Ling Fan, pemuda 17 tahun dari Klan Ling, lahir tanpa Dantian—cacat yang membuatnya dihina sebagai sampah. Di balik ejekan, dia menyimpan rahasia: tubuhnya mampu melahap Qi langit dan bumi.
Saat Klan Ling dihancurkan klan saingan, Ling Fan selamat seorang diri. Di reruntuhan, dia juga menemukan Telur Hitam misterius. Teknik terlarang terbangun "Tubuh Penelan Langit" aktif, mengubahnya dari manusia biasa menjadi pemangsa energi. Setiap luka, setiap penghinaan, hanya membuatnya makin kuat karena dia menelan semuanya.
Kini dia berjalan sendirian, dikejar sekte besar, diburu iblis kuno, dan dicap sesat. Dari Arena Batu Hitam hingga Lembah Guntur, Ling Fan menelan petir, menghancurkan jenius, dan membalik takdir. Tapi harga kekuatan itu adalah kemanusiaannya.
Ketika langit sendiri menginginkannya mati, mampukah pemuda tanpa Dantian ini menelan langit sebelum dia dilahap kegelapannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rendy_Tbr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
*Suara dari Dalam Cangkang*
Angin Gunung Seribu Kabut berbisik di telinga saat Ling Fan berjalan mantap ke utara. Jubah biru gelapnya sobek di bagian bahu akibat sambaran Petir Kesengsaraan, sementara debu lembah masih menempel di ujung sepatunya. Di balik jubah, telur hitam itu terasa hangat, berdenyut pelan seperti anak kecil yang tertidur kekenyangan.
Dia berhenti sejenak di bawah sebuah pohon mati yang batangnya hitam legam dengan ranting menyerupai cakar.
“Kita berhenti di sini dulu,” ucap Ling Fan pada telurnya. “Kau sudah makan empat Pembentukan Inti. Kalau terus jalan, nanti kau muntah.”
Telur itu tidak menjawab, hanya memberikan sensasi hangat yang nyaman. Garis perak di kulitnya berpendar redup sesaat sebelum akhirnya padam sepenuhnya.
Ling Fan duduk bersandar pada batang pohon yang kasar. Ia mengeluarkan satu-satunya Pil Penutup Aura yang tersisa dari pemberian Nyonya Yun lalu menelannya. Seketika, fluktuasi energinya meredup, membuatnya kembali terlihat seperti pemuda di tingkat Pemurnian Tubuh Tingkat Lima. Ia menatap ke arah selatan, ke arah Kota Tianxuan yang telah ia tinggalkan.
“Klan Huang pasti sudah mengirim orang. Sekte Pedang Awan Biru juga. Dan perempuan bercadar itu... sebenarnya siapa dia?” gumam Ling Fan pada dirinya sendiri.
Tok.
Telur di dadanya berdenyut sekali, seolah merespons pertanyaan itu.
“Kau kenal dia?” tanya Ling Fan sambil menunduk.
“...takut... dia... rantai...” suara kecil itu muncul tiba-tiba di dalam kepalanya, terasa seperti bisikan yang merambat di tulang.
“Rantai? Apa dia yang mengurungmu di bintang itu?” tanya Ling Fan dengan kening mengkerut.
“...bukan... dia... menjaga... rantai... lepas... aku... bebas... tapi... lapar...” jawab suara itu terputus-putus.
“Jadi dia penjaga penjara, kau tahanannya, dan aku... koki yang memberimu makan?” simpul Ling Fan sambil menghela napas.
Telur itu berdenyut kuat, seolah-olah sedang tertawa. “...Paman... Pintar...”
Mendengar pujian polos itu, Ling Fan ikut tertawa lepas tanpa beban.
“Baiklah, Anak Lapar. Kita buat aturan. Pertama, jangan sembarang menelan orang, hanya yang mau membunuh kita saja. Kedua, jangan bicara di depan orang lain agar aku tidak dikira gila. Ketiga...” Ling Fan menepuk kulit telur itu pelan. “...kalau mau menetas, bilang dulu. Biar aku siapkan kain lap. Katanya bayi yang baru menetas itu sangat berlendir.”
“...tidak... berlendir... aku... bersih...” protes suara itu dengan nada merajuk.
“Bagus, kalau begitu kita sepakat,” pungkas Ling Fan sambil menyeringai.
