NovelToon NovelToon
Membawa Bayi Kembar Sang CEO

Membawa Bayi Kembar Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Lari Saat Hamil / Single Mom
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Pena cantik

Hidup Anaya tidak pernah beruntung, sejak kecil ia selalu di jauhi teman-temannya, dirundung, di abaikan keluarganya. kekacauan hidup itu malah disempurnakan saat dia di jual kepada seorang CEO dingin dan dinyatakan hamil setelah melakukan malam panas bersama sang CEO.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

sikap aneh angkasa

Keesokan hari ini Farah bangun lebih awal dari biasanya. Ia menyiapkan sarapan sederhana— roti panggang dengan selai strawberry buatan nya sendiri.

Biasanya, angkasa bangun jam 7 pagi. Tapi hari ini berbeda, ia bangun lebih cepat dari biasanya.

"Pagi ma," sapa nya tersenyum manis sambil duduk di meja.

Farah tersenyum lembut, "Pagi sayang...kok tumben bangun nya cepat? Masih jam 6 pagi loh ini?" Farah berjalan mendekati putranya yang duduk di meja makan.

"Tidak apa-apa," jawabnya pelan, hampir terdengar seperti menutupi sesuatu.

Farah menyipitkan matanya, jelas ia tahu bahwa putranya menutupi sesuatu darinya.

Namun ia tidak bertanya lagi, ia tidak akan mendesak putranya untuk bercerita. Nanti ia akan tanya pelan-pelan padanya.

"Baiklah, mama buat susu dulu. Sebentar lagi adik kamu pasti bangun." Farah mengusap lembut kepala putranya.

Farah sibuk menyiapkan roti di piring dan membuat dua gelas susu putih hangat. Sementara angkasa, dari kursinya ia memperhatikan ibunya terus seolah memastikan Mama baik-baik saja.

Saat Anaya turun sambil mengucek mata, angkasa langsung berdiri dan memegang tangan adiknya. Seolah ia takut jika adiknya itu terjatuh.

"Hati-hati tuyun tangga nya." ujarnya tegas.

Anaya memiringkan kepalanya menatap wajah sang Abang, jelas ia bingung dengan sikap abangnya pagi ini.

"Acu kan Ndak lali, bang."

"Cama caja, Pokoknya hati-hati." ucapnya sambil menuntun Anaya.

Anaya hanya memutar matanya malas, ia mengikuti saja kemauan abang nya itu.

Farah menatap mereka sambil tersenyum kecil, "Kamu kok perhatian banget hari ini?" tanya Farah sambil menaruh sarapan di meja.

Angkasa hanya mengangkat bahunya, "Bial aman, kalna pelempuan catu ini kalau jalan Ndak tengok kanan Kili."

...----------------...

Setelah sarapan mereka bertiga menuju toko. Dimas disana, seperti biasa ia selalu datang ke toko sebelah pergi bekerja untuk membersihkan kaca etalase.

Anaya langsung berlari menghampirinya. "Paman!" serunya.

Namun angkasa meraih tangannya dengan cepat dan berkata. "Pelan-pelan, jangan lari-lari." ucapnya dengan nada tegas.

Anaya mengerutkan dahinya, "Abang, kenapa cih?!"

Dimas menatap bingung, "Apa apa, boy?" tanya berjongkok di depan mereka.

angkasa berdiri tegap, seolah memastikan Anaya tidak tersandung atau terluka.

"Ngak apa-apa, paman. Aya halus hati-hati bial Ndak jatuh."

Dimas terseyum, mengira itu adalah hal biasa. sebagai seorang Abang, pasti akan melindungi adiknya.

Dimas mengusap lembut kepalanya. "Hm.. sekarang Abang Aca sudah besar ya? Sudah bisa melindungi adik."

"Baiklah, ayo kita masuk. paman bawakan sesuatu untuk kalian."

Namun saat Dimas hendak meraih tangan Anaya dengan cepat angkasa menarik Anaya sedikit kebelakang. Memberi jarak yang biasanya tidak pernah ada di antara mereka.

