Elin dan Evan adalah dua sahabat karib. Mereka berdua bersahabat saat mereka berdua masih kecil hingga dewasa.
Dan pada akhirnya Elin menaruh suka terhadap Evan. Dan tanpa di sangka Evan pun juga menaruh perasaan lebih terhadap Elin. Saat mengetahui Elin suka pada Evan, Evan pun menyatakan perasaannya pada Elin. Tapi Elin menolak lantaran Evan cowok playboy. Elin tidak ingin persahabatan mereka berdua hancur saat mereka putus di kemudian hari.
Diantara persahabatan mereka hadir pula Susanti dan Rio diantara kisah mereka berdua. Siapakah Susanti itu? dan siapakah Rio itu?...
Penasaran dengan cerita persahabatan dan cinta mereka berdua?... Ayo baca cerita kisah mereka berdua!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akiva Az-Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18 Yuni dan Vicky bahagia.
Setelah selesai mengantarkan Evan pulang kerumahnya dari rumah sakit. Vicky sama Yuni memutuskan untuk jalan-jalan ke pantai sambil menikmati pemandangan malam hari dekat pantai.
Perasaan Vicky sama Yuni benar-benar bahagia melihat Elin sama Evan akhirnya bisa bersama dan akhirnya mereka berdua bisa jadian, perjuangan cinta mereka begitu unik. Hahahaha...
Akhirnya Yuni sama Vicky sampai juga di pantai.
"Yun, kita makan bakso favorit kita aja yuk?sambil minumnya es kelapa muda yang seger milik pak Diman. Oke?" ajak Vicky pada Yuni.
"Oke."
Lalu mereka berdua pergi ke warung bakso pak Diman yang berada di pinggir pantai.
"Yun, apa lo bahagia saat melihat kak Elin sudah jadian sama kan Evan?."
"Tentu dong. Gue seneng banget, gue nggak nyangka setelah kejadian ini kak Elin mau menerima cinta kak Evan." Kata Yuni merasa bahagia.
Vicky mengangguk-angguk. "Jujur, kalau gue seneng banget, akhirnya kita berdua akan segera menikah Yun."
"Itu sih mau lo. Tapi kita harus tetep menunggu mereka berdua tunangan dan menikah dulu tahu." Cetus Yuni sambil menarik hidung Vicky yang mancung.
Vicky pun gelagapan.
Akhirnya setelah beberapa menit kemudian bakso pesanan mereka sampai juga.
"Ini neng, mas, baksonya dan juga es kelapa mudahnya." Kata Ivan anaknya pak Diman sambil menyuguhkan pesanan mereka.
"Ivan, ini buat kamu." Kata Vicky memberikan tips buat Ivan.
Ivan anaknya pak Diman merupakan anak yang rajin. Ia setiap harinya selalu membantu orang tuanya berjualan bakso di sini. Selain itu Ivan anaknya pak Diman merupakan anak yang berprestasi dan ia tidak pernah mengeluh dengan pekerjaan orang tuanya. Ivan malah dengan senang hati membantu orang tuanya dengan membantu mereka di warung bakso mereka.
Vicky sangat bersimpati pada Ivan. Bahkan Vicky selalu memberikan tips untuk anaknya pak Diman. Vicky sudah sangat mengenal Ivan karena setiap kali Vicky ada waktu luang. Pasti Vicky pergi ke sini untuk bercanda bersama pak Diman dan Ivan anaknya pak Diman. Bahkan Vicky juga sering mengajari Ivan tentang pelajaran sekolahnya bila Ivan tidak mengerti pelajaran sekolahnya.
"Yun, gue berharap suatu saat nanti kak Elin sama kak Evan bisa jadi pasangan yang langgeng sampai tua."
"Gue juga berharap seperti itu. Apalagi mereka sebenarnya sudah di jodohkan sewaktu mereka masih kecil."
