NovelToon NovelToon
Nikah Dadakan Karena Salah Alamat

Nikah Dadakan Karena Salah Alamat

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Pengantin Pengganti
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Cantika yang bekerja sebagai kurir harus menerima pernikahan dengan yoga Pradipta hanya karena ia mengirim barang pesanan ke alamat yang salah .
Apakah pernikahan dadakan Cantika akan bahagia ??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kekhawatiran yoga

Sejak kejadian Marsha datang pagi itu, suasana rumah Pradipta berubah,aneh. Bukan ribut, bukan juga tenang,lebih seperti ada angin dingin yang lewat tiap lima menit tanpa aba-aba.

Cantika masih tetap bekerja sebagai kurir di tempat kerjanya bersama Rani. Yoga masih tetap bekerja di kantornya. Mereka tetap sarapan bareng. Tapi… ada sesuatu yang menggantung. Sesuatu yang tidak mereka sebutkan, tapi keduanya sama-sama merasakan.

Dan konflik itu akhirnya datang… dengan cara paling random.

---

Malam hari, ruang tamu keluarga Pradipta.

Cantika baru pulang kerja. Rambutnya sedikit berantakan, jaket kurirnya kusut, dan perutnya sudah protes minta makan. Ia masuk rumah sambil menyeruput es teh dalam plastik.

Yoga ada di sofa, masih pakai kemeja kantor, tapi dasinya sudah dilepas. Tatapannya gelap. Bukan marah,tapi jelas tidak santai.

“Kamu pulang jam segini lagi,” katanya tanpa basa-basi.

Cantika mengerjap. “Eh… iya. Tadi ada pesanan mendadak. Aku kira kamu masih di kantor.”

“Kamu nggak bilang apa-apa,” lanjut Yoga.

Cantika berhenti membuka jaket. Nada Yoga berbeda. Bukan ngambek, tapi… tersinggung?

“Aku kan udah bilang, aku baru belajar kerja ngirim-ngirim paket. Jadwalnya suka berubah,” jawab Cantika pelan.

Yoga berdiri. “Cantika… kamu pergi sampai malam, dan kamu tidak bilang. Itu bikin aku khawatir.”

Kalimat itu sebenarnya manis. Tapi nadanya? Nggak manis sama sekali.

Cantika langsung defensif. “Loh, kamu kan sibuk kerja. Masa aku lapor terus setiap mau antar paket? Aku juga nggak mau ganggu.”

Yoga menghela napas berat, memijit tengkuk. “Ini bukan soal ganggu atau nggak. Ini soal… keamanan kamu.”

Cantika naik nada. “Aku aman kok! Rani tau semua rute aku!”

“Justru itu masalahnya.”

Cantika berkedip, bingung. “Maksudnya?”

Yoga menatapnya lama, seperti sedang menahan sesuatu dalam kepala. “Sering banget kamu pulang bareng supir-supir ojek kantor, kurir lain, kadang kamu nebeng motor Rani. Aku lihat sendiri beberapa kali. Aku… nggak nyaman.”

Cantika langsung melotot.

“Loh?! Kamu ngikutin aku??”

Yoga buru-buru menggeleng. “Bukan! Aku cuma cek kamu pulang dengan siapa!”

“Itu sama ajaaa!” Cantika memonyongkan bibirnya. “Kamu kayak detektif nganggur tau nggak?!”

Yoga menatapnya kesal. “Aku cuma nggak mau kamu dicelakai orang asing.”

“Semua orang di kantor ,dan Rani itu bukan orang asing buat aku!”

“Tapi buat aku, iya!”

Suasana ruangan mengencang.

Cantika mengepalkan tangan, merasakan dada panas.

“Mas Yoga… aku kerja. Aku butuh uang. Aku juga butuh temen. Aku nggak bisa hidup cuma diem di rumah dan nunggu kamu pulang!”

Yoga menatapnya, tajam.

“Aku bukan nyuruh kamu berhenti kerja.”

“Terus, apa?!”

“Aku cuma minta kamu lebih hati-hati!”

“Aku udah hati-hati! Itu kamu aja yang lebay!”

Yoga mengangguk pelan, tapi senyum kecil,yang bukan senyum,terlihat di wajahnya.

“Oke. Kalau menurut kamu aku lebay… besok kamu nggak usah pulang malam. Aku jemput.”

Cantika membelalakkan mata.

“HAH?!”

“Aku jemput tiap hari.”

“Mas Yoga, jangan ngatur aku! Aku bukan anak SMP!”

“Dan aku suami kamu.”

BRUK.

Kalimat itu menampar Cantika lebih keras dari tamparan Lastri ibu tirinya dulu.

Bukan karena sakit, tapi karena… kenyataan.

Suami.

Kata yang sampai sekarang masih terasa aneh di hatinya.

Yoga menatapnya lama.

“Cantika, kalau sesuatu terjadi sama kamu… apa kamu pikir aku bisa diam?”