Farah menyipitkan matanya melihat sikap putranya, pagi ini terasa aneh. Ada sesuatu yang berbeda.

Dimas menatapnya seolah bertanya apa yang terjadi dengan angkasa. Namun Farah hanya bisa menggelengkan kepalanya.

Sepanjang hari sikap angkasa semakin terasa aneh. Saat Farah hendak mengangkat loyang panas, angkasa langsung datang mendekat.

"Ma, hati-hati... Jangan pegang lama-lama nanti panas." ujarnya terlihat begitu khawatir.

Ketika ada pelanggan datang, angkasa langsung berdiri di depan sang adik. Seakan melindungi adik nya dari orang asing.

Biasanya, para pelanggan yang datang akan bermain dengan mereka, terutama dengan Anaya. Tak jarang mereka meminta berfoto dengan si kembar.

Karena wajah mereka yang lucu dan imut mencuri perhatian para pelanggan yang datang. Bahkan ada yang datang semata-mata agar bisa bertamu dengan si kembar.

Farah lagi-lagi di buat heran dengan sikap putranya itu.

Anaya sampai cemberut karena satu harian ini angkasa terlalu ketat dengannya. Ini itu semuanya tidak boleh membuat gadis kecil itu merasa muak dengan sikap abangnya.

Ketik Farah hendak memindahkan kotak kue berat, angkasa berkata. "Bial acu caja, ma."

Tentu saja Farah langsung melarang karna kotak nya dua kali lebih besar dari badannya.

Dimas memperhatikan perubahan itu. Ia menghampiri angkasa yang sedang menata kue-kue kecil ke dalam kotak.

"Angkasa," panggil nya lembut.

"Ya, paman." jawabnya tanpa menoleh.

"Kamu kelihatan berbeda hari ini. Ada apa? Apa ada yang kamu pikirkan?" tanya nya hati-hati.

"Ndak ada, paman."

Dimas mengamati lebih dalam. Tatapan bocah itu lebih tajam dan dewasa untuk anak seusianya.

Saat Dimas hendak bertanya lagi, suara cempreng Anaya menghentikan nya.

"Abang, cini bantu acu!"

Angkasa langsung berlari kecil menghampiri adik nya. Sebelum pergi ia menatap Dimas dengan pandangan yang sulit dijelaskan.

Seolah berkata ia harus melindungi mama dan adik.

Dimas mengerutkan keningnya, "Sebenarnya, apa yang terjadi tadi malam? Mengapa aku merasa ada sesuatu yang dia sembunyikan." gumam Dimas.

Sementara itu Farah menatap dari kejauhan dengan perasaan campur aduk.

Sikap putranya berubah aneh sejak pagi tadi.

Siang menjelang sore toko roti mulai sepi. Anaya tidur di ruang istrahat setek bermain begitu aktif satu harian.

Angkasa duduk di pojok ruangan, hari ini bocah itu banyak diam. Biasanya ia suka bercanda dan sibuk dengan mainannya. Tapi hari ini, ia hanya diam menatap lantai sambil menggoyang-goyangkan kaki kecilnya.

Farah memperhatikan dari jauh.

Sudah sejak pagi tadi putranya berbeda.

lebih tegang, lebih posesif, lebih mudah tersentak, dan matanya seperti menyimpan sesuatu yang berat.

Farah mengelap tangan lalu mendekat. Ia duduk di samping angkasa tanpa langsung bicara.

"Sayang," panggil Farah lembut.

"Angkasa menoleh sebentar, "Ya, ma." jawabnya.

"Kamu ngak apa-apa?" tanya Farah.

Angkasa menggeleng kecil, "Acu Ndak apa-apa. Kenapa mama beltanya cepelti itu?"

Jawabannya terlalu spontan.

Farah Tersenyum kecil, berusaha tidak membuat putranya merasa terpojok.

"Mama lihat, hari ini angkasa perhatian sekali. Jagain mama terus, jagain Anaya juga."

Angkasa tersenyum namun tidak menjawab.

