Di sebuah kota modern, ada sebuah toko antik yang hanya muncul saat hujan deras. Pemiliknya bukan manusia, dan barang yang ia jual bukan benda mati, melainkan "waktu" yang hilang dari masa lalu pembelinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maya Pergi
Saat sorot lampu aula perlahan meredup dan lagu perpisahan berhenti mengalun, satu per satu siswa mulai melangkah keluar meninggalkan gedung sekolah, membawa serta kenangan yang baru saja mereka kunci rapat di dalam ingatan.
Gerbang utama yang biasanya menjadi saksi kesibukan sehari-hari kini tampak lebih lengang, diiringi suara deru mesin motor yang bersahutan dan tawa kecil yang terdengar lebih ganjil dari biasanya.
Mereka membubarkan diri dalam arus yang berbeda-beda; ada yang masih enggan beranjak dan berbisik pelan di pinggir jalan, namun sebagian besar telah berbalik arah, melangkah pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan asing karena menyadari bahwa mulai detik ini, ritme hidup mereka tidak lagi akan terikat oleh bel sekolah yang sama.
Kejadian itu tidak pernah direncanakan. Sebuah motor yang melaju kencang menerobos lampu merah saat Aris menyeberang jalan.
Benturan keras tak terelakkan. Dunia Aris berubah menjadi gelap seketika, dan hal terakhir yang ia ingat adalah suara jeritan panik yang ia kenali sebagai suara Maya.
Aris terbangun di ruang rawat inap yang bau antiseptiknya menusuk hidung. Cahaya lampu yang terang membuatnya memicingkan mata. Namun, rasa sakit di sekujur tubuhnya segera sirna ketika ia melihat sosok yang duduk tertidur di kursi sebelah tempat tidurnya dengan kepala bersandar di tepi kasur.
Itu Maya. Matanya bengkak, wajahnya pucat, dan ada bekas air mata yang sudah mengering di pipinya.
Maya terbangun karena merasakan gerakan Aris. "Aris?" Suaranya parau, penuh kekhawatiran yang begitu nyata. Tanpa memedulikan apapun, ia langsung mendekat dan menggenggam tangan Aris dengan kedua tangannya.
"Kamu membuatku takut setengah mati," isaknya pelan. "Aku kira... aku kira aku kehilangan kamu."
**
Selama seminggu masa pemulihan, Maya tidak pernah beranjak. Dia adalah orang yang menyuapi Aris dengan sabar dan memastikan setiap bantal di punggung Aris tertata dengan sempurna.
Setiap kali Aris meringis kesakitan, Maya akan langsung ada di sana, jemarinya yang hangat mengusap kening Aris dengan kelembutan yang membuat detak jantung Aris bergejolak tidak menentu.
Perasaan Aris yang tadinya hanya "biasa saja" kini mulai retak. Ia terbiasa mandiri, terbiasa menghadapi segalanya sendirian, namun perhatian Maya yang tanpa pamrih ini meruntuhkan pertahanannya.
"Kenapa kamu melakukan ini, Maya?" tanya Aris suatu malam saat mereka hanya diterangi lampu tidur yang remang.
Maya berhenti merapikan selimut Aris. Ia menatap Aris dengan tatapan yang begitu dalam dan jujur,
"Karena bagi aku, setiap detik kamu tidak ada di dekatku, dunia terasa lebih sunyi. Kamu adalah segalanya bagiku, Aris."
Maya membungkuk, mendaratkan ciuman ringan dan sangat lembut di kening Aris.
Rasa hangat itu merambat ke seluruh tubuh Aris, mengalahkan rasa nyeri dari luka-lukanya.
Di saat itulah Aris terlena. Ia terjatuh—bukan ke dalam lubang waktu, melainkan ke dalam perasaan yang selama ini ia coba hindari.
Ia mulai melihat Maya bukan lagi sebagai seseorang yang akan menikah dengan Dito, melainkan sebagai satu-satunya orang yang membuatnya ingin menetap di masa kini selamanya.
Aris membalas genggaman tangan Maya, mengeratkan nya. Untuk pertama kalinya, ia tidak peduli pada apa yang akan terjadi di masa depan. Jika masa depan memang harus berakhir dengan mereka berpisah, maka ia akan memastikan bahwa waktu yang mereka miliki saat ini adalah waktu yang paling romantis dan tak terlupakan dalam sejarah hidupnya.
