menceritakan tentang perjalanan anak manusia yang lahir dengan sebuah cerita tentang perjalanannya.. selamat membaca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Banyu Aji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mengungkap tabir
..
tret..
dlep..
Trettt..
Dlep..
jaka kendi bersedekap tangan sambil tersenyum ramah tatkala serbuan tembakan petir yang diluncurkan oleh kedua orang itu mengenai tubuhnya.. Seakan tidak terjadi apa - apa, petir - petir itu seolah lenyap terserap oleh tubuh jaka kendi..
"siapa anak muda ini.. ilmu apa yang sedang ia gunakan hingga petir - petirku seperti di serap oleh tubuhnya.." gumam salah seorang dari mereka.
tanpa kedua orang itu sadari, jaka kendi kini sedang menggunakan ajian raga nguntal pirang - pirang ..
Ajian raga nguntal pirang - pirang adalah salah satu ajian aneh yang jaka kendi dapatkan juga dari latihan otodidaknya di dalam jurang keberkahan.. Jurang tempat dulu jaka kendi terjatuh..
Ajian raga nguntal pirang - pirang adalah ajian yang jaka kendi ciptakan karena khasian jamur berwarna coklat..
Ajian itu adalah ajian yang membuat tubuh jaka kendi layaknya sebuah medan magnet yang dapan menarik dan menyerap energi yang berlawanan. namun jika energinya sama, ajian itu akan menolak dan membuat energi yang datang akan terpental tak terarah..
Karena yang menyerangnya adalah energi petir, kini jaka kendi mengeluarkan energi api nya sebagai penarik energi petir yang menyerangnya.. Sedang energi petir yang telah telah terserap dan masuk kedalam tubuh jaka kendi kini semakin menumpuk dan harus segera ia keluarkan..
"aku kembalikan petir - petir kalian yang sudah aku kumpulkan di dalam tubuhku ini.." ucap jaka kendi sambil memasang kuda - kuda lalu menempatkan kedua tangannya di pinggang dengan kedua telapak tangannya mengarah kepada satu orang di sebelah kirinya..
jledarrrrrrrrr ...
Tak mampu menghindar, kini tubuh salah satu orang itu hilang menjadi abu.. Aroma gosong menyerebak di sekitar pertarungan.. Betapa tidak, petir - petir yang telah jaka kendi kumpulkan di dalam tubuhnya sangatlah besar.. hingga pada saatnya ia mengelurkannya, jaka kendi sangat tidak menyangka kalau salah satu dari mereka kini telah mati konyol tak tersisa walaupun seonggok dagingnya pun.
"ya ampuuuun kenapa harus sampai jadi abu begitu si." gumam jaka kendi dalam hati.
Merasa masih ada separuh lagi yang jaka kendi harus keluarkan, jaka kendi tidak ingin membunuh satu orang yang tersisa di sebelah kanannya. Akhirnya ia pun menghempaskan sisa petir itu keatas ..
Slereeeetttt..
Darrrrrrrrrrrrrr....
"aku tidak boleh sembarangan menggunakan ajian raga nguntal pirang - pirang ini." gumam jaka kendi lalu menoleh memandang salah seorang tersisa.
Jaka kendi kemudian menetralkan energinya dan mengakhiri ajian raga nguntal pirang - pirang nya lalu menghampiri orang satu yang tersisa itu.
"maaf, aku tidak sengaja membunuhnya." ucap jaka kendi kepada orang itu dengan rasa bersalah yang sangat jelas terlihat dari raut mukanya.
"kamu, iblis dari golongan mana kamu?." ucap seorang itu yang kini wajahnya terlihat pucat pasi.
"aku bukan iblis, aku adalah seorang manusia." jawab jaka kendi mulai sedikit menyunggingkan senyumnya berharap agar orang di hadapannya tidak merasa ketakutan.
"tidak, kamu bukan manusia. Satu - satu nya manusia yang mampu mencapai wilayah langit lapis pertama ini adalah pendekar trabas tanpa batas." ucap orang itu.
jaka kendi tersentak mendengar kata - kata orang itu yang ternyata adalah seseorang yang mengenal kakeknya.
"kamu mengenali kakek ku?." ucap jaka kendi.
orang itu pun terperanjat saat ia mengetahui kalau seorang anak muda di depanya memanglah seorang manusia, dan dia adalah cucu dari pendekar trabas tanpa batas.
"apakah pendekar trabas menyimpan dendam pada kami dan mengirim cucunya ini untuk membunuhku?" gumam orang itu di dalam hatinya karena teringat masalalu dimana pendekar trabas menemuinya karena memang tidak terima mereka membunuh kedua cucunya yang sedang berlatih di atas puncak gunung pakubumi.
"apakah benar kamu adalah cucu dari pendekar trabas tanpa batas?." tanya orang itu.
" iya benar." jawab jaka kendi.
"lalu apa tujuanmu hingga tiba - tiba saja muncul di tengah - tengah pertarungan kami lalu kamu membunuh saudaraku itu." tanya orang itu.
"bukankah aku sudah mengatakannya tentang saudaramu itu. Aku tidak sengaja, dan aku sama sekali tidak berniat membunuh kalian.. Kalau aku mau, kamu pun akan bernasib sama dengan saudaramu itu." ujar jaka kendi.
