PLEASE FOLLOW DEAMERIAWAN UNTUK MENDAPATKAN NOTIFIKASI UPDATE NOVEL TERBARU
Caren Danisha sosok siswa yang multi talenta. Diusia belia dia harus merasakan pernikahan dengan laki-laki yang di cintai nya. Namun dengan berjalannya waktu, pernikahan tidak hanya butuh sekedar cinta tapi komitmen untuk bersama selamanya. Perbedaan mulai muncul satu persatu, sehingga akhirnya ia jatuh cinta untuk kedua kalinya dengan orang yang berbeda. Terkadang dia pun bingung siapakah yang disebut sebagai cinta pertamanya. Karena 2 sosok ini ingin sama-sama dimilikinya.
Hasratnya semakin membara untuk berpetualang sejak hatinya porak poranda.
Cinta telah menghancurkan harga diri dan kepercayaannya.
Apakah Caren akan tetap bermain dengan permainan cintanya ?
Atau dia akan menghentikan saat cintanya berlabuh pada sosok yang tepat.
Hasrat akan selamanya ada ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon deameriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GALAU
Kali ini, ciumannya lebih dalam dan menggoda, membuatku semakin sulit untuk berpikir jernih.
Tangannya semakin ahli mempermainkan area sensitif ku, membuatku menggeliat dan tanpa sadar mengerang lebih keras.
"Mmmhhh ... Sayang ..." desahku lagi, kali ini lebih lirih dan tak terkendali.
Aldian tersenyum mendengar desahanku. "Suka ?" bisiknya di telingaku, lalu menggigit kecil daun telingaku, membuatku merinding.
"Jangan tanya gitu ..." jawabku dengan suara bergetar, berusaha menahan diri. "Kamu nakal ..."
"Nakalnya cuma sama kamu" balas Aldian, lalu kembali fokus pada area kewanitaanku. Sentuhannya semakin intens, membuatku merasa seperti akan meledak.
"Sayang, aku ... aku nggak kuat ..." ucapku lirih dengan napas tersengal-sengal.
"Nggak kuat apa ?" goda Aldian, sambil terus memberikan sentuhan yang memabukkan.
"Nggak kuat ... nahan ..." jawabku jujur.
Aldian tertawa kecil mendengar pengakuanku. "Ya udah, jangan ditahan" bisiknya, lalu semakin mempercepat tempo permainannya.
Aku memejamkan mata, membiarkan diriku sepenuhnya terhanyut dalam kenikmatan yang diberikan oleh Aldian. Aku tidak peduli lagi dengan apa pun yang terjadi di luar tenda ini. Yang aku tahu, aku ingin merasakan sentuhan Aldian sepuasnya.
"Sayang ... ahhh ..." desahku semakin sulit aku menahan suara yang akan keluar dari tenggorokan ku, saat aku merasakan puncak kenikmatan semakin dekat.
"Iya sayang, keluarkan semuanya ..." bisik Aldian, lalu semakin mempercepat gerakannya.
Aku menggenggam erat bahu Aldian, tubuhku menegang saat puncak kenikmatan itu akhirnya datang. Aku menjerit tertahan, merasakan sensasi luar biasa yang menjalar ke seluruh tubuhku.
"Ahhh ... Sayang ... ahhh ..."
Setelah beberapa saat, aku mulai tenang. Napas ku masih tersengal-sengal, tapi aku merasa sangat lega dan puas. Aldian menciumiku lembut, lalu memelukku erat.
"Kamu hebat" bisiknya di telingaku.
Aku tersenyum, menyandarkan kepalaku di dadanya. "Kamu juga" balasku.
Tiba-tiba, Aldian menghentikan pelukannya. Ia menatapku dengan tatapan nakal.
"Belum selesai" bisiknya, lalu menarik celana jeans ku hingga terlepas sepenuhnya.
