Aira memergoki suaminya selingkuh dengan alasan yang membuat Aira sesak.
Irwan, suaminya selingkuh hanya karena bosan dan tidak mau mempunyai istri gendut sepertinya.
akankah Aira bertahan bersama Irwan atau bangkit dan membalas semuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazilla Shanum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawa yang Menyisakan Sepi
"Iya, Tuan. Kebetulan saat saya datang tadi tidak ada orang, jadi Pak Satpam meminta saya untuk langsung masuk," sahut Bi Rumi.
"Ya udah nggak apa-apa, Bi. Apa Bibi tidak melihat seorang wanita yang datang tadi sore?" tanya Irwan memastikan Lisa pulang atau tidak.
"Sejak sore saya datang tidak ada siapapun, Tuan," jawab Bi Rumi.
"Apa? Jadi sejak sore Lisa belum pulang? Kemana dia? Kenapa nggak ngabarin aku dulu?" batin Irwan bertanya.
"Apa Bibi sudah membuat makan malam?" tanya Irwan.
"Sudah sejak tadi, Tuan. Tapi biar saya hangatkan lagi jika Tuan ingin makan sekarang," jawab Bi Rumi sopan.
"Ya udah Bibi hangatkan lagi aja. Saya ingin ke kamar dulu untuk membersihkan diri," ucap Irwan.
"Baik, Tuan," sahut Bi Rumi.
Irwan pun pergi menaiki tangga dengan langkah yang agak cepat agar segera sampai di kamarnya, tubuhnya sudah lengket banget karena seharian kerja dan mencari Aira.
Setelah sampai di kamar, ia segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Lisa. Namun, sampai panggilan ke tiga, tidak ada satupun yang di angkat oleh Lisa.
"Kenapa dia jadi kekanakan begini sih. Padahal aku juga nyariin Aira untuk kehidupanku dan juga dia kedepannya. Sedikit-sedikit ngambek dan minta dimengerti," gerutu Irwan.
Irwan akhirnya tidak mau ambil pusing memikirkan Lisa dan memilih untuk segera mandi. Membersihkan tubuhnya yang berkeringat agar bisa lebih segar dan berpikir jernih, dimana Aira berada sekarang.
"Emang kamu aja yang bisa sok sibuk, Mas, aku juga bisa. Sebelum kamu minta maaf, aku juga tidak akan pulang ke sana. Enak aja, aku yang kamu minta buat jadi pembantu. Mending urus aja urusan masing-masing," ucap Lisa dalam kamar apartemennya.
Lisa segera memesan makanan dari restoran mahal untuk bisa ia nikmati sendirian. Tak peduli di rumah Irwan akan makan dengan apa, yang penting ia bisa makan dengan enak.
*****
Dion melangkahkan kakinya dengan cepat keluar dari kantor. Ia harus menyelesaikan pekerjaannya hingga pulang sedikit terlambat.
Dion langsung masuk ke dalam mobil, dan mulai melajukan mobilnya untuk segera pergi ke rumah Mamanya yang sudah hampir sebulan lebih ia tidak pernah pulang.
Tak lupa, Dion berhenti di salah satu bunga yang masih buka untuk membelikan bunga mawar kesukaan Mamanya.
Baru saja Dion selesai membayar, ponselnya sudah berdering. Dion segera kembali ke mobil dan melihat siapa yang menghubunginya.
"Damian. Ada apa lagi Damian pake telepon segala," gerutu Dion.
Dion mengangkat panggilan dari adiknya itu sambil melajukan mobilnya.
"Ada apa Damian?" tanya Dion dengan malas.
"Kak Dion udah sampai dimana?" tanya Damian balik.
"Di jalan," jawab Dion singkat.
"Oh, aku pikir nggak jadi pulang. Mama yang minta aku buat hubungi kak Dion lagi, karena Mama udah masak makanan kesukaan kak Dion. Lagian udah tau mau pulang ke rumah, masih aja pulang telat dari kantornya," omel Damian.
"Jangan kayak emak-emak deh. Sebentar lagi Kakak sampai," sahut Dion langsung mematikan panggilannya.
"Tuh kan Ma, kak Dion emang selalu aja begitu kalau dikasih tau. Entah kapan dia dapat jodohnya kalau selalu aja ketus dan singkat gitu kalau bicara," ucap Damian pada Mamanya yang ada di sebelahnya.
"Kayak kamu yang nggak aja Damian. Kalian berdua kan sama-sama jomblo, nggak usah saling meledek deh. Padahal Mama udah pengen banget nimang cucu," jawab Bu Asha.
"Aku kan sebagai adik harusnya emang belakangan, Ma. Mama paksa aja tuh kak Dion biar dia segera menikah," ujar Damian.
"Ah kamu, kalau laki-laki mah nggak masalah siapa yang mau nikah dulu kali. Bilang aja nggak ada wanita yang mau sama kalian berdua," jawab Bu Asha meledek.
Damian hanya nyengir aja mendengar ucapan Mamanya.
"Papa gimana keadaannya, Ma?" tanya Damian.
