NovelToon NovelToon
System Pohon Ajaib Warisan Kakek

System Pohon Ajaib Warisan Kakek

Status: tamat
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik / Tamat
Popularitas:175.6k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Lelah dengan kehidupan keras sebagai budak korporat di kota besar dan duka setelah kehilangan kedua orang tuanya, Lin Ye memutuskan untuk pulang ke Desa Qingshui, tempat kakeknya dulu tinggal.

Di sana, ia menemukan ladang dan rumah kakeknya yang sudah terbengkalai, kecuali sebatang pohon raksasa misterius di belakang rumah yang anehnya tetap subur dan hijau.

Saat tangan Lin Ye yang terluka menyentuh pohon tersebut, Sistem Warisan Alam yang terkunci sejak kematian kakeknya mendadak aktif, mengenali garis keturunannya sebagai pewaris sah.

Kini, dengan bantuan sistem yang memudahkan pekerjaan bertani dan kehadiran roh-roh alam fantasi, Lin Ye memulai kehidupan barunya yang santai namun penuh keajaiban untuk membangun kembali kejayaan ladang kakeknya, melawan intrik tetangga yang rakus, dan perlahan menjadi kaya raya di tengah kedamaian pedesaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

"Luar biasa cepatnya Anda menebang pohon, Tuan Lin. Saya baru dapat dua akar ginseng," kata Bai Ruoxue sambil berdiri dan menepuk debu dari celemeknya.

"Kapak peninggalan kakek saya ini sangat tajam," jawab Lin Ye sambil tersenyum, berjalan menghampiri Bai Ruoxue. "Apakah herbalnya sudah cukup?"

"Sudah cukup untuk racikan minggu ini. Mari kita tu—"

Krrr. Oing.

Kata-kata Bai Ruoxue terpotong oleh suara geraman berat yang sangat serak dari balik semak belukar yang rimbun di depan mereka. Suara patahan ranting terdengar sangat jelas dan cepat, menandakan sesuatu yang besar sedang berlari ke arah mereka.

Mata Lin Ye langsung menajam. Dia segera melangkah maju, memposisikan tubuhnya di depan Bai Ruoxue untuk melindunginya.

"Mundur ke belakang saya, Perawat Bai. Jangan bergerak tiba-tiba," perintah Lin Ye dengan nada suara yang sangat rendah dan tenang.

Srek.

Seekor babi hutan berukuran sangat masif menerobos keluar dari semak belukar. Ukurannya hampir setinggi pinggang Lin Ye, dengan bulu hitam kasar yang berdiri tegak. Dua buah taring melengkung yang tajam mencuat dari moncongnya. Babi hutan itu mendengus marah, matanya menatap tajam ke arah Lin Ye dan Bai Ruoxue. Makhluk liar itu jelas merasa terganggu oleh suara pohon tumbang tadi.

Bai Ruoxue menahan jeritannya. Tangannya tanpa sadar mencengkeram erat bagian belakang kemeja Lin Ye. Tubuhnya bergetar ketakutan. Menghadapi babi hutan raksasa di alam liar tanpa senapan berburu adalah mimpi buruk yang sering merenggut nyawa warga desa.

"Tuan Lin... kita harus lari," bisik Bai Ruoxue dengan suara gemetar.

"Tidak bisa. Babi hutan berlari lebih cepat dari manusia di jalan menanjak. Jika kita membelakanginya, dia akan langsung menanduk kita," jawab Lin Ye, matanya terus terkunci pada mata babi hutan itu.

Babi hutan itu mengais tanah dengan kaki depannya.

Grok.

Dalam sekejap, makhluk seberat ratusan kilogram itu melesat maju, menerjang lurus ke arah Lin Ye bagaikan sebuah truk kecil yang kehilangan kendali. Taringnya yang mematikan diarahkan tepat ke perut Lin Ye.

"Tuan Lin, awas," teriak Bai Ruoxue panik.

