Mampukah janda muda menahan diri saat godaan datang dari pria yang paling tabu? Setelah kepergian suaminya, Ayana (26) berjuang membesarkan anaknya sendirian. Takdir membawanya bekerja di perusahaan milik keluarga suaminya. Di sana, pesona Arfan (38), paman direktur yang berkarisma, mulai menggoyahkan hatinya. Arfan, duda mapan dengan masa lalu kelam, melihat Ayana bukan hanya sebagai menantu mendiang kakaknya, melainkan wanita memikat yang membangkitkan gairah terpendam. Di antara tatapan curiga dan bisikan sumbang keluarga, mereka terjerat dalam tarik-ulur cinta terlarang. Bagaimana Ayana akan memilih antara kesetiaan pada masa lalu dan gairah yang tak terbendung, di tengah tuntutan etika yang menguji batas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bangjoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: Kebenaran yang Menghancurkan
“Pasien mengalami... komplikasi serius!”
Kata-kata perawat itu seperti kilat yang menyambar, membekukan seluruh ruangan. Udara terasa tipis, berat, seolah setiap napas adalah sebuah perjuangan. Dari balik pintu ICU yang tertutup kembali, terdengar jelas alarm mesin yang melengking tak henti, suara langkah kaki tergesa-gesa, dan instruksi-instruksi panik yang tak jelas.
Ayana merasakan kakinya lemas, lututnya nyaris tak sanggup menopang berat badannya. Jantungnya bergemuruh, memukul-mukul rusuknya dengan irama tak beraturan. Firasat buruk yang sedari tadi merayapi setiap inci hatinya, kini menjelma menjadi kenyataan paling pahit dan mematikan. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan isakan yang nyaris lolos.
Rio, yang berdiri tak jauh dari Ayana, menunjukkan reaksi yang tak kalah terkejut. Senyum kemenangan tipis yang tadi sempat Ayana tangkap di bibirnya, kini lenyap tak berbekas, digantikan oleh kerutan dalam di keningnya. Ekspresinya sulit dibaca; campuran antara kaget, khawatir, atau mungkin… frustrasi karena rencananya buyar?
Tidak lama kemudian, suara langkah tergesa-gesa terdengar dari ujung koridor. Vina muncul, wajahnya pucat pasi, rambutnya sedikit acak-acakan, napasnya tersengal-sengal. Matanya langsung tertuju pada Rio dan Ayana, lalu pada pintu ICU yang menjadi pusat perhatian.
“Apa yang terjadi?” desis Vina, suaranya parau. Tatapan khawatirnya membuat Ayana bertanya-tanya, apakah wanita ini memang benar-benar mencintai Arfan, ataukah hanya pura-pura?
“Arfan... komplikasi,” jawab Rio singkat, suaranya tercekat. Ia meraih tangan Vina, genggaman yang entah mengapa terasa seperti sebuah deklarasi kepemilikan. Ayana menelan ludah, dadanya sesak melihat pemandangan itu. Di tengah kepanikan ini, drama lain seolah sedang berputar.
Sepuluh menit berlalu, terasa seperti sepuluh jam. Setiap detik adalah siksaan. Suara di dalam ICU perlahan mereda, namun ketegangan di luar justru semakin mencekik. Lampu indikator di atas pintu ICU yang tadinya menyala merah, kini padam, menyisakan keheningan yang lebih menakutkan.
Akhirnya, pintu itu terbuka lagi. Kali ini, seorang dokter paruh baya dengan kacamata bertengger di hidungnya keluar, diikuti oleh beberapa perawat. Wajah dokter itu lelah, matanya memancarkan kesedihan yang mendalam. Postur tubuhnya yang sedikit membungkuk seolah memikul beban berat.
“Dokter, bagaimana Arfan?” Vina melangkah maju, nyaris kehilangan keseimbangan. Suaranya pecah, penuh putus asa.
Dokter itu menghela napas panjang. “Kondisi Pak Arfan... sangat kritis. Jantungnya sempat berhenti.”
Ayana menutup mulutnya dengan kedua tangan, lututnya benar-benar gemetar. Air mata langsung membanjiri pelupuk matanya. Arfan. Tidak. Ini tidak mungkin. Pria yang telah mengacaukan dunianya, pria yang ia cintai sekaligus ia benci, tidak mungkin pergi secepat ini.
“Tapi kami berhasil mengembalikannya,” lanjut dokter itu, memberikan sedikit harapan di tengah keputusasaan. Namun, raut wajahnya masih sangat gelap, seolah ada sesuatu yang lebih buruk yang belum ia sampaikan. “Namun, ada masalah lain yang jauh lebih serius. Kami menemukan sesuatu saat tindakan penyelamatan.”
Semua mata tertuju pada dokter, menuntut jawaban. Rio menyipitkan mata, rahangnya mengeras. Vina menahan napas, menanti setiap kata dengan cemas. Ayana merasakan dingin menjalar ke tulang punggungnya, firasat akan bahaya yang lebih besar.
“Kami menemukan bahwa Pak Arfan memiliki... kondisi jantung langka yang tidak tercatat dalam riwayat medisnya,” kata dokter itu perlahan. “Ini menyebabkan komplikasi parah yang melemahkan organ lainnya secara cepat. Dia butuh transplantasi jantung sesegera mungkin.”
