Satu malam yang tak pernah ia inginkan mengubah seluruh hidup Serene Avila. Terbangun di samping pria asing, ia memilih kabur tanpa menoleh—tak tahu bahwa pria itu adalah Raiden Varendra, konglomerat muda yang bisa mengguncang seluruh kota hanya dengan satu perintah. Dua bulan kemudian, Serene hamil… kembar. Di tengah panik dan putus asa, ia memutuskan mengakhiri kehamilan itu. Hingga pintu rumah sakit terbuka, dan pria yang pernah ia tinggalkan muncul dengan tatapan membelenggu.
“Kau tidak akan menyentuh anak-anakku. Mulai sekarang, kau ikut aku!”
Sejak saat itu, hidup Serene tak lagi sama.
Dan ia sadar, kabur dari seorang konglomerat adalah keputusan terburuk yang pernah ia buat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indriani_LeeJeeAe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 > Dua Belas Jam Penentuan
Waktu tidak pernah terasa sekejam ini .Dua belas jam.
Bagi dunia, itu hanya setengah hari. Bagi Raiden Varendra, itu adalah garis tipis antara hidup dan kehilangan yang tidak bisa ia bayar dengan apa pun.
Jam digital di dinding lorong rumah sakit terus bergerak tanpa empati.
03.17
03.18
03.19
Raiden duduk diam, punggungnya bersandar pada dinding dingin. Serene tertidur di pelukannya, karena kelelahan setelah menangis terlalu lama. Wajah istrinya pucat, matanya sembap, namun napasnya kini lebih teratur. Raiden mengusap rambut Serene perlahan, nyaris tanpa suara. Setiap sentuhan adalah doa yang tak terucap.
Ia menatap lurus ke depan, ke arah pintu NICU yang tertutup rapat, seolah di balik sana tersimpan seluruh masa depannya. Anaknya. Darahnya. Harapannya.
Arlo berdiri beberapa langkah jauhnya, berbicara pelan melalui alat komunikasi. Wajah asisten setianya itu tegang, rahangnya mengeras. Raiden tidak perlu menoleh untuk tahu. Sesuatu sedang terjadi.
“Laporkan,” kata Raiden akhirnya, suaranya rendah namun mengandung tekanan mematikan.
Arlo mendekat. “Kami memastikan perimeter rumah sakit aman. Namun… ada pergerakan mencurigakan di luar kota.”
Raiden mengangkat alis tipis. “Siapa?”
“Orang-orang yang berafiliasi dengan nama yang disebut Ezra.”
Raiden menutup mata sejenak. Nama itu. Nama yang seharusnya mustahil. Namun kenyataan tidak peduli pada logika.
“Apa tujuan mereka?” tanya Raiden.
Arlo menarik napas. “Kami menduga… bukan Anda.”
Raiden membuka mata perlahan. Tatapannya berubah gelap. “Serene?” tebaknya.
Arlo mengangguk. “Dan anak-anak.”
Raiden mengepalkan tangan. “Tambahkan penjagaan,” perintahnya. “Tingkatkan ke level tertinggi. Siapa pun yang mendekat tanpa izin-”
“-dihentikan,” sambung Arlo. “Hidup atau mati.”
Raiden mengangguk sekali. Namun sebelum Arlo pergi, Raiden menambahkan, “Dan Arlo?”
“Ya, Tuan?”
“Jika aku harus memilih…” Raiden berhenti sejenak, suaranya hampir tak terdengar. “Aku akan membakar dunia ini.”
Arlo menatapnya dalam-dalam. “Aku tahu,” katanya pelan.
Sedangkan di dalam NICU, waktu terasa lebih lambat.
Mesin-mesin berdengung lembut, namun setiap bunyi kecil terdengar seperti ancaman. Bayi mungil itu terbaring di inkubator, dadanya naik turun dengan bantuan alat pernapasan. Dokter menatap monitor dengan konsentrasi penuh.
“Detak jantung stabil… tapi masih lemah.”
Seorang perawat bertanya lirih, “Apakah kita perlu menaikkan dosis oksigen?”
Dokter mengangguk pelan. “Sedikit. Kita tidak boleh gegabah.”
Di balik kaca, Raiden berdiri mematung. Ia tidak diizinkan masuk. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya... ia benar-benar berada di luar kendali. Ia menempelkan telapak tangannya ke kaca.
“Kau kuat,” bisiknya. “Darah Varendra tidak menyerah.”
Dalam benaknya, kenangan masa kecil menyeruak. Latihan keras. Rasa sakit. Darah di tangan kecilnya.
“Jika kau ingin bertahan, jangan berharap diselamatkan,” suara ayahnya dulu bergema.
Namun kini… Raiden berharap. Ia berharap pada sesuatu yang tidak pernah ia percayai, yaitu keajaiban. Serene terbangun perlahan. Ia membuka mata dan mendapati dirinya masih berada dalam pelukan Raiden. Jantungnya berdebar sesaat, lalu rasa aman menyusup perlahan.