Farah membawa tangannya mengusap lembut rambut angkasa yang biasa dibiarkan berantakan.

"Kamu boleh cerita apapun sama mama. Mama ngak akan marah,"

Angkasa menggigit bibir bawahnya, menunduk. Farah akhirnya bertanya dengan lembut.

"Tadi malam, apa kamu bangun?"

Angkasa menelan slivarnya, ia masih diam Tidak menjawab.

Farah menunggu, tidak mendesak. Hening beberapa detik itu terasa panjang.

Angkasa akhirnya mengangguk pelan.

Farah menghela nafas pelan, "Kamu melihat mama, sedih?"

Kali ini angkasa tidak mampu menahan diri. Ia langsung memeluk Farah, menenggelamkan wajahnya disana.

Ia mengangguk pelan, "Mama jangan cedih lagi... Aca Ndak cuka." suaranya pecah.

Farah tersentak, ia langsung memeluk erat putranya itu.

"Aca Sayang. Mama ngak apa-apa, nak. Mama baik-baik saja.

Angkasa menggeleng keras dalam pelukannya. "Mama bohong! Aca liat mama nangis, mama cedih."

Farah menepuk punggung kecil itu, menahan air matanya. "Maaf ya, sayang. Mama ngak bermaksud buat kamu khawatir."

Farah tidak menyadari bahwa kelalaian tadi malam telah membuat putranya sedih.

Angkasa mengangkat wajahnya, matanya mungil itu Tampak memerah. "Aya tanya coal papa, telus mama nangis. Itu belalti papa itu Olang jahat... Cudah buat mama belcedih, kan?"

Farah membeku.

Angkasa menegakkan tubuhnya menatap farah dengan ketegasan yang tidak seharusnya dimiliki oleh anak seusianya.

"Kalau papa itu buat mama cedih. Angkaca Ndak mau punya papa, cukup mama caja."

"Angkasa," Farah sekuat tenaga menahan suaranya yang bergetar.

Angkasa kembali memeluknya, kali ini lebih erat. "Acu bakal jagain mama cama adik. Acu Ndak mau mama cedih lagi."

Farah memejamkan mata, airmata yang ia tahan akhirnya jatuh juga. Ia memeluk putranya erat, membenamkan wajahnya di rambut lembut angkasa.

"Mama punya acu dan aya. Mama jangan cedih lagi. Acu Ndak cuka mama nangis,"

Farah mengangguk kan kepalanya, "Maafkan mama ya sayang. Mama janji ngak bakal nangis lagi."

Farah mencium pucuk kepala putranya.

Angkasa menatap ibunya, "Angkaca bakal jagain mama dan adik. Angkaca kan laki-laki... Kata paman, laki-laki itu halus bica melindungi Olang-olang yang di cayang. Dan Angkaca bakal jagain mama Dali olang jahat itu."

Farah terharu mendengar itu. Ia mraih wajah angkasa dengan kedua tangannya.

"Kamu masih kecil sayang, itu bukan tugas kamu. Mama ngak mau kamu berfikiran seperti itu lagi."

Angkasa mencoba protes, "Tapi... Kalau mama cedih—"

Farah menempelkan kening mereka, "Kalian cukup jadi anak mama, itu sudah cukup. Karna kalian adalah hidup mama."

Angkasa kembali memeluk Farah, kali ini lebih tenang.

Farah membelai punggung mungil itu, "Maaf kalau mama udah buat kamu takut. Mama janji, mama akan lebih hati-hati lagi." gumam Farah dalam hati.

Ia merasa bersalah, karna keteledorannya memberikan beban bagi putranya.

1
Ma Em
Mungkin itu emang cicit ibu .
Ma Em
Angkasa anak baik dan berjanji akan melindungi ibu dan adiknya .
Ma Em
Semoga Farah selalu bahagia bersama sikembar dan usaha kue nya semakin sukses , Jackson sdh tiga tahun tdk bisa menemukan anak2 nya biar saja Jackson merasakan penyesalannya .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!