Lampu jalan di depan rumah dinas Cakra berkedip, menyisakan bayangan panjang dan dingin di teras. Alisa berdiri di ambang pintu, menatap punggung Sancaka Naratama. Sanca mengenakan kaus gelap, dan bahunya tampak tegang. Mereka baru saja berdebat hebat tentang penugasan luar pulau mendadak yang diterima Cakra.
“Ayah pergi lagi, Sanca. Apa kau pikir aku tidak mengerti apa arti seragam itu?” Suara Alisa tercekat, ia berusaha keras menahan isaknya.
Sanca berbalik, tatapan matanya yang biasanya hangat kini terasa lelah. “Aku mengerti, Lis. Seragam itu artinya pengabdian. Ada risiko, ada jarak. Tapi ada kehormatan juga, yang dulu diajarkan Ayahmu padaku.”
“Kehormatan?” Alisa melangkah maju, napasnya memburu. “Honorku adalah ditinggalkan! Ibuku hilang. Satria memilih pergi demi nama keluarga. Dan sekarang, Ayah juga pergi lagi ke tempat berbahaya. Aku lelah mencintai orang yang selalu siap menghilang!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: HADIAH LAPTOP DAN DUNIA YANG TERBELAH
Ulang tahun Alisa yang kelima belas tidak dirayakan dengan pesta atau kue besar. Baginya, angka itu hanya penanda bahwa ia telah bertahan selama lima tahun tanpa Ibu, dan lima tahun sebagai asisten tanpa gaji bagi Ayahnya. Namun, pagi itu, setelah Cakra kembali dari apel pagi, ada sebuah kotak kardus putih yang diletakkan di meja belajar Alisa. Sebuah laptop baru. Bukan merek yang sangat mahal, tapi cukup canggih untuk ukuran anak SMA.
"Gunakan untuk belajar. Ayah tidak mau dengar alasan kamu ketinggalan materi karena harus antre di warnet atau pinjam komputer kantor," kata Cakra singkat sambil menyesap kopinya.
Alisa memeluk kotak itu dengan perasaan campur aduk. Ia tahu ini adalah bentuk kasih sayang Cakra, tapi di balik itu, ia juga tahu ini adalah cara Cakra untuk memastikan Alisa tidak punya alasan untuk gagal di sekolah. Bagi Cakra, fasilitas adalah investasi, dan investasi harus membuahkan hasil berupa nilai yang sempurna. Namun bagi Alisa, laptop ini adalah pintu keluar. Ini adalah pertama kalinya ia bisa mengetikkan ribuan kata yang selama ini berdesakan di buku birunya tanpa perlu takut tangannya pegal atau tinta pulpennya habis.
Selama beberapa minggu pertama, semuanya tampak lancar. Alisa menjadi lebih efisien dalam mengerjakan tugas-tugas sekolahnya, tetapi saat malam tiba dan Cakra sudah berada di ruang kerjanya, Alisa mulai membuka dokumen rahasia. Ia mulai menulis sebuah cerita panjang. Judulnya sederhana: "Dua Sisi Lencana". Cerita itu berkisah tentang seorang anak perempuan yang memiliki ayah seorang jenderal besar yang dipuja sebagai pahlawan, namun di rumah, anak itu merasa ayahnya hanyalah sebuah bayangan yang terbuat dari logam dingin. Alisa menumpahkan semua rasa kesepiannya, semua kemarahannya tentang makan malam yang dingin, dan tentang bagaimana rasanya mencintai seseorang yang lebih mencintai negaranya daripada keluarganya sendiri.
Mengetik memberinya kecepatan yang tidak bisa diberikan oleh tulisan tangan. Emosinya mengalir deras lewat ujung jarinya. Ia menciptakan karakter ayah yang keras, yang mengatur hidup anaknya seperti mengatur barisan prajurit. Tanpa Alisa sadari, ia sedang membedah jiwanya sendiri dan jiwa Ayahnya secara telanjang di layar monitor itu. Ia merasa merdeka, merasa memiliki kendali penuh atas hidupnya—setidaknya di dalam dunia fiksi tersebut.
Prahara itu terjadi di suatu malam Minggu yang hujan deras. Cakra sedang kesulitan dengan laporannya karena komputernya terserang virus setelah ia mencolokkan flashdisk dari kantor. Ia butuh mengirimkan draf penting ke markas pusat segera. Alisa yang sedang berada di dapur membuat teh, tidak menyadari bahwa Ayahnya masuk ke kamarnya untuk meminjam laptopnya sebentar.
"Alisa, Ayah pinjam laptopmu sebentar untuk kirim email," teriak Cakra dari kamar.
Alisa menjatuhkan sendok tehnya ke lantai. Suara denting logam itu terdengar seperti lonceng kematian. Ia berlari menuju kamarnya, tapi ia terlambat. Layar laptop itu tidak terkunci. Dokumen "Dua Sisi Lencana" masih terbuka lebar di sana. Alisa berdiri mematung di ambang pintu, melihat punggung Ayahnya yang mendadak kaku. Cakra tidak sedang mengetik email. Matanya terpaku pada layar, membaca paragraf demi paragraf yang ditulis Alisa.
Keheningan yang mengikuti saat itu terasa lebih menekan daripada suara ledakan granat. Cakra perlahan berdiri, memutar tubuhnya menghadap Alisa. Wajahnya tidak lagi sekadar tegas; wajah itu terlihat terluka, kecewa, dan marah di saat yang sama. Mata tajamnya menatap Alisa seolah-olah ia sedang menatap seorang pengkhianat di tengah pasukannya.