Aku tersentak kaget. Sekarang, aku benar-benar full hanya tertutup oleh selimut saja di dalam tenda.
"Aldian ..." tegur ku pelan, merasa sedikit malu.
Aldian tidak menghiraukan ku. Ia terus menatapku dengan tatapan lapar, seolah ingin memakan tubuhku hidup-hidup.
"Kamu cantik banget. Gak sabar nunggu kita nikah" bisiknya lagi, lalu mulai menciumi seluruh tubuhku.
Ia mulai dari leherku, lalu turun ke dadaku, perutku, hingga akhirnya berhenti di area intimku. Aku menggeliat kegelian saat lidah Aldian mulai memainkan area sensitif ku.
"Sayang ... ahhh ... jangan ..." pintaku, tapi suaraku hanya lirih dan tak berdaya.
Aldian tidak mendengarkan ku. Ia terus memberikan kenikmatan yang tak terhingga, membuatku semakin kehilangan kendali atas diri sendiri.
"Sayang ... aku ... aku mau lagi ..." ucapku akhirnya, menyerah pada godaan Aldian.
Aldian tersenyum mendengar permintaanku. Ia mengangkat tubuhku, lalu memindahkan ku ke atas tubuhnya.
"Kalau gitu, sekarang giliran kamu" bisiknya nakal, lalu berbaring telentang di bawahku.
Aku tersenyum, lalu mulai menciumi wajah Aldian. Aku mencium keningnya, pipinya, hidungnya, hingga akhirnya bibirnya. Ciumanku lembut dan penuh kasih sayang, sebagai ungkapan rasa terima kasihku atas semua yang telah ia berikan padaku.
Setelah puas menciumi wajahnya, aku mulai turun ke lehernya. Aku menciumi leher Aldian dengan penuh gairah, membuat Aldian menggeliat kegelian.
"Kamu nakal" bisik Aldian, dengan suara bergetar.
Aku tidak menjawab. Aku terus menciumi leher Aldian, lalu turun ke dadanya. Aku benar-benar membuat Aldian mendesah merasakan kenikmatan.
"Ahhh ... itu enak ..." desah Aldian, dengan suara serak.
Aku tersenyum mendengar desahannya. Aku tahu bahwa aku telah berhasil membangkitkan hasrat Aldian.
Aku terus memberikan ciuman dan sentuhan yang memabukkan ke seluruh tubuh Aldian. Aku ingin membalas semua yang telah ia lakukan untukku, meskipun aku tahu bahwa aku tidak akan pernah bisa menyamai kehebatannya.
Aku tahu, ada satu hal yang tidak akan kami lakukan malam ini. Kami berdua sepakat untuk menjaga kesucian kami hingga akad nikah tiba. Kami ingin memberikan yang terbaik untuk satu sama lain, dan kami percaya bahwa pernikahan adalah cara terbaik untuk memulai hubungan kami.
Meskipun kami tidak akan melakukan hubungan intim sepenuhnya, kami tetap bisa saling memuaskan dan saling mencintai. Kami akan terus memberikan ciuman, sentuhan, dan pelukan yang hangat hingga pagi menjelang.
"Aku sayang banget sama kamu" bisikku di telinga Aldian.
"Aku juga sayang banget sama kamu" balas Aldian, lalu mengeratkan pelukannya.
Malam itu, di dalam tenda kecil yang dingin, kami berdua saling memeluk dan mencintai. Kami tahu bahwa kami telah menemukan belahan jiwa kami, dan kami tidak sabar untuk menghabiskan sisa hidup kami bersama. Kami terpuaskan, saling mencintai, dan berjanji untuk selalu bersama, apapun yang terjadi.
Di balik rimbunnya pepohonan, tidak jauh dari lokasi perkemahan The Eagle, dua orang anggota The Jackal, Reno dan Jaka, mengamati dari kejauhan. Mereka berdua sengaja berkemah di area ini untuk memantau pergerakan musuh bebuyutan mereka.
