Ini tentang Anin yang berusaha menjaga api cinta dalam rumah tangganya agar tetap menyala kala badai datang menggoyahkan–menguji cinta dan keutuhan rumah tangganya dengan Harsa yang telah banyak memberi bahagia. Haruskah ia gadaikan cinta mereka dengan perasaan sesaat?
....
Kamu adalah cinta yang datang layaknya hujan, membasahi saat aku merasa paling gersang. Namun, sayangnya kamu pergi bagai puing yang belum pernah sempat kugenggam.
~Sekala Bumi
....
Aku pernah tersesat diantara persimpangan gelap, kamu hadir menemukanku diantara pekatnya malam yang hampir menelan. Sayangnya diantara ribuan pilihan kau malah meninggalkanku sendirian tanpa pernah kau perjuangkan.
Kini ... aku tak lagi sama. Ragaku telah bertuan, walau pada kenyataannya separuh hatiku masih ingin menggenggammu.
~Anindyaswari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Senada, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Finding Saness
Harsa, sebenarnya kemarin, saat bersama Anin membawa Zura ke rumah sakit, ia bukannya tak melihat sosok Sanessa. Sosok yang tak lain dan tak bukan adalah mantan pacar satu dekadenya. Ia dan wanita itu pernah bertunangan, tapi wanita itu malah memilih usai–mengakhiri hubungan secara sepihak. Ah, bukan sepihak, lebih tepatnya dia lebih memilih hati lain dan itu adalah hal yang membuat Harsa sempat terluka parah. Namun, semua hanyalah masa lalu, ia sudah tak tinggal di sana dan bagi Harsa ia sudah tak mempermasalahkannya. Ia telah lama ikhlas, terlebih lagi ada hati yang sudah sepatutnya ia jaga dan cintai lebih dari masalalunya.
Namun, ada hal yang membuatnya penasaran. Selama dua tahun ini, Harsa benar-benar tak pernah bertemu wanita itu, mendengar kabar dan tahu tentangnya pun tidak. Harsa penasaran kemana perginya Sanessa yang seakan lenyap di telan bumi. Dan kemunculannya kemarin di rumah sakit membuat Harsa kian penasaran, tapi keberadaan Anin membuat ia tak ingin bersikap berlebihan, ia tak ingin Anin salah paham. Karena ia jelas tahu bahwa pembahasan soal mantan adalah hal yang sangat sensitif.
Jauh dari lubuk hati yang paling dalam Harsa tak berniat membuat Anin luka, apalagi kalau sampai istrinya itu tahu bahwa kini ia tengah menanyakan soal data pasien ke petugas loket demi untuk mencari alamat sang mantan. Ya, rasa penasaran dan keingintahuannya soal kabar sang mantan membuat Harsa terpaksa melakukan ini. Demi Tuhan ia tak ada niat lain, hanya ingin tahu saja. Ia pun takut kalau-kalau hal ini sampai pada telinga Anin dan akan mempengaruhi rumah tangga mereka.
“Maaf, Pak. Kami gak bisa memberikan info pasien.” Dan entah sudah keberapa kalinya petugas itu menolak meski sudah ia yakinkan jika ia adalah kerabat wanita bernama Herlinda Soebagiyo–Ibu Sanessa yang ia yakini merupakan pasien yang kemarin datang bersama wanita itu.
“Mbak, beneran. Saya bukan orang jahat, saya kerabat yang udah lama putus kontak sama yang bersangkutan. Kebetulan selama ini saya emang lagi nyari alamatnya, jadi saya mohon tolong kasih alamat rumahnya.” Bahkan Harsa rela memohon dengan menangkup kedua tangannya. Ia terlihat bersungguh-sungguh, entah ada urusan apa ia sampai segitunya mendesak sang pegawai. Untungnya loket pendaftaran saat itu agak sepi karena waktu mghrib, jadi tak ada yang memerhatikan kekonyolannya kali ini.
“Saya Jaksa, mbak. Mbak bisa lihat kartu nama saya.” Dalam usaha meyakinkan ia bahkan sampai mengeluarkan kartu namanya. Berharap petugas tersebut mau memercayai dan tak lagi ragu.
Setelah usaha yang ia lakukan akhirnya Harsa berhasil mendapat apa yang diinginkan. Kini suami Anindyaswari itu tengah berjalan ke basemen parkir, ia tak lupa masih ada Julio yang menunggu. Setelah mengantar staffnya itu dan menunaikan kewajiban Harsa berniat langsung mengunjungi alamat sang mantan.
“Sorry ya, Lio. Kamu jadi nunggu lama.” Sebagai pria bertanggungjawab tentu ia tak lupa menyampaikan permohonan maaf terlebih dulu, sejujurnya ia tak enak hati karena telah membuat Julio menunggu lama.
