Atas desakan ayahnya, Poppy Yun datang ke Macau untuk membahas pernikahannya dengan Andy Huo. Namun di perjalanan, ia tanpa sengaja menyelamatkan Leon Huo — gangster paling ditakuti sekaligus pemilik kasino terbesar di Macau.
Tanpa menyadari siapa pria itu, Poppy kembali bertemu dengannya saat mengunjungi keluarga tunangannya. Sejak saat itu, Leon bertekad menjadikan Poppy miliknya, meski harus memisahkannya dari Andy.
Namun saat rahasia kelam terungkap, Poppy memilih menjauh dan membenci Leon. Rahasia apa yang mampu memisahkan dua hati yang terikat tanpa sengaja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Charles dengan sigap mengambilkan semangkuk sup ikan dan mendorongnya perlahan ke arah Poppy.
“Ini sup ikan, hangat dan segar. Cocok diminum malam begini,” ucapnya ramah.
Di saat yang sama, Leon baru saja selesai mengupas udang satu per satu dengan gerakan tenang namun presisi. Ia menuangkan udang-udang itu ke dalam mangkuk kecil, lalu mendorongnya ke depan Poppy.
Belum sempat Poppy berkata apa-apa, Leon tiba-tiba mengambil mangkuk sup ikan dari depan gadis itu dan memindahkannya ke sisi meja lain, seolah benda itu sama sekali tidak layak berada di hadapan Poppy.
Poppy terdiam. Alisnya sedikit berkerut, jelas bingung dengan sikap Leon yang mendadak aneh.
“Poppy tidak suka sup ikan,” kata Leon dingin tanpa menoleh. “Dia hanya suka sop ayam.”
Charles tersenyum kaku. “Maaf, Poppy. Aku tidak tahu.”
“Tidak apa-apa,” jawab Poppy sambil tersenyum, meski sorot matanya melirik Leon dengan heran.
"Ada apa dengan paman?" batinnya. "Tadi masih baik-baik saja. Siapa bilang aku tidak suka sup ikan?"
Keheningan tipis menyelimuti meja mereka.
“Poppy,” Charles membuka suara hati-hati, “sebenarnya… hubunganmu dengan Tuan Huo apa?”
Poppy menelan ludah. “Paman Leon adalah… Paman dari mantan tunanganku. Andy,” jawabnya akhirnya.
“Mantan tunangan?” Charles terkejut, matanya melebar.
“Iya, kami sudah putus,” tambah Poppy cepat.
“Oh… begitu,” gumam Charles sambil mengangguk pelan. “Tapi melihat kedekatan kalian, aku kira Paman Huo adalah saudaramu.”
“Kita tidak ada hubungan darah,” potong Leon cepat, nadanya datar tapi tajam. “Dan tidak perlu memanggilku paman.”
“Iya… baik,” jawab Charles, sedikit canggung.
Charles kembali menatap Poppy. “Kalau begitu, bagaimana kalau malam ini kita jalan-jalan sebentar?”
Belum sempat Poppy menjawab—
“Sudah malam,” sela Leon tanpa ekspresi. “Masih mengajak anak gadis orang keluar?”
Poppy refleks menegakkan punggungnya, wajahnya memanas. Ia duduk di antara dua pria itu seperti wasit tak resmi, hanya bisa tersenyum kaku.
“Kalau begitu… besok saja?” Charles mencoba lagi. “Kalau ada waktu.”
“Tidak ada waktu,” jawab Leon cepat. “Poppy harus bekerja. Dan ini Macau, bukan Hongkong.”
Tatapan Leon menajam ke arah Charles, membuat pria itu tanpa sadar meluruskan punggungnya.
“Jadi… Poppy kapan punya waktu luang?” tanya Charles, kali ini langsung pada Poppy.
“Aku—”
Belum selesai bicara, Leon kembali memotong.
“Dia tidak punya banyak waktu,” ucap Leon dingin. “Kalau salah bergaul, ayahnya akan menghukumnya. Kalau itu terjadi, apa kau bisa bertanggung jawab?”
Charles terdiam, jelas tertekan oleh nada dan tatapan Leon.
Poppy buru-buru menimpali, meski matanya penuh tanda tanya menatap Leon.
“Benar kata paman. Papaku memang sangat keras,” ujarnya, menjadikan itu alasan… sekaligus menutupi kebingungannya sendiri.
Leon akhirnya menyandarkan punggung ke kursi, mengambil sumpitnya, lalu berkata pelan namun penuh makna,
“Makanya, jangan sembarang mengajaknya keluar.”
Beberapa saat kemudian, setelah makan malam selesai, ketiganya meninggalkan meja dan berjalan menuju pintu keluar restoran.
“Poppy, ada yang ingin aku bicarakan denganmu,” ucap Charles sambil menghentikan langkahnya.
Poppy menoleh ke arah Leon. “Paman, tunggu aku di mobil. Sebentar saja, aku menyusul.”
Leon menatapnya sejenak. Senyum tipis terlukis di sudut bibirnya—senyum yang lebih mirip topeng daripada kehangatan.
“Jangan lama,” ucapnya singkat sebelum melangkah pergi.
Begitu Leon menjauh, Charles menatap Poppy dengan ekspresi serius namun lembut.
“Poppy, Paman Huo sepertinya sangat mengkhawatirkanmu,” ucapnya.
“Di sini hanya paman yang aku kenal,” jawab Poppy jujur. “Jadi wajar kalau aku harus patuh padanya. Dia seperti… senior yang menjagaku.”
Charles terdiam sesaat, lalu tersenyum kecil. “Poppy, bolehkah kita saling bertukar nomor telepon?”
Poppy terdiam. Ia menimbang sejenak sebelum akhirnya menggeleng pelan.
“Aku senang bertemu kembali denganmu,” katanya lembut. “Kalau memang kita berjodoh, aku sendiri yang akan memberikan nomorku.”
Charles tertawa pelan, tidak tersinggung. “Baiklah. Aku akan menunggu hari itu.”
Ia lalu mengangkat tangan dan menyentuh kepala Poppy dengan ringan, penuh keakraban.
Di luar restoran, Leon duduk di dalam mobil dengan rahang mengeras. Matanya menyipit tajam menatap ke arah Poppy dan Charles yang masih berdiri cukup dekat.
Di kursi depan, Vic memperhatikan pantulan wajah bosnya lewat cermin tengah. Senyum tipis terbit di bibirnya.
"Bos cemburu," batin Vic. "Dan ini pertama kalinya."
up nya jgn dkt ya thor
semangatt💪💪💪💪
gantung nih