Satu tubuh, dua jiwa. Satu manusia biasa… dan satu roh dewa yang terkurung selama ribuan tahun.
Saat Yanzhi hanya menjalankan tugas dari tetua klannya untuk mencari tanaman langka, ia tak sengaja memicu takdir yang tak pernah ia bayangkan.
Sebuah segel kuno yang seharusnya tak pernah disentuh, terbuka di hadapannya. Dalam sekejap, roh seorang dewa yang telah tertidur selama berabad-abad memasuki tubuhnya. Hidupnya pun tak lagi sama.
Suara asing mulai bergema di pikirannya. Kekuatan yang bukan miliknya perlahan bangkit. Dan batas antara dirinya dan sang dewa mulai mengabur.
Di tengah konflik antar sekte, rahasia masa lalu, dan perasaan yang tumbuh antara manusia dan dewa… mampukah Yanzhi mempertahankan jiwanya sendiri?
Atau justru… ia akan menjadi bagian dari sang dewa selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cencenz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Misi Penyelamatan
Mereka tidak salah orang. Sosok yang terbaring di dalam lingkaran segel itu adalah Guru Lu Ming.
Wajah itu pucat. Napasnya tipis. Qi-nya… tidak mengalir bebas.
Yi segera berlutut, menahan diri untuk tidak menyentuh segel itu.
"Dia masih hidup," katanya cepat, menilai aliran qi. "Tapi kesadarannya ditahan. Kalau kita paksa—"
"—segelnya akan runtuh ke dalam," sambung Mo Ran. "Dan dia ikut hancur."
Yi menutup mata sejenak.
Tenaganya tidak cukup. Mo Ran juga tidak.
Mereka tahu itu.
Yi menggenggam liontin giok di tangan Mo Ran.
"Ini bukti," katanya tegas.
Mo Ran menatap Yi, matanya merah tapi penuh tekad.
"Kita harus segera ke Han Ye. Kita butuh tetua lain untuk bantu Guru Lu Ming."
Yi berdiri, menatap segel itu satu kali lagi, menghafal pola, arah aliran, dan celah kecil yang hampir tak terlihat.
"Aku ingat semuanya," katanya pelan. "Mereka tidak akan sempat memindahkannya."
Mo Ran mengangguk, napasnya berat. "Semoga kita masih sempat bertindak sebelum pelahap inti bergerak."
Yi menunduk, menatap jalur kembali. "Jejak qi menunjukkan arah yang lebih aman. Kalau kita cepat, mereka mungkin belum menyadari kita meninggalkan area."
Mereka melangkah perlahan, hati-hati, menapaki jalur yang sama mereka gunakan untuk masuk. Udara tetap berat, tapi mereka lebih fokus pada kerahasiaan dan kecepatan daripada mengejar pelahap inti.
Di tengah jalan, Yi berhenti dan menahan Mo Ran. "Diam."
Mo Ran menatapnya, panik sedikit. "Apa—?"
Dari balik semak, sesosok bayangan gelap melintas, tidak langsung menyerang, tapi jelas pelahap inti itu mendeteksi jejak mereka.
Yi segera menarik Mo Ran ke samping. "Mereka tahu kita ada. Jangan buat suara."
Pelahap inti itu bergerak perlahan di jalur mereka tadi, menandai keberadaan mereka, tapi tidak menyerang langsung. Ini kesempatan, bukan untuk bertarung, tapi untuk lari lebih cepat ke arah yang aman.
Yi menggenggam tangan Mo Ran. "Kita tidak boleh terlibat sekarang. Fokus kita: Han Ye, tetua lain. Strategi berikutnya tergantung mereka."
Mereka memutar langkah, menyeberangi jalur sempit, menjaga jarak dari bayangan pelahap inti. Hati-hati tapi cepat, mereka berhasil keluar dari batas luar sekte dan masuk ke area latihan yang lebih familiar, di mana mereka bisa lebih aman bergerak.
Yi menghela napas panjang. "Kita selamat. Sekarang… kita lapor, kumpulkan semua yang bisa bantu."
