Siena Hartmann, gadis keras kepala dan sedikit bar-bar, selalu bisa membuat ayahnya pusing tujuh keliling. Tapi siapa sangka, di balik tingkahnya yang bebas, ada pria yang diam-diam selalu ada saat dia butuh.
Bastian Asher Grayson, muncul di hidupnya sebagai bodyguard baru dikeluarga Hartmann. Dia profesional, dingin, tapi entah kenapa selalu berhasil membuat hati Siena berdebar meski dia menolak mengakuinya.
Hingga skandal di malam wisuda membuat mereka terpaksa berada dalam satu atap, dan keputusan mengejutkan pun diambil. Namun, sesuatu tentang pria itu masih disembunyikan. sesuatu yang bila terungkap, bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna_Ama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE TIGA PULUH LIMA
Sepeninggalan Siena dari apartemen, Bastian juga bergegas berganti pakaian dan langsung menghubungi Darian untuk menjemputnya.
Dan, tak butuh waktu lama terdengar pintu apartemen nya diketuk dari arah luar tepat saat Bastian juga baru saja selesai berganti pakaian.
Ia segera melangkah keluar kamar dan membukakan pintu.
Ceklek!
"Tuan". Sapa Darian seraya menundukkan sekilas kepalanya.
"Kita ke Cyber Tech sekarang". Kata Bastian seraya mengenakan mantel besar ditubuhnya.
Darian mengangguk, "Baik tuan".
Bastian melangkahkan kakinya menuju lobi apartemen. Darian bergegas menyusul. Ia dengan sigap membukakan pintu mobil belakang penumpang untuk Bastian.
Pria itu segera masuk dan duduk dengan tenang. Setelah itu, Darian menutup kembali pintunya setelah memastikan tuannya itu duduk dengan nyaman, baru lah ia berlari kecil mengitari setengah badan mobil lalu masuk dan duduk dikursi kemudi.
"Dar". Panggil Bastian
"Ya tuan?" Sahut Darian seraya memasang seatbelt dan melirik sebentar kearah Bastian.
"Suruh orang untuk berjaga dan mengawasi kediaman Hartmann. Laporkan apapun yang mencurigakan". Perintah Bastian tegas, sorot matanya terlihat sedikit mengeras.
Mendengar itu, Darian terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk.
"Baik tuan".
"Dan lagi, aku-"
Belum sempat Bastian menyelesaikan ucapannya. Tiba-tiba ponsel miliknya yang ia simpan dibalik saku mantel nya berdering. Segera Bastian merogoh dan melihat siapa yang menelpon nya.
Keningnya sedikit mengernyit saat melihat nama kontak 'Kakek Hercu' terpampang jelas di layar benda pipih tersebut.
"Tumben sekali kakek menelpon, apa ada hal penting?" gumam nya lirih
Dan tanpa menunggu lama, jari jempol nya menggeser tombol hijau lalu menempelkan ponsel itu ditelinga kanannya.
"Ya Kek". Sapa nya lebih dulu.
"Dasar cucu durhaka! Apa sudah lupa dengan kakek mu ini huh?!" Terdengar suara bariton kakek Hercu mengomeli
Bastian yang mendengar itu mengulas senyum tipis. Ada perasaan sedikit menghangat yang ia rasakan.
Diantara semua anggota keluarga Grayson hanya kakek Hercu dan Jelita lah yang peduli dan perhatian padanya. Daddy Harvey sebenarnya pun juga menyayangi nya, hanya saja istri dan putri semata wayangnya saja yang tidak menyukainya dan selalu mencoba untuk menyingkirkan nya.
"Aku tidak mungkin bisa lupa dengan pria tua bangka yang selalu mengomeli ku ini". Sahut Bastian
"Ck!" Terdengar decakaan kesal dari seberang telepon. "Lusa kembali lah ke mansion utama. Ada yang ingin kakek bicarakan dengan mu".
Bastian terdiam sejenak tak langsung menyahut. Pandangan matanya beralih menatap kearah luar. Darian sudah melajukan mobilnya sejak beberapa menit yang lalu.
"Aku tidak bisa".
Hanya itu jawaban yang Bastian lontarkan. Nada bicaranya terdengar rendah mengandung makna yang hanya dia sendiri yang tau.
"Karena gadis itu?"
"Kakek tau?"
"Hahaha...." Suara kakek Hercu terdengar renyah menertawakan cucu angkatnya itu.
"Kau lupa siapa aku?. Tidak ada hal yang tidak aku ketahui sedikitpun".
Oh astaga! Bastian hampir saja lupa jika pria tua bangka yang tengah berbicara dengannya di telepon ini adalah seorang ketua mafia legenda.
