NovelToon NovelToon
Luka, Dendam, Dan Cinta Yang Tak Direncanakan

Luka, Dendam, Dan Cinta Yang Tak Direncanakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Romansa
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Adrianne Hana kehilangan ayahnya akibat kesalahan operasi yang ditutupi keluarganya sendiri. Alih-alih mendapat keadilan, ia dan ibunya justru disalahkan, membuat hubungan Hana dengan keluarga Soediro dipenuhi kebencian—terlebih karena ia memilih jalan hidup berbeda sebagai aktris dan pengusaha.

Dipaksa menghadiri perjodohan dengan Reiga Reishard, Hana berencana menggagalkannya. Namun, pertemuan mereka justru menghadirkan hal tak terduga yang perlahan mengikat dua hati dengan prinsip bertolak belakang—antara luka, penolakan, dan kemungkinan cinta yang tak pernah direncanakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LDCYTD

"I wish you were here, Reishard, "ucap Hana yang bagi Reiga adalah sebuah titah sang ratu yang wajib dilaksanakannya.

Karena itulah, si budak cinta ini... tidak berpikir dua kali, ralat, berpikir belasan kali untuk mengambil keputusan secara impulsif kepulangan singkatnya ke Jakarta pagi ini. Meski perjumpaannya dengan Hana mungkin hanya 3 jam begitu pesawatnya mendarat di Soetta nanti. Tidak peduli ia harus menghabiskan waktu selama 22 jam lebih di pesawat yang sudah pasti akan meluluhlantakkan tubuhnya nanti. Reiga tetap memanggil Dimas. Memberi instruksi pada asistennya itu untuk mengurus kepulangan singkatnya ke Jakarta detik ini juga.

Jangan tanya reaksi Dimas!

Pemuda itu hanya mampu melongo, takjub, heran, namun tak berani bertanya karena takut Reiga marah lagi seperti tadi. Dimas hanya bisa menelan ludah. Sejak bangun tadi, lalu mengangkat telepon bos kesayangannya, perintah yang didapat Dimas di luar nalar semua. Mulai dari cari rekaman cctv, mengaksesnya, lalu disuruh menghapusnya tanpa jejak. Dimas kaget juga sih, begitu melihat rekaman cctv di lapangan tenis. Betapa garang dan kuatnya Hana, bergumul dengan Lana. Bukti bahwa menguasai taekwondo ban hitam bukanlah sebuah isapan jempol belaka. Ditambah, rekaman cctv after party premiere film Hana. Di sana jelas sekali bagaimana Arnold mengintimidasi dan pegang-pegang Hana tanpa izin. Apa Arnold tidak sadar bahwa tingkahnya yang diabadikan cctv itu tengah memicu kiamat hidupnya sendiri? Meski begitu, Dimas cukup lega, karena Reiga tidak memarahinya atas luputnya kejadian itu dari pengawasannya.

Sekarang, Dimas kembali diberikan instruksi.

Dia disuruh mengurus kepulangan Reiga ke Jakarta.

Hanya untuk dua jam pula!

"Pak Reiga kesambet apaan sih ini!?"gumamnya dalam hati.

Memang bukan hal yang sulit baginya. Bukan hal mustahil juga bagi Reiga. Pertanyaanya, untuk apa Bos-nya itu memaksa pulang? Perasaan Dimas kian tidak enak atas nasib Arnold.

"Kerjain saja apa yang saya minta, Dim!" tegur Reiga membuat Dimas terkesiap. Ia merasa Reiga telah membaca pikirannya. "Ah, ini pasti gara-gara gue nggak ikut after party premiere kemarin nih! Gimana ya nasibnya Pak Arnold?" takut Dimas bersuara dalam hati.

"Si... Siap, Pak," jawab Dimas terbata lantas keluar dari ruang kerja Reiga dengan ekspresi takut bercampur bingung.

*

Arnold terkejut setengah mati melihat Hana yang muncul dari balik pintu ruang kerjanya yang terbuka. Dari kemarin, begitu sulit ia menghubungi Hana, bagai terpisah planet. Sekarang yang dicarinya setengah mati malah muncul sendiri dihadapannya.

"Han..." desau Arnold seraya bangkit dari tempat duduknya dengan muka tercengang.

Meski muka Hana tampak tidak bersahabat.

Arnold tetap bersyukur dengan kedatangan Hana pagi ini.

"Tolong bilang sama cewek kamu kalau kita nggak ada hubungan apa-apa! Jadi dia nggak perlu repot, datengin aku, cuma buat tampar dan menuduh aku seenaknya!" seru Hana penuh amarah.

Sengaja ia berangkat lebih pagi sebelum menghadiri promo film biopik-nya di dua bioskop yang ada di Semarang sore ini, hanya untuk mendatangi Arnold.

"Ha?"

Arnold terhenyak.

Dia tidak salah dengar kan? Lana melabrak Hana? Menamparnya?

