Aisya harus menelan pil pahit, dua tahun pernikahan, ia belum dikaruniai keturunan. Hal ini membuat mertuanya murka dan memaksa suaminya menjatuhkan talak.
Dianggap mandul dan tak berguna, Aisya dicampakkan tanpa belas kasihan, meninggalkan luka yang menganga di hatinya.
Saat sedang mencoba menyembuhkan diri dari pengkhianatan, Aisya dipertemukan dengan Kaisar.
Penampilan Kaisar jauh dari kata rapi, rambut gondrong, jaket kulit lusuh, dan tatapan liar. Mirip preman jalanan yang tampak awur-awuran.
Sejak pandangan pertama, Kaisar jatuh cinta pada Aisya. Ia terpesona dan bertekad ingin menjadikan Aisya miliknya, memberikan semua yang gagal diberikan mantan suaminya.
Tapi, mampukah Kaisar meluluhkan hati Aisya yang sudah terlanjur hancur dan tertutup rapat? Atau apakah status dan cintanya yang tulus akan ditolak mentah-mentah oleh trauma masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Di halaman sebuah sekolah alam kecil yang merangkap panti asuhan, seorang wanita dengan pakaian tertutup dan cadar hitam yang menutupi sebagian wajahnya sedang sibuk menata buku-buku di rak perpustakaan terbuka.
Aisya, yang kini lebih dikenal sebagai Sarah, memejamkan mata sejenak, menghirup aroma tanah basah dan sisa embun. Sudah tiga bulan ia menetap di sini. Surat cerai resmi dari Hendra sudah ia simpan rapat-rapat di dasar tasnya, bersamaan dengan seluruh kenangan pahit tentang pengkhianatan, fitnah, dan hinaan mertua yang sempat menghancurkan harga dirinya.
"Sarah? Masya Allah, jam segini sudah di sini saja kamu." suara lembut menyapa dari arah belakang.
Aisya menoleh, matanya melengkung sabit, pertanda ia sedang tersenyum di balik cadarnya.
"Eh, Mbak Ayu. Iya, Mbak. Anak-anak tadi minta dibacakan dongeng sebelum kelas dimulai, jadi aku rapikan dulu bukunya."
Ayu, wanita berhijab lebar yang merupakan kepala pengelola panti tersebut, mendekat dan merangkul bahu Aisya dengan hangat. Ayu-lah yang menolong Aisya saat wanita itu telantar di terminal dengan tatapan kosong tiga bulan lalu.
"Kamu ini rajinnya kebangetan. Istirahatlah sebentar, Sarah. Wajahmu itu kalau pucat tidak kelihatan karena tertutup cadar, tapi matamu tidak bisa bohong kalau kamu lelah," goda Ayu.
Aisya terkekeh pelan, suaranya terdengar lembut dan tenang. "Aku tidak lelah, Mbak. Justru di sini aku merasa hidup lagi. Melihat anak-anak tertawa, rasanya beban di pundakku hilang semua. Aku berutang banyak pada Mbak Ayu dan yayasan ini."
"Hush! Jangan bicara begitu. Kita ini keluarga," potong Ayu cepat. Ia kemudian menatap Aisya dengan raut wajah yang sedikit lebih serius namun tetap ramah. "Oh iya, Sarah. Aku ke sini mau menyampaikan amanah. Hari ini, pemilik yayasan pusat dari Jakarta akan datang berkunjung untuk meninjau perkembangan sekolah kita."
Tubuh Aisya sedikit menegang. Kata Jakarta selalu berhasil memicu sedikit rasa trauma di dadanya.
"Pemilik yayasan? Kenapa mendadak sekali, Mbak?"
"Sebenarnya tidak mendadak, beliau memang rutin berkunjung setiap beberapa bulan. Tapi kali ini istimewa karena beliau kabarnya ingin memberikan bantuan dana besar untuk renovasi asrama anak-anak," jelas Ayu.
"Aku ingin kamu yang menemui beliau dan mendampingi saat berkeliling sekolah nanti," ucap Ayu lagi.
Aisya langsung menggelengkan kepalanya pelan. "Aduh, Mbak... jangan aku. Mbak Ayu saja yang sudah senior. Aku ini kan cuma guru baru, lagi pula aku... aku merasa tidak nyaman bertemu orang asing dari kota."
