Jasmine, menikah dengan Aksa adalah mimpi buruk yang ingin ia kubur dalam-dalam. Sebagai anak yatim piatu yang miskin, Jasmine hanya dianggap sampah dan pembantu gratisan oleh keluarga Aksa yang terpandang. Puncaknya, sebuah fitnah kejam membuatnya terusir dari rumah megah itu tanpa membawa sepeser pun uang.
Tiga tahun berlalu, Jasmine bertahan hidup sebagai Professional Housekeeper di sebuah agen elit. Tugas terbarunya adalah mengurus sebuah penthouse mewah milik klien misterius yang sangat menuntut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Aksa akhirnya menjalankan kembali mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju sebuah restoran di dekat gedung penthouse. Selama makan malam, suasana terasa sangat mencekam. Aksa tidak mengeluarkan sepatah kata pun, ia hanya fokus pada makanannya.
Jasmine pun merasa tidak nyaman. Ia hanya menunduk dan menghabiskan makanannya dalam diam. Bahkan saat perjalanan pulang, keheningan di dalam mobil terasa begitu menyesakkan.
"Nih cowok ngambek, apa?". batin Jasmine saat mereka berada di dalam lift.
Begitu pintu lift terbuka di lantai penthouse, Aksa langsung melangkah lebar masuk ke dalam. Tanpa menoleh atau mengucapkan sepatah kata pun, ia langsung masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintu dengan cukup keras.
BRAK!
Jasmine menghela napas panjang. Ia memutuskan untuk tidak memedulikan sikap Aksa dulu. Ia memilih pergi ke dapur untuk memeriksa isi kulkas, mengingat tempat itu sudah mereka tinggalkan lebih dari empat hari.
"Duh, hampir semuanya sudah tidak segar," gumam Jasmine sambil membuang beberapa sayuran yang mulai layu ke tempat sampah. Ia mulai mendata apa saja yang harus ia beli besok pagi untuk mengisi kembali stok dapur mereka.
Saat Jasmine sedang sibuk memilah isi kulkas, suara bariton Aksa tiba-tiba menggelegar memanggil namanya.
"Jasmine! Ke sini sekarang!"
Jasmine tersentak. Ia segera mencuci tangannya dan bergegas menuju ruang tamu. Di sana, ia mendapati Aksa tengah duduk di sofa tunggal dengan tangan bersilang di depan dada. Wajahnya gelap, seolah sedang menahan amarah yang siap meledak.
"Ada apa, Tuan? Anda butuh sesuatu?" tanya Jasmine hati-hati.
"Duduk," perintah Aksa singkat.
Jasmine sempat terpaku sejenak karena bingung dengan perubahan sikapnya yang tiba-tiba. "Hah?"
Aksa mendengus tidak sabar. Sorot matanya semakin tajam menatap Jasmine yang masih mematung.
"Saya bilang duduk, Jasmine," tegas Aksa sekali lagi.
Jasmine duduk dengan perlahan di sofa depan Aksa. Jantungnya berdegup kencang melihat ekspresi Aksa yang sangat menyeramkan.
"Apa aku mau disidang ya? Perasaan aku tidak buat salah apa-apa", batin Jasmine bingung.
"Apa kesalahanmu?" tanya Aksa tiba-tiba.
Jasmine mengernyit. "Kesalahan? Setahu saya, saya tidak punya salah, Tuan. Saya selalu mengikuti semua perintah Anda selama ini."
"Coba pikirkan kembali," tuntut Aksa sambil terus menatapnya tanpa kedip.
Jasmine mencoba mengingat-ingat apa yang dia lakukan sejak tadi siang. Namun, sebanyak apa pun dia berpikir, dia tetap tidak menemukan jawaban. Baginya, semua berjalan normal.
Aksa akhirnya bangkit dari duduknya. Ia melangkah perlahan mendekati Jasmine, membuat wanita itu refleks menciut.
"Otakmu lelet sekali sih. Kesalahanmu saja kamu tidak tahu," cibir Aksa tepat di depan wajahnya.