"Ini yang buat aku mundur dari film 10 cm, Nold!" pekik Hana dengan tatapan tajam.

Arnold terdiam.

Kekecewaan Hana yang tampak begitu nyata, mengapa bisa sebegininya membuat hatinya nyeri? Apa selama ini ia tidak menyadarinya? Terlambat menyadarinya? Jikalau Hana begitu berharga untuknya? Bahkan melebihi inginnya memiliki Alana Soediro?

"Kenapa kamu buat semua ini jadi rumit sih, Nold?" pelan Hana bingung bercampur lelah. Tidak habis pikir.

"Kamu sendiri yang bilang sama aku, 'bukankah cukup adil karena sebagai ganti kamu dapat Lana, aku dapat Reiga'? Kemana perginya Arnold yang berkata begitu sama aku???" ucap Hana menaikkan intonasinya.

Arnold terdiam.

Tangan kanannya ingin menggapai Hana, namun diurungkannya karena tak punya nyali.

"And you are right..." ucap Hana tercekat.

Arnold menatapnya dengan kedua mata yang entah mengapa perlahan berkaca.

"Reiga memang luar biasa!" tandas Hana.

"Saking luar biasanya dia... Aku sampai lupa bahwa pernah ada manusia yang menggantungkan aku dengan harapan palsu selama 4 tahun ini, meninggalkan sakit yang luar biasa bukan main di hati aku, membuat aku bertanya-tanya apa aku ini nggak berharga dan nggak pantas untuk dicintai, sampai kamu setega itu sama aku, Nold..."

Hana mengeluarkan unek-uneknya selama ini.

Kedua matanya pun berair.

"Hana, aku ..."

"Aku belum selesai," potong Hana yang bukan hanya menghentikan langkah mendekat Arnold ataupun lengan kanannya yang berusaha menggapai Hana.

"He shows me how love supposed to be, Nold. Reiga memberikan aku value yang nggak pernah aku sangka, aku pantas mendapatkannya. Reiga mengabulkan semua yang aku harap, aku bisa dapat semua itu dari kamu, bahkan tanpa aku harus bilang sama dia. He gives me all the thing that i want and i need. So can you not give a damn with that!? Tinggalin aku sendiri! I don't wanna lose him just because he thinks we have a stupid naive chemistry that actually never doesn't exist!"

"Aku mohon sama kamu, Nold. Kalau kamu benar-benar menyesali apa yang kamu lakukan selama empat tahun ini sama aku, kalau kamu memang peduli sama aku, so please leave me alone. Stop all this shit! You already get Lana, rite? Just like the way you said it to me. Persis seperti yang kamu bilang sama aku," ucap Hana lalu menarik napas panjang setelahnya.

Dada Arnold kian sesak.

Empat tahun mengenal Hana, Arnold tidak pernah melihat Hana sekacau dan serapuh ini. Hana selalu tampil kuat, keren, dan superior. Sampai-sampai ia menyimpulkan sendiri bahwa perempuan seperti Hana tidak akan mengapa jikalau patah hati. Hana akan tetap berdiri sendiri. Arnold terlalu mengecilkan Hana. Semua perhatian gadis itu. Semua usaha gadis itu. Sekarang ia tengah menanggung karmanya.

"Aku pergi," ucap Hana lalu berbalik.

Gadis itu berjalan tanpa ragu. Keluar menuju pintu ruang kerja Arnold.

"Hana, wait!" tahan Arnold seraya berjalan mengejar Hana.

Sayangnya, langkahnya terlambat. Persis seperti hubungannya dengan Hana.

BLAM!

Pintu ruang kerjanya sudah tertutup.

Arnold terdiam. Dengan sesak yang mulai menyeruak dalam dadanya.

Juni melihat Hana tengah menghapus airmatanya begitu keluar dari ruang kerja Arnold. "Hey, are you okay?" gumam Juni meraih Hana dalam pelukannya.

"I finished with this shit, Jun," ucap Hana dalam pelukan Juni.

Juni mengangguk-angguk seraya mengelus punggung Hana.

"Iya. Lo hebat, Han. Lo bebas sekarang! Nggak perlu lagi buang waktu lo buat cowok yang udah sia-siain lo selama ini," hibur Juni.

Pelukan itu terlepas.

Hana mengatur napasnya lalu mencoba tersenyum. "Yuk! Nanti ketinggalan pesawat," ucap Hana.

Juni balas tersenyum. Mereka berjalan sambil berangkulan menuju mobil yang sudah menunggu mereka di depan lobi MDB.

*

TUNG!

Arnold

Kamu berantem sama Hana, Beib?

Lana mendengus sebal. Sepagi ini sudah dapat pesan yang menambah nyeri hatinya. Pasti Hana yang memberitahu Arnold kan? Lana memilih langsung menelepon Arnold ketimbang menjawabnya dengan balasan juga.

"Iya! Kenapa!?" ketus Lana.