Lin Ye tidak panik. Kejernihan pikirannya membuat pergerakan babi hutan itu terasa sedikit lebih lambat di matanya. Saat babi itu hampir menabraknya, Lin Ye mendorong dada Bai Ruoxue ke samping agar wanita itu terhindar dari jalur terjangan.

Wush.

Lin Ye melompat ke sisi kanan tepat pada detik terakhir. Babi hutan itu meleset dari sasarannya, namun makhluk itu segera mengerem langkahnya dengan menggesekkan kukunya di atas tanah, lalu berputar dengan cepat untuk melakukan serangan kedua.

Kali ini, Lin Ye tidak akan memberikan kesempatan. Dia mengubah genggamannya pada gagang kapak, memegangnya dengan kedua tangan penuh tenaga.

Saat babi hutan itu kembali melompat menerjang, Lin Ye tidak menghindar. Dia memfokuskan seluruh tenaga fisiknya ke kedua lengannya dan mengayunkan mata kapak hitamnya dengan tebasan memutar yang sangat kuat dari samping.

Bugh. Krak.

Suara hantaman tumpul yang mengerikan menggema di udara. Gagang kayu keras dari kapak Lin Ye menghantam tepat di sisi kepala babi hutan tersebut dengan kekuatan yang luar biasa. Tulang tengkorak makhluk itu retak akibat benturan ekstrem tersebut.

Babi hutan raksasa itu terpental ke samping, terguling beberapa kali di atas tanah sebelum akhirnya menabrak sebatang pohon pinus besar dan diam tak bergerak. Napas makhluk itu tersengal-sengal sesaat sebelum akhirnya putus.

Suasana bukit kembali menjadi hening. Hanya terdengar napas Lin Ye yang sedikit memburu.

Bai Ruoxue yang terduduk di atas tanah menatap pemandangan itu dengan mulut terbuka lebar. Dia tidak percaya apa yang baru saja dia lihat. Seorang mantan pekerja kantoran dari kota baru saja menumbangkan seekor babi hutan raksasa hanya dengan satu ayunan kapak.

Lin Ye menurunkan kapaknya dan segera menghampiri Bai Ruoxue. Dia mengulurkan tangannya.

"Anda tidak terluka kan, Perawat Bai?" tanya Lin Ye, sorot matanya penuh kekhawatiran.

Bai Ruoxue menatap tangan Lin Ye, lalu menerima uluran itu. Lin Ye menariknya berdiri dengan mudah.

"Sa... saya tidak apa-apa, Tuan Lin. Tapi Anda... Anda luar biasa. Saya belum pernah melihat ada orang yang menghentikan terjangan babi hutan sendirian, bahkan Paman Feng si pemburu desa pun biasanya butuh anjing pemburu dan senapan," kata Bai Ruoxue, matanya masih menatap bangkai babi hutan di sana.

"Saya hanya beruntung kapak saya mendarat di tempat yang tepat," Lin Ye merendah, menutupi fakta bahwa tenaganya telah diperkuat oleh sistem.

"Ayo kita segera turun dari sini. Bau darah biasanya bisa memancing kawanan lainnya. Saya akan memberi tahu Kepala Desa nanti agar menyuruh orang mengambil bangkai babi itu untuk dibagikan ke warga," kata Lin Ye. Dia mengambil kembali keranjang rotan Bai Ruoxue dan menuntun wanita itu menuruni bukit.

Perjalanan pulang terasa jauh lebih dekat. Bai Ruoxue masih terlihat sedikit syok, namun genggaman tangan Lin Ye di lengannya memberikan rasa aman yang tak terlukiskan. Bagi Lin Ye, kejadian ini adalah pengingat bahwa alam, meski sudah terikat sistem, tetap memiliki bahayanya sendiri.

Sesampainya di jalan utama desa, Lin Ye berpisah dengan Bai Ruoxue.

