Kelanjutan Dari Novel Pangeran Sampah Yang Menyembunyikan Kemampuannya.
Di dunia yang terpecah oleh kebencian antar ras, perdamaian hanyalah mimpi yang dianggap mustahil.
Ferisu—mantan pangeran yang diremehkan—kini bangkit sebagai Raja Kerajaan Asterism. Sebuah kerajaan baru yang berani menentang hukum dunia dengan satu gagasan gila: kesetaraan bagi semua ras.
Manusia, elf, beastmen, dwarf, dan ras lainnya hidup di bawah satu panji yang sama.
Namun dunia tidak tinggal diam. Ancaman datang dari segala arah. Pengkhianatan mengintai dari dalam. Dan perang besar yang pernah menghancurkan peradaban perlahan kembali menunjukkan tanda-tandanya.
Mampukah Ferisu mempertahankan mimpinya?
Ataukah Asterism akan menjadi percikan yang membakar dunia dalam perang yang lebih dahsyat?
Sebuah kisah tentang ambisi, persatuan, dan perjuangan melawan takdir dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10 : Menteri Yang Tertawa Di Gerbang
Fajar belum sepenuhnya naik ketika halaman depan istana mulai bergerak.
Langit masih berwarna biru pucat, seperti tinta yang belum mengering. Embun tipis menempel di rerumputan, memantulkan cahaya pertama matahari dalam kilau yang lembut. Kereta kuda berlapis baja ringan telah dipersiapkan sejak sebelum subuh, dua kuda hitam berdiri tenang dengan napas tipis yang terlihat seperti asap.
Ferisu bersandar santai pada sisi kereta.
Tangannya terlipat di dada. Jubah perjalanannya lebih sederhana dari biasanya, tanpa ornamen yang mencolok. Namun, kehadirannya tetap memberi tekanan yang sulit dijelaskan—seperti udara yang lebih berat satu tingkat di sekitarnya.
Noa berdiri tak jauh darinya, memeriksa kembali peta kecil di tangannya.
“Eliza sudah lebih dulu memeriksa persediaan,” lapornya tenang. “Kita bisa berangkat kapan saja.”
Ferisu mengangguk kecil.
“Kita tunggu satu orang lagi.”
Anor berdiri sedikit di belakang, tampak lebih diam dari biasanya. Matanya sesekali melirik gerbang luar, lalu kembali menatap tanah.
Beberapa detik berlalu.
Lalu—
Dari arah gerbang terdengar suara yang terlalu ceria untuk pagi setegang ini.
“WOI! Yang mau piknik ke hutan gelap, jangan lupa oleh-oleh!”
Ferisu menutup mata sesaat.
Senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
“Datang juga.”
Gerbang terbuka lebih lebar.
Seorang pria berkulit sawo matang melangkah masuk dengan langkah santai seolah ia sedang menghadiri festival.
Rambut hitamnya sedikit berantakan, mata coklatnya tajam namun penuh canda. Ia mengenakan mantel pejabat dengan lencana Asterism, tapi cara membawanya membuat pakaian formal itu tampak seperti kostum sandiwara.
Phino.
Menteri Pertanian Asterism.
Reinkarnator dari tanah Jawa.
“Yang Muliaaaa,” katanya panjang, berjalan mendekat. “Melakukan perjalanan tanpa pamit sama menteri paling tampan di negeri ini? Kejam sekali.”
Ferisu mengangkat satu alis.
“Terakhir kali kau menyebut dirimu tampan, petani di desa barat mogok tanam karena panen gagal.”
Phino terkekeh.
“Fitnah. Itu karena cuaca, bukan karena wajahku.”
Noa menghela napas pelan, tapi sudut bibirnya naik tipis.
Di belakang Phino berdiri tiga orang.
Yang pertama melangkah maju dengan sikap anggun dan tertata.
Lyra.
Rambut hitamnya dikuncir kuda rapi, mata birunya jernih dan fokus. Seragam maid istana yang dikenakannya tidak hanya simbol pelayanan, tetapi juga bukti kedisiplinan. Ia membungkuk ringan.
“Kami akan menjaga istana selama Yang Mulia pergi.”
Yang kedua adalah gadis dengan telinga kelinci tegak yang sedikit bergerak mengikuti suara sekitar.
Rambut peraknya dikepang ke samping, kontras dengan mata merah terang yang menyala lembut. Ekspresinya tajam namun penuh kesiapan.
Risa.
Manusia kelinci yang merupakan asisten Phino.
“Jika ada yang mencoba menyelinap,” katanya singkat, “aku yang akan menemukannya lebih dulu dengan pendengaranku.”