Arnold terkesiap.

Ah, darah memang lebih kental dari air. Begitu pula Hana dan Lana. Cara mereka marah, entah mengapa terasa sama.

"Kenapa, Beib?"

Arnold berusaha setenang mungkin.

"Kenapa!? Pertanyaan itu lebih cocok buat kamu, Arnold Baskara Mahendra!!" pekik Lana emosi.

Kenapa ia begitu emosi? Hanya karena Tristan bilang Arnold mengganggu Hana di acara afterparty yang padahal juga dihadirinya dan Lana kecolongan.

Lebih membingungkannya lagi, bukankah ia berpacaran dengan Arnold hanya agar Hana menderita? Lantas mengapa ia begitu serius menanggapi konfrontasi Tristan?

"Maksudnya?" tanya Arnold tidak paham.

Berharap apa yang barusan terlintas dalam kepalanya bukanlah apa yang akan menjadi jawaban Lana.

Lana berdecak.

"Kita putus aja," ucap Lana.

Konyol, kenapa ia merasa sakit atas kalimat yang dicetuskannya sendiri?

Arnold terhenyak.

"Putus?!"

"You do love her, Nold! Bukan aku yang kamu cinta. Bullshit semua omongan kamu!!" maki Lana lalu memutus teleponnya sepihak.

Arnold kian terhenyak atas ucapan itu.

"Lana, bukan itu maks..."

NUT!NUT!

Arnold berdecak.

BRAKK!

Ia meninju mejanya kuat-kuat.

Ada apa dengan hari ini? Sial sekali hidupnya. Habis syok dengan Hana. Kini harus diputusin Lana. Cewek pujaannya. Nelangsa dan nyeri kian terasa dalam dirinya.

KRETT!

Siti muncul dari balik pintu ruangannya yang terbuka. "Kenapa, Sit?" tanya Arnold setengah ketus.

Siti canggung. Takut-takut menatap Arnold yang sepertinya tengah marah besar.

"Saya diminta Pak Mano untuk memanggil Pak Arnold," jawab Siti.

Perasaan tidak enak itu tiba-tiba menyergap Arnold. "Shit!" umpatnya pelan.

*

"Gue nggak paham sama lu, Lan," ujar Nana selesai Lana menutup teleponnya dengan Arnold.

Lana melirik Nana yang berdiri di sisi kiri sofa yang tengah didudukinya.

"Nggak usah ikut campur urusan gue," dingin Nana.

Sepupunya itu malah menarik kursi meja makan lalu duduk. Dengan kedua kaki bersilang, kaki kanan di atas kaki kiri. Nana melengkapinya dengan bersidekap. Ia siap menginterogasi Lana.

Dan Lana?

Ah, dia sudah hafal betul sikap dan karakter Nana. Karena itu kini Lana merasa gelisah.

"Gue juga ogah ikut campur urusan lo, Lan. Tapi masalahnya gue udah nggak tahan sama tingkah playing victim lo!" ujar Nana.

Lana mendesis sebal.

"Kenapa?" Nana tidak berhenti mengejar penjelasan Lana.

"Kenapa apa?" sinis Lana memberanikan diri menatap Nana, berharap, akting payahnya ini membuat Nana sedikit takut dan berhenti mendesaknya.

"Pertama, kenapa lo begitu benci sama Hana? Dia salah apa sama lo!? Kalau ada manusia di keluarga Soediro yang paling belain lo, paling dukung lo, itu jelas Adrianne Hana! Lo sadar nggak sih, Lan??? Gue rasa, otak lo yang pintar itu bisa dengan mudah melihatnya! Ketulusan Hana buat lo!" emosional Nana.

Jauh dalam hati Lana, ia mengiyakan semua pernyataan Nana.

"Nggak usah overdramatic deh lo!" ketus Lana.

Nana berdecak dengan wajah sewot.

"Mau gue sebutin semua kebaikan Hana!?

Termasuk yang paling krusial!? Yang buat lo bisa diterima di kedokteran Columbia?!" gemas Nana.

Lana terpaku diam.

Ia ingat, momen yang mana Hana mati-matian menemaninya menyusun CV agar dapat diterima di Universitas Columbia, Amerika. Atau bisa dibilang, Hana mengoreksi semua isi CV miliknya yang amburadul. Ajaibnya! Ah, baiklah itu bukan sebuah keajaiban karena Hana memang sangat pintar. Hana membuatkan Lana, sebuah CV yang baru, yang akhirnya menghantarkan Lana menjadi mahasiswa fakultas kedokteran Columbia. Meski itu semua memang tidak akan sebanding jika harus disejajarkan atas prestasi Hana yang berhasil masuk kedokteran Harvard.

"Oke kalau lo nggak mau jawab yang pertama! Tapi seharusnya lo bisa jawab yang kedua!" tukas Nana.

"Apalagi!?" seru Lana muak sendiri.

Mereka bertatapan lekat.

