NovelToon NovelToon
Fragmen Yang Tertinggal

Fragmen Yang Tertinggal

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Enemy to Lovers / Cintapertama / Cinta Murni / Berbaikan / Tamat
Popularitas:345
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

​Di antara debu masa lalu dan dinginnya Jakarta, ada satu bangunan yang paling sulit direnovasi: Hati yang pernah patah.
​Lima tahun lalu, Kaluna Ayunindya melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya: meninggalkan Bara Adhitama—pria yang memujanya—dan cincin janji mereka di atas meja nakas tanpa sepatah kata pun penjelasan. Ia lari ke London, membawa rasa bersalah karena merasa tak pantas bersanding dengan pewaris tunggal Adhitama Group.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Hukum Rimba di Lantai 40

​Lobi Adhitama Tower yang biasanya hening dan penuh tata krama mendadak riuh.

​Julian berdiri di dekat meja resepsionis, mengecek jam tangannya untuk kesepuluh kalinya. Bara memberinya waktu tiga puluh menit untuk mendatangkan "pengacara gila" itu, dan waktu sudah hampir habis.

​"Pak Julian, tamu Bapak..." resepsionis itu berbisik ragu, matanya melirik ke arah pintu putar. "...sepertinya sudah datang. Tapi..."

​Julian menoleh. Dan dia langsung mengerti kenapa resepsionisnya ragu.

​Seorang wanita melangkah masuk seolah-olah dia memiliki gedung itu. Dia tidak mengenakan setelan blazer kaku seperti pengacara korporat pada umumnya. Sebaliknya, dia mengenakan jaket kulit hitam oversized di atas tanktop putih, celana kulot denim lebar, dan boots hak tinggi yang berbunyi tak-tak-tak nyaring setiap kali menghantam lantai marmer.

​Rambutnya dipotong bob pendek asimetris, dicat warna ash grey di bagian ujungnya. Kacamata hitam besar menutupi setengah wajahnya, dan bibirnya dipoles lipstik merah darah yang menyala.

​Dia berjalan sambil mengunyah permen karet dengan santai, mengabaikan tatapan kaget para staf keamanan.

​"Zara?" panggil Julian ragu.

​Wanita itu berhenti. Dia menurunkan kacamata hitamnya sedikit, menatap Julian dari ujung rambut yang klimis sampai ujung sepatu pantofel yang mengkilap.

​"Wow," komentarnya singkat, suaranya serak-serak basah. "Julian Pradana. Si Sad Boy yang sekarang jadi Direktur F&B. Lo kelihatan lebih... tua."

​Julian berdeham, mencoba tetap profesional meski tersinggung sedikit. "Dan kamu kelihatan seperti mau nonton konser rock, bukan mau rapat hukum, Zara."

​Zara tertawa renyah, lalu membuang permen karetnya ke tisu yang ia ambil dari saku, dan melemparnya tepat masuk ke tempat sampah yang berjarak tiga meter. Three points.

​"Gue baru mendarat dari New York lima jam lalu, Honey. Jetlag gue parah, koper gue hilang satu, dan sepupu gue yang bawel itu langsung nyuruh gue ke sini. Jadi maaf kalau gue nggak sempat pakai batik," Zara menyeringai. "Lagipula, hukum nggak butuh baju bagus. Hukum butuh otak licik."

​Julian menahan napas. Wanita ini benar-benar definisi masalah.

​"Bara sudah menunggu di atas. Ayo," ajak Julian, berbalik menuju lift khusus eksekutif.

​Zara mengikutinya, tapi tidak sebelum mengedipkan sebelah mata pada satpam muda yang melongo melihatnya. "Kerja yang bener, Pak. Jangan ngelamun."

​Di dalam ruang CEO, ketegangan terasa lebih padat daripada beton Hotel Menteng.

​Bara duduk di balik mejanya, memijat pelipis. Di hadapannya, dokumen gugatan Elang Pradipta terhampar berantakan.

​Pintu terbuka. Julian masuk, diikuti Zara.

​"Halo, Sepupu Kesayangan!" seru Zara lantang, merentangkan tangan. Tanpa permisi, dia berjalan masuk dan langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa kulit tamu, menaikkan satu kakinya ke atas meja kopi.

​Bara menatapnya dengan tatapan lelah. "Turunkan kakimu, Zara. Ini kantor, bukan warkop."