"Apa ini?" tanya Cakra, suaranya sangat rendah, jenis suara yang paling ditakuti oleh seluruh prajurit di batalyon.
"Itu... itu cuma cerita fiksi, Yah. Tugas sekolah," suara Alisa bergetar hebat. Ia mencoba berbohong, tapi ia tahu Cakra bisa mencium kebohongan dari jarak satu kilometer.
"Tugas sekolah? Kamu menulis tentang seorang perwira yang kamu sebut sebagai 'pencuri kebahagiaan'? Kamu menulis bahwa pengabdian itu adalah sebuah kesia-siaan bagi orang-orang di rumah?" Cakra melangkah mendekat, memegang laptop itu dengan tangan yang gemetar. "Ayah memberikanmu fasilitas ini untuk mendukung masa depanmu, Alisa. Bukan untuk kamu gunakan sebagai alat untuk menghina pekerjaan Ayah. Bukan untuk kamu gunakan sebagai tempat sampah untuk ketidaksyukuranmu."
"Aku tidak bermaksud menghina, Yah! Itu cara aku mengeluarkan apa yang aku rasakan! Ayah tidak pernah bertanya bagaimana rasanya jadi aku!" Alisa meledak. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak lagi ingin menjadi ksatria yang diam. "Ayah hanya tahu aku harus mandiri, aku harus kuat, aku harus tegar. Tapi Ayah tidak pernah tahu kalau aku benci rumah ini yang selalu sepi! Aku benci seragam itu karena setiap kali Ayah memakainya, Ayah bukan lagi milikku!"
Cakra terdiam, nafasnya memburu. Ia meletakkan laptop itu dengan kasar ke atas meja. "Kamu tahu kenapa Ayah jarang di rumah? Kamu tahu kenapa Ayah harus keras padamu? Agar kamu tidak hancur saat dunia ini memperlakukanmu dengan buruk! Ayah bertaruh nyawa di hutan, di perbatasan, agar kamu bisa duduk nyaman di sini dan menulis kebohongan-kebohongan ini? Ibumu tidak pernah mengeluh seperti ini, Alisa. Dia mengerti arti pengorbanan."
"Karena Ibu terlalu mencintaimu sampai dia lupa bagaimana cara mengeluh! Dan sekarang aku yang harus menanggung semuanya sendirian!" Alisa berteriak, air mata yang sudah ditahannya selama bertahun-tahun akhirnya pecah. "Ayah selalu membandingkan aku dengan Ibu. Tapi aku bukan Ibu, Yah! Aku punya suara, dan aku punya rasa sakit yang nyata!"
Cakra menatap putrinya dengan pandangan yang mendadak dingin. Ia merasa seperti kehilangan kendali atas satu-satunya hal yang ia jaga setelah kematian istrinya. "Mulai besok, laptop ini Ayah sita. Kamu tidak akan menulis satu kata pun sampai nilai ujian semestermu keluar dan kamu membuktikan bahwa jurusan Bahasa yang kamu pilih itu bukan cuma tempat untuk melamunkan hal-hal sampah seperti ini."
"Ayah tidak bisa melakukan itu! Itu hakku!" Alisa mencoba meraih laptopnya, tapi Cakra sudah lebih dulu menutupnya dan membawanya keluar dari kamar.
"Di rumah ini, hakmu adalah mematuhi orang tuamu. Ayah melakukan ini untuk kebaikanmu, Alisa. Kamu butuh disiplin, bukan khayalan," kata Cakra sebelum menutup pintu kamar Alisa dengan suara dentuman yang keras.
Alisa jatuh terduduk di lantai kamarnya yang dingin. Ia merasa dunianya benar-benar runtuh. Laptop itu bukan sekadar alat elektronik bagi Alisa; itu adalah suaranya. Dan sekarang, Ayahnya telah membungkamnya lagi, mengurungnya kembali ke dalam keheningan yang menyesakkan. Ia melihat buku birunya yang tergeletak di bawah tempat tidur, satu-satunya benda yang tersisa.
Malam itu, Alisa tidak menulis di buku biru. Ia hanya duduk menatap kegelapan, menyadari satu hal yang menyakitkan: ia mencintai Ayahnya, tapi ia juga mulai membenci ksatria yang menjadi penjaganya. Konflik ini bukan lagi tentang pilihan jurusan atau nilai sekolah; ini adalah perang tentang siapa yang berhak memiliki jiwa Alisa. Dan untuk pertama kalinya, Alisa menyadari bahwa untuk menjadi penulis yang bebas, ia mungkin harus melepaskan diri dari perlindungan yang selama ini ia anggap sebagai keselamatan.
Cakra di kamar sebelah juga tidak bisa tidur. Ia menatap laptop Alisa yang diletakkan di meja kerjanya. Kata-kata Alisa dalam cerita itu terus terngiang di kepalanya: Dia adalah pahlawan bagi ribuan orang, tapi dia adalah orang asing bagi anaknya sendiri. Cakra merasa sesak. Ia ingin masuk ke kamar Alisa dan meminta maaf, tapi egonya sebagai seorang perwira dan rasa takutnya akan kehilangan wibawa menghalanginya. Ia memilih untuk tetap menjadi tembok, meskipun ia tahu tembok itu mulai retak.
Pertarungan diam itu berlanjut selama berminggu-minggu. Alisa menjadi lebih dingin, lebih tertutup, dan hanya bicara saat diperlukan. Ia melakukan semua perintah Cakra dengan ketepatan robot, tapi matanya tidak lagi memiliki binar kehidupan. Ia sedang menunggu. Menunggu saat di mana ia bisa bangkit kembali, bukan sebagai ksatria ayahnya, tapi sebagai ksatria bagi dirinya sendiri.