Malam mulai turun menyelimuti Hutan Kabut saat Ling Fan menyalakan api kecil untuk memanggang ikan sungai. Sambil menunggu makanannya matang, ia mengeluarkan isi kantung penyimpanannya untuk menghitung harta yang tersisa. Enam Keping Kristal Spiritual, ratusan batu spiritual biasa, pedang besi, jubah linen pemberian Nenek Desa Bambu Hijau, dan beberapa pil kosong.
“Kalau dibelikan jurus tingkat kuning, mungkin dapat lima. Kalau senjata roh tingkat rendah, cuma dapat dua. Tapi buat apa? Sekali kau buka mulut, senjata roh pun pasti kau telan juga,” gumamnya.
“...tidak... telan... Paman... punya...” suara itu kembali menyahut, kali ini terdengar manja.
“Oh? Kau pilih-pilih makanan? Nanti kita cari Inti Binatang Iblis yang busuk, kau suka?” goda Ling Fan.
“...suka... yang... jahat... Qi... jahat... enak...”
Ling Fan hampir tersedak ludahnya sendiri mendengar jawaban itu. “Qi jahat? Maksudmu energi dari orang-orang jahat?”
“...iya... orang... jahat... hatinya... hitam... Qi... manis...” jawab telur itu mantap.
“Pantas saja kau begitu lahap menelan bayangan tadi. Ternyata kau ini pemilih makanan yang mencari hati busuk,” kata Ling Fan sambil menatap api unggun.
“...aku... raja... makanan...” ucap si telur bangga.
“Raja Lapar, itu lebih cocok,” koreksi Ling Fan sambil membalik ikannya. “Dengar, di dunia ini orang jahat sangat banyak, tapi kita tidak bisa menelan semuanya. Kita pilih yang memang sudah bosan hidup dan mencari mati saja.”
“...sepakat... Paman... baik...”
Ling Fan mulai memakan ikannya dengan tenang, sementara telur itu tampak mengisap sisa asap pembakaran yang membuat garis peraknya bercahaya sesaat.
Fajar menyingsing saat Ling Fan melangkah keluar dari kabut menuju sebuah desa kecil bernama Desa Angin Padang. Ia segera menarik jubahnya untuk menutupi telur itu rapat-rapat agar tidak menarik perhatian.
“Kita beli baju baru dulu. Jubahku sudah hangus, terlalu mencolok,” bisik Ling Fan.
Di sebuah kedai kain, ia membeli jubah abu-abu sederhana dan topi bambu lebar agar terlihat seperti petani biasa. Ling Fan kemudian mampir ke sebuah warung bubur untuk mengisi perut sekaligus mencari informasi.
“Anak muda, apa kau mau ke Kota Pedang Selatan?” tanya bibi pemilik warung dengan ramah.
“Tidak, Bibi. Saya hanya lewat untuk mencari kerja,” jawab Ling Fan sambil mengaduk buburnya.
“Hati-hati saja. Akhir-akhir ini banyak orang asing lewat. Kemarin ada rombongan Klan Huang yang mencari anak muda pembawa telur hitam. Katanya hadiahnya seribu batu spiritual bagi yang menemukannya,” cerita bibi itu.
Ling Fan terdiam sejenak dengan sendok yang masih menggantung. “Telur hitam? Telur ayam maksudnya?”
“Bukan, katanya telur bintang. Tapi menurutku bintang itu di langit, mana mungkin jatuh ke wajan,” tawa bibi itu pecah.
“Benar juga, Bibi. Bintang kalau jatuh pasti sudah gosong,” timpal Ling Fan sambil ikut tertawa.
Setelah membayar buburnya, Ling Fan segera melangkah pergi dari desa tersebut. Namun, belum jauh ia berjalan, bisikan cemas kembali muncul di kepalanya.
“...Paman... mereka... mencari... aku...”
“Tenang saja. Seribu batu spiritual tidak cukup untuk membeli nyawamu. Aku sudah memasang harga sepuluh ribu untukmu, jadi jangan merasa murah,” ucap Ling Fan menenangkan sambil menepuk dadanya.
“...Paman... mahal...” puji suara itu.
Keluar dari desa, Ling Fan melihat kepulan debu di arah timur yang berasal dari rombongan kuda dengan bendera emas Klan Huang. Ia segera menyipitkan mata, menghitung ada sekitar dua puluh orang berkultivasi Kondensasi Qi dengan satu pemimpin di tingkat Pembentukan Inti.