Transplantasi jantung? Sebuah palu godam lagi menghantam Ayana. Ini jauh lebih parah dari yang ia bayangkan. Hidup Arfan bergantung pada sebuah organ pengganti yang langka. Dunia seolah berputar, dan ia harus berpegangan pada dinding untuk tidak jatuh.
“Dan lagi,” dokter itu melanjutkan, tatapannya beralih dari Rio ke Vina, lalu sedikit melirik Ayana. “Selama tindakan penyelamatan, kami menemukan sebuah dokumen di dalam dompet Pak Arfan. Dokumen penting yang mungkin... mengubah banyak hal untuk keluarga ini.”
Seorang perawat menyerahkan sebuah amplop berstempel resmi kepada Rio. Dengan tangan gemetar, Rio membukanya. Alisnya berkerut saat ia mulai membaca isi dokumen itu. Wajahnya perlahan berubah, dari tegang menjadi kaget yang tak bisa disembunyikan, lalu menjadi kemarahan yang membara.
Vina melongok, mencoba membaca dari balik bahu Rio. Matanya membelalak kaget, lalu ia terkesiap, mundur selangkah. “Apa ini? Tidak mungkin! Ini pasti palsu!” serunya, suaranya menusuk gendang telinga Ayana.
Ayana, yang berdiri di belakang, tidak bisa melihat jelas isi dokumen itu. Namun, reaksi histeris Vina dan wajah pucat Rio sudah cukup untuk membuat kecurigaan dan ketakutan dalam dirinya memuncak. Rahasia apa ini? Rahasia yang bisa mengguncang keluarga Aditama dan kehidupannya sendiri?
Rio menoleh ke Ayana, tatapannya kosong, seperti baru saja melihat hantu yang paling menakutkan. Di matanya, Ayana membaca campuran ketakutan, amarah, dan sebuah pengkhianatan yang tak terlukiskan. Tapi kepada siapa amarah itu tertuju? Arfan? Atau... dirinya sendiri?
“Arfan...” Rio berbisik, suaranya parau, seolah nama itu adalah kutukan. “Dia... dia sudah menikah.”
Kata-kata itu menghantam Ayana lebih keras daripada benturan fisik apa pun. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Dunia di sekelilingnya runtuh, pecah berkeping-keping. Menikah? Dengan siapa? Sejak kapan? Ini adalah kebohongan paling kejam yang pernah ia dengar. Selama ini Arfan selalu mengatakan ia bebas, tidak memiliki ikatan serius.
Vina histeris, suaranya melengking. “Apa maksudmu, Rio? Arfan sudah menikah? Dengan siapa? Ini surat palsu! Dia tidak pernah bilang apa-apa padaku! Aku calon istrinya!”
Dokter itu menghela napas lagi, raut wajahnya prihatin. “Itu surat nikah yang sah, Nyonya. Atas nama Arfan Aditama dan... Safira Jasmine. Tertanggal lima tahun yang lalu.”
Lima tahun yang lalu. Itu berarti Arfan sudah menikah bahkan sebelum Ayana mengenal mendiang suaminya, dan jauh sebelum ia menjalin hubungan terlarang dengan Arfan. Sebuah jurang menganga di bawah kaki Ayana, menariknya ke dalam kegelapan yang tak berujung. Jadi selama ini ia menjalin hubungan dengan pria beristri? Dengan paman dari mendiang suaminya, yang notabene adalah suami orang lain?
Dosa Ayana terasa berlipat-lipat ganda, menguburnya hidup-hidup di bawah tumpukan rasa bersalah dan penyesalan. Ia merasa kotor, hina, dan bodoh. Air mata mengalir deras, membasahi pipinya yang dingin. Semua pengorbanannya, semua dilemanya, semua yang ia kira adalah cinta, kini hanyalah kebohongan besar.
Rio menatap Ayana, ekspresinya dipenuhi kemarahan dingin yang mendalam. Seolah ia menyalahkan Ayana atas semua ini. Sementara Vina menangis terisak, berpegangan pada Rio, seolah mencari dukungan di tengah hancurnya impiannya.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar lagi dari ujung koridor. Kali ini, langkahnya mantap dan percaya diri. Seorang wanita elegan dengan gaun hitam ketat dan wajah tegas berjalan mendekat, diikuti oleh dua pria berbadan tegap seperti pengawal. Kecantikannya dingin, namun memancarkan aura kekuasaan yang tak terbantahkan.
Matanya yang tajam langsung tertuju pada Rio, Vina, dan Ayana. Senyum sinis tipis terukir di bibir merahnya.
“Permisi,” katanya, suaranya rendah dan menusuk. “Saya dengar suami saya, Arfan Aditama, ada di sini dalam kondisi kritis?”
Ayana mengangkat pandangannya, menatap wanita di depannya. Tubuhnya membeku. Ini dia. Wanita itu. Istri sah Arfan. Safira Jasmine. Kehidupan Ayana yang baru saja hancur, kini benar-benar musnah di hadapan kebenaran yang kejam.
Benar2 membingungkan & bikin gw jd malas utk membaca novel ini lg
Jgn membingungkan pembaca yg berminat utk membaca novel ini