​"Kantor lo kaku banget, Bar. Pantesan lo cepet ubanan," balas Zara santai, tapi dia menurunkan kakinya. "Jadi? Gue denger ada curut yang coba main-main di tanah Bali kita?"

​"Namanya Elang Pradipta," koreksi Bara. "Dan dia bukan curut. Dia predator. Dia punya sertifikat Hak Milik atas jalan akses utama resort kita. Dia memblokir truk material sejak pagi ini."

​Zara mendengus. "Sertifikat Hak Milik di atas tanah desa adat? Itu lelucon. Tanah adat di Bali nggak bisa diperjualbelikan sembarangan ke pihak luar, apalagi untuk menutup akses publik. Pasti ada suap ke ketua adat atau pemalsuan dokumen persetujuan warga."

​"Kami tahu itu," sela Julian, berdiri di samping meja Bara. "Tapi membuktikannya butuh waktu. Sementara proyek harus jalan minggu ini atau kita kena penalti dari Pak Hamengku."

​Zara menatap Julian, lalu beralih ke Bara. Tatapannya berubah tajam, mode main-mainnya hilang seketika.

​"Oke. Gue bisa hancurkan sertifikat itu. Gue bisa bikin Elang Pradipta memohon ampun sambil cium kaki lo dalam waktu sebulan," ucap Zara penuh percaya diri.

​"Sebulan terlalu lama," potong Bara.

​"Itu estimasi paling cepat untuk pengadilan, Bara. Kecuali lo mau gue pakai cara preman—yang gue bisa aja sih, tapi berisiko," balas Zara cepat. "Tapi pertanyaannya bukan soal waktu."

​Zara berdiri, berjalan mendekati meja Bara. Ia menumpukan kedua tangannya di atas meja, menatap mata sepupunya lurus-lurus.

​"Pertanyaannya adalah: Apa imbalannya buat gue?"

​Bara mengernyit. "Aku akan bayar jasamu. Sebut angkanya. Open check, seperti kata Julian."

​Zara tertawa sinis. "Gue nggak butuh duit lo, Bar. Duit gue dari firma di New York masih cukup buat beli penthouse lo ini."

​"Lalu apa?"

​"Gue mau Hak Suara," ucap Zara tegas.

​Ruangan itu hening. Julian tampak bingung, tapi wajah Bara mengeras.

​"Maksud lo?" tanya Bara, beralih menggunakan bahasa non-formal saking seriusnya.

​"Gue mau masuk ke dalam struktur Rapat Keluarga Inti Adhitama," jelas Zara. "Selama ini gue, Papa gue, dan adik gue cuma dianggap 'keluarga cabang'. Kita dapet dividen, tapi nggak boleh ikut nentuin arah perusahaan. Tante Ratna selalu bilang gue terlalu liar, terlalu berantakan buat duduk bareng para tetua."

​Zara menegakkan tubuhnya, matanya berkilat ambisius.

​"Gue mau itu berubah. Kalau gue berhasil selamatin proyek Bali lo yang nilainya triliunan itu, gue mau satu kursi di Rapat Pemegang Saham Tahunan. Gue mau suara gue dihitung. Gue mau diakui sebagai Adhitama yang sah, bukan cuma sepupu buangan yang sekolah di luar negeri."

​Julian menatap Zara dengan pandangan baru. Di balik penampilan urakan itu, ternyata ada luka lama dan keinginan kuat untuk diakui oleh keluarga.

​Bara terdiam lama. Memberi kursi di Rapat Keluarga berarti memberi Zara kekuatan politik untuk menggoyang keputusan perusahaan di masa depan. Ibunya, Ratna, pasti akan mengamuk.

​Tapi Bara ingat wajah Kaluna yang kecewa pagi tadi. Bara ingat ancaman Elang. Dia terdesak.

​"Oke," putus Bara. "Selesaikan masalah Elang. Buka akses jalan itu secara legal. Dan gue akan kasih lo kursi di Rapat Tahunan bulan depan."

​Senyum Zara mengembang, kali ini tulus dan penuh kemenangan. Dia mengulurkan tangan.

​"Sepakat, Pak CEO."

​Bara menjabat tangan sepupunya. "Jangan bikin gue nyesel, Zar."