“...Qi... jahat... banyak...” suara telur itu terdengar sangat bersemangat.
“Sabar, kita belum waktunya makan siang. Jangan asal mengemil,” tegur Ling Fan lembut.
Ia segera berbalik dan masuk kembali ke dalam kelebatan Hutan Kabut menggunakan Langkah Angin tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Ling Fan akhirnya berhenti di sebuah tebing air terjun setinggi lima puluh tombak dan menemukan sebuah gua kecil yang tersembunyi di balik tirai air.
“Tempat yang bagus untuk bersembunyi sejenak,” gumamnya sambil melompat masuk ke dalam gua yang kering itu.
Ling Fan duduk bersila dan meletakkan telur hitam itu di pangkuannya. Ia menatap permukaan hitam itu dengan serius.
“Baik, Raja Lapar. Mari bicara serius. Kau bilang kau berasal dari bintang penjara dosa. Lalu apa yang akan kau lakukan setelah benar-benar bebas nanti?” tanya Ling Fan.
Telur itu terdiam cukup lama sebelum suara yang terdengar lebih berat menyahut. “...cari... delapan... saudaraku... yang... pecah...”
“Delapan bintang lainnya?” tanya Ling Fan heran.
“...iya... mereka... tersebar... jadi... bencana... aku... harus... menelan... mereka... aku... adalah... kunci... jika... aku... lepas... dunia... hancur... jadi... harus... kumpulkan... lagi...” jelas suara itu panjang lebar.
Ling Fan bersandar ke dinding gua, mencoba mencerna tanggung jawab besar yang dipikul benda di pangkuannya ini.
“Jadi kau bukan bencana, tapi penjaga. Kau akan keliling dunia menelan delapan bencana lain, lalu apa?”
“...lalu... tidur... lagi... seribu... tahun...”
“Tugas yang cukup berat. Tidur seribu tahun sendirian,” kata Ling Fan dengan nada iba.
“...aku... sendiri...” denyutan telur itu terasa sedih.
“Tidak lagi. Sekarang ada aku, Paman Lapar. Kita lawan delapan bencana itu bersama-sama. Setelah selesai, kau tidur dan aku yang akan menjagamu. Bagaimana? Sepakat?” tawar Ling Fan sambil menepuk kulit telur.
Garis perak di permukaan telur itu menyala terang dan memberikan rasa hangat yang emosional. “...sepakat... Paman...”
Tiba-tiba, suara derap kuda berhenti tepat di luar gua, diikuti teriakan kasar yang menggelegar di sela suara air terjun. “Cari di sekitar sini! Klan Huang akan membayar mahal untuk kepalanya!”
Ling Fan memejamkan mata, mendengarkan langkah kaki yang mulai mendekat dan suara pedang yang dihunus dari sarungnya. Ia membisikkan sesuatu pada telurnya dengan senyum tipis.
“Siap bekerja, Raja Lapar? Makananmu datang sendiri rupanya.”
“...Qi... jahat... datang...” sahut telur itu penuh semangat.
Ling Fan berdiri tanpa menghunus senjata. Ia melangkah keluar menembus tirai air terjun yang dingin. Di tebing luar, dua puluh kultivator Klan Huang sudah menantinya dengan senjata terhunus. Sang pemimpin yang memiliki bekas luka di wajahnya segera menyeringai puas.
“Keturunan Klan Ling, akhirnya ketemu juga. Menyerah sekarang atau kami cincang tubuhmu untuk mengambil telur itu!” ancam lelaki itu.
Ling Fan melepas topi bambunya, membiarkan air terjun membasahi rambut dan jubah abu-abunya hingga menempel di tubuh. Ia terlihat seperti pemuda biasa yang lemah, kecuali matanya yang kini terlihat hitam pekat dan dingin. Ia membuka sedikit jubahnya, memperlihatkan benda yang mereka incar.
“Kalian mau ini?” tanya Ling Fan pelan namun suaranya terdengar jelas di tengah gemuruh air terjun.
“Kalau begitu...” Ling Fan menyeringai lebar. “...silakan antre.”
Garis perak pada telur itu seketika menyala terang, dan kabut hitam mulai merayap keluar dari celah jubah Ling Fan. Sementara itu, jauh di atas cakrawala, Elang Bayangan tetap mengawasi, bersiap membawa kabar baru menuju Sekte Pedang Awan Biru.