Evana dan Evita, kedua saudara kembar yang tidak pernah menyangka kalau kejadian aneh dan tak masuk akal bisa mereka alami.
Ber-transmigrasi atau berpindah jiwa yang tidak pernah mereka sangka ada dalam dunia nyata terjadi pada keduanya.
Masuk kedalam tubuh kedua istri yang tak pernah akur dan berakhir mengenaskan di akhir kisah, lalu apa yang akan keduanya lakukan? Menikmati hidup dalam dunia yang tak mereka tahu atau memilih mengikuti alur untuk mati yang kedua kalinya?
Kisah mereka semua ada di sini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjaku02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Setelah kejadian tadi, Rayandra memutuskan membawa Elvara pulang ke rumah, sebab tak ingin kejadian tadi terulang lagi.
"Kamu marah?" tanya Elvara sebab melihat Rayandra diam saja.
Rayandra melirik hanya sekilas sebelum memberikan jawaban,"Aku tidak marah, untuk apa marah? Kamu salah?"
"Aku tidak merasa salah," gelang Elvara.
"Bagus jika sadar, jadi tidak ada alasan untuk aku marah, kan?"
Elvara mengangguk, dan segera masuk kedalam mobil saat pintu mobil sudah di buka oleh Rayandra.
"Rayan," panggil Elvara sebelum masuk.
"Apa? Ingin membeli sesuatu?"
"Bukan, aku hanya ingin bilang, maaf ya untuk kejadian tadi," ucapnya dengan sungguh-sungguh.
"Bukan masalah besar, ayo masuk!"
Elvara segera masuk. Dan saat dia sudah duduk tenang di kursi seseorang datang menyapa dan mendekat pada Rayandra.
"Kak Rayan," Calista datang dengan gaun baru yang jelas itu bukan gaun murah.
"Ada apa?" tanya Rayandra saat sudah menutup pintu mobil.
Tidak ada niat Elvara untuk kembali turun, dia hanya tetap duduk diam di dalam mobil dan seperti enggan kembali memiliki urusan dengan Calista sebab ternyata wanita itu berbahaya.
"Boleh aku menumpang pada mobilmu? Sebenarnya mobilku memiliki kendala dan aku tidak tahu apa yang rusak di sana," kata Calista dengan wajah sendu dan rapuh.
Semua orang menatap Calista rapuh, seperti teratai putih yang harus di lindungi, cantik, indah dan menawan juga terlihat menyedihkan.
Tapi bagi Elvara dan Ayasha yang tahu sifat asli Calista, dia hanya wanita bermuka dua dan penuh tipu daya.
"Akan aku minta Asisten ku datang bersama montir!" kata Rayandra.
"Kak, tapi ini sudah larut, tidak bisakah antarkan aku ke rumah? Akan lama jika menunggu montir," tolaknya.
"Aku datang bersama istriku, dan jelas dia tak akan nyaman jika ada wanita asing masuk ke dalam mobil yang sama," jelas Rayandra, menolak halus mengatasnamakan Istri untuk menghentikan Calista.
"Kak Vara, apakah Kakak keberatan kalau aku menumpang?" Calista bertanya pada Elvara yang sejak tadi diam.
Elvara menoleh, dia menatap Calista lama, "aku tidak setuju, kau tahu masalah tadi seharusnya tidak akan sebesar itu jika kamu mau memaafkan dan tidak membuat ulah," ketus Elvara, dia kesal sebab di lihat seperti penjahat yang menindas orang lemah.
Calista bungkam, dia menatap Rayandra bungkam seolah menunjukkan kalau Elvara kembali menindas dirinya.
"Elvara benar, kamu seharusnya bisa lebih bijak dan bukannya membuat ulah dengan menyudutkan orang lain," Rayandra justru membela Elvara dan itu cukup mengejutkan.
Setelah mengatakan itu Rayandra berlalu meninggalkan Calista sendiri yang terdiam tanpa kata karena merasa kaget.
'Sejak kapan Rayandra membela aku? Novel ini benar-benar sudah kacau alurnya,' batin Elvara sambil menarik napas pelan.
