Dara sebagai pelatih Taekwondo yang hidupnya sial karena selalu diteror rentenir ulah Ayahnya yang selalu ngutang. Tiba-tiba Dara Akan berpindah jiwa raga ke Tubuh Gadis Remaja yang menjatuhkan dirinya di Atas Jembatan Jalan Raya dan menimpa Dara yang berusaha menyelamatkan Gadis itu dari bawah.
Bagaimana Kelanjutannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Ricarlo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dan Terjadi Lagi
Setelah puas menghabiskan waktu di bioskop dan kemudian makan malam bersama, Lesham dan Vano berjalan perlahan menuju garasi. Lampu-lampu malam berpendar temaram, sementara langkah keduanya terdengar beriringan, seakan enggan mengakhiri kebersamaan itu. Vano kemudian mendekat, menoleh sekilas pada Lesham, lalu dengan nada penuh keyakinan yang dibalut rasa ragu, ia menawarkan diri untuk mengantar Lesham pulang.
Lesham sempat menolak dengan halus. Dalam benaknya, ia berpikir untuk segera menghubungi sopir pribadinya yang memang selalu siap sedia menjemput. Namun, tatkala matanya menangkap ekspresi Vano sungguh jelas terlihat ada harapan yang tersirat, seolah ia benar-benar ingin Lesham mempercayakan perjalanan pulang itu padanya—akhirnya Lesham tak kuasa menolak. Dengan senyum tipis yang penuh keraguan bercampur geli, ia mengangguk, menerima tawaran itu.
“Lucu sekali,” batin Lesham. Baginya, ada sesuatu yang janggal sekaligus manis dalam situasi itu. Dan tanpa ia sangka, beberapa menit kemudian ia sudah berada di atas motor Vespa berwarna kuning milik Vano. Helm bogo hitam menutupi sebagian wajah Lesham, sementara Vano mengenakan helm berwarna biru tua.
Malam itu, udara terasa lebih dingin dari biasanya, namun justru memberikan sensasi berbeda. Saat motor melaju di jalanan kota yang mulai lengang, angin malam berhembus kencang menerpa wajah Lesham. Perlahan, ia memejamkan mata, membiarkan dirinya larut dalam hembusan angin yang begitu membebaskan. Untuk sejenak, dunia terasa begitu ringan, tanpa beban.
Dari kaca spion kecil, Vano melirik sekilas. Senyum tipis merekah di wajahnya ketika melihat Lesham yang tampak benar-benar menikmati perjalanan itu. “Sepertinya kau menikmatinya,” ucapnya lirih, nyaris terbawa angin, namun cukup jelas terdengar oleh Lesham.
Lesham membuka matanya perlahan, lalu sedikit mendekat, membiarkan suaranya jatuh dekat telinga Vano. “Ya,” ujarnya sambil tersenyum lebar, “aku menikmatinya. Terima kasih sudah mengajakku untuk bersenang-senang.”
Jawaban sederhana itu justru membuat jantung Vano berdegup kencang. Pipinya terasa memanas, meski ia berusaha menahan diri agar tidak terlihat canggung. Ada perasaan asing yang mendesak keluar, sebuah rasa yang tidak berani ia akui sepenuhnya, namun juga tak mampu ia sembunyikan.
Namun kebahagiaan singkat itu tiba-tiba terenggut. Dari arah samping, sebuah mobil melintas terlalu dekat, lalu menyenggol bagian motor mereka. Tubuh keduanya sontak terhempas ke aspal.
“Bruk!”
Semuanya terjadi begitu cepat. Dalam sepersekian detik, pandangan Lesham sempat menangkap samar plat nomor mobil itu, meski tidak jelas sepenuhnya. Nafasnya memburu, jantungnya seolah jatuh ke dasar perut. Untunglah ia hanya mengalami goresan kecil di lutut dan lecet ringan di telapak tangannya. Namun Vano, ya Tuhan, kondisinya jauh lebih parah. Tangan kanannya berdarah deras, lututnya pun tampak terluka hebat.
