Setelah diselingkuhi, Brisia membuat rencana nekat. Ia merencanakan balas dendam yaitu menjodohkan ibunya yang seorang janda, dengan ayah mantan pacarnya. Dengan kesadaran penuh, ia ingin menjadi saudara tiri untuk mengacaukan hidup Arron.
Semuanya berjalan mulus sampai Zion, kakak kandung Arron muncul dan membuat gadis itu jatuh cinta.
Di antara dendam dan hasrat yang tak seharusnya tumbuh, Brisia terjebak dalam cinta terlarang saat menjalankan misi balas dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ken Novia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menemui pelaku
Beberapa pengendara yang kebetulan lewat akhirnya berhenti, mereka hendak menyalahkan papa Handi yang menyalip dan mengerem dadakan. Beberapa orang tampak membantu mengamankan motor tadi ke pinggir.
“WOY KELUAR!” Seseorang tampak menggedor kaca mobil.
“Pa kita kenapa?’’ Tanya Arron lagi, cowok itu terlihat panik.
Papa Handi mengeluarkan ponselnya lalu mencari nomer temannya yang seorang polisi.
“Ar tolong telfonin temen Papa, bilang kita butuh bantuan.”
Arron yang sudah setengah sadar langsung mengangguk, sementara papa Handi membuka kaca mobil.
“Sebentar saya mau nepiin mobil dulu!”
“Jangan kabur ya Pak!”
“Saya nggak bakal kabur tenang aja, dua orang itu habis bakar warung makan dijalan timun bengkok, makanya saya kejar.”
Papa Handi menepikan mobilnya pelan lalu keluar. Dua orang tadi tampak lecet karna nyusruk ke aspal.
“Itu orangnya tadi ngebut trus nyalip dadakan sama motong jadi, jadi nabrak kan saya! Bapak harus tanggungjawab sama kita berdua! Ganti rugi!” Katanya dengan wajah meringis menahan perih.
“Kalian ngapain bakar warung yang dijalan timun bengkok?’’
“Kita nggak bakar warung, bapak jangan fitnah!”
“Saya liat sendiri tadi, makanya kalian saya kejar.”
“Pak yang bener gimana?’’ Tanya salah satu orang yang nolongin, jadi bingung.
“Coba salah satu dari kalian cek warung makan yang dijalan timun bengkok kebakaran apa enggak? Sama tolong salah satu dari kalian telfonin damka!”
Dua pelaku itu tampak panik, apalagi papa Handi mengambil kunci motor biar nggak bisa kabur.
Satu orang pake motor nyoba ngecek ke tempat ya dimaksud papa Handi.
“Balikin kunci motor saya!” Pinta orang itu.
“Kenapa kok panik?’’ Tantang papa Handi.
“Bilang sama saya kalian disuruh siapa bakar warung itu?’’
“Saya nggak bakar warung itu!”
“Jangan ngelak! Disekitar situ pasti ada cctv, saya bakal lapor polisi!”
“Disana nggak ada cctv.” Celetuk orang satunya.
“Tuh temennya ngaku Pak! Ternyata kalian berdua penjahat.” Kata orang yang dari tadi nyimak.
Papa Handi tersenyum licik, bodoh memang si penjahat itu. Orang yang tadi ngecek warungnya mama Rosa datang.
“Beneran disana warungnya kebakaran, tadi ada beberapa orang yang berhenti trus nelfonin damkar.” Lapor orang itu panik.
Suara sirine mobil polisi terdengar semakin dekat, dua orang itu mencoba kabur tapi langsung ditahan sama orang yang tadi mau ngebantuin.
Mobil polisi berhenti didepan mobilnya papa Handi. Dua ora polisi berjalan mendekat.
“Maaf saya menerima laporan dari komandan kalau disini ada kecelakaan.” Ternyata yang datang adalah bawahannya teman papa Handi. Arron pasti bilangnya mereka kecelakaan.
“Dua orang ini habis bakar warung dijalan timun bengkok, saya cuma ngejar biar nggak kabur makanya saya nyalip biar ditabrak sama motor mereka.”
“Pak polisi bawa aja dua penjahat itu, tega bener bakar warung orang!”
“Iya pak Polisi, mana tadi fitnah bapak itu minta ganti rugi, ternyata dia penjahatnya.”
“Baik, kalian berdua akan kami bawa ke kantor.”
Dua orang itu dipasang borgol lalu digiring masuk ke mobil polisi. Orang-orang yang tadi bantuin langsung membubarkan diri, sisa papa Handi sementara Arron tetap didalam mobil. Nggak tau kenapa anak itu nggak keluar bantuin papanya.
“Pak terimakasih atas bantuannya menangkap penjahat, orang itu akan kami bawa ke kantor untuk dimintai pertanggungjawaban.”
“Sama-sama, Oh ya ini kunci motornya orang itu.”
Polisi itu menerima kunci yang diberikan papa Handi.
“Apa kasusnya bisa diproses? Saya liat sendiri mereka bakar warung itu!”
