"Tinggalkan putraku dan ambil ini! Ingat jangan kau injakkan kaki kotor mu itu di mansion keluarga Xie." Xie Lihua
"Baik Nyonya, saya akan pergi dari sini. Dan ini amplop dari anda, saya bukan seperti apa yang anda pikirkan." Lin Wu
"Shit! Beraninya dia pergi meninggalkanku, lihat saja aku akan menghukumnya dan membawanya kembali ke sisiku." Xie Yanshen
Dua insan yang terpaksa menikah karena sebuah scandal dan juga tuntutan dari Tuan Jin Hao, Ayah Yanshen. Pernikahan yang tak diinginkan itu membawa Lin Wu ke dalam neraka kehidupan. Lihua, Ibu Yanshen begitu membencinya hingga suatu hari dia sukses menyingkirkan Lin Wu.
Tanpa ada seorang pun tahu, bahwa Lin Wu pergi membawa rahasia besar. Dan kepergiannya membuat Yanshen murka.
Akankah Yanshen tahu rahasia besar Lin Wu? Dan berhasilkah Yanshen membawa kembali wanita yang masih sah menjadi istrinya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sagitarius28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MBSK 11
"Lin Wu ... Lin Wu ... kumohon kembalilah padaku. Tolong jangan tinggalkan aku, sayang. Aku mencintaimu, istriku." Tak hentinya Yanshen terus mengigau menyebut nama perempuan yang sukses mencuri hatinya.
Tentu saja hal itu membuat Mommy Lihua tersentak kaget mendengar apa yang dikatakan putranya barusan.
'Ck, kenapa Yanshen menyebut nama perempuan itu? Apa sih hebatnya dia, cantik enggak, pintar enggak, kaya juga enggak, yang ada malah bikin orang susah aja. Dasar perempuan j*lang! Aku kira dengan mengusir dia dari mansion ini, bisa membuat keadaan jadi lebih baik. Tapi, nyatanya .... hah entahlah.' Mommy Lihua berdecak kesal sambil memutar malas bola matanya.
"Lin Wu, jangan pergi. Aku mohon pulanglah ...." Yanshen kembali mengigau menyadarkan Mommy Lihua dengan kondisi putranya saat ini.
"Yanshen, sadarlah Nak." Mommy Lihua menepuk pelan pipi mulus Yanshen berharap putranya itu segera sadar. Namun, semua tidak sesuai dengan ekspektasinya. Justru wanita paruh baya itu kembali dibuat terkejut usai menyentuh pipi putranya.
"Panas, kenapa suhu tubuhnya panas sekali?" lirih Mommy Lihua menatap putranya dengan penuh khawatir.
"Daddy ... Daddy, putra kita Daddy," teriak Mommy Lihua dari dalam kamar Yanshen.
Ceklek ....
"Ada apa Mom? Kenapa Mommy teriak-teriak seperti di hutan saja," tanya Daddy Jinhao dengan sorot mata elangnya.
"I- itu Dad, Yanshen ... putra kita sedang demam Dad," jawab Mommy Lihua terbata.
"Apa? Yanshen demam?" Daddy Jin Hao tak kalah terkejutnya ketika mendengar mengenai kondisi putranya saat ini.
"I- iya Dad. Bagaimana ini Dad?"
"Lin Wu ... Lin Wu ...." Terdengar kembali nama Lin Wu dari bibir Yanshen, dan tentu saja hal itu diketahui oleh kedua paruh baya itu.
"Cepat Mommy hubungi Dokter Mufang!" titah Daddy Jinhao dan diangguki kepala oleh Mommy Lihua.
Secepat kilat wanita paruh baya itu mengeluarkan benda pipih miliknya yang dia simpan di saku roknya. Tak butuh waktu lama, Mommy Lihua pun menemukan kontak yang ingin dia hubungi. Sebelum kemudian, dia menekan tombol hijau pada layar ponselnya.
"Halo Dok, saya Lihua. Tolong anda segera ke rumah saya. Anak saya sedang demam, Dok." Mommy Lihua berbicara dengan bibir yang sedikit gemetar, takut bila ada hal buruk yang terjadi pada putranya.
"Baik Nyonya, lima belas menit lagi saya akan tiba di rumah anda," jawab Dokter Mufang dari seberang telpon.
"Terima kasih Dok, saya tunggu." Ucapnya penuh dengan harap, sebelum akhirnya sambungan telpon pun terputus kemudian wanita paruh baya itu kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku roknya.
"Ya Tuhan, tolong lindungi putraku. Aku mohon, sembuhkan lah dia." Mommy Lihua menatap sendu pada putranya yang terbaring lemah di atas ranjang. Terlihat jelas raut wajahnya yang begitu pucat dengan suhu tubuh yang semakin tinggi.
Tentu saja hal itu membuat dua paruh baya itu tampak cemas dengan kondisi putranya saat ini. Terlebih sang putra yang tiada henti menyebut nama Lin Wu terus-menerus.