Mereka berdua menikmati bakso favorit mereka sambil bercanda seperti biasanya.
Sewaktu mereka selesai makan mereka pun berjalan-jalan menyusuri jalanan tepi pantai yang beraspal.
"Yuni, gue punya sesuatu buat lo."
"Apaan?!" tanya Yuni penasaran.
"Bentar ya." Kata Vicky sambil tangannya masuk kedalam saku celananya seperti mencari sesuatu. "Ini hadiah buat kamu," ucapnya sambil memberikan sesuatu yang baru ia keluarkan dari sakunya.
"Apa ini? seperti kotak perhiasan?" tanya Yuni sambil menerima sebuah kotak perhiasan dari Vicky. Yuni pun membukanya.
Terlihat di dalamnya ada seuntai kalung berwana emas putih dan juga liontin berbentuk hati kecil dan lucu. Dan di balik liontin itu tertuliskan inisial huruf V dan Y. Seperti huruf awal dari nama mereka berdua.
"Indah sekali bab... Makasih ya bab?." Ucap Yuni yang terkagum melihatnya.
"Aku sengaja memesan ini khusus buat kamu. Dan untuk liontin hati dan inisial huruf kita, aku ingin di tulis di belang liontin yang indah ini."
Yuni tersenyum melihat keromantisan Vicky. Dan tiba-tiba sebuah ciuman mendarat begitu saja di pipinya Vicky.
"Sini aku pakaikan." Kata Vicky sambil memakaikan kalung itu di leher Yuni. "Kamu cantik Yun." Puji Vicky.
Yuni tersenyum malu. Tapi tiba-tiba tamparan kecil melayang di pipinya Vicky.
"Ko' gue lo tampar?" kata Vicky sambil memegangi pipinya.
Yuni tertawa cekikikan. "Lo romantisnya terlalu berlebih-lebihan, bikin gue salah tingkah." Katanya sambil tersenyum.
Vicky pun tersenyum mendengarnya.
"Dasar, hadis aneh. Bikin gue pengen gigit kamu deh Yun." Goda Vicky.
Lalu Yuni pun berlari menghindar dari Vicky. Vicky pun mengejarnya. Mereka berdua pun tertawa dan saling bercanda gurau bersama dalam indahnya pemandangan di pantai yang indah. Langit yang terang dihiasi sinar rembulan dan bertabur bintang membuat malam pun begitu terasa romantis.
Tanpa sengaja Yuni dan Vicky bertemu dengan Rio di tempat yang sama pula. Terlihat Rio berjalan sambil menggandeng tangan Rania berjalan bersama.
"Kak Rio, kak Rania. Kalian berdua ko' ada disini? kalian berdua lagi pacaran ya?" ledek Yuni pada Rio dan Rania.
Rio hanya tersenyum sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. Sementara Rania tersipu malu.
"Nggak, kami berdua enggak pacaran ko'!" Elak Rio cepat.
"Nggak pacaran ko' gandengan tangan." Kali ini Vicky ikut-ikutan mencibir mereka berdua.
"Dasar, kalian berdua memang resek. Terus kalian berdua ngapain ke sini?" kali ini Rio balik bertanya.
"Pancaran..."Jawab Yuni sama Vicky kompak.
Rania tersenyum melihat mereka berdua.
Dan sebuah jitakan kecil melayang di atas kepala mereka berdua.
"Masih kecil pacaran, tidak boleh tahu." Kata Rio sambil tersenyum melihat mereka berdua.
Yuni sama Vicky meringis bersama.
"Ayo Vic, kita pulang aja. Jangan ganggu kak Rio sama kak Rania. Biarin mereka berdua pacaran." Ajak Yuni pada Vicky.
"Oke." Kata Vicky sambil memonyongkan bibirnya.
Lalu mereka berdua pun pergi meninggalkan Rio sama Rania.
"Dasar, agen resek!" ngedumel Rio.