"Terima kasih, Maya," bisik Aris dengan suara yang kini penuh dengan emosi yang dalam. "Terima kasih sudah memilih untuk ada di sini bersamaku."
Maya tersenyum, senyum yang membuat Aris yakin bahwa meskipun ia tahu akhir dari cerita mereka, ia tidak akan pernah menyesal telah memulai bab ini bersama gadis yang begitu mencintainya.
***
Aroma tajam antiseptik akhirnya memudar, digantikan oleh embusan udara bebas saat Aris melangkah keluar dari pintu geser otomatis rumah sakit. Luka-luka di tubuhnya memang telah mengering, namun langkahnya masih terasa sedikit kaku, menjadi pengingat bisu akan insiden tragis di lampu merah yang hampir merenggut nyawanya.
Dengan tas ransel yang tersampir berat di bahu dan surat kepulangan di tangan, ia menghirup napas panjang, mencoba menata kembali detak jantungnya yang kini harus belajar berdegup tanpa irama monitor rumah sakit yang selama ini menemaninya.
Sementara itu, di balik tembok besar kediaman keluarganya yang dingin, Maya duduk terpaku di depan deretan koper yang sudah terisi rapi. Keputusan orang tuanya sudah bulat dan tidak dapat diganggu gugat: ia harus segera berangkat ke luar kota untuk menempuh pendidikan bisnis demi menjamin keberlangsungan imperium keluarga di masa depan.
Tidak ada ruang untuk negosiasi, tidak ada celah bagi air mata; bagi keluarganya, masa depan perusahaan adalah prioritas mutlak yang harus diletakkan jauh di atas segala keinginan hati yang mereka anggap sebagai gangguan masa muda belaka.
Aris tiba di depan gerbang megah kediaman Maya dengan napas yang masih memburu dan jantung yang berdegup kencang, didorong oleh insting yang tak lagi sanggup ia bendung.
Namun, pemandangan di baliknya adalah sebuah kejutan yang menyesakkan dada; pekarangan luas itu sunyi senyap, tak ada deru mobil atau celoteh akrab yang biasanya menghidupkan teras rumah gadis itu.
Dengan tangan gemetar, ia mendekati pos satpam dan menanyakan keberadaan Maya, namun jawaban yang ia terima seketika meruntuhkan sisa kekuatannya. Penjaga gerbang itu menjelaskan dengan nada datar bahwa Maya telah dijemput pagi-pagi sekali dan dibawa menuju stasiun pusat untuk menaiki kereta api luar kota, memenuhi tuntutan keluarganya demi masa depan bisnis yang jauh dari jangkauan Aris.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Aris segera melihat gelang perak yang melingkar di pergelangan tangannya, jemarinya bergerak cepat memutar tuas rahasia di sisi samping perangkat tersebut.
Di tengah riuhnya kebisingan kota, ia memejamkan mata dan mengaktifkan mekanisme lorong waktu, membiarkan energi dingin merambat ke seluruh lengannya hingga dunia di sekitarnya melambat dan memudar menjadi garis-garis cahaya yang memanjang.
Dalam sekejap, realitas di sekitarnya terdistorsi dan ia berpindah melintasi ruang serta waktu, mendarat tepat di peron stasiun yang ramai, tempat deru mesin kereta api sudah mulai beradu dengan jeritan besi rel yang bersiap membawa pergi satu-satunya sosok yang selama ini menjadi pusat semestanya.
Stasiun itu dipenuhi deru angin dan bau besi berkarat. Di hadapan Aris, kereta api jurusan luar kota sudah mulai berderak pelan, membelah senja dengan suara logam yang beradu—suara yang terdengar seperti penghancuran hatinya sendiri.
Maya berdiri di ambang pintu gerbong, tangan kanannya melambai lemah sementara air mata mengalir deras di pipinya. Ia dipaksa pergi. Orang tuanya telah menyusun masa depan Maya—sebuah bisnis keluarga yang harus diwarisi—dan itu berarti membuang semua mimpinya, termasuk mimpinya untuk tetap bersama Aris.
"Aris! Jangan lupakan aku!" teriak Maya, suaranya hampir tertelan deru mesin.
sesuatu yg berlebihan itu tidak baik, meskipun dengan niat untuk menolong ..
andai waktu bisa di putar ....
ah sudahlah
baru bab 1 z udah menarik ini bikin penasaran, lanjut thor