Memang benar, kenyataannya untuk petir yang jaka kendi keluarkan kedua kalinya tidak ia arahkan pada orang itu..
"bukankah kalian berdualah yang berniat membunuhku dengan serbuan tembakan petir kalian hah?." ucao jaka kendi dengan suara sedikit menekan.
orang itu akhirnya menyadari tentang kenyataan yang terjadi, dan memang benar, niatnya di awal adalah untuk membunuh jaka kendi dengan tembakan petirnya.
"baiklah, aku mengakui kesalahanku.. Tapi tetap saja, kamu harus bertanggung jawab dengan apa yang telah kamu lakukan itu." ucap orang itu.
"baik, aku akan mempertanggung jawabkan apa yang sudah aku lakukan. Namun aku ingin bertanya kepadamu.. Sebenarnya kalian itu siapa? Bukankah di langit ini adalah tempat para dewa?. Dan mengapa kalian bertarung dan saling menyerang satu sama lain?." tanya jaka kendi.
Pertanyaan jaka kendi di lontarkan kepada orang itu karena sebenarnya jaka kendi sama sekali tidak merasakan aura dewa pada tubuh orang itu.. Justru jaka kendi merasakan bahwa orang yang ada di hadapannya kini adalah iblis.
"aku adalah dewa petir penjaga langit pertama ini, dan yang telah kamu bunuh itu adalah saudaraku, juga seorang dewa petir.. Kita bertarung karena kesalahpahaman saja. Dia menuduhku bersahabat dengan dewa air dari lapisan langit ke dua." jawab orang itu yang mengaku dirinya adalah dewa petir.
"lalu kenapa kamu mengenal kakek ku, kakek trabas?." tanya jaka kendi.
"kakekmu adalah sahabat kami, di pernah berkunjung kemari.." jawan dewa petir.
Jaka kendi masih bertanya - tanya dalam benaknya sendiri tentang apa yang saat ini dan selama ini ia rasakan.. Karena semenjak dia tinggal di gua keberkahan dan sering bolak - balik naik turun ke langit, ia seperti merasakan kejanggalan dengan tempat - tempat yang ia kunjungi. Dari lapisan langit pertama wilayah dewa petir, hingga lapisan langit ke empat, wilayah dewa api.
Jaka kendi merasakan ada yang tidak beres dengan wilayah itu. Juga dengan lapisan - lapisan langit diatasnya.
"apakah benar ini adalah langit.?" ucap jaka kendi.
"maksudmu.?" ucap dewa petir.
"aku belum yakin kalau sebenarnya ini adalah langit, justru aku merasakan kalau wilayah yang kalian sebut dengan langit dan lapisan - lapisannya ini adalah alam iblis." ucap jaka kendi.
"lancang sekali kamu anak muda." ucap dewa petir dengan nada meninggi.
"bukan aku lancang, tapi memang aku sama sekali tidak merasakan aura dewa di sekitar sini.. Dan jujur saja, aku merasakan bahwa kamu adalah seorang iblis." ucap jaka kendi tanpa basa basi lagi.
"apa kamu mengenal pusaka ini.?" ucap jaka kendi menunjukan pedang naga pesing yang tiba - tiba saja kini ³berada dalam genggaman tangannya.
melihat pusaka naga petir di hadapannya. dewa petir tersentak dan mundur beberapa langkah seperti ada rasa ketakutan yang teramat sangat yang dirasakannya.
"kenapa kamu mundur dewa petir?, apakah kamu takut dengan pusaka ini?." ucap jaka kendi melangkah maju mendekati dewa petir yang sedang mundur - mundur.
"jauhkan pedang itu dariku." ucap dewa petir.
"apa yang terjadi denganmu dewa petir?, bukankah ini hanyalah sebuah pedang belaka?." ucap jaka kendi yang sudah mulai yakin dengan keraguan didalam hatinya.
Jaka kendi tersenyum mengerikan sambil memandang ketakutan yang luar biasa dari dewa petir di depannya itu.
"dia iblis." gumam jaka kendi di dalam hatinya.
Jaka kendi kemudian memasukkan kembali pedang naga pesing kedalam tubuhnya agar dewa petir jelmaan iblis itu tidak lari. Karena jaka kendi memang ingin menggali lebih dalam tentang informasi dan kebenaran tentang wilayah langit itu.
"kemarilah dewa petir, aku berjanji tidak akan menampakkan pedangku lagi." ucap jaka kendi.
"bagaimana bisa kamu memiliki pedang pusaka itu manusia.?" tanya dewa petir.
"aku juga tidak mengerti, bagaimana kalau kamu bertanya langsung kepada salah satu sahabatku ini.." ucap jaka kendi lalu ia memanggil naga pesing sahabatnya keluar menampakkan diri.
"wuahahahaha.. "
Buuuuuuuhhhhhh...
Jledarrrrr..
Namun kejadian selanjutnya membuat jaka kendi melongo terhanyut dalam kengerian karena setelah naga pesing menampakkan diri, tanpa di aba - aba lagi naga pesing langsung menyemburkan api dari mulutnya yang di akhiri dengan sambaran petir hingga membuat tubuh dewa petir itu kini menjadi debu - debu yang beterbangan.