“Raiden…” bisiknya.
Raiden langsung menunduk. “Aku di sini.”
Air mata kembali menggenang di mata Serene. “Bagaimana… bayi kita?”
Raiden menelan ludah. “Masih berjuang.”
Serene menutup mata, air mata mengalir tanpa bisa ia tahan. “Aku ingin menemuinya lagi.”
Raiden ragu sejenak. “Dokter bilang-”
“Aku mohon,” potong Serene. “Kalau ini yang terakhir… aku ingin dia tahu… ibunya ada.”
Raiden membeku. Kata terakhir itu terasa seperti pisau. Namun akhirnya ia mengangguk. “Aku akan membawamu.”
Beberapa menit kemudian, Serene kembali berada di depan inkubator. Tubuhnya masih lemah, namun tekadnya tak tergoyahkan. Ia mendekat, menatap bayi kecil itu dengan mata penuh cinta dan ketakutan. “Halo, sayang…” suaranya bergetar. “Ini Mama.”
Raiden berdiri di sampingnya, satu tangannya menyangga punggung Serene. “Kami mencintaimu,” lanjut Serene lirih. “Sejak pertama kali tahu kau ada…”
Air mata jatuh ke pipinya. “Jangan tinggalkan kami… ya?”
Detak jantung di monitor berfluktuasi. Dokter menegang. “Tekanan berubah.”
Raiden dan Serene saling menggenggam tangan. Untuk sesaat, detik-detik terasa seperti keabadian. Lalu-
Bip… bip… bip…
Detaknya kembali stabil. Serene terisak kecil. “Raiden…”
Raiden menatap monitor itu, matanya berkaca-kaca. “Dia mendengar.”
Namun dokter tidak tersenyum. “Ini hanya sementara.”
Harapan kembali rapuh. Di saat yang sama, jauh dari rumah sakit, sebuah helikopter mendarat di atap gedung pencakar langit. Seorang wanita turun dengan langkah tenang. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya cantik namun dingin. Ia tersenyum tipis saat menerima laporan.
“Varendra lengah,” kata pria di depannya.
Wanita itu mengangguk. “Tidak. Dia hanya teralihkan.”
“Apakah kita lanjut?”
Wanita itu menatap kota dari ketinggian. “Belum.”
Ia mengepalkan tangannya perlahan. “Aku ingin melihat… seberapa jauh cinta bisa melemahkan seorang raja.”
Kembali di rumah sakit, Leonard Varendra muncul kembali di lorong. Ia menatap putranya lama. “Kau kelelahan,” katanya.
Raiden tidak menyangkal.
Leonard mendekat. “Jika kau ingin aku mengambil alih-”
“Tidak,” potong Raiden dingin. “Ini urusanku.”
Leonard mengangguk pelan. “Baik.”
Ia menatap pintu NICU. “Anak itu… mengubahmu.”
Raiden menjawab tanpa menoleh, “Mereka membuatku hidup.”
Leonard terdiam. Jam terus bergerak.
06.45
07.00
07.30
Setiap menit adalah siksaan. Dokter keluar masuk NICU dengan wajah serius. Serene kembali tertidur, karena kelelahan total. Raiden tidak melepaskannya sedetik pun. Tiba-tiba ponsel Raiden bergetar.
Pesan dari Arlo. Tuan. Kami menemukan sesuatu.
Dalang utama bergerak hari ini. Target berikutnya: rumah sakit.
Darah Raiden membeku. Ia berdiri perlahan, mengatur Serene agar tetap bersandar dengan aman. Tatapan Raiden berubah. Tenang. Gelap, dan... mematikan.
“Arlo,” katanya pelan. “Kunci semua akses.”
Sudah dilakukan.
“Pindahkan Serene dan anak-anak ke ruang aman.”
Dokter belum mengizinkan.
Raiden menatap pintu NICU. “Kalau begitu,” katanya dingin, “kita ubah rumah sakit ini menjadi benteng.”
Ia berbalik, memberi perintah cepat melalui alat komunikasinya. Pasukan bayangan Varendra bergerak.
Dan di saat yang sama, alarm keamanan berbunyi pelan. Raiden menoleh tajam. Arlo muncul dengan wajah tegang.
“Tuan… mereka datang.”
Raiden mengepalkan tangan. Di balik kaca NICU, satu bayi masih bertarung untuk hidup. Di pelukannya, istrinya tertidur tanpa tahu bahaya mulai mendekat. Dan di luar sana, musuh akhirnya memperlihatkan wajahnya.
Raiden berdiri di antara cinta dan perang. Dan ia tahu satu hal pasti-jika mereka memaksa masuk… tidak akan ada yang keluar dengan selamat. Itu adalah sumpahnya.
***
Bersambung…