"Lihat Mom! Apa Mommy sudah lihat bagaimana tersiksanya putra kita saat Lin Wu pergi meninggalkannya? Apa Mommy sudah puas dengan apa yang Mommy perbuat selama tujuh tahun ini, hah?" bentak Daddy Jinhao menatap nyalang istrinya.
"Mommy benar-benar tidak punya hati. Tega pada anak sendiri, memisahkan putra kita dengan perempuan yang dia cintai," lanjut Daddy Jinhao dingin.
"Cukup Dad! Berhenti menyudutkan Mommy terus. Mommy melakukan itu semua demi kebaikan putra kita," balas Mommy Lihua yang tidak terima dengan ucapan suaminya.
Daddy Jinhao terkekeh mendengar jawaban istrinya, sebelum kemudian dia kembali bersua dengan sorot mata yang memerah dan rahang yang mengeras.
"Demi kebaikan putra kita? Apa Daddy tidak salah dengar, hah?" Lelaki paruh baya itu kembali mengulang ucapan sang istri dengan tersenyum menyungging.
"Coba Mommy lihat kondisi Yanshen sekarang, apa dia jauh lebih baik seperti keinginan Mommy, tidak bukan? Justru yang ada kondisi Yanshen semakin memburuk. Ingat sampai ada hal buruk terjadi pada Yanshen, Mommy lah orang pertama yang Daddy salahkan juga harus bertanggung jawab penuh atas kondisi Yanshen!" tegas Daddy Jinhao dengan dada naik turun.
Tok ... tok ... tok ....
"Permisi Tuan, Dokter Mufang sudah datang." Meimei memberanikan diri mengetuk pintu kamar, memberitahu kedatangan Dokter yang merupakan Dokter pribadi keluarga Xie.
"Hem, suruh dia masuk."
Dokter pun bergegas masuk ke dalam kamar, sebelum kemudian Dokter itu memeriksa kondisi Yanshen saat ini.
"Bagaimana kondisi putra saya, Dok?" tanya Mommy Lihua khawatir. Keringat dingin mulai bercucuran membasahi dahi dan juga jemari tangannya.
Dokter Mufang meraup oksigen sebanyak mungkin sebelum dia menjawab pertanyaan dari Mommy Lihua.
"Denyut nadinya lemah, mungkin saja dia kelelahan karena banyak kerja full time hingga begadang, dan satu lagi pola makan yang tidak teratur, ditambah banyak mengonsumsi alkohol jadi staminanya langsung drop," terang Dokter Mufang menjelaskan secara detail berdasarkan pemeriksaan nya barusan.
Detik itu juga Daddy Jinhao menatap sinis pada Mommy Lihua yang posisinya terpojok karena sang suami tidak terima dengan apa yang diperbuat oleh istrinya pada tujuh tahun silam.
"Dengar itu Mom, Yanshen seperti ini gara-gara Mommy. Sampai-sampai dia jadi pecandu alkohol berat dan mengganggu kesehatannya," pekik Daddy Jinhao sambil menunjuk sang istri dengan jari telunjuknya.
Detik itu juga lelaki paruh baya itu tidak bisa menahan diri lagi. Amarahnya meledak seketika tanpa bisa dia bendung lagi, tidak peduli dengan keberadaan Dokter Mufang yang masih di dalam kamar putranya.
Setelah puas memaki sang istri sebelum akhirnya Daddy Jinhao mengantar Dokter Mufang turun ke lantai dasar.
"Kalau begitu saya pamit undur diri, Tuan. Semoga Tuan muda lekas membaik, dan sebaiknya jangan mengonsumsi alkohol dulu supaya staminanya kembali pulih," pesan Dokter yang memeriksa Yanshen.
"Baik Dok, terima kasih." Daddy Jinhao tersenyum mengiyakan saran dari Dokter dan di angguki oleh Dokter Mufang kemudian melenggang pergi meninggalkan mansion megah keluarga Xie.
🥕🥕🥕
PYAR!
Tiba-tiba gelas yang berisi air putih dibawa oleh Lin Wu jatuh begitu saja. Padahal perempuan itu memegang gelas dengan hati-hati. Tapi entah kenapa mendadak tangan Lin Wu terasa licin dan gelas pun lepas dari genggamannya. Seketika perasaan Lin Wu menjadi tidak enak, seolah ada sesuatu hal buruk terjadi. Sayangnya, perempuan itu sendiri tidak dapat menafsirkannya mengapa perasaannya berubah menjadi kalut.
"Ya Tuhan, ada apa denganku? Kenapa perasanku jadi tidak enak seperti ini, sebenarnya apa yang telah terjadi?"
"Semoga keluarga kecilku disini dalam keadaan baik-baik saja. Tolong lindungi kami Tuhan, hindarkan segala macam mala bahaya yang hendak mencelakai kami."
"Yanshen, kenapa tiba-tiba aku kepikiran dia? Tidak! Itu tidak mungkin, dia pasti baik-baik saja."
.
.
.
🥕Bersambung🥕