Dion Arvion, siswa SMA lemah yang setiap hari menjadi korban penindasan, hidup dalam keputusasaan hingga sebuah sistem misterius muncul di hadapannya.
[Sistem Sultan Tanpa Batas berhasil diaktifkan]
Sejak saat itu, uang, kekuatan, dan pengaruh mengalir tanpa batas dalam hidupnya. Dion yang dulu diinjak kini bangkit menjadi sosok mengerikan yang siap membalikkan keadaan.
Kini, dunia yang pernah merendahkannya akan dipaksa tunduk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eido, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Deg.
Udara di lantai dua bangunan kosong itu mendadak berubah berat. Andri, Bima, dan Kevin serempak menegang, seolah ada sesuatu yang menekan dada mereka dari kejauhan. Aura itu, liar, dingin, dan menindas, merambat dari arah tangga, membuat napas mereka tersendat.
“Ini…” Andri menggenggam tinjunya erat, keringat dingin mengalir di pelipisnya.
“Tekanan apa ini…” gumam Bima, wajahnya memucat.
Kevin tak berkata apa-apa, namun sorot matanya bergetar.
Di sisi lain, Mordain yang terikat di kursi membelalak. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan haru. Ia tahu aura ini.
'Dia datang…'
Langkah kaki terdengar di tangga.
Satu, dua, tiga.
Setiap pijakan terasa seperti, menghantam lantai dan dada mereka bersamaan.
“Beraninya kalian,” suara Dion menggema dingin, datar, namun sarat tekanan, “menculik ahli strategiku.”
Sosok itu muncul di ujung tangga. Dion melangkah naik dengan tenang, namun aura di sekelilingnya mengamuk seperti badai yang ditahan paksa. Tatapannya menyapu ruangan, Andri, Bima, Kevin, lalu berhenti.
“Kalian lagi…” ucapnya pelan. “Apakah, kalian benar-benar mencari masalah denganku?”
Tekanan itu bertambah.
Andri tersentak, lututnya hampir menyerah. Bima mengerang tertahan, punggungnya terasa seperti ditekan gunung. Kevin menggertakkan gigi, tubuhnya membeku, tak bisa bergerak, bahkan sekadar mengangkat tangan.
Mereka bertiga akhirnya mengerti, ini bukan lawan, Ini hukuman kematian!
Dion melangkah satu langkah ke depan, pandangannya lalu beralih ke Mordain.
“Aku akan mengatakannya sekali saja,” katanya dingin. “Lepaskan Mordain, sebelum aku menghancurkan tulang-tulang kalian.”
Tak ada teriakan, tak ada ancaman berlebihan. Namun justru itu yang membuat Andri, Bima, dan Kevin gemetar hebat. Mereka tahu, salah satu gerakan keliru saja, hidup mereka mungkin berhenti di sini.
Namun di tengah ketegangan itu, sebuah kursi berderit pelan.
Sebastian, yang sejak tadi duduk santai, akhirnya bergerak. Ia berdiri perlahan, menepuk-nepuk celananya, lalu menatap Dion dengan mata setengah tertutup.
“Hey,” sapanya datar. “Jadi kau Dion… bagaimana bisa kau berubah seperti ini?”
Dion terdiam sejenak.
Saat suara itu masuk ke telinganya, hawa di sekelilingnya seakan menurun beberapa derajat. Tatapannya beralih, dan membeku.
“Sebastian…” ucapnya pelan, namun dingin. “Jadi kau dalangnya.”
Untuk pertama kalinya sejak Dion datang, Sebastian tertawa.
“Hahaha!” tawanya menggema rendah. “Menarik… sungguh menarik.”
“Kalau aku dalangnya, lalu apa yang akan kau lakukan?”
Rahang Dion mengeras, ada amarah yang ingin meledak, namun ia menarik napas panjang, menahannya. Perlahan, tekanan aura itu ditarik kembali. Andri, Bima, dan Kevin terhuyung, akhirnya bisa bergerak lagi, paru-paru mereka kembali terisi udara.
“Aku akan melupakan masa lalu,” kata Dion tenang. “Masa ketika kau, dan teman-temanmu menindasku.”
Sebastian menyipitkan mata.
“Dan lepaskan temanku.” lanjut Dion.
Sebastian melirik Mordain yang terikat, lalu tersenyum tipis, senyum yang membuat bulu kuduk meremang.
“Dion…” katanya perlahan. “Melupakan masa lalu, ya.” “Walaupun kau berubah… sampah tetaplah sampah.”
Di belakang Sebastian, Andri berbisik pelan, “Hei… mereka saling kenal?”
“Sepertinya,” jawab Bima, menelan ludah. “Seperti nya, Dion itu… korban penindasan.”
Kevin mengangguk pelan. “Dari nada bicara mereka, itu jelas.”
Ucapan Sebastian membuat udara kembali membeku.
“Sampah?” Dion mengulang pelan. “Kalau korban penindasan adalah sampah… maka penindas sepertimu adalah kotoran.”