"Kedua, lo sengaja kan, jadian sama Arnold cuma buat nyakitin Hana!?" tuduh Nana.

Ekspresi Lana cukup untuk mengiyakan tuduhan Nana.

"Kalau iya, kenapa??"

"Sakit jiwa lo!"

"Kalau lo ada di posisi gue! Lo juga akan sakit jiwa, Nana!" pekik Lana emosional.

Nana sekarang paham. Ia sudah mendapat jawaban pertanyaan pertama yang tidak bisa dijawab Lana.

"Lo iri sama Hana?????"

"Emangnya lo enggak?" balas tanya Lana.

Nana bengong mendengar pengakuan Lana.

Seorang Alana Soediro yang tampak cool dari luar.

Kapten basket tim wanita semasa SMA yang banyak banget fans cowoknya ini iri sama Hana??? Saat yang mana Hana selalu kagum dengan Lana, SE-JAK KE-CIL!

Ah, dunia memang gila!

*

"Saya mau kamu mundur dari semua project series dan film yang sedang kamu pegang dan belum diproduksi," dingin Pak Mano.

Ucapan itu bagaikan geledek menggelegar tepat di kedua telinga Arnold. Ia langsung memasang wajah tidak terima. Kaget. Syok. Dan bingung.

"Apa salah saya, Pak? Kalau itu soal Hana, saya tengah mengusahakan agar dia ma ..."

"Salah kamu adalah berurusan dengan Reiga Reishard, Nold," potong Pak Mano dengan wajah frustasi.

CEO MDB pictures itu mengusap wajahnya lalu menyender di punggung sofa single yang didudukinya.

Arnold tertegun mendengar nama Reiga Reishard disebut Pak Mano. "Maaf, Pak. Saya kurang paham," ucap Arnold.

"Saya nggak tahu apa yang membuat Reiga begitu marah sampai mengeluarkan ultimatum untuk meng-cut semua proyek series kita, semua film kita, di setiap anak usaha Reishard Corporation, yang nggak perlu saya sebutin namanya, saya yakin kamu sudah tahu, apabila nama kamu masih tetap ada di credit title proyek tersebut," ujar Pak Mano dengan wajah serius, tak main-main.

Arnold terdiam. Mematung. Sekelilingnya terasa hening. Apa yang Pak Mano katakan barusan bagai sepotong adegan kehancuran tokoh utama laki-laki yang tidak tahu diri dan menyelingkuhi tokoh protagonis perempuan yang menjadi pasangannya.

"What!?" refleksnya bereaksi atas ketidakadilan yang diterimanya.

Pak Mano menghela napas. Ia pun pusing.

"Bakat kamu luar biasa, Nold. Saya juga tidak mau kehilangan kamu. Tapi mempertaruhkan semua keuntungan kita tahun ini hanya untuk main ngotot-ngototan dengan Reiga? Jujur saya nggak sanggup. Saya takut. Makanya saya harap kamu paham dan mundur. Ambillah liburan, kemana, sampai emosi Reiga mereda dan ia berubah pikiran," ucap Pak Mano.

Arnold kian terpukul.

Seberpengaruh itukah Reiga Reishard?

Dengan Pak Mano menyuruhnya liburan, itu sama halnya dengan menyuruhnya hiatus dari pekerjaan yang paling dicintainya. Dan apakah dia rela? Oh tentu saja tidak!

Diam-diam emosi Arnold naik. "Apa Reiga sendiri yang meminta Bapak untuk berbuat tidak adil seperti ini pada saya?" tanya Arnold.

Pak Mano menghela napas panjang.

"Tidak langsung pada saya. Tapi memang Reiga sendiri yang langsung memberikan instruksi kepada jajaran direksi di anak usaha Reishard Corporation untuk memutus semua proyek kita jika masih ada nama kamu di sana, Nold."

Arnold terpekur diam.

Reiga pasti sudah tahu soal kejadian after party di premiere film Hana. Semua teman-temannya sudah pasti memberitahunya kan. Lantas manusia berperingkat lima sebagai manusia paling kaya di Asia itu murka dan kini balik menghajarnya.

Napas Arnold sontak terkenal. Sungguh ia tengah menerima karma.

"Boleh saya minta nomor Reiga, Pak? Saya mau bertemu dan bicara. Pasti ada kesalahpahaman di sini," ucap Arnold memberikan suntikan pemikiran positif untuk dirinya sendiri.

"Reiga sedang ada di New York, Nold," ujar Pak Mano mematahkan semangatnya.

Ah, jadi itu alasan Reiga tidak muncul di premiere Hana. Hidupnya sungguh sial. Pecah kongsi dengan Hana. Diputusin Lana. Kini, karirnya dipinggir jurang berkat Reiga.

*

Tristan mendengus sebal dengan wajah cemas.

Ia mengaduk-aduk masakan padang di atas piringnya. "Reiga beneran nggak bilang apa-apa gitu sama lu, Dane, atau sama siapa kek di antara kita?" cemasnya.