Mo Ran menatapnya, masih cemas tapi lega. "Dan guru… kita kembali dengan bantuan."
......................
Tak jauh dari jalur itu, Han Ye berada dalam bayangan, menatap Wei Ren di sisi kolam. Ia menahan napas, tetap tenang, berusaha mengulur waktu.
"Berjalan terlalu keras…" gumamnya pelan, lebih untuk menenangkan diri daripada menantang.
Han Ye menahan napas, tetap berada dalam bayangan, matanya menatap Wei Ren di sisi kolam.
"Berjalan terlalu keras…" gumamnya, lebih untuk mengulur waktu daripada menantang.
Wei Ren tidak menoleh, tapi sudut bibirnya terangkat tipis.
"Han Ye… kau masih mengikuti aku. Apakah niatmu hanya mengintai?" suaranya rendah, tenang, tapi setiap kata terasa seperti ujian.
Han Ye menyesuaikan langkah, hati-hati agar tidak menimbulkan suara.
"Bukan mengintai… sekadar memastikan…," jawabnya, memilih kata-kata yang netral.
Wei Ren melangkah perlahan ke sisi lain kolam, memecah pandangan Han Ye dengan posisi tubuh yang strategis.
"Memastikan? Menarik. Apakah ini tentang… Yanzhi di Menara Penyegelan?" ucap Wei Ren sambil mencondongkan kepala, hampir seperti melempar umpan.
Han Ye mendengus pelan. Panas menyentak di dadanya. Yanzhi… nama itu selalu membuatnya kehilangan kendali sekejap. Ia ingin membalas, menegur Wei Ren, tapi Yi dan Mo Ran sudah memberi sinyal dari kejauhan: sebuah gerakan tangan cepat, menandai untuk mundur dulu.
Han Ye menelan amarahnya. Sekali langkah salah, bukan hanya dirinya yang berisiko, tapi juga rencana mereka juga bisa terganggu. Ia menunduk sedikit, mengatur napas.
"Baik… aku pergi dulu," gumamnya, lebih untuk dirinya sendiri.
Dengan langkah ringan dan hati-hati, Han Ye bergerak menjauh dari kolam dan jalur Wei Ren, mengikuti rute yang telah diamati sebelumnya, menjaga jarak, tetap dalam bayangan, sampai Yi dan Mo Ran bisa muncul untuk koordinasi.
Dari celah batu, Yi dan Mo Ran menunduk, menandai posisi Han Ye yang berhasil mengulur waktu dan mundur dengan aman.
"Kita bisa mulai koordinasi sekarang," bisik Yi.
Mo Ran mengangguk, matanya tetap waspada terhadap bayangan qi yang mungkin mendekat.
......................
Han Ye bergabung dengan Yi dan Mo Ran di balik semak tinggi, masih menjaga jarak dari jalur utama. Napas mereka teratur, tapi mata tetap waspada.
Han Ye menatap Mo Ran dan Yi, ragu. "Apa yang kalian temukan? Tetua Fan, tapi kalian terlihat… serius."
Yi menatapnya, matanya tajam tapi tenang. "Bukan Tetua Fan. Guru Lu Ming. Dia… terperangkap dalam segel di luar batas sekte."
Han Ye terkejut, hampir tersedak oleh rasa kaget dan kekhawatiran. "Guru Lu Ming?! Bagaimana bisa… dia sampai terjerat di sana?!"
Mo Ran menelan ludah, mengangguk. "Pelahap inti yang melakukan ini. Tidak ada yang mengira bisa sampai sejauh ini, tapi… dia berhasil menangkap Guru Lu Ming."
Han Ye menepuk pedangnya, napasnya berat. "Dan sekarang? Kita… langsung bertindak?"
Yi menggenggam liontin giok di tangan Mo Ran, menunduk. "Tidak. Kita tidak cukup kuat untuk bertindak sendiri. Pelahap inti masih di luar. Jika kita gegabah… segalanya bisa hancur, termasuk Guru Lu Ming."
