NovelToon NovelToon
CINTA SANG PEMBURU

CINTA SANG PEMBURU

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Misteri / Horor / Tumbal / Mata Batin / Cintapertama
Popularitas:823
Nilai: 5
Nama Author: Hendriyan Sunandar

Mengisahkan perjalanan hidup seorang pemuda di jaman dahulu untuk meraih cinta dan menjungjung tinggi martabat seorang ibu. hidup sebagai seorang pemburu untuk menghidupi sekaligus menjadi tulang punggung dan terpaksa melewati bermacam rintangan demi mendapatkan hati seorang wanita yang di cintainya. serta calon mertua yang tak setuju karena memiliki latar belakang yang bertentangan. serta ikut campur bangsa dari dunia lain yang tak kasat mata yang menyulitkan mewujudkan impiannya. simak keseruan kisahnya di setiap babnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendriyan Sunandar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25

Tentu saja Tumang dan mang Darman yang mengerti itu keduanya saling menatap satu sama lain. Seperti bingung dengan apa yang seharusnya mereka lakukan. Beruntung Ustad Somad yang sebelumnya sudah mendengar cerita dari Tumang dan mang Darman, dirinya paham betul apa yang di inginkan kedua tamunya itu.

Sekalipun Ustad Somad merasa dirinya memang tak memiliki ke ahlian dalam menangani orang sakit seperti yang terjadi pada bik Iroh, namun setidaknya Ustad Somad berusaha menolong semampunya namun tetap tak menyanggupi jika sampai harus datang ke rumah mang Darman.

hingga tak lama setelahnya, Ustad Somad pun beranjak dari duduknya dan masuk ke kamarnya sembari membawa sebotol air putih.

Di sanalah Ustad Somad melakukan Sholat hajat dua rakaat. lalu di akhiri bermunajat pada Allah swt. Pikiran dan hatinya ia fokuskan pada kebesaran yang Esa yang Maha Penyembuh atas semua penyakit yang menimpa hambanya. Beberapa ayat ayat penyembuh ia bacakan seiring keyakinan dan di akhiri meniupkan pada air di hadapannya.

"atas ijinMu (Allah swt) hamba mohon sembuhkan lah bik Iroh dengan syariat air ini ya Allah. Angkat penyakitnya dan jauhkan dia dari segala gangguan sihir dan pengaruh jahat setan yang terkutuk. Amin"

Gumam Ustad Somad lantas mengusap wajahnya dan kembali menemui Tumang dah mang Karim yang tampak saling diam.

dengan nada bicara yang merendah, Ustad Somad sebelumnya meminta maaf terutama pada mang Darman. Dirinya mengakui kekhilafannya namun semua itu berdasarkan alasan yang kini bisa di mengerti mang Darman dan Tumang.

Ustad Somad hanya bisa membekali air doa untuk bik Iroh dengan harapan bik Iroh akan segera sehat kembali setelah meminum air Doa itu.

terlebih Ustad Somad sadar siapa dirinya. jangankan memiliki kemampuan seperti yang di sangkakan kebanyak warga di sekitarnya. Toh memiliki gelar Ustad saja itu adalah sebutan warga yang di berikan padanya. karena di anggap orang yang paling mempuni ketika menjadi imam di surau atau memimpin jika ada acara syukuran maupun hajatan di kampung.

"sekali lagi saya minta maaf ya Mang. Semoga Allah segera menyembuhkan istri Mamang sekalipun hanya melalui air ini"

Ujar Ustad Somad pada mang Darman. Tentu saja mang Darman pun yang merasa sudah merepotkan Ustad Somad, dirinya segera berterima kasih terlebih untuk beberapa penjelasan tentang sosok pocong itu.

"saya kira kedepannya kita butuh orang yang lebih paham ilmu agama Mang. Kita butuh orang yang ahli atau setidaknya tau perkara gaib seperti ini. bukan seperti saya. Yang cuma sempat belajar sedikit sedikit sama Eyang Kasim dulu. Andai Eyang kasim masih hidup dan ada di di tengah tengah kita ya Mang ?"