"Terima kasih banyak atas perlindungan Anda hari ini, Tuan Lin. Jika Anda tidak ada di sana, saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada saya," ucap Bai Ruoxue tulus, menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Sama-sama, Perawat Bai. Anggap saja kita impas dengan biaya pengobatan kemarin. Hati-hati di jalan," balas Lin Ye sambil tersenyum.

Lin Ye kembali ke rumahnya. Hari sudah menjelang sore. Dia mengunci gerbang, menyimpan kapaknya yang kini dia ubah kembali ke mode cangkul.

Target kayu solid sudah tercapai. Sekarang, dia hanya tinggal menunggu malam tiba untuk masuk ke dalam tambang dan mencari dua bijih tembaga yang tersisa.

Waktu berlalu dengan cepat saat Lin Ye menghabiskan sore harinya dengan membersihkan halaman dan menyusun rencana ekspansi lahan.

Ketika langit benar-benar gelap dan desa sudah sunyi, Lin Ye kembali mengenakan perlengkapan tambangnya. Dia menuruni sumur menggunakan tali tambang.

Klak. Drrrtt.

Pintu batu berukir itu kembali terbuka menyambutnya. Lin Ye melangkah masuk ke dalam Area Tambang Warisan Lapisan Pertama.

Kali ini, dia sudah tahu apa yang harus dia lakukan. Dia tidak membuang waktu. Senter kepalanya menyapu ruangan bundar yang penuh dengan gundukan batu abu-abu.

Lin Ye mengayunkan Cangkul Kayu Besi Hitamnya bertubi-tubi, menghancurkan batu demi batu dengan ritme yang stabil.

Trak. Brak. Trak. Brak.

Dalam waktu setengah jam, dia telah menghancurkan belasan batu. Keringat membasahi jaketnya, namun usahanya membuahkan hasil. Tiga bongkahan kecil berwarna kuning tembaga berhasil dia kumpulkan dari balik reruntuhan batu, melebihi target yang dia butuhkan.

"Tembaga sudah cukup. Waktunya untuk peningkatan alat," kata Lin Ye, napasnya terengah-engah.

Dia duduk bersandar di dinding gua, mengeluarkan semua bahan yang dibutuhkan dari dalam inventaris dan sakunya, lalu meletakkannya di atas tanah. Satu Bijih Besi Hitam, lima Bijih Tembaga, dan lima puluh Potongan Kayu Solid.

"Sistem, semua persyaratan modifikasi telah terpenuhi. Lakukan perakitan Modifikasi Cangkul Level 2 sekarang," perintah Lin Ye dengan lantang.

Sring.

Sebuah lingkaran cahaya sihir berwarna emas muncul di atas tanah, menutupi semua bahan material tersebut. Cangkul Kayu Besi Hitam milik Lin Ye tiba-tiba melayang ke udara, tertarik ke dalam lingkaran cahaya tersebut.

Bahan-bahan mentah itu melebur menjadi energi cair keemasan. Kayu solid melebur ke dalam gagang cangkul, membuatnya menjadi sedikit lebih panjang dan berwarna cokelat kemerahan yang sangat elegan. Bijih tembaga dan besi hitam melebur, membungkus mata cangkul besi hitam itu, mengubahnya menjadi paduan logam yang sangat kuat dan memancarkan kilau tembaga gelap yang tajam.

Ting.

Cahaya keemasan meredup. Cangkul yang baru selesai dimodifikasi itu jatuh perlahan ke pangkuan Lin Ye.

"Modifikasi Selesai. Selamat, Pengguna."

"Alat Serbaguna telah ditingkatkan menjadi: Cangkul Tembaga Hitam Level 2."

Layar hijau menampilkan deskripsi alat barunya.

"Efek Pasif Level 2: Mengurangi kelelahan kerja fisik hingga 75%. Ketahanan alat meningkat menjadi tidak bisa hancur oleh benda non-magis."

"Kemampuan Khusus (Mode Cangkul): Ayunan Area. Saat digunakan untuk menggali tanah pertanian, satu ayunan cangkul akan secara otomatis menggemburkan dan merapikan petak tanah seluas 3x3 meter sekaligus."