Pria yang selama puluhan tahun memegang kendali klan Blood Stone tanpa pernah benar-benar tergoyahkan.
Bastian menghembuskan napas pelan.
“Kalau begitu Kakek pasti juga sudah tahu kenapa aku tidak bisa kembali ke mansion sekarang.”
“Hm.” Kakek Hercu bergumam pendek di seberang sana.
Beberapa detik hanya terdengar suara napas berat pria tua itu dari balik telepon.
“Seorang gadis,” ujar Kakek Hercu akhirnya.
Nada suaranya terdengar seperti sedang menimbang sesuatu yang cukup menarik baginya.
“Tidak pernah terpikir olehku kalau suatu hari nanti… cucuku yang keras kepala ini akan menolak panggilan kakeknya hanya karena seorang gadis.”
Bastian tidak langsung menjawab.
Tatapannya tetap lurus ke depan, namun sorot matanya terlihat sedikit lebih dalam.
“Dia bukan alasan.”
“Benarkah?”
Nada suara Kakek Hercu terdengar sedikit menghibur.
“Kalau begitu jelaskan padaku… kenapa sampai sekarang kau masih berada di kota itu?”
Bastian terdiam sejenak.
Lalu ia menyandarkan kepalanya pada kursi mobil.
“Karena pekerjaanku belum selesai.”
“Hm…”
Kakek Hercu kembali bergumam pelan.
Namun kali ini terdengar seperti ia sedang menahan senyum.
“Baiklah.”
Ucapnya akhirnya.
“Kalau begitu selesaikan pekerjaanmu.”
Bastian sedikit mengernyit.
Jarang sekali Kakek Hercu semudah ini mengalah.
Namun sebelum Bastian sempat bertanya, suara pria tua itu kembali terdengar.
“Tapi ingat satu hal, Bastian.”
Nada suaranya berubah lebih dalam.
“Jangan sampai gadis itu menjadi kelemahanmu.”
Bastian terdiam.
Di kursi depan, Darian sekilas melirik ke kaca spion tengah, melihat ekspresi tuannya yang tiba-tiba menjadi lebih dingin.
Beberapa detik kemudian, Bastian akhirnya menjawab.
“Dia bukan kelemahanku.”
Di seberang sana, Kakek Hercu justru tertawa pelan.
“Hahaha…”
“Semua orang yang jatuh dalam permainan ini selalu mengatakan hal yang sama.”
Lalu sambungan telepon itu tiba-tiba terputus.
Bastian menurunkan ponselnya perlahan.
Matanya kembali menatap ke arah jalanan kota yang mulai dipenuhi lampu malam.
Di kursi depan, Darian akhirnya memberanikan diri bertanya.
“Tuan… apakah semuanya baik-baik saja?”
Bastian terdiam beberapa detik.
Lalu ia menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku mantel.
“Hm.. Lajukan saja mobilnya ke Cyber Tech.”
Nada suaranya kembali datar. Namun jauh di dalam pikirannya kata-kata Kakek Hercu tadi masih terngiang jelas.
.
.
Setibanya di perusahaan cyber tech, Darian menghentikan mobilnya tepat didepan pintu lobi masuk perusahaan. Ia segera turun dan membukakan pintu mobil untuk tuannya.
Bastian turun lalu membenarkan posisi mantelnya dan bergegas melangkahkan kakinya masuk. Darian segera menyusul setelah memberikan kunci mobilnya pada petugas keamanan untuk memarkirkan mobilnya sesuai pada tempatnya.
Begitu memasuki lobi kantor cyber tech semua pandangan mata langsung mengarah pada Bastian. Sosoknya yang tinggi, tegap, gagah dan tampan seketika menjadi pusat perhatian.
Lift eksekutif terbuka dan muncullah Asisten Han. Pria itu berjalan cepat menghampiri Bastian dan Darian yang hendak bertanya pada resepsionis.
"Tuan Bastian". Sapa Han sopan
Bastian dan Darian sontak menoleh.
"Tuan Rakhes sudah menunggu anda diruangan, mari saya antarkan". Kata Han seraya mengulurkan tangannya mempersilahkan Bastian untuk berjalan lebih dulu menuju lift khusus petinggi.
Bastian hanya mengangguk singkat.
Tanpa banyak bicara ia langsung melangkah menuju lift eksekutif yang pintunya masih terbuka. Darian mengikuti di belakangnya, sementara Han berdiri di samping lift dengan sikap hormat.
Begitu mereka masuk, pintu lift perlahan tertutup.
.
.
.
Bersambung...
ayo lanjut lagi
secangkir kopi susu manis untukmu
sebagai teman up date
ok👍👍👍
tetap semangat yaaaaa
lanjut