Rama berdecak sinis.

"Biarin sih, Tan. Biar si kampret itu tahu, dia lagi main sama siapa," dingin Rama yang ditanggapi semua mata yang langsung menyipit kearahnya.

"Anak orang ini, Ram. Nggak ada kasian-kasiannya lu," ujar Syein simpati meski bibirnya tersenyum saat mengatakannya.

"Tanya Dimas aja sih," saran Brandon.

"Gue nggak punya nomor Dimas, Nyet! Siapa di sini yang punya??"

Tristan memasang wajah tidak sabaran.

"Zidane tuh punya!" seru Syein.

Tristan mendelik.

"Jahat lu, Dane! Diam-diam aja," gerutunya.

Zidane mencibir.

"Percuma lu telepon Dimas. Tuh orang juga udah pasti lagi kena getahnya si Arnold!" seru Zidane yang tahu bahwa Reiga sengaja mengirim Dimas untuk mengawasi premiere Hana kala itu.

"Setuju sama, Zidane," timpal Syein.

Tristan mendengus sebal.

Mereka memang mendadak rapat sekaligus makan siang di cafetaria rumah sakit semenjak Reiga hilang selepas menyatakan akan menghabisi Arnold sendirian.

"Elu sih, Tan! Ngeyel kalau dibilangin sama yang tuaan," celetuk Zidane. "Sekarang lu liat noh! Nasib anak orang diujung tanduk berkat lambe turah lu!" tambah Zidane.

"Si anjir! Beda tiga hari sama gue aja, bangga bener lu!" sembur Tristan. "Bagai telur di ujung tanduk kan maksud lu!?" ujar Tristan yang sempat-sempatnya mengoreksi kalimat Zidane.

Padahal komentar Zidane sama sekali tidak membantu.

"Yaudah sih. Peduli apa sama Arnold," santai Brandon.

Rama langsung mengajak toss Brandon dengan senyum tersungging begitu lebar. Disambut pula oleh Brandon. Tristan makin jengkel melihatnya.

Syein melirik Niyo yang sejak tadi belum bicara tapi raut wajahnya sudah kaku dan tegang. Dia pasti sudah dapat bocoran. Terlebih Niyo dan Arnold, bekerja di satu dunia yang sama, dunia entertainment.

"Yo, spill dikit kenapa sih?" pancing Syein.

Niyo menghela napas. Ia memperbaiki duduknya. Mukanya bagai manusia yang tak bisa lagi menemukan jalan keluar. Semua sahabatnya menatapnya. Menunggu kalimat apa yang akan keluar dari mulutnya.

"Gue sih nggak tahu yang lainnya gimana, tapi Reiga menyuruh direksi-nya untuk menekan Cuy Entertainment agar menghapus nama Arnold dari jejeran pemain event tenis kami. Belum fix sih. Tapi gue yakin banget nih anak serius sama ultimatum-nya."

Mereka semua melongo.

Rama menyunggingkan senyum bangga. "He is back," tukasnya senang.

"Takut deh gue kalau Reiga udah begitu," gumam Brandon dengan wajah yang memang beneran takut.

"Mampus dong si Arnold!? Ya Allah Reigaaaaaa," ucap Tristan frustasi. Sungguh ia menanggung dosa atas semua yang menimpa Arnold.

"Bujuk dia kek! Siapa gitu di antara kita!!!!" lanjut Tristan takut Arnold lompat ke jurang saking putus asanya.

"Reiga kalau udah murka mana denger orang sih! Kita kirimin pelet aja biar nurut!" ucap Zidane nyeleneh, yang berarti mengubah Reiga sama dengan kemustahilan. Brandon menanggapi ucapan Zidane dengan tawa renyah.

"Dukun dari gunung yang mana, Dane?" timpal Brandon.

"Dukun dari gunung kembar favorit lu. Puas lu, Ndon!?" sahut Zidane dengan ekspresi minta ditoyor kearah Brandon yang pecah tawa bersama Syein.

Sialnya, yang menoyornya malah Rama Radiputrodiningrat. "Jago sih lu, Dane!" ujar Rama nyengir. Sedikitpun tidak menyesali sudah menoyor Zidane.

"Anjir! Gue ditoyor!" protes Zidane.

Syein mengikik tak bisa berhenti.

"Sinting sih! Di saat gawat darurat begini masih bisa ngelawak gunung kembar lu, Dane!" puji sekaligus celaan Syein.

"Gawat darurat juga buat si Arnold! Kenapa kita harus pusingin nasib tuh kampret!?" dingin Rama.

"Karena kita semua orang baik, nggak kayak elu yang bengis dan nggak punya hati, Rama!" tukas Tristan.

Rama auto cemberut.

"Ya gimana punya hati sih, Tan. Kan hatinya udah buat ayang Krisa," ledek Syein membuat Rama kian senewen.