"Kemampuan Khusus (Mode Kapak): Tebasan Ganda. Sangat efektif untuk menebang pohon kayu keras tipe premium di masa depan."

Lin Ye menggenggam gagang cangkul barunya. Sensasinya luar biasa berbeda. Alat ini terasa hidup, mengalirkan tenaga yang berlipat ganda ke dalam lengannya.

"Menggemburkan area tiga kali tiga meter hanya dengan satu ayunan? Ini gila. Dengan alat ini, aku bisa membuka lahan sebesar lapangan sepak bola hanya dalam waktu beberapa jam," Lin Ye tertawa keras. Suaranya bergema di dalam gua tambang yang sunyi.

Dia bangkit berdiri, membawa cangkul barunya dengan kebanggaan yang membuncah. Dengan alat ini dan uang tunai puluhan ribu yuan di rumahnya, kekaisaran pertanian Lin Ye di Desa Qingshui akan segera dimulai besok pagi.

1
SENJA
hadeeeh bulshit semua 🤮
Jeffie Firmansyah
keren semangat suka cerita nya
Jeffie Firmansyah
terimakasih Thor saya sdh baca hingga selesai, ceritanya bagus , dengan genre yg berbeda, pada novel 2 , yg lain... sehat selalu Thor 💪💪💪💪
Yui: terimakasih banyak kak sudah membaca sampai selesai, maaf klo banyak kesalahan dalam penulisannya, dan mungkin bisa baca juga novel author yang lain😊😊😊
total 1 replies
Endro Budi Raharjo
tanamannya gak jelas.... cm panen sekali bubar ganti lg...
Memyr 67
𝗉𝖺𝗅𝗂𝗇𝗀 𝗆𝖾𝗅𝗈𝗇 𝗓𝖺𝗆𝗋𝗎𝖽𝗇𝗒𝖺 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝗌𝖺𝗍𝗎 𝗂𝗍𝗎 𝖺𝗃𝖺. 𝗅𝗂𝗇 𝗒𝖾 𝗄𝖺𝗇 𝗌𝗂𝗌𝗍𝖾𝗆 𝖻𝖾𝗋𝖼𝗈𝖼𝗈𝗄 𝗍𝖺𝗇𝖺𝗆𝗇𝗒𝖺, 𝗌𝖾𝖽𝗂𝗄𝗂𝗍 𝗌𝖾𝖽𝗂𝗄𝗂𝗍, 𝖽𝗂𝖼𝗈𝖻𝖺 𝗌𝖾𝗆𝗎𝖺.
Memyr 67
𝖽𝗂 𝗍𝖾𝗇𝗀𝖺𝗁 𝖽𝖺𝗇𝖺𝗎 𝖺𝖽𝖺 𝗉𝗎𝗅𝖺𝗎? 𝗈𝗐 𝗂𝗍𝗎 𝖽𝖺𝗁 𝗇𝗒𝖺𝗆𝗉𝖾 𝖽𝖺𝗇𝖺𝗎 𝗍𝗈𝖻𝖺 𝖻𝖾𝗋𝖺𝗋𝗍𝗂 🤣🤣🤣
Memyr 67
𝖽𝗂 𝖼𝗁𝗂𝗇𝖺, 𝗌𝖺𝗒𝗎𝗋 𝖻𝖾𝗇𝗂𝗇𝗀 𝖽𝗂𝗇𝖺𝗆𝖺𝗄𝖺𝗇 𝖽𝗎𝗉 𝗃𝗎𝗀𝖺 𝗒𝖺? 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗂𝗇𝖽𝗈𝗇𝖾𝗌𝗂𝖺, 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝖺𝖽𝖺 𝖽𝖺𝗀𝗂𝗇𝗀𝗇𝗒𝖺 𝗂𝗍𝗎 𝗌𝖺𝗒𝗎𝗋 𝖻𝖾𝗇𝗂𝗇𝗀, 𝖻𝗎𝗄𝖺𝗇 𝗌𝗎𝗉.