Pria berkulit putih dengan lensa yang membingkai di wajahnya itu hanya mengangguk seraya memerhatikan Harsa yang kini tengah memperbaiki posisi duduk, lalu menyalakan mesin mobil.
“Saya penasaran tapi gak mau nanya, takut gak digubris,” ujar Julio mengeluarkan unek-unek yang sejak tadi membuatnya penasaran. Jujur ia agak kesal karena Harsa telah menyita waktunya, padahal sejak tadi ia sudah sangat ingin pulang. Teringat nanti malam punya janji dengan kekasih hati.
Harsa hanya tersenyum simpul seraya menoleh sekilas pada Julio yang tampak menyembunyikan kekesalan. Harsa paham, ia peka jika Julio pasti marah, pemuda ini jelas penasaran pada apa yang ia lakukan, meski begitu ia pun tak berani langsung menanyakan karena takut pada responnya.
Segitu menyebalkannya kah ia dalam menjawab setiap tanya sehingga Julio sampai melemparkan tanya demikian karena takut tak dijawab? Harsa bertanya dalam hati.
“Kamu pendam aja rasa penasaran kamu itu. Kamu jelas tahu jawabannya.” Harsa menjawab sebagaimana ia biasanya menjawab pertanyaan siapa pun yang menurutnya tak harus dijawab.
Julio hanya bisa manggut-manggut paham. Ya, memang tidak ada gunanya bicara dengan Harsa karena kekepoannya jelas tidak akan diberi makan.
Kini mobil putih itu pun melaju membelah jalan Kota di bawah langit yang telah berubah pekat. Sambil menyetir, Harsa sesekali menatap jam di pergelangan tangan. Sudah menunjukkan pukul 6.40 dan ia belum menunaikan kewajiban sebagai umat beragama.
“Kamu mau makan? Saya teraktir.”
Pertanyaan yang bagai angin segar itu membuat Julio mengangguk cepat. Tentu tidak akan ada yang menolak jika soal traktiran, apalagi Jaksa satu ini sudah menyita waktunya. Jadi, tak ada salahnya ia langsung menerima tanpa embel-embel penolakan jaim seperti biasa.
“Tapi kamu makan sendiri aja, ya. Saya gak bisa temenin.”
Julio yang tadi semangat 45 seketika memutar mata malas. Harsa memang selalu totalitas membuat lawan bicaranya seperti naik rollercoaster. Sekejap merasa senang, sekejap lagi seperti dihempas. Pria itu menghelan napas, “tapi gak apa deh, yang penting gratis,” lanjut Julio memutuskan. Setelah dipikir-pikir ia jelas tak rugi, makan sendiri juga tak apa selagi gratis.
“Ya, soalnya saya harus segera maghriban.”
“Emang bapak gak langsung pulang?” sela Julio yang paham sepertinya Harsa tidak akan langsung pulang. Mungkin masih ada urusan lain. Kalau berbicara dengan Harsa rasanya tuh seperti sedang wawancara, pria 35 tahun itu hanya jawab singkat tanpa embel-embel nanya balik. Pokoknya nggak asyik. Julio membatin.
Harsa hanya menggeleng sebagai jawaban, lalu berkata. “Segini cukup?” tanyannya setelah mengeluarkan beberapa lembar uang merah dan biru yang akan ia berikan pada Julio.
Membuat Julio berbinar dengan senyum mengembang, Harsa memang selalu totalitas soal keroyalan. “Ini lebih malah, Pak. Makan sendiri di warung pecel mah dapat banyak.”
“Ya udah, biarin aja. Sana kamu turun, saya buru-buru.”
Julio hanya bisa memutar mata malas sambil mengelus dada saat baru sadar ternyata mereka sudah sampai di depan kantor Kejaksaan dan Harsa malah langsung mengusirnya seperti ini.
“Makasih banyak Pak, semoga berkah rejekinya makin berlimpah ruah!” serunya saat sudah turun dan Harsa tampak mengangkat tangan lalu melaju pergi setelah membalas ucapannya dengan klakson.
Tujuan Harsa saat ini adalah mesjid terdekat untuk melaksanakan ibadah maghrib. Tak lupa dengan mengabari Anin terlebih dulu agar istrinya tak khawatir, bisa marah wanitanya itu jika tak mengabari dan pulang lambat begini.
Harsa : Aku izin pulang agak lambat ya, ada sedikit urusan.
Nanti mau dibeliin apa?
Tulis Harsa pada pesan yang ia kirim pada kontak bernama Yang Mulia Istri, tak lupa juga ia mengirim sebuah video singkat untuk menyapa buah hatinya.
“Zura lagi apa, nih? Papa kangen banget. Tunggu ya, nanti kita main bareng.”
Video singkat yang ia rekam saat masih di halaman mesjid itu telah terkirim dan dibuka oleh Anin, bahkan sudah dibalas juga.
Yang Mulia Istri : Emang ada urusan apalagi, mas?
