Seorang dokter muda bernama Mika dari dunia modern terseret ke masa lalu — ke sebuah kerajaan Jepang misterius abad ke-14 yang tak tercatat sejarah. Ia diselamatkan oleh Pangeran Akira, pewaris takhta yang berhati beku akibat masa lalu kelam.
Kehadiran Mika membawa perubahan besar: membuka luka lama, membangkitkan cinta yang terlarang, dan membongkar rahasia tentang asal-usul kerajaan dan perjalanan waktu itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon latifa_ yadie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan dari Bawah Elara
Sudah tiga hari sejak cahaya biru itu muncul di horizon laut.
Awalnya cuma seberkas kecil — seperti kilatan bintang jatuh yang salah arah.
Tapi sekarang, cahaya itu tumbuh, menembus awan, memantulkan riak halus di laut Elara.
Aku tahu cahaya itu bukan bintang.
Itu… sesuatu yang menunggu.
Dan semakin lama aku menatapnya, semakin kuat getaran tanah di bawahku.
“Aki,” suara Elara terdengar lembut pagi itu, “aku mulai mendengar hal-hal aneh dari bawahku.”
Aku menatap laut dari tepi bukit. “Apa maksudmu ‘hal-hal aneh’?”
“Suara yang bukan suaramu, bukan suaraku. Mereka berbisik. Kadang mereka memanggil namaku.”
“Memanggil namamu?”
“Ya. Tapi cara mereka mengucapkannya… seperti menyalahkan.”
Aku diam lama.
“Elara, mungkin itu gema waktu lama. Dunia ini lahir dari sisa waktu yang belum tenang.”
“Kalau begitu, apakah mereka bisa naik ke permukaan?”
Aku menatap tanah di bawah kakiku yang bergetar samar. “Kalau dunia ini terus tumbuh, mungkin iya.”
“Kalau mereka muncul… apa aku harus takut?”
Aku tersenyum tipis. “Takut itu manusiawi, Elara. Tapi jangan biarkan takut membuatmu berhenti belajar.”
“Aku akan mencoba, Aki.”
Tapi dalam hati, aku tahu — sesuatu sedang bangun di bawah sini.
Sore itu, aku turun ke lembah, tempat getaran terasa paling kuat.
Rumput-rumput yang biasanya berwarna hijau cerah kini mulai pudar ke abu-abu.
Dan di tengahnya, muncul retakan panjang di tanah, bercahaya biru dari dalam.
Seperti luka di tubuh dunia.
Aku berlutut di tepi retakan itu.
Udara di sekitarnya dingin, berdesir seperti napas makhluk yang tertidur terlalu lama.
“Elara,” panggilku pelan, “boleh aku menyentuhnya?”
“Aku tidak tahu apakah itu menyakitiku atau tidak, tapi aku percaya padamu.”
Aku mengangguk pelan, lalu meletakkan tangan di atas cahaya itu.
Sekejap, seluruh dunia membeku.
Waktu berhenti — angin, rumput, bahkan detak jantungku terasa berhenti sesaat.
Dan kemudian, dari kedalaman tanah, suara muncul.
“Akhirnya… kau dengar kami.”
Aku tersentak. “Siapa kau?”
“Kami yang tertinggal. Kami yang tidak sempat menjadi waktu.”
Aku menarik tanganku cepat, tapi suara itu masih berlanjut, kini lebih banyak, lebih jelas, lebih… manusiawi.
“Elara menutup kami di bawahnya. Ia lahir dari kami, tapi melupakan kami.”
Aku berbisik, “Kau bicara tentang dunia lama?”
“Tentang semua dunia yang gagal.”
Udara tiba-tiba menjadi berat.
Cahaya dari retakan itu berdenyut makin kuat, seperti nadi yang memompa darah.
“Buka pintunya, Penjaga. Biarkan kami keluar. Kami juga ingin hidup.”
Aku menggertakkan gigi. “Tidak. Dunia ini baru mulai belajar bernapas. Aku nggak akan biarkan kalian menghancurkannya.”
Suara itu tertawa pelan, tapi nadanya bukan tawa manusia.