“Vano!” seru Lesham panik, segera merangkak menghampiri tubuh sahabatnya yang tergeletak di pinggir jalan dengan wajah menahan sakit. “Astaga, kau terluka parah!”
Dengan suara tertahan, Vano berusaha menenangkan, “Aku… aku tidak apa-apa, Lesham. Aku baik-baik saja…”
“Diamlah! Jangan banyak bicara,” balas Lesham gusar, suaranya bergetar oleh rasa cemas. Dengan tergesa ia merogoh ponselnya, jari-jarinya gemetar saat menekan nomor. “Pak Arjo… tolong bantu aku… cepat!”
Beberapa menit terasa seperti selamanya. Hingga akhirnya sebuah sedan hitam berhenti di hadapan mereka, dan dari sana muncullah sosok Pak Arjo dengan wajah terkejut. “Nona! Astaga, apa yang terjadi?”
Lesham berusaha menopang tubuh Vano untuk berdiri, meski pemuda itu terus meyakinkan dirinya. “Aku baik-baik saja, Lesham…”
“Tidak! Kau sama sekali tidak baik-baik saja. Tubuhmu bahkan nyaris tidak bisa menopangmu sendiri,” tegas Lesham, menolak keras setiap kata yang terdengar seperti meremehkan luka yang jelas teramat parah.
Perjalanan menuju rumah sakit berlangsung dalam diam yang mencekam. Sesekali Lesham melirik ke arah Vano yang bersandar lemah dengan mata terpejam. Dari raut wajahnya jelas ia tengah menahan sakit yang luar biasa, sementara darah masih mengalir dari luka di tangan dan lututnya. Di dalam hati, Lesham diliputi pertanyaan yang tak henti mengusik: siapa pelaku di balik insiden ini? Apakah mungkin… Evelyn lagi? Jika benar, untuk apa ia melakukan semua ini? Apa sebenarnya yang diinginkannya?
Mobil akhirnya berhenti di depan rumah sakit. Pak Arjo segera membantu Vano masuk, sementara Lesham menerima panggilan telepon dari Kai. Suaranya di seberang terdengar cerah, mengatakan bahwa kondisinya semakin membaik dan beberapa minggu lagi ia bisa pulang. Kai berharap Lesham berada di sisinya, namun situasi saat ini jelas mustahil.
“Besok aku akan menjengukmu lagi,” ujar Lesham lirih, menahan air mata. “Tapi sekarang aku harus menemani temanku yang terluka… maaf, aku harus menutup telepon ini.”
Seketika ia berlari masuk, menyusul Vano yang tengah dibawa menuju ruang perawatan. Beberapa menit kemudian, ia mendapati pemuda itu sudah duduk di atas ranjang rumah sakit, sementara seorang perawat membersihkan lukanya.
“Sudah selesai. Lain kali hati-hati, ya,” ucap perawat sambil berkemas, kemudian meninggalkan ruangan.
Lesham segera menghampiri, menahan Vano agar tidak bergerak. “Jangan dulu banyak bergerak. Kau baru saja diobati,” ujarnya tegas, namun penuh kelembutan.
Vano justru sibuk memperhatikan Lesham, memastikan tidak ada luka serius di tubuhnya. Syukurlah, selain goresan kecil di telapak tangan, Lesham baik-baik saja. “Syukurlah… aku tidak tahu harus bagaimana kalau kau yang terluka parah,” ucap Vano dengan nada lega, meski wajahnya masih pucat.
Pak Arjo kemudian masuk, menyampaikan bahwa motor Vano sudah dibawa montir untuk diperbaiki. Lesham hanya mengangguk, pikirannya masih berkecamuk. Ia duduk di ranjang sebelah, menunduk, mengibaskan rambutnya, seakan berusaha menyingkirkan bayangan-bayangan gelap yang menyesakkan. Semua ini… mengingatkannya pada saat Kai dulu terluka. Seakan tragedi itu berulang lagi, hanya saja kali ini dengan Vano.