Memyr 67
𝗌𝖺𝗐𝗂 𝖼𝖺𝗆𝗉𝗎𝗋 𝗆𝖾𝗅𝗈𝗇? 𝖺𝗉𝖺 𝗋𝖺𝗌𝖺 𝖽𝖺𝗎𝗇 𝗌𝖺𝗐𝗂𝗇𝗒𝖺 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝗆𝖾𝗅𝗈𝗇?
Reyzz: melonnya yang rasa sawi kak😭
tergantung genetik sih, kalo dominan melonnya ya sawi rasanya melon, kalo dominan sawi ya melon rasa sawi
total 1 replies
Memyr 67
𝗌𝖾𝗎𝗉𝗎 𝗐𝖺𝗇 𝗃𝗂𝗇 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗉𝖺𝖽𝖺 𝗌𝖺𝖽𝖺𝗋 𝖽𝗂𝗋𝗂, 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗀𝗎𝗇𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗍𝗎𝖺𝗇𝗒𝖺 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗆𝖾𝗇𝖾𝗄𝖺𝗇 𝗐𝖺𝗇𝗃𝗂𝗇 𝖽𝖺𝗇 𝖺𝗒𝖺𝗁𝗇𝗒𝖺, 𝗉𝖺𝖽𝖺𝗁𝖺𝗅 𝗉𝖺𝗋𝖺 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀𝗍𝗎𝖺 𝗆𝖾𝗋𝖾𝗄𝖺 𝖽𝗂𝗍𝖾𝗄𝖺𝗇 𝖻𝖺𝗅𝗂𝗄, 𝗀𝖾𝗅𝖺𝗀𝖺𝗉𝖺𝗇, 𝖻𝖾𝗇𝖺𝗋 𝖻𝖾𝗇𝖺𝗋 𝗌𝖾𝗄𝖾𝗅𝗂𝗆𝗉𝗈𝗄 𝗆𝖺𝗇𝗎𝗌𝗂𝖺 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁. 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗆𝗂𝗄𝗂𝗋
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗇𝗒𝖺𝗍𝖺, 𝗉𝖺𝗋𝖺 𝗉𝖾𝗍𝗂𝗇𝗀𝗀𝗂 𝗁𝗈𝗍𝖾𝗅 𝗀𝗋𝖺𝗇𝖽 𝗒𝗎𝗌𝗁𝖺𝗇 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝗒𝗀 𝖻𝖾𝗋𝗉𝗂𝗄𝗂𝗋𝖺𝗇 𝗌𝖾𝗆𝗉𝗂𝗍. 𝗉𝖺𝗇𝗍𝖺𝗌 𝖺𝗃𝖺 𝖽𝗂𝗋𝖾𝗆𝖾𝗁𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗅𝖾𝗁 𝗀𝗋𝗎𝗉 𝗄𝗎𝗅𝗂𝗇𝖾𝗋 𝗅𝖺𝗇𝗀𝗂𝗍
Memyr 67
𝖻𝖺𝗋𝗎 𝗌𝖾𝗇𝖾𝗇𝗀 𝗌𝖾𝗇𝖾𝗇𝗀 𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍 𝖽𝗎𝗂𝗍 𝗋𝖺𝗍𝗎𝗌𝖺𝗇 𝗋𝗂𝖻𝗎 𝗒𝗎𝖺𝗇, 𝖽𝖺𝗁 𝗍𝖾𝗀𝖺𝗇𝗀 𝗅𝖺𝗀𝗂.
Memyr 67
𝗉𝖺𝗋𝖺 𝗌𝖾𝗉𝗎𝗉𝗎 𝗐𝖺𝗇𝗃𝗂𝗇 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁. 𝖺𝗉𝖺 𝗒𝗀 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗋𝖾𝗄𝖺 𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗀𝗋𝗎𝗉 𝗄𝗎𝗅𝗂𝗇𝖾𝗋 𝗅𝖺𝗇𝗀𝗂𝗍, 𝗍𝗂𝖽𝖺𝗄 𝖺𝖽𝖺 𝖺𝗉𝖺 𝖺𝗉𝖺𝗇𝗒𝖺 𝖽𝗂𝖻𝖺𝗇𝖽𝗂𝗇𝗀𝗄𝖺𝗇 𝖺𝗉𝖺 𝗒𝗀 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝖽𝗂𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍 𝗀𝗋𝗎𝗉 𝗄𝗎𝗅𝗂𝗇𝖾𝗋 𝗅𝖺𝗇𝗀𝗂𝗍. 