Jasmine hanya diam menunduk, tidak berani membalas ucapan pedas pria itu. Ia meremas ujung bajunya dengan gelisah.
"Tatap saya," perintah Aksa.
"Kamu benar-benar ingin tahu apa kesalahanmu?"
Jasmine mengangguk pelan tanpa suara. Ia memberanikan diri mengangkat wajahnya, menatap langsung ke dalam manik mata Aksa yang berkilat marah.
Aksa mencondongkan tubuhnya, mengunci pergerakan Jasmine. "Kesalahanmu adalah... kamu berani mengatakan punya kekasih di depan wajahku."
Aksa mencengkeram pinggiran sofa di sisi kiri dan kanan Jasmine. "Aku ini mantan suamimu, Jasmine! Aku tidak terima ada pria lain yang memilikimu sementara aku masih ada di sini."
Napas Aksa terasa memburu karena amarah yang memuncak. "Siapa pun pria itu, aku tidak akan membiarkan dia memilikimu. Kamu mengerti?"
Jasmine mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia sudah lelah terus ditekan oleh sikap posesif pria di depannya ini. Dengan sisa keberanian yang ada, ia membalas tatapan tajam Aksa.
"Tapi Anda hanya mantan suami saya, Tuan!" seru Jasmine.
"Masa lalu sudah selesai. Saya juga berhak melanjutkan hidup saya sendiri."
Aksa terdiam, namun rahangnya semakin mengeras.
"Saya ingin menikah dengan orang yang saya cintai. Membangun keluarga yang cemara, yang bahagia," lanjut Jasmine berapi-api.
"Dan perlu Anda ingat, sekarang Anda hanya bos saya. Tidak lebih dari itu!"
Mendengar pengakuan jujur itu, telinga Aksa seketika memerah karena emosi yang meluap. Ia merasa harga dirinya diinjak-injak sekaligus merasa sesak mendengar Jasmine ingin membangun keluarga dengan pria lain.
"Keluarga cemara?" desis Aksa dengan nada tidak suka. "Kamu pikir pria itu bisa memberikanmu kebahagiaan lebih dari yang bisa aku berikan?"
Aksa mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. Napasnya terasa panas di kulit wajah Jasmine.
"Jangan pernah bermimpi tentang pernikahan dengan pria lain, Jasmine. Karena sampai kapan pun, aku tidak akan pernah mengizinkan itu terjadi," ucap Aksa dengan suara rendah yang penuh ancaman.
......................
Di sisi lain, di sebuah ruangan mewah yang remang-remang, seorang pria berdiri tegap di depan sebuah meja besar. Ia tampak sedang memberikan laporan kepada atasannya.
"Tuan Aksa dan Jasmine sudah pulang dari Bali, Nyonya," ucap lelaki itu dengan nada bicara yang sopan namun dingin.
Seorang wanita yang duduk di kursi kebesarannya perlahan memutar posisinya. Ia adalah Sonia. Senyum sinis terukir di bibirnya yang merah menyala.
"Hmm, baiklah," sahut Sonia sambil menyesap minumannya pelan.
Matanya berkilat tajam, penuh dengan rencana jahat yang sudah ia susun rapi. Ia meletakkan gelasnya ke meja dengan dentingan yang pelan namun terasa mengancam.
"Jangan sampai lengah. Tetap awasi perempuan itu, jangan sampai ada celah sedikit pun," perintah Sonia.
Ia terdiam sejenak, membayangkan kehancuran hubungan Aksa dan Jasmine yang sedang ia incar.
"Setelah ada kesempatan, kita akan lanjutkan rencana kita selanjutnya. Aku tidak akan membiarkan mereka tenang," ucapnya dengan nada penuh dendam.
"Baik, Nyonya. Saya mengerti," balas pria itu sebelum akhirnya membungkuk hormat dan keluar dari ruangan, meninggalkan Sonia yang tertawa kecil dalam kesunyian.
tuh singanya muaraaah😄😄😄
Suka Ceritax Seruuuuu....