Kali ini mang Darman seperti tersentak oleh satu nama yang di sebutkan oleh Ustad Somad.

Pikiranya seketika melayang ke masa beberapa tahun silam. Di mana ketika sewaktu muda dulu ketika jaman masih mencekam oleh ulah biadab para gerombolan.

Salah satu sepuh yang di kenal dengan nama Eyang Kasim atau Kiyai Kasim yang mengamalkan ilmu nya dengan mengajar para pemuda kampung mengaji dan mempelajari dasar dasar kehidupan sesuai kaidah dan syariat agama dan darigama.

Harus merandapi nasibnya karena di tangkap pihak gerombolan sewaktu tengah mengajar mengaji beberapa anak didiknya. Beberapa di antaranya yaitu ayah Tumang, Ustad Somad, dan mang Darman sendiri. serta tiga orang murid lainnya yang juga menjadi korban atas insiden naas di malam itu.

Saung pondok yang tak seberapa besar itu tiba tiba di serang dan di bakar ludes oleh kobaran si jago merah. Eyang kasim di ringkus dan di seret masuk ke dalam hutan belantara. Sementara ke enam santri yang tak mampu berbuat banyak, harus di hujani peluru senapan sampai memakan tiga korban dan jasadnya harus terbakar bersama pondok itu. dan

Tiga murid yang selamat dari kejadian itu tak lain, Ustad Somad dan ayah tumang, serta mang Darman. Dan itupun di karenakan berkat pertolongan Eyang Kasim yang sebelumnya merungkup/menutup beberapa kepala muridnya menggunakan sorbannya. Hanya saja karena ukuran sorbannya itu tak seberapa besar, tentu saja sebagian kepala dari muridnya itu tak tertutupi dengan sempurna.

Sehingga rentetan puluru senapan itu berhasil menewaskan ketiga murid lainnya. Berbeda halnya dengan Ustad Somad, ayah Tumang, dan mang Darman sendiri. Yang berhasil selamat karena hujanan peluru itu seperti tak terasa dan akhirnya berhasil kabur.

Sampai beberapa tahun setelahnya, ayah Tumang pun yang di anggap murid paling pintar di antara ke lima murid lainnya, harus menghembuskan nafas terahir karena aksi biadab dan akibat sebuah penghianatan dari teman sendiri. Dan tentunya tanpa sempat menurunkan ilmu pada Tumang dan baru sampat mengajarkan Tumang ilmu sosial membaca dan menulis dan sedikit ilmu dasar kehidupan sahaja.

"Mang? Mamang baik baik sajakan?"

Seketika lamunan mang Darman pun buyar ketika Tumang tiba tiba menegurnya dengan raut wajah tak mengerti. Beberapa saat Mang Darman tampak menghela nafas dalam dan menatap tajam pada Tumang lalu melirik pada Ustad Somad.

"apa kau yakin Tad Eyang Kasim sudah tiada? Apa karena sorbannya di berikan pada kita lalu beliau menjadi korban para gerombolan juga? Aku yakin kau lebih tau siapa Eyang Kasim Tad"

Kata kata pelan namun jelas itu yang di lontarkan mang Darman pada Ustad Somad. Sebagai murid yang baru ikut mengaji beberapa hari saja pada Eyang Kasim dulu, dirinya tentu meyakini jika Ustad Somad lebih tau sejauh mana kedigjayaan Eyang Kasim dalam hal perlindungan diri. selain Ustad Somad sudah berbulan bulan ikut belajar mengaji, Ustad Somad juga terbilang murid yang di anak emaskan setelah alm. ayah Tumang.

"maksudmu Mang? Apa kau berniat mencari beliau?"

Tanya ustad Somad menduga jika mang Darman hendak mencari keberadaan Eyang Kasim demi meminta bantuan untuk kesembuhan istrinya itu.