Rania hanya senyam-senyum melihatnya.
"Kak Rania... Hati-hati kalau pacaran sama kak Rio..." teriak Yuni dari kejauhan.
"Iya kak... Soalnya kak Rio orangnya nyebelin..." teriak Vicky pula.
"Biarin... yang penting gue romantis..." Elak Rio sambil berteriak pada mereka berdua.
Vicky sama Yuni pun menghilang dari kegelapan malam berjalan menuju parkiran mobil mereka.
"Maaf ya Rania, mereka berdua memang resek banget." Ucap Rio pada Rania.
"Nggak papa ko' mas Rio." Kata Rania sambil tersenyum.
"Ayo kita duduk di sana." Kata Rio yang menunjuk suatu bangku di dekat pantai.
Mereka berdua pun duduk di sana.
Angin pantai yang sejuk dan bertiup sesuai alunan musik malam yang indah membuat suasana begitu terasa romantis. Angin pantai yang berhembus membuat rambut Rania menutupi wajahnya yang cantik. Tanpa sengaja tangan Rio pun menyibak rambut Rania yang menutupi wajahnya. Tanpa sengaja mereka berdua saling memandang dan terdiam dalam keheningan malam yang syahdu. Mereka saling bertatapan sangat lama dan saat wajah cantik Rania bersemu merah, Rio pun mengalihkan pandangannya.
"Maaf." Ucap Rio merasa bersalah.
Rania mengangguk. Rania terdiam dan mencoba menguasai gejolak di dadanya.
"Rania." Ucap Rio sambil memegang tangan Rania.
Rania terdiam tidak dapat berkata apa-apa.
"Rania, gue mau ngomong sesuatu sama kamu." Kata Rio.
"Iya mas Rio."
"Rania, gue tidak bisa menahan perasaan ini terlalu lama Rania. Gue suka sama kamu Rania." Kata Rio mengungkapkan perasaannya begitu saja.
Rania hanya diam, dia shock dengan apa yang di ucapkan oleh Rio. Seakan-akan tubuhnya tersengat oleh listrik berjuta-juta volt. Ia masih terdiam dan terpaku.
"Maukah kamu menjadi pacarku Rania?" ucap Rio sambil berlutut di hadapan Rania sambil mengeluarkan sebuah cincin indah dari balik sakunya dan membuka kotak cincin itu.
Rania bingung harus jawab apa? Hatinya begitu senang sampai ia tidak bisa menjawabnya.
"Rania?" kata Rio masih berlutut dihadapan Rania.
Dan pada akhirnya Rania pun mengangguk.
Rio pun bersorak kegirangan. Hatinya sangat bahagia. Ia pun memasangkan cincin di jari manis Rania. Kemudian Rio memeluk dan mencium kening Rania dengan amat sangat senang sekali.
"Terimakasih Rania, kamu mau menerima cinta ku Rania." Ucap Rio.
"Iya mas, aku juga sebenernya suka sama mas Rio pada saat awal kita bertemu mas Rio." Kata Rania mengungkapkan perasaannya juga.
Akhirnya, cinta Rio terbalaskan. Rania pun menerima cinta Rio.
"Aku mencintaimu mas Rio."
"Aku juga Rania."
***********
Maaf para reader, baru bisa up lagi setelah beberapa hari. Soalnya ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan dan begitu sibuknya dengan pekerjaan aku. Semoga para reader atau author tidak kecewa. 🙏🙏🙏
Salam dari INSEPARABLE🌻
salam dari ....
#Rindu With Me
#Suamiku kakak sahabatku
jgn lupa mampir di novelku juga berjudul:
"My Annoying Wife" 🍃🍃🍃
kisah cewe bar bar yang jatuh cinta sama cowok polos 🍊🍊🍊
ku tunggu like and comment nya ya 🙏🙏☺️
maaf nih baru mampir lagi🤧🤧🤧