Kalau bisa sih, jangan pulang terlalu lama. Sama jangan coba-coba ngelakuin hal aneh lagi, ya!
Beliin apa aja deh mas, aku lagi males mikir.
Balasan Anin membuat Harsa beberapa kali menelan ludah. Peringatan yang diberikan sang istri membuat ia kembali mempertanyakan tindakannya kali ini. Ia merasa bersalah tapi ia pun tak bisa berhenti sebelum mengetahui kabar wanita itu. Sekali lagi Harsa menegaskan bahwa ini bukan soal perasaan yang belum usai, ia hanya ingin tahu kabar dan menjalin silaturahmi.
Setelah memantapkan diri dengan tak membalas pesan Anin, takut hatinya kembali terguncang kini Harsa sudah melajukan mobilnya menuju alamat yang didapat.
Harsa menghentikan mobil saat tiba di jalan yang tertera pada alamat yang ada di ponselnya sesuai arahan dan bantuan dari gmaps tentunya. Harsa menatap jalan masuk ke sebuah gang itu dengan nanar. Sesuai arahan, jika menuju alamat yang tertera memang harus melalui gang ini.
Kening Harsa menyerngit, alamat dan komplek yang akan ia tuju jelas sangat berbeda jauh dengan hunian tempat tinggal wanita itu yang ia tahu. Dalam hati Harsa membatin sambil menyayangkan hal yang menimpa Sanessa sehingga kehidupannya berubah drastis seperti ini, dari yang dulu tinggal di lingkungan yang terbilang elit, hidup serba berkecukupan kini harus hidup di tengah gang kecil seperti ini, yang jelas tak seperti gaya hidup wanita itu dulu saat mereka masih bersama.
Huhh...
Harsa menarik napas dalam saat perasaannya tiba-tiba diterpa rasa bersalah karena mengingat sosok wanita yang menunggunya di rumah. Ia jelas akan mengamuk jika tahu apa yang ia lakukan sekarang.
Harsa menutup mata, sambil berusaha menenangkan diri ia bergumam pelan. “Maafin aku, Nin. Sumpah, aku gak ada niat lain, apalagi mau nyakitin kamu. Aku cuma pengen tahu kabar keluarganya aja, ya.”
Mengingat kebaikan keluarga Sanessa di masa lalu saat masa ia masih menjadi mahasiswa rantau yang jauh dari keluarga membuat Harsa merasa berutang budi atas kebaikan Sanessa sekeluarga. Harsa tak lupa, ia bukan pula orang yang tak tahu balas budi dan melupakan kebaikan orang lain. Ia ingat, bagaimana dulu saat ia bukan siapa-siapa sampai keluarga itulah yang membukakannya banyak jalan dan kenal dengan berbagai orang penting hingga bisa menduduki posisi seperti ini, tentunya dengan kemampuan dan usahanya juga. Jika, bukan orang tua Sanessa yang membukakan jalan, anak rantau sepertinya jelas bukan apa-apa di kota besar ini.
Harsa menghentikan mobil saat telah sampai pada titik yang di tuju. Dari dalam ia memerhatikan beberapa rumah yang ada di kiri dan kanan, ada beberapa rumah yang cukup besar, bahkan ada mobil yang terparkir juga, tapi Harsa tak tahu jelas yang mana rumah mantannya. Oleh karena itu ia pun memutuskan untuk turun dan bertanya pada beberapa pemuda yang sedang berkumpul di sebuah pos ronda.
“Permisi. Saya mau bertanya, mas. Kalau alamat ini ada di mana ya?” tanya Harsa sopan yang langsung disambut keramahan oleh para pemuda yang berkumpul.
“Oh, ini rumah buk Linda.”
Harsa mengangguk, senang akhirnya petunjuknya semakin jelas karena para pemuda ini mengenal ibunya Sanessa. Yang artinya alamat ini memanglah benar.
“Lewat sini, Mas. Lewat gang ini,” tunjuk salah satu pemuda pada gang yang lebih kecil tepat di samping pos ronda.
“Terus aja lewat sini, rumah ke tiga di sebelah kiri itu rumah mbak Sanessa.”
Dengan penuh keyakinan dan tekat yang pasti Harsa kembali memacu langkah menyusuri gang yang hanya bisa dilalui pejalan kaki. Dan tepat tiba di rumah ketiga, Harsa tak langsung mengetuk atau pun memberi salam. Lama ia terpaku sembari memerhatikan bangunan rumah yang sangat jauh perbedaannya dengan rumah keluarga Sanessa dulu.
“Bapak cari siapa?”
Tepat saat Harsa mengulurkan tangan untuk mengetuk dan bibirnya baru akan tergerak mengucap salam, tapi urung saat mendengar suara yang jelas ditujukan padanya. Ia lalu menoleh dan ....
“Kamu?”