"Sebelum Arnold diabisin Reiga. Kayaknya lu duluan yang bakal gue abisin deh, Syein!" sebal Rama.

Syein cuma cengar-cengir minta ditabok.

"Enak banget sih lu semua punya ayang!? Gue kapan??" keluh Zidane.

"Jiahhhh, belagak innocent lu, Dane! Semalam siapa tuh yang lo anterin pulang!?" tuduh Brandon.

Muka Zidane berubah merah. Lantaran ia ketahuan mengantar Nana pulang. Nggak sengaja ketemu di Abuba, Cipete. Yaudah bungkus aja, eh maksudnya ajak pulang bareng, sekalian ngebahas adu tonjok Hana dan Lana. Modusnya begitu...

"Cieeeeee .... " ledek Syein.

Rama langsung merangkul Zidane. "Cantik nggak orangnya? Namanya siapa?" ledek Rama.

"Cantik, Nyet. Dari samping kanan aja doi udah keliatan cantik banget!" Brandon mendahului Zidane untuk menjawab.

"Kayaknya gue tahu nih siapa!?" tebak Syein.

Zidane pasrah.

"Sepupunya Hana kan!?" lanjut Syein.

"Hmm, Nana namanya," ujar Zidane mengiyakan dengan muka malas.

"Nana pendek atau Nana panjang, Dane?" ledek Brandon.

"Na ... na bisa gue hajar lu ya, Ndon abis ini!" emosi Zidane yang justru membuat Rama, Syein, dan Brandon terpingkal.

"Setuju sih sama Zidane," celetuk Niyo.

Zidane nyengir.

"Denger kan lu!? Niyo aja setuju gue hajar lu abis ini," bangga Zidane.

"Bukan itu, pinter!" seru Niyo.

Meledaklah tawa mereka. Sementara Zidane memasang wajah masam.

"Maksudnya gue setuju sama pernyataan Zidane soal, ya percuma nasehatin Reiga buat berubah pikiran! Give up gue kalau urusan nasehatin Reiga," ujar Niyo.

"Arnold juga sih, jadi manusia goblok amat! Nggak berpikir sebelum berbuat!" komen Tristan seraya geleng-geleng kepala.

"Kayaknya kalimat itu juga cocok buat lu deh, Tan," ledek Brandon.

Tristan merengut.

"Sialan lu, Ndon!" sewotnya.

Syein menghela napas panjang. Menimbang apakah ia harus mengutarakan yang ada dalam kepalanya sekarang.

"Kita suruh Hana aja," cetus Syein.

Mereka semua terperangah. Apalagi Tristan yang bagai mendapat sebotol air mineral di tengah samudera tak bertepi. "Kalau Hana yang minta, he will never say no, rite?" tambah Syein sungguh yakin.

"Ide bagus, Nyettttt!!" seru Tristan senang sampai memeluk Syein.

"Masalahnya Reiga kan lagi di New York. Pulang juga 4 hari lagi! Percaya sama gue, 4 hari sudah lebih dari cukup bagi Reiga untuk mematikan karir Arnold," ucap Niyo logis.

Tristan kembali muram.

"Mamam tuh, Tan!" ledek Zidane.

"Sialan lu, Dane!" sebalnya.

Teman-temannya langsung tertawa melihat dua dokter itu bersitegang.

Lana mendengarnya dari kejauhan.

Pembicaraan genk looney-silly-weirdo itu. Sudah lebih dari 12 jam sejak telepon terakhirnya pada Arnold yang berujung putusnya hubungan mereka. Sampai siang ini mereka belum berkomunikasi lagi. Sayup-sayup mendengar apa yang tengah dilakukan Reiga pada Arnold membuat Lana diliputi rasa cemas untuk lelaki itu. Kuasa Reiga memang semenyeramkan itu.

Ketimbang makan, Lana memilih kembali ke ruangannya seraya mengetik sebuah pesan untuk Arnold.

Lana

Nold, are you okay?

Lana terus berjalan lalu berhenti tepat di depan pintu ruang kerjanya. Arnold berdiri di sana dengan wajah kuyu, berpenampilan acak-acakan, dan tampak menyedihkan.

"Hai, Lan," sapanya dengan suara pelan.

Hana menghela napas panjang lalu berjalan cepat kearah Arnold.

BRUGH!

Lana memeluk Arnold begitu erat. Pelukan yang sungguh dibutuhkan Arnold dalam keadaan begini.

"Kamu baik-baik aja kan, Nold?" tanya Lana cemas.

"Enggak, Beib. Aku... hancur," jawab Arnold.