Yang terakhir berdiri tegap seperti dinding besi.
Reiss, wakil komandan kesatria Asterism.
Rambutnya pendek rapi, sorot matanya lurus tanpa keraguan. Armor ringan yang dikenakannya memantulkan cahaya pagi.
“Pasukan siaga penuh,” ujarnya tegas. “Tak seorang pun akan menyentuh istana.”
Ferisu mendorong tubuhnya dari kereta dan berdiri tegak.
Angin pagi menggerakkan jubahnya perlahan.
“Phino.”
“Siap, ada apa?”
“Jika sesuatu terjadi—”
Phino mengangkat tangan.
“Aku tahu. Jangan mati dulu sebelum panen musim gugur. Gandum lagi bagus-bagusnya.”
Anor memandangnya bingung.
“Kau… menteri pertanian?”
Phino menoleh, menyeringai lebar.
“Betul. Orang lain jago perang, aku jago bikin orang kenyang. Percuma menang perang kalau rakyatnya kelaparan, ya kan?”
Ferisu tersenyum samar.
“Itu sebabnya dia masih hidup.”
Phino menunjuk dirinya sendiri bangga.
“Dengar itu? Pengakuan resmi.”
Noa melipat peta.
“Kita harus berangkat sebelum cahaya penuh. Aktivitas mana lebih mudah terdeteksi saat siang.”
Eliza muncul dari sisi kereta.
“Semua siap.”
Ferisu menaiki kereta dengan tenang.
Anor ragu sesaat sebelum ikut naik.
Kuda-kuda mulai bergerak pelan.
Phino melangkah mendekat, berdiri di samping roda kereta.
Wajahnya masih ceria.
Namun sorot matanya berubah sedikit.
Lebih serius.
“Hutan timur itu… bukan cuma sisa ritual biasa, kan?”
Ferisu menatapnya.
“Entahlah.”
“Hm.”
Phino menyeringai tipis.
“Kalau begitu cepat kembali. Aku tidak mau urus laporan istana sendirian.”
Kereta mulai bergerak.
Roda kayu berderit pelan menyusuri jalan batu menuju gerbang luar.
Lyra, Risa, dan Reiss berdiri dalam formasi rapi.
Phino melambaikan tangan tinggi-tinggi.
“Hati-hati, rombongan wisata mistis!”
Gerbang perlahan tertutup.
Suara tawa Phino memudar bersama jarak.
Dan begitu istana tak lagi terlihat—
Suasana berubah.
Udara terasa lebih dingin.
Langit yang tadinya cerah perlahan tertutup lapisan awan tipis.
Anor menggenggam sisi bangku kereta.
“Kita… benar-benar pergi ke sana.”
Perjalanan berlangsung tanpa adanya hambatan. Setelah beberapa jam, akhirnya kereta berhenti tepat di batas jalur batu terakhir.
Di depan mereka, hutan membentang seperti dinding hidup yang menelan cahaya pagi. Pepohonan tinggi saling bertaut, membentuk atap alami yang membuat bagian dalamnya tampak lebih gelap dari seharusnya.
Udara berubah.
Bukan hanya lebih dingin.
Tapi lebih… berat.
Ferisu turun lebih dulu.
Sepatunya menyentuh tanah lembap yang belum pernah ia injak sebelumnya. Aroma tanah basah dan dedaunan tua memenuhi napas.
Noa berdiri di sampingnya, memejamkan mata sejenak.
“Fluktuasi mana terdeteksi. Tidak stabil.”
Eliza memandang ke dalam pepohonan.
“Rasanya seperti… ada yang memperhatikan.”
Anor menggenggam ujung jubahnya sendiri.
“Tempat ini… tidak terasa alami.”
Ferisu melangkah masuk tanpa ragu.
Ranting patah di bawah kakinya terdengar terlalu keras di antara sunyi. Setiap langkah terasa seperti menembus lapisan tipis yang memisahkan dunia luar dengan sesuatu yang tersembunyi.
Semakin dalam mereka berjalan—
Semakin jelas pola yang tidak biasa terlihat.
Beberapa pohon memiliki goresan tipis pada batangnya. Bukan bekas cakar binatang. Terlalu rapi. Terlalu terarah.
Noa berhenti.
“Ini bukan formasi alami.”
Ia berlutut, menyentuh tanah.
Lalu wajahnya menegang.
“Ada sisa mana… yang belum menguap.”
Eliza langsung menoleh.
“Baru?”
Noa membuka mata perlahan.
“Ya.”