Vano yang menyadari wajah Lesham diliputi rasa bersalah segera membuka suara. “Jangan berpikir ini salahmu. Kau orang baik, Lesham. Justru karena kebaikanmu, banyak orang yang iri. Tapi percayalah, siapa pun pelakunya, cepat atau lambat akan terungkap. Jangan biarkan dirimu terbebani oleh rasa bersalah itu.”
Suara Vano yang lirih, ditambah sorot matanya yang tulus, membuat hati Lesham bergetar hebat. Ia menunduk, menggenggam erat tangannya sendiri. Untuk sesaat, ia nyaris kehilangan kata. Dalam hening malam di ruang perawatan itu, hanya suara mesin infus dan detak hati yang terdengar lebih nyaring dari apa pun.
>>>°°°°<<<
Pagi itu kantin sekolah ramai seperti biasa. Suara piring dan gelas beradu, tawa para siswa bersahut-sahutan, dan aroma makanan menguar di udara. Namun suasana normal itu seketika berubah tatkala pintu kantin terbuka dengan keras, dan sosok Lesham muncul dengan wajah yang jelas-jelas sedang diliputi bara amarah. Pandangannya langsung terarah pada satu titik, Evelyn, yang duduk di meja dekat jendela, dengan sikap angkuh khasnya.
Di samping Evelyn, duduk Zane dengan wajah datarnya yang seperti tak pernah berubah. Ia tampak sibuk melirik layar ponselnya, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda terkejut atau peduli pada kehadiran Lesham yang melangkah cepat mendekat.
Tanpa basa-basi, Lesham langsung meletakkan kedua tangannya dengan keras diatas meja Evelyn dengan suara yang membuat semua orang di kantin tersentak. Suara riuh tawa dan obrolan seketika terhenti, berganti dengan keheningan penuh tanda tanya.
“Evelyn!” suara Lesham bergetar penuh emosi, nadanya tinggi, membuat semua orang di sekeliling mereka menahan napas. “Kecelakaan semalam… itu ulahmu, kan?”
Evelyn menoleh perlahan, alisnya terangkat dengan ekspresi setengah mengejek. “Apa maksudmu? tiba-tiba menuduhku seperti itu” tanyanya datar, meski jelas terlihat sedikit terkejut dengan tuduhan langsung itu.
Lesham menunduk sebentar, giginya terkatup rapat, lalu menatap Evelyn dengan sorot mata yang penuh luka bercampur amarah. “Jangan berpura-pura tidak tahu!, kau masih ingat Kai… Kai masuk rumah sakit gara-gara ulahmu. Dan sekarang Vano yang hampir kehilangan nyawanya, juga ulahmu? Apa sebenarnya yang kau inginkan dariku, hah?!”
Suasana kantin semakin tegang. Para siswa yang tadinya sibuk dengan makanannya, kini hanya bisa menonton, sebagian menutup mulut menahan keterkejutan, sebagian lagi berbisik-bisik membicarakan tuduhan Lesham yang begitu berani.
Evelyn yang biasanya selalu mampu menjaga sikap tenangnya, kali ini benar-benar tersulut. Matanya membelalak, suaranya meninggi penuh emosi. “Jangan asal menuduh, Kau pikir aku sebegitu rendahnya sampai tega mencelakai orang lain?!”
“Kalau bukan kau, lalu siapa lagi?!” sergah Lesham cepat, suaranya hampir pecah. “Setiap kali seseorang di dekatku terluka. Aku muak, Evelyn! Kalau memang kau ingin menjatuhkanku, lakukan langsung padaku! Jangan seret orang-orang yang tidak bersalah!”
Kericuhan semakin menjadi-jadi. Suara kursi bergeser, beberapa siswa berdiri, ingin melihat lebih jelas. Kantin yang biasanya menjadi tempat istirahat kini berubah menjadi arena pertikaian dua sosok yang sejak lama diketahui saling berseteru.