Sedangkan Calista, dia mengepalkan tangannya benci dan marah, dengan menghentakkan kakinya kesal wanita itu berlalu untuk kembali ke mobilnya sendiri sambil bersumpah akan membalas Elvara nanti.
...****************...
Di balik sunyi sebuah ruangan terpencil, dua sosok duduk saling berhadapan, matanya berkilat penuh rahasia. Bagas, kepercayaan setia nenek Mahira, memecah keheningan,
"Apa langkah kita selanjutnya untuk merebut harta Mahatara?" Suaranya dingin, penuh tekad yang siap membelah malam.
Ayunda, pelayan setia yang tak pernah lepas dari sisi nenek Mahira, menyipitkan matanya. "Berapa persen harta itu sudah di tangan kita?" tanyanya, suara lirih tapi menyimpan badai.
Bagas mengoreksi posisi kacamatanya yang melorot, "Hanya 5%. Masih terlalu kecil."
Ayunda menunduk, tangannya mengepal dan memijat kening seakan memaksa pikirannya melaju lebih cepat. "Masih terlalu jauh... tapi tidak ada waktu untuk menunda." Gumamnya, penuh ketegangan yang membara.
Bagas mengangguk pelan, rasa waspada membakar dada mereka setiap langkah harus berhati-hati, jangan sampai bayang-bayang mencurigai niat mereka yang sesat.
Tiba-tiba, Ayunda melontarkan ide yang mengguncang, "Aku ingin semua properti apartemen di luar negeri dialihkan atas namaku yang asli dan tanpa jejak."
Bagas menatap tajam, matanya seolah mengukur keberanian sekaligus risiko yang akan mereka hadapi. "Kamu benar-benar yakin dengan langkah ini?" tanyanya, suara penuh tantangan.
“Sangat yakin, karena mereka tak pernah tahu siapa diriku yang sebenarnya mereka hanya mengenal namaku yang sekarang.” Ayunda menatap tajam, suara dinginnya menyiratkan rahasia gelap yang bersemayam di balik identitas baru itu.
Bagas menyunggingkan senyum penuh rencana. “Bagus. Besok aku akan terbang ke luar negeri untuk mengurus semuanya. Di sana, aku punya kenalan yang bisa mempercepat proses pengalihan nama ini.”
Senyum puas merekah di wajah Ayunda. “Hebat. Jadi, kita tak perlu buang waktu untuk urusan administratif yang menguras waktu. Saatnya menjalankan langkah berikutnya dalam rencana kita.”
Mereka terdiam sejenak, menikmati keheningan yang penuh kemenangan.
Namun, tiba-tiba suara Bagas yang berat dan penuh perhitungan merobek kesunyian itu. “Bagaimana dengan kondisi nyonya tua Mahira? Apakah racun itu masih terus bekerja?”
Ayunda menyunggingkan senyum penuh arti, matanya menyiratkan kepuasan yang dingin. “Tentu saja. Racun itu diam-diam merayap dan menghancurkan kesehatannya, sedikit demi sedikit... seperti detik-detik terakhir yang menyayat hati.”
"Apa tak ada yang curiga dengan kesehatan beliau yang tiba-tiba menurun drastis?" Bagas menatap Ayunda, matanya penuh kekhawatiran yang nyaris meledak.
Ayunda menghela napas panjang, suaranya pelan tapi mantap, "Tidak ada, Bagas. Setiap kali ditanya, aku hanya bilang itu hal yang wajar untuk seseorang seumur beliau. Agar mereka tidak terlalu risau."
Bagas mengangguk, namun kerutan di dahinya dalam dan tegas. "Tapi kamu harus tetap waspada, Ayunda. Kita tak pernah tahu badai apa yang siap menerpa di depan sana."
Ayunda menatapnya, mata mereka bertemu, seolah memancarkan janji yang tak terucap. "Tenanglah, aku akan menjaga segalanya dengan sangat hati-hati."
Kemudian mereka terdiam, membiarkan suasana menjadi hening untuk beberapa saat, sebelum mereka bangkit pergi meninggalkan ruangan itu ke rumah masing-masing.