“Kau pikir dunia baru bisa hidup tanpa fondasi dunia lama?”
“Kau pikir Elara bisa bertahan tanpa mengingat asalnya?”
Tiba-tiba, tanah di bawahku berguncang.
Aku mundur, hampir jatuh.
Cahaya biru itu berubah menjadi warna gelap — seperti api yang padam tapi masih panas.
“Kami tidak ingin menghancurkan. Kami hanya ingin diingat.”
Dan seketika, semuanya sunyi lagi.
Hanya suara napasku sendiri dan hembusan angin yang terdengar.
Malamnya, aku duduk di tepi jendela, menatap langit Elara.
Bintang-bintang malam ini tampak redup.
“Elara,” panggilku lembut, “aku bicara dengan mereka.”
“Mereka… dunia lama?”
Aku mengangguk. “Ya. Mereka bilang kau lahir dari mereka.”
“Kalau begitu, kenapa mereka marah?”
“Mungkin karena mereka merasa dilupakan.”
“Aku tidak pernah berniat melupakan. Aku bahkan tidak tahu mereka ada.”
Aku tersenyum miris. “Begitulah manusia, Elara. Kadang kita melukai tanpa sadar.”
“Kalau begitu, aku harus apa, Aki?”
“Jangan lawan mereka. Tapi jangan biarkan mereka mengambil alihmu.”
“Kalau aku ingin menenangkan mereka… bisakah kau temani aku?”
“Tentu. Aku janji.”
Langit bergemuruh perlahan, seperti dunia menarik napas panjang.
Aku tahu, malam ini dunia akan mencoba bicara dengan masa lalunya.
Dan aku harus siap kalau masa lalu itu tidak ingin dia bicara.
Saat tengah malam tiba, bumi bergetar.
Retakan itu terbuka lebih lebar, mengeluarkan cahaya biru yang menembus awan.
Dari dalamnya, muncul siluet-siluet kabur — manusia tanpa wajah, tapi dengan bayangan yang memantulkan emosi: marah, sedih, rindu.
Aku berdiri di tepi lembah.
“Elara, ini mereka.”
“Aku bisa merasakannya. Mereka berat… seperti kenangan.”
“Bicara dengan mereka. Dunia baru harus berdialog, bukan berperang.”
Langit perlahan berpendar, dan suara lembut tapi kuat terdengar dari segala arah — suara Elara sendiri, tapi lebih bergema, lebih besar dari sebelumnya.
“Kalian… dari mana asalnya?”
Satu bayangan menjawab, suaranya gemetar.
“Kami dari dunia yang dulu bernama Akira.”
Aku tertegun. “Akira…?”
“Dunia itu tidak sempat hidup penuh. Waktu berhenti di tengah. Kami adalah detik-detik yang tersisa.”
Elara bergema lagi, suaranya bergetar halus.
“Kalau begitu, aku meminta maaf. Aku lahir dari sisa-sisa kalian. Tapi aku bukan kalian.”
“Kami tidak ingin kau meminta maaf,” jawab bayangan itu. “Kami ingin kau membawa kami bersamamu.”
Aku menatap langit. “Maksud mereka… ingin disatukan?”
“Mungkin.”
Aku menggenggam liontin, yang kini bergetar hebat. “Ren… kalau kau bisa dengar, beri aku petunjuk.”
Lalu, samar-samar dari dalam cahaya liontin, suara pelan terdengar:
“Jangan tolak masa lalu, Aki. Dunia baru tumbuh dari yang pernah gagal. Tapi pastikan yang kau satukan bukan amarah… melainkan memori.”
Aku menatap lembah dan berteriak, “Elara, dengarkan! Jangan serap mereka sebagai kekuatan, tapi sebagai kenangan. Jadikan mereka bagian dari dirimu — bukan bayanganmu!”
Langit tiba-tiba pecah dengan kilatan cahaya.
Bayangan-bayangan itu menjerit, bukan karena kesakitan, tapi seperti sedang dilepaskan.
Cahaya biru mengalir ke udara, lalu masuk ke dalam tanah, menyatu dengan warna lembut Elara.
