Amira wanita cantik itu, menatap suaminya dengan perasaan yang sulit di artikan. bagaimana tidak, dua tahun yang lalu, dia melepaskan kepergian Andika untuk bekerja ke kota, dengan harapan perekonomian rumah tangga mereka akan lebih mapan, keluar dari kemiskinan. tapi harapan itu hanyalah angan-angan kosong. suami yang begitu di cintanya, suami yang setiap malam selalu di ucapkan dalam sujudnya, telah mengkhianatinya, menusuknya tanpa berdarah. bagaimana Amira menghadapi pengkhianatan suaminya dengan seorang wanita yang tak lain adalah anak dari bos dimana tempat Andika bekerja? ikuti yuk lika-liku kehidupan Amira beserta buah hatinya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Baim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Amelia juga melakukan hal yang sama. Memandang Amira yang berjalan keluar dari ruangan itu, hingga menghilang dari balik pintu.
"Bu maaf, bisa aku ambil HP-nya lagi? Aku mau nelpon Mas Dika dulu. Mau nanya Ibu punya BPJS atau nggak."Kata Amira setelah berada di depan Bu Sinta dan Bu RT.
"Oh iya, ini."Bu Sinta menyerahkan HP Amira. Amira mengambil HP-nya.
"Ibu mertua mu gimana Mir?"Tanya Bu Sinta lanjut.
"Alhamdulillah, sudah ditangani dokter. Sekarang ini Ibu lagi tidur. Karena pengaruh obat kata Pak dokter. Nanti aku jelasin ya Bu, mau nelpon Mas Dika dulu."
Bu sinta, mengangguk kepalanya.
"Oh ya, maaf...Ibu udah hubungi Riska?"Tanya Amira.
"Udah, katanya mau kesini sama suaminya."Jawab Bu Sinta.
"Bu Susi itu punya BPJS kok Mir, kamu sama suami kamu juga punya. karena yang ngurus itu Bapak.."Timpal Bu RT.
" Oh gitu ya Bu..tapi aku nggak tau, punya Ibu disimpan di mana ya kira-kira..aku nggak pernah lihat soalnya. Aku juga nggak tau kalau aku sama Mas Dika punya BPJS."
"Sudah, telpon dulu suami kamu Mir, nanya BPJS Bu Susi di taruh di mana?"Sahut Bu Sinta.
Amira segera mencari nomor suaminya. Tak lama kemudian.
"Hallo Mas, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumssalam."
"Mas, sekarang Mira ada di Puskesmas. Ibu jatuh di kamar mandi. Dibawah sama Bu Sinta dan Bu RT, ke Puskesmas . Mira mau nanya, kira-kira Mas tau nggak BPJS Ibu di simpan di mana?"Tanya Amira.
"Innalillahi..terus keadaan Ibu gimana dek? Ibu nggak papa kan?"Tanya Andika, terdengar sangat khawatir dengan keadaan Ibunya.
"Nanti aja Mas, Mira jelasinnya...sekarang tolong kasih tau dulu dimana Ibu nyimpan BPJS-nya. Biar Mira ke rumah Ibu buat ngambil. Soalnya dokter nanya tadi."
"Mas juga nggak tau loh dek. Kalau BPJS punya kita Mas satukan dengan surat-surat lainnya di map coklat. Kalau punya Ibu, Mas benar-benar nggak tau. Coba kamu ke rumah Ibu. Cari di kamarnya. Mungkin Ibu simpan di dalam lemari, atau di mana. Kenapa nggak nanya Ibu aja dek?"
"Ibu lagi tidur, ya sudah Mas...Mira ke rumah Ibu aja. Soalnya penting banget itu. Biar perawatan Ibu dan beli obat nggak terlalu mahal."
Amira mematikan sambungan HP-nya. Lalu dia menatap Bu Sinta dan Bu RT.
"Aku masuk dulu ya Bu. Mau kasih tau Pak dokternya dulu, mau ngambil kartu BPJS nya Ibu di rumah."Pamit Amira pada Bu Sinta dan Bu RT.
"Iya Mir, ayo sana buruan."
"Aku kasihan lihat Amira itu, Sin. Dia saat Ibu mertuanya yang sombong dan jahat itu sekarat seperti ini, dialah orang pertama yang terlihat sibuk mengurus semua keperluan wanita angkuh itu. Anak-anaknya ada dimana sekarang? Si Rasti yang sok kaya itu, ada di mana dia? Sampai jam segini belum juga nongol."Bu RT kembali mendongkol.
"Sudahlah...kita do'akan semoga Bu Susi, menyadari kesalahannya. Mungkin ini juga teguran buat Bu Susi, Kalau perempuan yang dia benci dan hina itu, adalah menantu yang baik, yang sayang dan pengertian. Jadi sekarang nggak usah kita menghujat orang, nggak baik. Kamu sama jahatnya dengan Bu Susi kalau kamu seperti itu."Kata Bu Sinta, senyum-senyum ke arah Bu RT.
