NovelToon NovelToon
Menikahi Pria Cacat

Menikahi Pria Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Vanesa Dintiani

Laura Hiraya yang baru berusia 20 tahun harus rela di jodohkan dengan putra konglomerat. Keputusan egois keluarganya menjadikan ia alat tukar di dalam bisnis. Keluarga konglomerat itu menjanjikan sebuah kerjasama bisnis, dan sebagai imbalannya mereka menginginkan calon istri untuk putra mereka, Gaharu Gardapati.

Gaharu, pria cacat yang sialnya sangat tampan. Kecelakaan tragis 2 tahun lalu membuatnya harus terduduk di atas kursi roda. Ia kehilangan kedua fungsi kakinya. Itu, bersifat sementara. Ia masih menjalani perawatan.

Lalu.. bagaimana kisah rumah tangga si gadis ceria dan aktif seperti Laura Hiraya yang di hadapkan dengan Gaharu Gardapati si pria arogan yang pemarah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanesa Dintiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

06. Konferensi pers & Asisten baru (2)

"Bereskan makananmu dan temui aku sepuluh menit setelahnya."

Tanpa mendengar jawaban Laura, Gaharu melenggang pergi dengan kursi rodanya, masuk ke dalam lift dan hilang begitu saja.

"Dih! Dia yang memaksa mengajak, dia yang marah? Memang sinting!"

Sepuluh menit setelahnya, pelayan Kim datang menghampirinya dan menyampaikan pesan untuk menunggu Gaharu di halaman belakang. Tanpa banyak tanya Laura mengangguk dan menunggu di halaman belakang.

Di sana, ia duduk di sebuah gazebo, menatap sekeliling yang di terangi oleh lampu taman.

"Cih! Sepuluh menit katanya, mana? Batang hidungnya saja bahkan tidak kelihatan. Dasar tukang korupsi waktu!"

Laura menggerutu sebal, kedua tangan kecilnya memeluk erat tubuhnya yang menggigil kedinginan karena angin malam.

Tak lama dari itu, suara derap langkah terdengar. Bukan hanya satu, namun lebih. Laura mengalihkan pandangannya dan menatap 5 orang pria yang datang bersama dengan Gaharu, pelayan Kim dan jangan lupakan si sekertaris prosedur ikut mengintil seperti anak bebek di belakang sana.

Tanpa sadar bibir kecil Laura bergerak sinis, matanya bahkan menatap permusuhan kepada si sekertaris, dan Gaharu menangkap ekspresi tersebut.

'Dia sepertinya kerasukan, setan apa kira-kira yang merasukinya?'

Juan berjalan ke depan tepat di samping kursi roda yang di gunakan Tuannya. Ia membuka tablet yang berisikan data pribadi milik kelima orang di depan sana dan memberikannya kepada Gaharu. Namun Gaharu menolak tablet tersebut.

"Lakukan dengan cepat," ucapnya dingin. Kepalanya sudah berdenyut nyeri melihat tingkah istrinya, ia tidak ingin menambah beban kepalanya lagi. Ia sudah merasa cukup terbebani dengan perubahan tiba-tiba istrinya.

Juan mengerti, ia berdehem dan mengambil alih

"Sebelumnya, saya meminta maaf karena membatalkan agenda pertemuan tadi siang dan harus di geser pada malam hari. Untuk mempersingkat waktu, mari kita mulai."

Di gazebo, Laura menguap melihat gerak mulut sekertaris Juan yang terlatih untuk mewawancarai kelima pria di depan sana. Dengan langkah gontai Laura berjalan mendekat, Gaharu sudah memasang wajah waspada saat melihat pergerakan yang terlihat mengancam. Apalagi ketika ia melihat raut wajah istrinya yang merengut dengan pandangan mata sayu karena mengantuk.

Tanpa aba-aba dan tanpa permisi Laura merebut tablet si sekertaris, membuat si empu terkaget-kaget karena ulahnya. Bahkan pelayan Kim saja sampai mengedipkan matanya berkali-kali, menatap tidak percaya dengan apa yang baru saja Laura lakukan.

Gaharu? Jangan di tanya lagi, pria itu terdiam dengan wajah datar, sudut matanya berdenyut, bahkan kepalanya bertambah sakit.

'Hal apa lagi yang akan di lakukan gadis jadi-jadian ini sekarang.'

"Nyonya-"

"Sttttt!" Laura mengacungkan jari telunjuknya di depan bibir si sekertaris.

Laura menatap layar tablet tersebut, menggeser dan menggeser sampai semua data pribadi kelima pria itu selesai ia baca. Lalu, pandangannya terangkat, menatap kelima pria di depan sana dengan intens.

Yang di perhatikan berdiri dengan tegak, bahkan ada yang menelan ludahnya dengan gugup karena di perhatikan secara intens oleh calon majikan mereka. Lalu tanpa peringatan Laura tersenyum lebar, makin-makin lah para calon pengawal itu gugup. Apalagi pawangnya berada di tempat yang sama, mereka merasa berada di kutub Utara yang dingin.

"Aku ingin mereka semua," kata Laura dengan riang. Ia menempelkan tablet yang ia rebut tadi pada dada si sekertaris, dengan kata lain mengembalikan.

"Nyonya-"

"Pilih salah-satu!" Gaharu memotong perkataan Juan.

Laura menggeleng keras, "aku ingin semua!" kekehnya.

Gaharu menarik nafasnya dengan kesal, wajahnya sudah mengeras menahan amarah.