Langit berubah menjadi emas pucat, dan dunia bergetar sekali — lalu tenang.
Pagi tiba.
Aku berjalan ke lembah yang semalam terbuka.
Sekarang, retakannya sudah menutup.
Tanahnya berwarna abu-abu muda, tapi hangat.
“Elara, kau baik-baik saja?”
“Aku tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan itu, Aki.”
“Kenapa?”
“Aku merasa lebih berat, tapi juga lebih utuh. Seperti seseorang yang baru tahu masa lalunya.”
Aku tersenyum. “Mungkin itu yang disebut ‘dewasa’.”
“Dewasa… apakah itu artinya aku sudah berhenti belajar?”
Aku menggeleng. “Tidak. Dewasa artinya kau tahu kapan harus berhenti takut.”
“Kalau begitu, aku ingin jadi dunia yang dewasa.”
Aku tertawa kecil. “Pelan-pelan saja. Dunia yang tumbuh terlalu cepat bisa patah.”
“Aku akan hati-hati, Aki.”
Angin bertiup lembut, membawa aroma tanah yang baru basah.
Untuk pertama kalinya, Elara terasa benar-benar hidup — bukan hanya karena ada langit dan laut, tapi karena sekarang ia punya masa lalu.
Menjelang sore, aku duduk di batu besar di tepi danau.
Cahaya matahari Elara memantul di air seperti debu emas.
Aku membuka liontin dan menatap cahaya biru yang berdenyut lembut di dalamnya.
“Ren, kau dengar? Elara sekarang sudah tahu siapa dirinya.”
Tidak ada suara, tapi air di danau bergetar pelan.
Lalu angin berbisik lembut:
“Aku dengar. Dan aku bangga pada kalian.”
Aku tersenyum. “Kau masih di sana, ya.”
“Selalu. Dunia ini sekarang lengkap, Aki. Tapi ingat — kalau dunia bisa belajar tersenyum, ia juga bisa belajar kecewa.”
Aku menatap langit yang perlahan berubah ungu. “Maksudmu?”
“Suatu hari nanti, Elara akan ingin tahu kenapa manusia meninggalkan dunia lamanya. Dan saat itu tiba, kau harus siap menjawab.”
Aku terdiam lama.
“Dan kalau aku nggak tahu jawabannya?”
“Maka biarkan dia menemukannya sendiri.”
Malam turun perlahan.
Langit Elara kini lebih indah dari sebelumnya — bintang-bintangnya berwarna ganda: sebagian biru lembut, sebagian emas pucat.
Seolah dua dunia akhirnya menyatu.
Aku menatapnya lama, lalu berbisik, “Elara, kau masih terjaga?”
“Aku tidak tidur, Aki. Aku bermimpi.”
“Mimpi tentang apa?”
“Tentang dunia sebelumku. Tentang mereka yang ingin diingat. Aku ingin membuat tempat bagi semua kenangan itu.”
Aku tersenyum kecil. “Kau ingin menciptakan tempat bagi masa lalu?”
“Ya. Aku akan membuat langit di dalam diriku. Tempat semua yang pernah hilang bisa bersinar lagi.”
Aku menatapnya dengan perasaan aneh — antara bangga dan takut.
“Elara… dunia yang mencintai masa lalunya adalah dunia yang bijak. Tapi hati-hati, jangan sampai masa lalu menelanmu.”
“Aku tahu. Karena aku punya kamu untuk mengingatkanku.”
Aku tertawa pelan. “Kau benar-benar tahu cara membuatku tenang.”
“Aku belajar dari manusia yang menamai aku.”
Langit berpendar lembut, seperti senyum dari dunia itu sendiri.
Dan di antara cahaya bintang yang baru lahir, aku bisa merasakan kehadiran dua sosok — Sensei dan Ren — berdiri di ujung cakrawala, menatapku dalam diam.
Aku menutup mata dan berbisik:
“Terima kasih… karena kalian memberi dunia ini kesempatan untuk belajar.”
Angin menjawab lembut,
dan untuk pertama kalinya, aku merasa bukan hanya waktu yang berjalan —
tapi dunia pun mulai mengerti makna cinta yang bertahan.