Hana membuka matanya. Tidur yang kebablasan. Ia mengulet. Perutnya terasa lapar. Ia melihat jam di handphone miliknya. Pukul 9 malam. Hana sengaja meminta Juni mengosongkan jadwal selepas pulangnya ia dari Semarang. Agar ia bisa istirahat di rumah. Leyeh-leyeh di atas kasur memakai celana pendek dan sweater model croptop seperti yang biasa dipakainya kalau sedang di rumah. Meski faktanya tadi pagi, Hana tetap wajib ikut photoshoot iklan dan syuting sebuah podcast demi mempromosikan skin clinic yang mendapuknya menjadia BA alias Brand Ambassador.

"Kemana sih nih orang?" sebalnya seraya menatap layar handphone, tidak ada notifikasi yang masuk.

Tentu yang dibicarakan Hana, tak lain dan tak bukan adalah Reiga. Pria itu belum menghubunginya sejak terakhir kali ia keceplosan menangis.

Hana memilih bangun, membawa handphone-nya turun ke bawah. Hana menuju dapur. Sesampainya di pantry, Hana menuang air putih yang biasa disediakan Ibu-nya di teko ke dalam sebuah gelas bersih yang ditaruh di nampan coklat.

Hana meminumnya perlahan.

"Ini aku beneran nggak disuruh masuk nih?"

Suara familiar yang dirindukannya itu, menggaung begitu saja dalam kepalanya.

"Reishard?" gumam Hana bingung. Takut yang didengarnya tidak nyata.

Bukannya Reiga ada di New York?

Hana menoleh kearah pintu teras samping.

Kedua matanya membuka. Sementara ia mematung. Terpaku dengan apa yang dilihatnya sekarang. Sesak didadanya menyeruak, naik menjadi buliran airmata di kedua pelupuk matanya. Terharu bukan main.

Itu Reiga Reishard.

Berdiri dengan jarak 50 cm dari pintu teras samping. Memakai sweater berwarna navy bergaris oranye, menyilang di dada sebelah kirinya sebagai atasan. Lalu, jeans berwarna yang dark blue sebagai bawahannya. Lengkap dengan sepatu converse putih.

Pria itu tersenyum begitu menawan seperti biasanya. Meski wajah lelahnya tidak bisa dibohongi. Namun sorot mata penuh sayangnya itu selalu berhasil mencuri hati Hana.

"Iya, Sayangku. Ini Mas Ayang kamu," jawab Reiga.

Hana berdecak. Bukan sebal. Ia lantas setengah berlari menuju pintu. Membukanya lalu menubruk Reiga dalam satu kali lompatan.

"Kamu beneran pulang?" gumam Hana sudah bergelayut di leher Reiga.

Airmatanya mengalir bukan karena sedih.

Melainkan rasa haru yang amat sangat. Dicintai Reiga Reishard memang terasa tiada duanya. Nggak ada obat. No kaleng-kaleng.

"You said, you want me to be here, right? Jadi aku datang deh. Salah kamu nih, Han," canda Reiga seraya memeluk Hana dan tidak masalah menggendong gadis itu erat.

Reiga pun rindu. Sekaligus cemas pada perempuan ini. Ia menghirup bau Hana kuat-kuat. "Aku memang sekangen ini sama kamu ya, Han," ucapnya jujur.

Pelukan itu usai. Meski dua mata mereka masih saling menatap penuh rindu dan sayang. Juga dua tangan yang saling mendekap pinggang satu sama lain.

"Jangan bilang kamu pulang cuma buat..."

"Iya!" potong Reiga atas kalimat dugaan Hana yang belum selesai.

Hana terkesiap namun kadung terharu. Ia memeluk Reiga lagi. Kali ini tanpa melompat.

"Kenapa kamu nurut banget sih, Reishard!? Kalau aku orang jahat gimana?"

Reiga terkekeh.

"Abis mau gimana lagi, aku cinta banget," timpal Reiga membuat ratusan kupu-kupu dalam diri Hana terbang mengerubung yang divisualisasikan senyum maksimalnya hingga terbentuk lesung pipi.

Tiba-tiba pusing itu menyerang Reiga.

"Sayang, boleh masuk terus duduk di sofa nggak? Kepala aku tiba-tiba pusing," ucap Reiga.

Hana langsung berwajah cemas. Tanpa menjawab, ia langsung menggiring Reiga masuk ke dalam rumahnya.

Reiga duduk di sofa, menyender, dengan kepala mendongak. Hana mengambil air hangat untuk Reiga, lalu duduk di samping kirinya.

"Rei, minum dulu," ucap Hana.

Reiga meminumnya perlahan.

"Makasih, Sayangnya aku," ucapnya sambil membelai kepala belakang Hana.

Tersenyum begitu menawan.

"Kamu nggak ada dinas luar lagi kan?" Hana bertanya penuh harap.

Reiga terkekeh.

"Dua jam lagi aku harus udah naik ke pesawat untuk kembali ke New York," jawab Reiga.

"Ha?"

Hana takut salah dengar. Karena itu ia bengong.

"Terus ngapain pulang, Reishardddddd??" heran Hana sekaligus syok.

Bibir Reiga tersenyum. Ia menggenggam tangan kanan Hana lalu dikecupnya.