𝗄𝖾𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋𝖺𝗇 𝗀𝗋𝖺𝗇𝖽 𝗒𝗎𝗌𝗁𝖺𝗇, 𝗒𝗀 𝖻𝖾𝗋𝖺𝗋𝗍𝗂 𝗄𝖾𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗋𝖾𝗄𝖺 𝗌𝖾𝗆𝗎𝖺. 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝗉𝖺𝗋𝖺 𝖺𝗇𝗀𝗀𝗈𝗍𝖺 𝖽𝖾𝗐𝖺𝗇 𝗅𝖾𝖻𝗂𝗁 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁. 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝖽𝗂𝗍𝖾𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗅𝖾𝗁 𝗉𝖺𝗋𝖺 𝗌𝖾𝗉𝗎𝗉𝗎 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝗐𝖺𝗇𝗃𝗂𝗇.
Memyr 67
𝗍𝖾𝗀𝖺𝗇𝗀 𝗅𝖺𝗀𝗂
Memyr 67
𝗉𝖾𝗍𝖺𝗇𝗂 𝗎𝖽𝗂𝗄 𝗒𝖺? 𝗅𝗈𝗇𝗀 𝗐𝖾𝗂 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝖽𝖺𝗇 𝖼𝖾𝗋𝗈𝖻𝗈𝗁 𝗀𝗂𝗍𝗎, 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗃𝖺𝖽𝗂 𝗉𝖾𝗆𝗂𝗆𝗉𝗂𝗇 𝖽𝗎𝗇𝗂𝖺 𝖻𝖺𝗐𝖺𝗁. 𝗅𝗈𝗅
Memyr 67
𝗉𝖾𝗍𝖺𝗇𝗂 𝗎𝖽𝗂𝗄? 𝗍𝗎𝗇𝗀𝗀𝗎 𝗌𝖺𝗃𝖺, 𝗌𝗂𝖺𝗉𝖺 𝗒𝗀 𝗅𝖾𝖻𝗂𝗁 𝗎𝖽𝗂𝗄. 𝗅𝗈𝗇𝗀 𝗐𝖾𝗂 𝗉𝗎𝗇𝗒𝖺 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝖻𝗎𝖺𝗁, 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗆𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇𝖽𝖺𝗅𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗍𝗈𝗍, 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝖺𝖽𝖺 𝗈𝗍𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺.
Memyr 67
𝖺𝗄𝗎 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝖻𝖺𝖼𝖺 𝖺𝗃𝖺, 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝗂𝗄𝗎𝗍 𝗌𝖾𝗌𝖾𝗄 𝗇𝖺𝗉𝖺𝗌
Memyr 67
𝖾𝗉𝗂𝗌𝗈𝖽𝖾 𝗆𝖾𝗇𝖾𝗀𝖺𝗇𝗀𝗄𝖺𝗇
Memyr 67
𝖻𝗎𝖺𝗒𝖺 𝖻𝗎𝗇𝗍𝗎𝗇𝗀 𝗆𝖾𝗇𝖽𝖾𝗄𝖺𝗍𝗂 𝗍𝖺𝗋𝗀𝖾𝗍
Memyr 67
𝗍𝖾𝗀𝖺𝗇𝗀
Memyr 67
𝗆𝖺𝗍𝖺 𝖺𝗂𝗋 𝗄𝗈𝗄 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝖽𝗂 𝖽𝖺𝗅𝖺𝗆 𝖻𝗈𝗍𝗈𝗅?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!