.”
Aku menghela napas kecil. “Memalukan ya.”
Ia langsung menjawab, “Tidak.”
Aku terdiam.
“Kamu hanya belum terbiasa,” lanjutnya. “Itu berbeda dengan memalukan.”
Aku menatap meja beberapa detik.
Lalu berkata pelan, “Terima kasih.”
Ia tidak menjawab.
Namun aku bisa melihat dari sudut mataku, ia sedikit menoleh ke arahku—hanya sebentar—lalu kembali melihat ke depan.
Acara berlangsung cukup lama. Setelah makan malam, beberapa orang mulai berdiri dan berbincang lagi.
Aku berdiri di belakang Adrian lagi dan mulai mendorong kursi rodanya keluar dari ruangan utama menuju teras luar gedung.
Udara malam terasa sejuk.
Lebih tenang.
Lebih sepi.
Aku berhenti mendorong saat kami sampai di pinggir teras yang menghadap taman dan lampu kota.
Kami diam beberapa saat.
Lalu Adrian berkata pelan,
“Kamu tidak terlihat menyesal menikah denganku.”
Aku sedikit terkejut dengan pertanyaan itu.
Aku berpikir sebentar sebelum menjawab.
“Aku tidak punya waktu untuk menyesal,” kataku jujur. “Hidupku dari dulu sudah berjalan seperti ini. Aku hanya… berpindah tempat.”
Ia terdiam.
Lama.
Lalu bertanya lagi,
“Dan tempat yang sekarang?”
Aku menatap lampu kota di kejauhan.
Lebih tenang.
Lebih sunyi.
Lebih asing.
Aku tersenyum kecil.
“Masih asing,” jawabku pelan. “Tapi… tidak sesakit dulu.”
Sunyi beberapa detik.
Lalu Adrian berkata sangat pelan—
“Itu sudah cukup.”