"Emangnya masih harus ditanya alasan kenapa aku pulang?" jawab Reiga dengan sebuah pertanyaan.

Alasan yang tak lain dan tak bukan adalah Hana.

Perempuan yang duduk tepat di samping kiri Reiga. "Why did you do this crazy thing for me?" tanya Hana masih syok atas kelakuan di luar nalar Reiga.

"First, i wanna hug you so bad. Apalagi dengar kamu nangis kayak gitu. Kedua, because you said, you wished me here," jawab jujur Reiga.

"Kamu gila sih, Rei! Badan kamu gimana? Nggak dipikirin??"

Reiga terkekeh.

"Kamu aja yang pikirin gimana?"

"Heh!" Hana tersenyum lebar. Sulit menahannya dan berakting galak di depan Reiga, saat yang dirasakannya adalah hal se-luar biasa ini.

"Nggak jelas!? Ngapain aku pikirin badan kamu??"ujar Hana.

"Iya ya ngapain?" gumam Reiga sambil tersenyum jahil.

Kedua mata Hana mendelik. Apa sih nih cowok!? Manipulatif banget sih nih cowok! Hana berujar dalam kepalanya.

"Sembarangan! Pikiran kamu tuh yang memanipulasi diri sendiri," sahut Reiga membuat cengiran malu di wajah Han.

Mereka bertatapan.

"Hana," panggil Reiga.

Hana mengenali kebiasaan cara Reiga memanggilnya dengan intonasi dan cara bicara seperti itu, menandakan pria itu ingin mengatakan sesuatu yang serius.

"Ya. Apa, Sayangnya aku?" sahut Hana.

Reiga mengecup jemari tangan Hana. Tatapan mata Reiga serius.

"Lain kali kalau digangguin Arnold bilang ya sama aku," ucap Reiga.

"Karena aku nggak tahu, kiamat seperti apa yang akan aku berikan sama dia dengan kemarahan sebesar itu," lanjut Reiga.

Hana terpana mendengarnya. Haru kembali menyelubunginya.

Reiga tersenyum. "Sini peluk," ujar Reiga meraih Hana dalam pelukannya. Hana tidak menolaknya. Ia memang ingin pelukan ini. Merindu pelukan ini. Juga manusia yang sering memberikannya pelukan ini.

"Aku rasa aku akan mengalami mega kehancuran begitu kita putus, Rei," gumam Hana.

Bagaimana ia harus menemukan pengganti Reiga Reishard yang bahkan berbuat segila itu dengan terbang dari New York ke Jakarta hanya untuk menemuinya selama 2 jam?

"Sama dong. Cocok banget ya kita," sahut Reiga.

Pelukan itu merenggang. Saling tersenyum sambil menatap satu sama lain.

"Heh!" tukas Hana.

Reiga memandangi dua bola mata Hana yang berbinar menatapnya. "Aku sayang banget sama kamu, Adrianne Hana. Saking sayangnya, aku sampai nggak peduli, semenyakitkan apa cinta bakal menghancurkan aku kali ini. Aku nggak bisa menolong diri aku untuk nggak jatuh hati sama kamu,"gumam Reiga.

"Sayang banget ya sama aku?" jahil Hana.

Reiga mendengus dengan senyum dibibirnya.

"Emangnya harus ditanya lagi?"

Hana tersenyum lebar mendengar sahutan Reiga.

"Boleh cium nggak?" tanya Reiga yang sudah tak bisa lagi menanggulangi hasrat yang tercipta dalam dirinya.

Hana menarik tali sweater Reiga agar wajah pria itu mendekat. "Emangnya harus ditanya lagi?" balas Hana membuat tawa Reiga berderai. Hana tersenyum jahil kearahnya. Senyum yang rasanya ingin diabadikannya dan dibawa Reiga kemanapun dia pergi.

"Gemesin banget sih," gemas Reiga mengucapnya dengan rasa bahagia yang terpancar dari seluruh sudut wajahnya.

"Aku sayang kamu, Adrianne Hana," ucap pelan Reiga tepat di depan wajah Hana.

"Aku juga sayang kamu, Reiga Rahardian Reishard," balas Hana.

Mereka bertatapan dengan mata yang tersenyum. Lalu, membiarkan bibir mereka saling melepas rindu. Reiga meraih rahang kiri Hana. Mengelusnya pelan dan mencium bibir si pencuri jiwanya penuh khidmat.

1
𝐀⃝🥀Weny
thor, kok blm up lagi😪
𝐀⃝🥀Weny
wiiih... kira² mau ngomongin apa ya🤔apa mau kasih surprise ke Hana ya🤔
𝐀⃝🥀Weny
tumben up dikit thor😁
𝐀⃝🥀Weny
yang perlu dibuang ke tong sampah itu kamu chil😤
𝐀⃝🥀Weny
ohhh.. so sweet banget sih kamu Rei😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!