Cantika membuka mulut… tapi tidak ada suara yang keluar.

Yoga melunak sedikit, tapi tetap tegang. “Aku bukan cemburu, kalau itu yang kamu pikirkan.”

Cantika menelan ludah. “Jadi… apa?”

Yoga mendekat. Tidak menyentuh, tapi jaraknya tinggal sejengkal.

“Aku takut kehilangan kamu.”

Cantika tersentak. Seluruh keberaniannya menguap.

Oh.

Oh.

Jadi gitu.

Pantas dia marah bukan kayak orang marah, tapi kayak orang ketakutan tapi gengsi.

Cantika menunduk. “Aku cuma… nggak mau ngerasa dikekang lagi. Aku udah terlalu sering hidup kayak… barang.”

Yoga terdiam. Tatapannya berubah.

“Cantika… kamu bukan barang,” katanya pelan. “Kamu juga bukan beban, bukan boneka, bukan titipan. Kamu istri aku.”

Cantika mengembuskan napas panjang. “Ya aku ngerti. Tapi kamu juga harus ngerti… aku masih belajar. Kita masih belajar.”

Yoga akhirnya mengangguk pelan. “Baik. Kita cari tengahnya.”

Cantika memijit alisnya. “Tengahnya gimana?”

“Kamu bilang rute kerja kamu tiap pagi. Kalau ada perubahan, kamu chat aku. Dan aku nggak akan jemput, kecuali kamu pulang lebih dari jam sembilan.”

Cantika berpikir sebentar.

“Hmm… bisa sih. Tapi kalau aku minta jemput, kamu dateng?”

Yoga mengerjap. “Ya jelas.”

“Beneran?”

“Cantika, demi Tuhan, kalau kamu bilang mau dijemput jam tiga pagi pun aku bakal datang.”

Cantika nyengir kecil. “Oke deal.”

Yoga akhirnya duduk lagi, terlihat jauh lebih lega. Namun Cantika tahu… konflik ini baru permulaan.

Karena saat suasana mulai mencair, ponsel Yoga berbunyi.

Nama yang muncul:

MARSHA

Yoga langsung mengunci layar.

Cantika hanya bisa menatap… dan dada yang tadinya reda, kembali berdenyut.

Yoga mendongak. “Aku nggak akan jawab.”

Tapi Cantika tahu sesuatu:

Masalah mereka bukan cuma soal kerja atau pulang malam.

Masalah sebenarnya… baru akan muncul.

Dan itu melibatkan perempuan yang kemarin datang dengan parfum semahal harga motor

"Sekarang kamu istirahatlah !"

Cantika tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, lalu berjalan ke dapur sambil melepas jaket kurirnya. Suara gesekan kain terdengar keras di tengah hening yang kembali mengendap. Tapi dalam diam itu, pikirannya berputar kencang.

#Marsha.#

Nama itu bukan cuma sekadar kontak di ponsel Yoga. Ia datang seperti badai—rapi, mahal, dan percaya diri—membawa aroma parfum yang menyengat sekaligus mengintimidasi. Dan yang paling mengganggu: ia tahu cara tersenyum pada Yoga seperti mereka berdua punya rahasia.

“Makan malam?” suara Yoga terdengar datar.

“Nanti aja. Nggak selera,” jawab Cantika, berpura-pura sibuk mengaduk es teh yang sudah meleleh.

Ia mendengar Yoga berdiri, lalu langkah kakinya mendekat. Dua detik kemudian, Yoga berdiri di ambang pintu dapur, wajahnya serius.

“Cantika… soal Marsha.”

“Enggak usah dijelasin. Kamu udah bilang nggak bakal jawab,” potongnya cepat, sambil menatap gelas plastik di tangannya.

“Dia hanya rekan kerja. di proyek infrastruktur Singapura. Itu aja.”

Cantika mengangkat alis. “Terus kenapa kemarin dia datang ke sini? Mau minta sambal?”

Yoga menghela napas. “Dia dalam masalah. Keluarganya… ada utang besar. Dia butuh saksi pernikahan buat apply visa darurat. Dan karena aku pernah jadi saksi pernikahan temannya dulu, dia kira aku masih...” Ia berhenti, lalu menambahkan pelan, “Masih bisa dipercaya.”

Cantika tertawa kecil, getir. “Dipercaya? Atau dipakai?”

"sudahlah mas ,aku capek ,aku mau istirahat ." Cantika segera berdiri dan bergegas meninggalkan yoga yang masih terdiam di tempatnya semula .

Yoga tidak menjawab. Tapi sorot matanya penuh kelelahan dan sedikit penyesalan mengatakan lebih dari cukup.

1
kartini aritonang
lanjut thor
kartini aritonang
Ghea siapa thor ?
Marlina Armaghan
smangat Thor. bagus
MayAyunda: terimkasih
total 1 replies
kartini aritonang
menyimak
MayAyunda: jangan disimak kak dibaca 🤭😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!