Suara itu jatuh tajam, tanpa emosi, namun menghantam lebih keras dari tamparan mana pun.
Senyum Sebastian memudar, otot di rahangnya menegang. Ucapan Dion selalu sama seperti dulu, menusuk, tepat sasaran, dan membuat darahnya mendidih.
Dan di bangunan kosong itu, dua sosok yang terikat masa lalu kini saling berhadapan, sementara badai yang lebih besar bersiap meledak.
“Bangsat! Apa kau ingin merasakan pukulan itu lagi?!” bentak Sebastian, wajahnya memerah oleh amarah yang mendidih. Otot-otot di lehernya menegang, seolah ia ingin merobek tubuh Dion dengan tangan kosong.
Dion menatapnya tanpa gentar. Tatapannya dingin, tenang, namun menyimpan bara.
“Apakah kau tidak pernah merasa bersalah?” ucapnya pelan. “Kau dan anak buahmu itu, telah membuat terlalu banyak orang sengsara.”
Bayangan murid-murid SMA Cahaya Senja melintas di benaknya, wajah-wajah pucat yang menunduk di koridor, anak-anak dari keluarga miskin yang hidup dalam ketakutan. Mereka yang dijadikan bahan ejekan, sasaran bogem mentah, hinaan tanpa henti. Semua itu bukan kebetulan. Di puncaknya berdiri Sebastian, sang terkuat, sang dalang.
“Sengsara?” Sebastian tertawa pendek, meremehkan. “Orang miskin sepertimu, memang tidak pantas berada di antara orang-orang terpilih seperti kami.”
“Orang-orang terpilih…” Dion mengulang pelan, suaranya semakin berat.
“Benar, mungkin kami tidak terpilih, tapi kami berjuang untuk mengubah hidup.” Tangannya mengepal, kukunya menekan telapak. “Dan orang-orang seperti kalian, arogan, mabuk kekuasaan, menghancurkan harapan itu begitu saja.”
Sakit yang lama terpendam menyusup ke dadanya. Ia teringat murid-murid yang hanya ingin lulus, masuk universitas baik, mengubah nasib keluarga. Semua mimpi itu tenggelam di bawah kaki penindas.
“Hahaha!” tawa Sebastian meledak lagi, keras dan bengis. “Aku tidak peduli pada nasib sampah-sampah itu, justru aku menikmati saat menghancurkannya.”
Senyumnya mengerikan, bukan senyum manusia, melainkan iblis yang puas. Andri, Bima, dan Kevin ikut terkekeh kecil. Dunia mereka memang berbeda, dengan uang dan kekuatan, mereka tak pernah peduli pada yang lemah.
“Orang-orang seperti kalianlah sampah masyarakat yang sebenarnya,” ucap Dion dingin. “Jika hukum tak bisa menyentuhmu, maka aku yang akan menjadi hukum itu.”
Sebastian menyeringai, tertawa mengejek. “Kau ingin jadi hukum? Jangan buat aku tertawa, pecundang.”
Wuuush!
Dalam sekejap, Sebastian melesat. Tinju berisi seluruh tenaganya meluncur ke wajah Dion.
Buaaak!
Dion menahan dengan satu tangan, ringan, nyaris tanpa usaha. Tak ada rasa sakit. Namun matanya menyipit.
'Cepat…'
“Ho! Menarik!” Sebastian tertawa bersemangat. “Kau bisa menahan pukulanku!”
Wuuush!
Buaaak!
Buuuk!
Baaaak!
Serangan bertubi-tubi datang seperti badai, kiri, kanan, presisi mematikan. Dion bergerak cepat, tubuhnya mengalir menghindari setiap pukulan, tak satu pun mengenai sasaran.
Andri, Bima, dan Kevin mundur beberapa langkah, menjaga jarak.
“Hebat…” gumam Andri, terpukau.
“Sebastian, memang pantas disebut terkuat.” sambung Bima.
“Lihat Dion, dia terpojok.” ujar Kevin, penuh keyakinan.
Dari kursinya, Mordain yang terikat menelan ludah. Keraguan menyelinap. “Sial… apakah Bos benar-benar tak bisa menyerang balik?”
Buaaak!
Sebastian berputar, melayangkan Dwi Chagi, tendangan ganda Taekwondo, udara terbelah, gelombang kejut menggetarkan lantai.
“Hahaha! Bagaimana? Sakit?” ejeknya.
Dion menangkapnya, dengan satu tangan. Mantap.
“Lumayan,” katanya datar. “Kau ahli Taekwondo?”
Sebastian menyeringai, sorot matanya tajam. “Lumayan?” Ia mengingat masa lalu, saat Dion tumbang hanya dengan satu pukulan. Kini, setelah serangan sekuat ini, Dion masih berdiri.
“Menarik,” ucap Sebastian dingin. “Kau benar-benar bertambah kuat… hanya dalam beberapa hari.”
Udara di lantai dua itu bergetar. Dua kekuatan saling mengunci, dan badai yang sesungguhnya belum dimulai.