​"Nggak akan," Zara melepas jabat tangan itu, lalu berbalik menatap Julian. "Nah, Pak Direktur F&B. Karena gue belum tidur 24 jam dan sekarang gue laper banget... lo punya tugas pertama sebagai asisten gue."

​Julian menunjuk dirinya sendiri. "Saya? Asisten?"

​"Sementara waktu. Gue butuh orang yang tahu detail lapangan, dan Bara terlalu sibuk," kata Zara seenaknya. "Anter gue cari Nasi Padang paling enak di sekitar sini. Sekarang. Kalau gue kerja pas laper, gue bisa gigit orang."

​Julian menoleh pada Bara, meminta pertolongan.

​Bara hanya mengibaskan tangan, sudah kembali sibuk dengan iPad-nya. "Pergi sana, Jul. Pastikan dia nggak bikin masalah di kantin."

​Julian menghela napas pasrah. "Baik, Nona Zara. Mari."

​"Jangan panggil gue Nona. Berasa kayak nyonya-nyonya arisan," protes Zara sambil berjalan keluar. "Panggil Zara aja. Atau 'Yang Mulia' juga boleh."

​Julian memutar bola matanya diam-diam. Perjalanan menyelamatkan proyek Bali ini sepertinya akan sangat panjang dan melelahkan.

​Sementara itu, di sebuah kafe artisan di Kemang.

​Kaluna duduk berhadapan dengan seorang pria sebayanya yang berpenampilan rapi dengan kemeja batik modern.

​"Terima kasih sudah mau bertemu dadakan, Elang," ucap Kaluna dingin.

​Elang Pradipta tersenyum tipis, menyesap long black-nya. Wajahnya tampan, tipe wajah aristokrat Jawa yang tenang namun menyimpan banyak rahasia.

​"Untuk kamu, Kaluna? Selalu ada waktu," jawab Elang lembut. "Sudah lama sekali ya? Terakhir kita ketemu waktu wisuda. Kamu masih secantik dulu."

​"Simpan basa-basinya, Lang," potong Kaluna. "Kenapa kamu blokir akses jalan ke proyek suamiku?"

​Elang meletakkan cangkirnya perlahan. Senyumnya tidak pudar, tapi matanya berubah serius.

​"Itu bisnis, Kaluna. Lahan itu strategis. Saya membelinya secara sah."

​"Kamu tahu itu mematikan proyek Adhitama," desak Kaluna. "Kamu sengaja."

​"Mungkin," Elang mengangkat bahu. "Atau mungkin saya cuma ingin menarik perhatian seseorang."

​Kaluna mengernyit. "Maksudmu?"

​Elang mencondongkan tubuhnya ke depan.

​"Saya dengar kamu jarang mendesain lagi sekarang? Sayang sekali. Tangan dinginmu itu aset, Kaluna. Bukan cuma buat bikin bubur bayi."

​Kaluna tersinggung. "Saya masih Arsitek Kepala Adhitama Group."

​"Di atas kertas, iya. Tapi realitasnya? Kapan terakhir kali desainmu dipakai tanpa campur tangan Bara?" Elang menatap tajam. "Saya punya tawaran. Saya sedang membangun Museum Seni Kontemporer di Ubud, tepat di sebelah tanah sengketa itu. Saya butuh arsitek utama. Yang punya visi. Yang bebas berkarya."

​Elang mengeluarkan sebuah kartu nama hitam dengan tulisan emas.

​"Tinggalkan Bara dan proyeknya yang bermasalah. Gabung dengan saya. Saya kasih kamu kebebasan penuh. Budget tak terbatas. Dan nama kamu akan terukir di plakat museum itu, sendirian. Tanpa embel-embel 'Nyonya Adhitama'."

​Kaluna terdiam. Tawaran itu... menggoda ego profesionalnya yang selama ini tertekan.

​"Pikirkan baik-baik, Kaluna," bisik Elang. "Jangan biarkan bakatmu mati karena kamu sibuk mengurus ego suamimu."

​Kaluna menatap kartu nama itu. Di satu sisi, dia ingin merobeknya karena Elang adalah musuh suaminya. Di sisi lain, sebagian kecil hatinya—bagian yang rindu menggambar dan diakui—berbisik untuk menyimpannya.

​Dan tanpa sadar, tangan Kaluna bergerak menutup kartu nama itu dan memasukkannya ke dalam tas.

...****************...

Bersambung....

Terima kasih telah membaca📖

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!