Anor menelan ludah.
“Kita bukan yang pertama.”
Ferisu memperhatikan sekeliling.
Tak jauh dari mereka, tanah membentuk lingkaran samar—rumput di dalamnya sedikit lebih pendek, seolah pernah ditekan oleh tekanan besar.
Bukan lingkaran yang mereka kenal. Tapi jelas buatan. Dan di tengah lingkaran itu—ada satu jejak kaki.
Tunggal. Menghadap ke arah dalam hutan. Tidak ada jejak masuk lain di sekitarnya. Seolah orang itu… muncul begitu saja.
Angin berhenti. Daun-daun yang tadi bergoyang kini diam.
Eliza mengaktifkan sihir rohnya.
“Aku tidak suka ini.”
Ferisu melangkah mendekat ke lingkaran itu.
Aura di sekitarnya berubah tipis—seperti udara yang sedikit terdistorsi oleh panas, padahal suhu justru turun.
Noa berdiri perlahan.
“Seseorang melakukan aktivasi parsial di sini.”
“Untuk apa?” tanya Anor pelan.
Belum ada yang menjawab—ketika suara itu terdengar.
“Akhirnya...”
Bukan dari depan.
Bukan dari belakang.
Melainkan seperti bergema langsung di dalam kepala.
Eliza langsung menoleh tajam. “Siapa?!”
Kabut tipis muncul dari sela-sela tanah. Tidak tebal. Tapi cukup untuk membuat jarak pandang terasa lebih sempit.
Dan di tengah lingkaran—udara retak. Benar-benar retak. Seperti kaca transparan yang ditekan dari sisi lain. Garis halus muncul di ruang kosong, lalu melebar perlahan.
Dari retakan itu—siluet seseorang melangkah keluar.
Jubah gelapnya menyerap cahaya, membuat batas tubuhnya sulit dikenali. Wajahnya tertutup bayangan, hanya menyisakan dua titik cahaya samar yang tidak memiliki warna pasti.
Ia tidak tampak tergesa. Tidak tampak terancam. Seolah kehadiran mereka… sudah diperhitungkan.
Anor mundur selangkah.
“Itu… bukan manusia.”
Noa menggertakkan gigi.
“Auranya tidak sinkron dengan dunia ini.”
Ferisu berdiri paling depan.
Tatapannya tidak goyah.
“Siapa kau.”
Sosok itu memiringkan kepala sedikit. Gerakan kecil. Namun membuat tekanan mana di sekeliling meningkat.
“Pengamat.”
Suaranya datar.
Tanpa emosi.
Eliza melangkah setengah langkah ke depan.
“Tujuanmu apa di sini?”
Kabut berputar lebih cepat di sekitar kakinya.
Lingkaran tanah di bawahnya mulai menyala dengan simbol yang sebelumnya tidak terlihat.
“Sistem telah aktif.”
Ferisu menyipitkan mata.
“Sistem apa.”
Hening.
Lalu—
Sosok itu menatap langsung ke arah Ferisu. Mata bercahaya samar itu sedikit menyempit.
“Subjek teridentifikasi.”
Udara membeku. Tanah bergetar ringan.
Anor jatuh terduduk karena tekanan yang tiba-tiba melonjak.
Noa hampir kehilangan keseimbangan.
Eliza memancarkan energi rohnya.
Namun Ferisu tetap berdiri. Tenang.
Sosok itu mengangkat satu tangan. Dan ruang di belakangnya terbelah lebih lebar. Di balik retakan itu—bukan hutan. Melainkan kegelapan tanpa batas.
“Fase awal… selesai.”
Simbol di tanah menyala terang. Cahaya menyilaukan meledak dari lingkaran.
Eliza berteriak. “Ferisu-sama!”
Ferisu melangkah maju tepat saat cahaya menelan segalanya.
Dan tepat sebelum pandangan mereka benar-benar putih—sosok itu mengucapkan satu kalimat terakhir.
“Kau datang lebih cepat dari prediksi.”
Dunia pecah. Suara terputus. Dan hutan—lenyap. Ketika cahaya mereda—
Ferisu berdiri sendirian. Tidak ada hutan. Tidak ada siapapun di sana.
Di hadapannya terbentang ruang kosong berwarna kelabu, seperti dunia yang belum selesai diciptakan.
Dan dari balik kabut tipis—seseorang melangkah mendekat.
Sosok itu tidak memakai jubah. Tidak tertutup bayangan. Wajahnya terlihat jelas.
Dan itu—
Wajah yang sangat dikenalnya
“Akhirnya kita bertemu lagi.”