"Tadi sih cuma bilang cuma pusing aja, makannya Mama suruh buat istirahat. Papa juga bilang kalau dia mungkin nggak bisa ikut makan malam. Papa nggak ingin menghancurkan suasana dan membuat Dion kesal," jawab Bu Asha.
"Baguslah kalau Papa mengerti. Kak Dion juga nggak akan mungkin seperti ini kalau dari dulu Papa mau mendengarkan aku dan juga Kak Dion yang menyuruhnya untuk berhenti bermain wanita," ucap Damian.
"Ya namanya juga nggak bisa tahan godaan, Damian. Hal ini harusnya bisa kamu dan Dion jadikan pelajaran, agar nanti setelah kalian membina rumah tangga kalian nggak mengikuti jejak Papa," ucap Bu Asha.
"Kalau itu udah pasti, Ma," jawab Damian dengan penuh percaya diri.
Keduanya terus mengobrol, hingga akhirnya terdengar juga suara deru mobil yang berhenti di depan rumah.
Damian dan juga Bu Asha segera berdiri dari duduknya dan pergi ke depan untuk melihat Dion yang datang.
"Assalamualaikum, Ma," ucap Dion dengan tersenyum manis.
"Walaikumsalam, Alhamdulillah anak Mama sehat. Mama seneng banget kamu pulang," jawab Bu Asha langsung memeluk tubuh tegap putranya.
"Iya Ma, aku minta maaf ya karena udah lama nggak pulang. Ini bunga buat Mama sebagai permintaan maaf dari aku," ucap Dion setelah pelukannya terurai.
"Kamu pinter banget bawa sogokannya. Kalau gini ceritanya, Mama kan jadi nggak bisa marah lama," sahut Bu Asha sambil mengambil bunga mawar dari tangan Dion.
"Mama sehat-sehat aja kan selama aku nggak ada?" tanya Dion.
Dion memang paling hangat ketika bersama Mamanya. Berbeda jika sedang mengobrol dengan Damian, apalagi dengan Papanya yang paling dibenci Dion.
"Sehat kok. Ayo masuk, kita ngobrol di dalam. Mama tuh jadi nyuruh Damian telpon, karena udah mau magrib tapi kamu belum datang juga. Mama kan jadi khawatir kalau di jalan kamu kenapa-napa," ucap Bu Asha.
"Insyaallah nggak kok Ma, aku baik-baik aja. Tadi ada sedikit pekerjaan tambahan jadi nanggung buat di tinggal," jawab Dion.
"Dia kan emang secinta itu sama pekerjaannya Ma," ucap Damian.
"Nah iya tuh bener. Jadi kapan kamu mau bawain calon mantu buat Mama?" tanya Bu Asha.
Damian yang mendengar pertanyaan Mamanya itu langsung menahan tawanya. Apalagi itu pertanyaan yang di hindari oleh Dion dan juga dirinya.
"Pasti Damian yang udah ngomporin Mama buat nanyain hal ini sama aku kan?" ucap Dion sambil menatap adiknya dengan tatapan tajam.
"Kenapa malah aku yang di salahkan? Aku beneran nggak tau apa-apa lho kak. Itu murni emang keinginan Mama," ujar Damian tak terima disalahkan.
"Pokoknya kalian berdua tahun ini harus segera membawa calon kalian masing-masing. Mama ini udah semakin tua tau, Mama pengen di akhir hidup Mama melihat kalian berdua bahagia dan menggendong cucu yang menggemaskan," ujar Bu Asha pada Damian dan Dion.
"Kayaknya tubuhku lengket banget deh ini karena tadi seharian bekerja. Aku ke kamar mandi dulu ya Ma, mau mandi dulu sebentar sebelum nanti mencicipi makanan yang udah Mama masak," ucap Dion agar bisa mengelak dari pertanyaan Mamanya.
"Wah kak Dion curang banget kalau kayak gini mau kabur pake alesan mau mandi segala. Pokonya sebelum kak Dion menikah, aku juga nggak ingin buru-buru menikah Ma. Jadi Mama harus paksa kak Dion lebih dulu atau Mama jodohin kak Dion sama siapa kek gitu," ucap Damian dengan cepat.
"Enak aja sembarangan mau di jodohin. Si Damian aja Ma," jawab Dion tak mau kalah.
"Sudah sana kamu mandi aja dulu, nanti lanjut lagi ngobrolnya. Takut keburu makanannya dingin," ucap Bu Asha menengahi sebelum mereka berantem.
Dion langsung pergi menaiki tangga untuk ke kamarnya meninggalkan Damian dan Mamanya di lantai bawah.
Sedangkan Pak Agam yang melihat kedua anaknya dan istrinya berkumpul diruang tengah dengan penuh canda tawa, seketika membuat Pak Agam merasa iri.
Karena ia dan kedua anaknya memang tidak dekat, mungkin bisa dibilang benci padanya. Ia buru-buru masuk ke dalam kamarnya karena tidak ingin menghancurkan kebahagiaan istrinya yang selama ini selalu sabar dengan tingkahnya.
mo ngomong apa itu c lisa