Sementara itu, Zane masih saja duduk di kursinya, sama sekali tidak ikut campur. Tangannya masih memainkan ponsel, meski sesekali matanya terangkat, melirik sekilas pada Lesham yang tengah meledak di hadapan Evelyn. Wajahnya tetap dingin, nyaris tanpa ekspresi, seolah-olah semua kericuhan ini hanyalah tontonan biasa yang tidak layak membuatnya bereaksi berlebihan.
“Dasar pengecut!” teriak Evelyn, tangannya mengepal di atas meja. “Aku bukan pelakunya! Kau hanya buta karena rasa curigamu sendiri!”
Lesham maju selangkah lagi, tubuhnya hampir melintasi meja, matanya berkaca-kaca. “Kalau bukan kau, buktikan! Tunjukkan bahwa kau tidak bersalah! Karena sampai detik ini, semua bukti, semua kejadian, mengarah padamu!”
"bukti? Kau punya bukti apa?"
Lesham langsung memperlihatkan Belakang mobil Evelyn yang sama persis saat Lesham terjatuh dan tak sengaja melihat Belakang mobil tersebut, terutama Plat mobil yang terlihat disana.
"ini mobil milikmu, kan? Saat aku terjatuh bersama Vano, mobil ini yang persis aku lihat. Dan semakin aku yakin ini adalah ulahmu adalah plat mobil ini adalah bukti nyata bahwa kau adalah pelakunya"
Tadinya penuh ketegangan seketika hening ketika Vano muncul di ambang pintu. Tubuhnya masih dibalut perban, langkahnya sedikit goyah, namun sorot matanya tegas. Semua orang terkejut, terutama Lesham yang segera menoleh dengan wajah campuran lega dan panik.
“Vano… kenapa kau ada di sini? Aku sudah bilang, kau seharusnya beristirahat,” ucap Lesham dengan suara bergetar, penuh kekhawatiran.
Namun Vano hanya mengangkat tangannya pelan, menenangkan. Dengan suara tenang namun jelas, ia berkata, “Sudahlah, Lesham. Jangan lakukan ini di sini. Aku baik-baik saja. Tidak perlu ada keributan yang hanya akan membuatmu semakin disalahpahami.”
Suara itu cukup untuk membuat Lesham terdiam, meski dadanya masih naik turun menahan emosi. Evelyn, di sisi lain, hanya bisa menatap dengan tatapan membara, masih kesal atas tuduhan Lesham yang barusan mengguncang reputasinya di depan banyak orang.
Dan di sisi lain, Zane yang sejak tadi duduk dengan ponselnya, akhirnya mengangkat pandangan. Wajahnya tetap dingin, tanpa perubahan ekspresi berarti, namun sorot matanya yang kini menatap ke arah Lesham dan Vano, berkilat tajam nyaris menusuk. Tatapan itu hanya sebentar, tapi cukup bagi siapa pun yang jeli untuk menyadari, ada sesuatu yang lain di balik tatapan itu.
Lesham yang begitu khawatir berlari kecil mendekati Vano untuk memastikan kondisinya, membuat Vano menepuk pelan bahunya agar ia tenang. Sekilas, Zane mengeraskan rahangnya, tatapannya kembali jatuh ke ponselnya, seolah ingin menutupi sesuatu yang tidak seharusnya terlihat. Namun kilatan dingin di matanya sempat terbaca, sebuah tatapan yang samar-samar seperti.... Rasa cemburu?.
Para siswa di kantin saling pandang, bisik-bisik kembali memenuhi ruangan. Bagi mereka, yang jelas terlihat adalah pertikaian Lesham dan Evelyn yang nyaris pecah. Namun bagi beberapa pasang mata yang cukup peka, ada ketegangan lain yang tersembunyi di balik wajah tenang Zane, ada perasaan yang tidak ia tunjukkan, sebuah kegelisahan yang mungkin lebih dalam daripada sekadar menonton sebuah keributan.
Dan pada saat itu, kantin bukan hanya menjadi tempat ricuh dua gadis yang berseteru. Kantin menjadi panggung di mana rasa sakit, tuduhan, dan bahkan kecemburuan diam-diam, terjalin menjadi satu.