"Jangan menguji kesabaranku, Laura."

"Siapa juga yang sedang mengujimu, aku bahkan bukan pengawas ujian. Ah.. intinya aku ingin mereka semua!"

Laura menatap menantang pada Gaharu. Matanya tidak menunjukkan kilatan takut atau pasrah seperti beberapa hari yang lalu, ini adalah Laura versi normal seperti biasanya. Ia sudah bertekad untuk tidak terlihat lemah di hadapan lelaki itu, ia akan melawan agar tidak di tindas.

Pelayan Kim yang berada di sana merasakan hawa yang tidak mengenakan dari Tuannya, mulutnya sudah akan berbicara, namun sudah di potong oleh Laura.

"Jangan berbicara pelayan Kim, ini antara aku dan dia," tunjuk Laura kepada Gaharu.

Gaharu memelototkan matanya saat istrinya menunjuk dirinya dengan gampang. Di luaran sana ia di senggani, tapi di hadapan istri kecil, ia seperti tidak ada harga dirinya.

Bukan hanya Gaharu, bahkan semua orang yang berada di halaman itu merasakan keterkejutan yang sama. Para calon pengawal saling melirik, si sekertaris dan pelayan Kim saling lempar padangan. Cukup sudah.

"Nyonya, hanya satu kandidat saja-"

"Tidak mau tahu, aku ingin mereka semua!" potong Laura lagi. Juan berusaha bersabar.

"Nyonya jika Anda ingin pengawalan lebih, kami sudah menyiapkan orang-orang profesional-"

"Aku maunya mereka semua!" tekan Laura menatap garang kepada Juan.

"Memangnya kamu mampu membayar mereka semua?" Gaharu melemparkan pertanyaan.

"Kamu yang bayar dong, mana mungkin aku yang bayar. Uang tabunganku mana cukup. Kamu memberikan uang bulanan saja tidak, bagaimana aku bisa membayarnya?" Laura berbicara tanpa dosa. Tidak mengindahkan ekspresi Gaharu yang memerah saat kata 'tidak memberikan uang bulanan' keluar dari bibir kecil istrinya.

Konferensi pers baru berjalan beberapa jam yang lalu, dan dengan gampangnya mulut kecil istrinya berbicara kata 'tidak memberi uang bulanan' bisa hancur citranya jika hal itu sampai bocor pada publik.

"Sekertaris prosedur ini bilang jika duniamu tidak benar-benar aman, jadi harus ada penjagaan untukku. Jadi aku memilih kelima orang itu,"

"Gabriel akan jadi pengawal pribadi, Hans akan jadi supir pribadi, lalu untuk Zero, Arlo dan Owen, mereka bertiga menjadi pengawal bayangan, tidak terlihat tapi menjagaku dari kejauhan. Hanya lima saja sudah cukup, tidak kurang dan tidak lebih."

Laura menjelaskan dengan senyum riang di wajahnya.

"Menurutmu apa yang sedang kamu lakukan, Laura?" Gaharu menatap dingin kepada gadis di depannya.

Laura merasakannya, kemarahan yang meluap-luap. Ia sempat melihat tangan pria itu terkepal keras. Ia tersenyum manis, sangat manis, manis yang membunuh.

"Melakukan sesuatu yang memang patut di lakukan oleh seorang istri konglomerat, aku memiliki hak, bukan?"

"Di konferensi pers tadi, kamu mengatakan aku mendapatkan penjagaan, padahal kenyataannya..." Laura menggantung ucapannya, ia tersenyum penuh makna kepada Gaharu yang terdiam tanpa kata.

Juan dan pelayan Kim banyak menahan nafas saat atmosfer yang di ciptakan oleh kedua orang itu seakan menekan udara sekitar.

"Nyonya, ini sudah malam, Anda membutuhkan istirahat untuk memulai kegiatan esok hari," pelayan Kim angkat bicara. Bisa kacau jika di teruskan.

Laura tersenyum cantik pada pelayan Kim. "Kamu memang yang terbaik pelayan Kim." Katanya sambil mengacungkan kedua jempolnya.

Ia berbalik menatap semua calon pengawalnya. "Aku tidak sabar melihat kalian menjadi pengawalku, sampai jumpa besok!" Laura melambaikan tangan kepada mereka berlima lalu melenggang pergi meninggalkan halaman belakang.

Ia merindukan kasur dan semua perintilannya.

"Tuan-"

"Pekerjakan mereka semua, aku tidak ingin berdebat lagi soal ini." Potong Gaharu secara mutlak.

Pria itu memutar kursi rodanya dan pergi meninggalkan mereka semua, kepalanya sudah hampir pecah seharian ini, dan itu di sebabkan oleh satu nama, Laura.

Perubahan sikapnya, tingkahnya, semuanya sudah berlarian di kepalanya, dan hanya satu pertanyaan yang terlihat, kenapa?

Laura yang ia temui di pernikahan sangat berbeda dengan Laura yang ia hadapi saat ini. Seakan-akan ada kepribadian lain, atau memang gadis itu benar-benar kerasukan setan.

***

Halo! Jangan lupa berikan dukungan kalian untuk author ya 😉 satu like dan komentar kalian sangat berharga bagi author.

Terimakasih.

Kamis, 26 Maret 2026

Published : 02 April 2026

1
aku
tembok batu makax klo gmg kaku 🙄 untung ada 5 antek, jd lau gk kesepian 😁
Wawan
Hadir
Bagus Effendik
hai kak semangat ya seru ceritanya mampir juga punyaku yuk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!