Ayu memegang tangan Aisya, mencoba menenangkan. "Sarah, dengarkan Mbak. Kamu itu guru yang paling dicintai anak-anak sekarang. Penjelasanmu soal metode belajar di sini sangat bagus. Lagi pula, pemilik yayasan ini orangnya sangat baik, meskipun katanya beliau pria yang dingin dan kaku, tapi hatinya dermawan sekali. Dia bukan tipe orang yang suka menghakimi."
"Tapi, Mbak..."
"Tidak ada tapi-tapi," Ayu tersenyum lebar. "Hitung-hitung ini latihan untukmu agar tidak terus bersembunyi. Kamu wanita hebat, Sarah. Cadarmu ini adalah pelindungmu, bukan penghalangmu untuk bicara dengan dunia. Kamu tidak perlu takut dikenali, kan kamu sudah ganti nama dan memakai cadar?"
Aisya terdiam, menatap ujung sepatunya yang berdebu. Benar kata Ayu, ia tidak boleh terus-menerus lari. Identitasnya yang lama sudah mati bersama jatuhnya talak tiga dari Hendra.
"Pemilik yayasannya namanya siapa, Mbak?" tanya Aisya ragu.
"Wah, kalau tidak salah namanya Pak Kaisar. Orangnya masih muda, sukses, tapi ya itu beritanya di mana-mana dia pria yang sangat sulit didekati wanita. Katanya dia sedang mencari seseorang yang hilang, entah siapa," jawab Ayu santai sambil merapikan hijabnya.
Jantung Aisya berdegup kencang saat mendengar nama itu.
Kaisar? Tidak mungkin. Di dunia ini ada banyak orang bernama Kaisar. Tidak mungkin pria yang menolongnya dulu adalah pemilik yayasan panti asuhan terpencil ini.
"Kenapa, Sarah? Kamu kenal?" tanya Ayu curiga melihat reaksi temannya.
Aisya segera menggeleng. "Tidak, Mbak. Hanya nama saja terdengar gagah. Ya sudah, kalau Mbak Ayu memaksa, aku akan coba menemui beliau nanti. Jam berapa beliau sampai?"
"Sekitar satu jam lagi. Beliau berangkat pagi-pagi sekali dari Jakarta katanya karena ingin menghindari macet," Ayu menepuk tangan Aisya dua kali. "Cepat cuci muka, rapi sedikit. Meskipun pakai cadar, aura gurunya harus tetap keluar ya!"
"Iya, Mbak. Aku ke asrama dulu sebentar."
Saat berjalan menuju asrama, Aisya meremas tangannya sendiri. Perasaannya mendadak tidak tenang. Ada rasa rindu yang aneh, namun juga rasa takut yang luar biasa. Ia takut jika masa lalu yang sudah susah payah ia kubur, tiba-tiba muncul kembali di depan matanya.
"Ya Allah, siapapun dia yang datang, hamba mohon kuatkan hati hamba. Jangan biarkan luka itu terbuka kembali," batin Aisya dalam doa.
Ia masuk ke kamar kecilnya, menatap cermin. Di balik cadar itu, ia bukan lagi Aisya yang lemah yang bisa dijambak Marni atau diselingkuhi Hendra. Ia adalah Sarah, wanita yang mandiri.
Aisya menarik napas dalam-dalam, memantapkan hati untuk menyambut sang pemilik yayasan yang tak lama lagi akan menginjakkan kaki di tempat persembunyiannya.
lanjut thor 💪💪bnykin bab nya🤣🤣
itu si kaisar tau gak y bapaknya gundik bawahannya jg... 🤔
Hendra jg dipecat biarin dia melihat aisyah bahagia...
jadikan aisyah sekertaris mu biar Hendra dilema
pas sdh tau kebenarannya tth aisyah mau balik jg gk bs karena karir taruhannya sebab aisyah sdh dijaga oleh big boss nya🤣🤣🤣
kau tau bulan aisyah yh seperti sampah tapi kau seperti binatang jd bersyukurlah kau aisyah lepas sr binatang karena hanya binatang lah yg bersenggama tampa menikah dan tanpa mandi junub mengucapkan talak🤣
bersyukur lah kepada Allah krn mata mu dibuka selebarnya dan Allah sayang padamu bahwa kamu tidak di biarkan tidur dengan binatang yg berupa manusia🤣🤣
lebih baik buat Hendra seyakin yakinnya untuk menceraikan mu... percaya aja sma Allah kebenaran itu pasti ada jalannya untuk membuka siapa yg jahat