"tidak Tad. Bukan begitu maksudku. setelah ku pikir pikir, apa tak sebaiknya kau jadikan anak sahabat kita ini sebagai benteng di kampung kita ini. Kau ajarkan semua ilmu yang kau punya sama anak ini. Sampai suatu saat berikan dia tugas untuk mencari kebenaran tentang Eyang Kasim. Aku yakin Tad beliau itu masih hidup. Semoga anak sahabat kita ini bisa menjadi pewaris semua ilmunya Tad. Kita ini sudah mulai tua Tad. Kita perlu penerus yang jauh lebih baik. Yang matang dengan bermacam ilmu yang bermanfaat di kampung ini. Apa kau setuju Tad?

Ujar mang Darman pada Ustad Somad sembari memengang bahu Tumang. Tentu saja Tumang yang mendengar ucapan itu seperti di tujukan pada dirinya, Tumang merasa semakin bingung.

Sekalipun sewaktu dulu dirinya sempat mendengar sepenggal kisah tentang sosok Eyang Kasim, namun ketika itu dirinya terlalu kecil dan kurang mengerti pada cerita yang selalu di bicarakan orang dewasa ketika itu.

Beberapa saat Ustad Somad pun terdiam bahkan tercengang menatap mang Darman. Sedikitpun dirinya tak menduga jika pemikiran mang Darman sampai sejauh itu. Sebuah kabar burung beberapa waktu dulu. Di mana salah satu warga kampung di kabarkan sempat melihat Eyang Kasim ketika mencari kayu bakar di tepian hutan Sancang.

Sebuah hutan belantara yang di anggap keramat dengan beragam penunggu sosok gaib di dalamnya.

Tak sembarang orang yang berhasil keluar dengan selamat ketika masuk ke hutan itu apalagi membawa niat yang tidak baik. Selain hewan buas masih banyak di dalamnya, pengaruh mistis pun di kabarkan masih kental di tempat itu.

"kau yakin Mang? Apa mak Eha menurutmu akan memberikan anak ini untuk ku angkat menjadi murid?aku tau betul Mang bagaimana traumanya mak Eha pada kejadian itu. Bahkan mendengar Tumang ikut mengaji di surau bersamaku saja, emak itu seperti keberatan Mang. Tidak Mang. Pokoknya tidak. Lagi pula kabar warga yang melihat Eyang Kasim di hutan itu sudah lama Mang. apa mungkin Eyang Kasim masih hidup sekitar usia 150 ke atas?"

Balas Ustad Somad pada mang Darman dan memperkirakan umur gurunya itu sembari sesekali melirik Tumang yang tampak keheranan.

"pak Ustad !!! Mang Darman !!! kalian ini sedang membicarakan apa sebenarnya ! Tolong pak Ustad. Mang Darman. Jangan bikin saya jadi bingung begini"

Seketika Tumang merasa kesal pada Ustad Somad dan mang Darman. Terlebih obrolan kedua orang di hadapanya itu menyebut nyebut nama ibunya.

1
Akbar Aulia
setan silemin iku opo thor
Hendriyan Sunandar: ya itu ka. semacam siluman dan sebangsanya. atau mhluk tak kasat mata.
total 1 replies
Hendriyan Sunandar
amin. terima kasih atas apresiasinya. semoga menghibur dan ada sedikit sedikit hikmah yang bisa di petik dari kisah ini.
Mắm tôm
dahsyat ttg cerita ini, semoga terus sukses author!
Hendriyan Sunandar: amin ya Allah. terima kasih ka. semoga bisa menghibur dan kiranya bisa bantu promokan cerita ini ya. semoga Allah melimpahkan rejeqi yg barokah pada kk. amin
total 1 replies
Rowan
Aku udah ngebayangin situasi karakter-karakter disini ke kehidupan nyata, bisa ngeri ngeri sedap gitu loh!
Hendriyan Sunandar: terima kasih ka sudah berkenan singgah. semoga terhibur dan ada kimha yang bisa di petik di dalamnya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!