Reno mengamati dengan teropong, sementara Jaka duduk bersandar di pohon dengan wajah masam.
Reno : "Sialan, kompak banget mereka. Lihat, polisi aja bisa ketawa-ketiwi bareng mereka. Kayak keluarga beneran"
Jaka : "Iya, aku juga lihat. Beda banget sama kita"
Reno : "Beda gimana ?"
Jaka : "Ya beda lah ! Kita mah, ketemu polisi langsung kocar-kacir. Dikit-dikit razia, dikit-dikit digebukin. Masyarakat juga ngeliat kita kayak sampah"
Reno : "Ya kan emang kita sering bikin onar"
Jaka : "Itu dulu, Ren. Sekarang, apa yang kita dapetin dari bikin onar ? Cuma musuh, masalah, sama pandangan jelek dari orang-orang"
Reno terdiam, menurunkan teropongnya. Ia menatap Jaka dengan tatapan bingung.
Reno: "Maksud mu ?"
Jaka : "Aku mikir, Ren. Apa bener The Jackal ini genk motor yang bener ? Apa bener kita ini genk motor yang solid dan saling dukung ?"
Reno : "Ya iyalah ! Kita kan The Jackal ! Kita harus solid, harus kuat !"
Jaka : "Tapi kenyataannya ? Kita cuma berantem, bikin rusuh, sama nyari masalah. Kita nggak pernah saling dukung, nggak pernah ngasih nilai positif ke masyarakat"
Reno : "Tapi itu kan tradisi kita ! Kita harus mempertahankan tradisi The Jackal !"
Jaka : "Tradisi yang brengsek ? Tradisi yang bikin kita kayak sampah masyarakat ? Apa kita mau terus-terusan kayak gini, Ren ? Hidup dalam masalah, dipandang buruk, nggak punya masa depan ?"
Reno terdiam lagi. Ia menunduk, menatap tanah. Kata-kata Jaka membuatnya berpikir. Selama ini, ia hanya mengikuti apa kata ketua, tanpa pernah mempertanyakan apa yang mereka lakukan.
Reno : "Aku ... aku nggak tahu, Jak. Aku bingung"
Jaka : "Kita nggak bisa begini terus, Ren. Kita harus berubah. Kita harus jadi genk motor yang lebih baik. Genk motor yang bisa dibanggakan, bukan dicaci maki"
Reno : "Tapi gimana caranya ? Kita kan cuma anggota biasa. Kita nggak punya kekuatan buat ngerubah The Jackal"
Jaka : "Kita bisa mulai dari diri kita sendiri. Kita bisa berhenti bikin onar, berhenti cari masalah. Kita bisa mulai bantu orang lain, ngasih contoh yang baik"
Reno : "Tapi kalau yang lain nggak mau berubah ?"
Jaka : "Itu urusan mereka. Yang penting, kita udah berusaha. Siapa tahu, dengan contoh yang kita kasih, mereka jadi ikut berubah"
Reno mengangkat kepalanya, menatap Jaka dengan tatapan penuh harapan.
Reno : "Kamu bener, Jak. Kita harus coba. Kita nggak bisa terus-terusan hidup kayak gini"
Jaka : "Nah, gitu dong! Gue yakin, kalau kita berusaha, kita bisa ngerubah The Jackal jadi lebih baik"
Reno : "Tapi ... apa kita nggak takut sama ketua ? Dia kan nggak bakal suka kalau kita berubah"
Jaka : "Ketakutan itu wajar, Ren. Tapi kita nggak boleh biarin ketakutan ngendaliin kita. Kita harus berani ngelawan, demi kebaikan kita sendiri dan demi The Jackal"
Reno: "Oke, Jak. Aku ikut kamu. Kita rubah The Jackal jadi lebih baik !"
Jaka menepuk bahu Reno, tersenyum lebar.
***