Han Ye menatap Yi, wajahnya masih menahan emosi. "Jadi… kita harus tunggu? Diam di sini?"
Yi mengangguk. "Kita harus buat rencana yang tepat. Fokus kita: mengamati segel, mencari celah, dan memastikan setiap langkah aman. Kita juga harus memutuskan apakah kita akan melapor ke tetua sekte."
Mo Ran menambahkan, suaranya pelan tapi tegas. "Kalau kita melapor sekarang, tetua bisa datang dengan cara resmi, tapi itu bisa memakan waktu… dan pelahap inti bisa memindahkan atau memperkuat segel."
Han Ye menarik napas panjang, menenangkan diri. "Baik… kita lakukan sesuai rencana dulu."
Yi dan Han Ye melangkah cepat, namun tetap hati-hati, menapaki jalur tersembunyi menuju pusat sekte. Napas mereka teratur, tapi mata tetap waspada terhadap bayangan qi di sekitar.
Han Ye menatap Yi, masih sedikit tegang. "Aku masih tidak percaya… Guru Lu Ming sampai terperangkap di luar batas. Bagaimana ini bisa terjadi?"
Yi menghela napas, menatap jalur di depan. "Pelahap inti lebih licik dari yang kita kira. Kita tidak bisa bertindak sendiri. Kita perlu tetua sekte. Cepat, tapi jangan sampai ada yang melihat kita."
Mereka berdua bergerak melalui jalur rahasia yang hanya dikenal beberapa murid senior. Setiap langkah diatur agar tidak menimbulkan gema atau menarik perhatian.
Di sisi lain, Mo Ran tetap berada di balik batu besar, menatap cekungan tempat Guru Lu Ming terperangkap. Ia memegang pedang ringan di tangan, tubuhnya rendah. Qi sekitar masih keruh, menandakan pelahap inti belum jauh.
"Kau harus tetap tenang, dan jangan lakukan kontak," bisik Yi kepada Han Ye saat mereka berhenti sebentar di celah semak untuk memastikan jalur aman.
Han Ye mengangguk. "Aku mengerti. Kita lapor dulu, baru rencana penyelamatan bisa dijalankan dengan aman."
Setelah memastikan jalur aman, mereka memasuki aula tetua sekte. Beberapa tetua sedang mengamati latihan murid di halaman, tapi Yi dan Han Ye segera menemukan Tetua Shi, yang paling memahami segel dan pelahap inti.
"Yi… Han Ye?" sapanya tenang tapi tegas. "Ada apa? Terlihat kalian tergesa-gesa."
Yi meletakkan liontin giok di meja Tetua Shi. "Guru Lu Ming… terperangkap di luar batas sekte. Pelahap inti yang melakukan ini. Kami tidak bisa menyelamatkannya sendiri."
Han Ye menambahkan, suara masih tegang. "Kami datang untuk melapor… dan meminta bantuan tetua. Saat ini, Mo Ran tetap mengawasi area tersebut. Tapi kami membutuhkan strategi yang tepat agar pelahap inti tidak menyadari langkah kita."
Tetua Shi menatap liontin giok di tangan Yi, matanya menajam, kemudian menoleh ke Yi dan Han Ye.
"Ini serius… jika Lu Ming sampai terluka parah, sekte kita akan kehilangan banyak kekuatan inti."
Yi dan Han Ye saling bertukar pandang, napas mereka tertahan.
"Baik," lanjut Tetua Shi pelan tapi tegas, "kami akan menyiapkan tim khusus. Tapi pelahap inti… mungkin masih mengintai di sekitar."
Di luar aula, Mo Ran tetap menunduk di balik batu, matanya menyapu cekungan dengan waspada, siap menghadapi ancaman yang mungkin datang kapan saja.
Hanya satu hal yang pasti: penyelamatan Guru Lu Ming belum dimulai, dan setiap langkah selanjutnya bisa menjadi terakhir.
...****************...
ya sdh, smoga berhasil, jgn bikin kecewa roh api yg mendiami tubuhmu