"Iya kah?"
"Ya iyalah, sama-sama jadi orang pembenci."Ucap Bu Sinta tajam.
Bu RT menatap Bu Sinta, dengan memicingkan matanya. "Kok...bilang aku kayak gitu ya Sin. Aku itu bukan benci sama si Susi, aku cuma nggak suka cara dia memperlakukan Amira seenak jidatnya...oh jangan-jangan kamu mendukung semua perbuatan jahat, tetangga sebelah rumah mu itu, iya?"
"Apa sih, ngomong kok seenak dewe..cangkem mu baiknya di sumbat pake bokong sandal."
Bu Sinta makin kesal dengan tuduhan Bu RT. Untung saja Puskesmas di saat menjelang sore ini, sudah nampak sepi dari pengunjung. Jadi suara keduanya tidak terlalu menggangu.
"Bu Sinta, Bu RT...lagi nungguin saipa?"
Suara seseorang membuat Bu RT tidak jadi membalas ucapan Bu Sinta. Pandangan keduanya beralih pada Laras. Seorang suster yang bertugas di Puskesmas ini. Anak perempuan Pak lurah kampung mereka, serta istri dari seorang polisi, yang bertugas di kota.
"Ehhh nak Laras, kita lagi nungguin Bu Susi, lagi di dalam orangnya."Jawab Bu Sinta, tersenyum ramah pada Laras.
"Emangnya Bu Susi sakit apa Bu?"Laras bertanya, sambil melangkah ke arah mereka
"Kita juga belum mengetahui keadaan Bu Susi, tadi kita temukan Bu Susi, sedang pingsan di kamar mandi, di rumahnya. Amira juga belum bisa menjelaskan. Soalnya dia buru-buru mau pergi mengambil BPJS-nya Bu Susi yang tertinggal di rumahnya katanya."Bu Sinta kembali menjelaskan.
Laras mengangguk kepalanya. "Jadi Bu Susi masih di periksa di dalam?"
"Iya masih di dalam, kata Amira sudah selesai di periksa."
Sementara Amira, setelah masuk kembali ke ruang UGD.
"Permisi dok."
Dokter Arman yang sedang duduk di kursi kerjanya, mengangkat kepalanya, menatap Amira yang berjalan masuk.
"Iya Mbak..jadi gimana, ada BPJS-nya Bu Susi?"Tanya dokter Arman.
"Ini dok, saya pulang dulu, mau nyari BPJS-nya Ibu di rumah. Saya juga kurang tau kalau Ibu punya BPJS. Tapi kata Bu RT di luar, katanya Ibu punya itu. Jadi saya mau pulang sebentar ya dok?"
"Pulangnya naik apa Mbak, jauh rumahnya?"
"Nggak terlalu juga dok, saya pakai ojek saja. Di depan kan ada pangkalan ojek."Jawab Amira, merasa tidak mengerti dengan pertanyaan Pak dokter itu, yang baru dia sadari ternyata wajah Pak dokter mirip sekali dengan Ibunya.
"Tidak usah pake ojek Mbak, suster Amel."Panggil Pak dokter.
Amira tampak terlihat bingung dan keheranan. Pikirannya sudah kacau.
"Iya dok."
"Tolong antar Mbak...siapa namanya Mbak?"
"Nggak usah dok, saya nggak usah di antar, saya pakai ojek saja. Permisi, Assalamu'alaikum."
Selesai memberi salam, Amira segera berbalik badan keluar dari ruangan itu. Tanpa memberi tahu namanya pada Dokter Arman. Bukannya dia ingin menolak kebaikan Pak dokter. Tapi di tidak ingin berhubungan lagi dengan keluarga Ayahnya. Mengingat itu semua, Amira merasa masa lalunya muncul kembali. Rasa sakit di perlakukan dengan sangat tidak manusiawi oleh keluarganya sendiri, membuat Amira ingin menjauh, sejauh mungkin dari mereka.
Dokter Arman dan Amel serta Lisa, menatap kepergian Amira dengan pikiran mereka masing-masing. Amelia dan dokter Arman terlihat sangat kecewa dengan penolakan Amira. Sedangkan suster Lisa terlihat bingung.
"Bu."
Sahut Amira begitu berada di luar UGD.
Bu Sinta, Bu RT dan Laras, menengok kepala mereka ke sumber suara.
"Ehhh..ada Mbak Laras."Sambungnya, begitu melihat Laras di antara Bu Sinta dan Bu RT.
"Iya Mir..gimana kabarnya? Lama ya kita nggak ketemu."Balas Laras, tersenyum manis pada Amira.
"hehehehe.."Amira tertawa senang. Melihat seorang suster cantik berhijab, yang begitu baik padanya.
Bersambung.......
Jd gmes bcanya bkin emosi
Thor jgn bkin amira jd org bego. Toh itu cm mertua bkn ibu kndungnya