“Bisa pak. Apa bapak bersedia kalau dibutuhkan kesaksiannya?’’
“Ya saya siap jadi saksi.”
“Baik Pak, terimakasih atas kerjasamanya. Nanti kita juga akan kirim orang ke lokasi kebakaran.”
Papa Handi masuk ke mobil setelah polisi itu pergi, diluar dugaan Arron malah molor lagi.
“Ya ampun anak ini, bisa-bisanya tidur lagi!”
Papa Handi menyalakan mesin mobil lalu melanjutkan perjalanan pulang. Sepanjang jalan kepikiran sama mama Rosa, bakal sekaget apa kalau tau warungnya dibakar orang. Mau menghubungi nggak punya nomernya, padahal didepan warung ada banner yang ada nomer mama Rosa tapi papa Handi nggak pernah nyatet.
Mobil itu sampai didepan rumah.
“Ar bangun Ar dah sampai!”
“Haa…”
Arron cuma menggeliat sebentar, papa Handi keluar dan mencoba mengeluarkan Arron dari dalam mobil.
Dengan susah payah papa Handi memapah Arron yang tinggi menuju ke teras. Pas banget dibukain pintu sama Zion, ternyata anaknya nungguin diruang tamu karna denger mobil papanya pergi tengah malam.
“Tinggal digeletakin aja diteras Pa! Nyusahin bener!” Kata Zion sambil membantu memapah adiknya. Biarpun benci tapi kasihan sama papa Handi.
“Kasihan Zi nanti dikira gelandangan. Udah tidurin aja disofa papa nggak kuat kalau mapah ke atas. ”
Zion akhirnya menidurkan Arron disofa depan TV, “Zi tolong kunciin gerbang!”
“Iya Pa.”
Zion keluar rumah dan ngunci gerbang, kaget banget ngeliat mobil papanya penyok parah dibagian belakang.
“Papa ditabrak orang?’’ Tanya Zion pas udah masuk ke dalam rumah, ngeliat papanya lagi nyelimutin Arron.
“Sini papa mau ngomong!” Papa Handi mengajak Zion ke dapur.
Papa Handi menceritakan kejadian tadi ke anak sulungnya, Zion tentu kaget, kaya nggak nyangka hal buruk menimpa tante Rosa.
“Papa harus gimana Zi?’’
“Tinggal bantuin aja Pa, kalau perlu nikahin sekalian. Tante Rosa udah nggak punya warung kan?’’
Papa Handi terdiam sementara Zion mengambil air minum trus dikasih ke papanya.
“Minum Pa, aku ke atas ya mau tidur lagi!”
“Makasih Zi.”
Papa Handi menerima air putih itu dan meneguknya. Kalau sudah begini papa Handi nggak bisa tidur sampai pagi. Karna inget mama Rosa ke warung habis subuh jadinya papa Handi mutusin pergi kesana.
Benar saja, sampai disana mama Rosa udah nangis-nangis didepan warung yang tinggal puing-puing, udah dipasang garis polisi juga. Dua karyawannya juga ikutan nangis karna tempat kerja mereka kebakaran.
"Mba Rosa" Panggil papa Handi.
"Mas warung ku Mas." Ucap mama Rosa berderai air mata.
"Yang sabar Mba."
"Tadi saya dikabarin kalau warung ku kebakaran Mas, Saya syok banget, padahal kami selalu mastiin kompor mati kalau mau tutup. Tapi kata polisinya warung ku dibakar orang Mas." Adu mama Rosa.
"Mas, siapa yang tega bakar warung saya? Disini tempat saya mencari nafkah."
"Saya tau pelakunya Mba. Ayo ikut ke kantor polisi!" Ajak Papa Handi.
"Yang bener Mas?" Tanya mama Rosa nggak yakin.
"Beneran, makanya saya kesini pagi-pagi. Nanti saya ceritain sambil jalan."
Mama Rosa mengangguk dan mengikuti papa Handi ke mobil.
"Bu saya ikut!" Pinta Mba Rena.
"Saya juga Bu!" Mba Reni pengin ikut juga.
"Boleh Mas?" Tanya Mama Rosa.
"Boleh kalian semua ikut aja!"
Dijalan, papa Handi nyeritain kejadian tadi malam sedetail-detailnya.
"Ya ampun, tega banget orang itu Bu!" Celetuk Mba Rena.
"Perasaan saya nggak ada jahat sama orang?" Mama Rosa bingung.
"Bu apa jangan-jangan suruhan orang yang kemarin ngelabrak ibu?" Tebak Mba Reni.
"Masa sih, sampai senekat itu bakat warung saya? Padahal saya nggak salah loh."
"Namanya juga orang sirik Bu! Disuruh minta maaf aja nggak mau."
coba2 dikit biar ntar pas udah nikah udah pro bisa bikin seneng istri /Tongue/
kalo udah nikah ya gak boleh coba2 /Panic/
cuss lah beraksii 🤭😄