NovelToon NovelToon
KASTURIA Kisah Abyad Dari Anhala

KASTURIA Kisah Abyad Dari Anhala

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:59.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: Mungka

Benua Kasturia yang damai berubah menjadi medan pertempuran tiada henti. Sudah 200 tahun lamanya benua Kasturia terpecah menjadi tiga kekuatan besar. Masing-masing kekuatan saling bertempur. Pengkhianatan, agresi, politik, semuanya adalah hal penting bagi setiap negara untuk tetap bertahan di zaman peperangan ini.

Abyad, pemuda jenius yang tumbuh di pedesaan yang berbatasan langsung dengan negara berkonflik, bertekad untuk membawa perdamaian ke tanah Kasturia. Bersama dua teman setianya, Basril dan Sabina, Abyad terjun ke dalam dunia dengan kebusukan yang abadi, yang dipenuhi intrik yang membingungkan. Apakah perdamaian yang dicita-citakan Abyad akan terwujud? Ikuti terus petualangan Abyad mengarungi pertempuran tiada henti.

NB : Sumber cover dari Google

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mungka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35 : Sorban Putih

"Sudahlah, Abyad. Jangan murung terus. Sudah seminggu sejak kita kembali dari provinsi Raxomensia, dan kau masih saja memasang wajah yang mengesalkan." Basril berkata sambil menikmati segelas cokelat panasnya.

Abyad tidak menanggapi perkataan Basril. Matanya hanya terfokus pada aktifitas masyarakat di kota Qusra. Ya, mereka bertiga telah kembali ke tempat asal. Setelah memberikan laporan di kastil Ajjar, Abyad, Basril dan Sabina kini mendapat tugas untuk berpatroli di kota. Udara dingin semakin menusuk. Penghujung tahun semakin dekat.

"Ini." Sabina menyodorkan kue cokelat yang masih panas ke Abyad dan Basril.

"Wah! Terima kasih, Sabina." Basril menerimanya dengan senang hati dan langsung memakannya.

Abyad juga menerimanya dan mulai memakan kue itu secara perlahan. Dia semakin merasa kesal dengan segala perdamaian ini. Lihatlah, ini bukan tempatnya. Berpatroli di jalanan kota yang bercabang banyak. Tidak. Itu sama sekali bukan keinginan Abyad. Panggungnya harusnya lebih besar lagi.

Mereka bertiga melintasi jalanan utama kota Qusra. Banyak pedagang yang menjajakan barang dagangannya di toko-toko. Buah-buah, baju musim dingin, sepatu, semuanya tersedia di sana. Kota Qusra memang merupakan salah satu kota tersibuk di daerah Kesultanan Ammaruz. Tidak jarang, tingkat kriminalitas di sini sangat tinggi.

"Bukannya ini menyenangkan, Sabina? Andai saja kedamaian ini bisa bertahan lama." Basril berkata. Memar di wajahnya sudah sepenuhnya hilang. Walaupun ahli dalam berperang, Basril tetaplah manusia biasa yang mencintai kedamaian.

Sabina mengangguk. Dia setuju dengan pemikiran Basril. Sabina menyukai suasana seperti ini. Melihat anak-anak kecil tumbuh sehat tanpa harus memegang pedang adalah sebuah keindahan di mata Sabina. Perdamaian seperti ini harus tetap dijaga. Itulah yang selalu Sabina pikirkan.

Berbanding terbalik dengan kedua temannya, Abyad menolak keras gagasan itu. Kedamaian seperti ini hanyalah kebohongan. Baginya, ini sama sekali bukan kedamaian. Kedamaian bukanlah hal yang harus dirasakan dengan perasaan was-was. Bukan. Sama sekali bukan. Abyad hanya bisa mengepalkan tangannya penuh kekesalan. Dia mengutuk Kaisar dari Kekaisaran Gastonia yang mengirimkan surat perdamaian ke Sultan Suleyman dan mengakhiri ekspedisi pasukan Kesultanan Ammaruz di provinsi Raxomensia. Pengecut, sumpah Abyad dalam hatinya.

"Tolong!"

Suara permintaan tolong itu segera membuyarkan lamunan Abyad. Dia bisa melihat kalau Basril dab Sabina sudah bersiaga.

"Dari sana arahnya!"  kata Basril dan mulai berlari menuju sumber suara. Sabina mengikuti dari belakang, pun Abyad yang terpaksa mengikuti juga.

Di depan sana, sumber suara itu berasal dslari wanita renta yang terduduk di pinggir jalan. Bajunya terlihat kotor terkena lumpur. Wanita itu hampir menangis.

Basril menghampiri wanita renta itu. "Ada apa, Nyonya? Apa yang bisa kami bantu?"

"T-tasku dirampok. Di sana ada barang yang ditinggalkan mendiang suamiku. Tolong aku." Wanita renta itu berkata lirih.

Tanpa bertanya lagi, Basril dan Sabina sudah mulai berlari mengejar maling itu. Lari mereka cepat. Dengan gesit mereka melewati kerumunan warga. Melompat-lompat di atas peti-peti kayu. Banyak wargabyang terkagum dengan kelihaian mereka.

Abyad datang agak terlambat, tapi dia paham situasi yang terjadi. Dengan pelan, Abyad menghampiri wanita renta itu.

"Jangan khawatir, Nyonya. Barangmu akan segera kami temukan. Namun, yang jadi masalah di sini adalah teman-temanku itu terlalu bersemangat. Sampai-sampai mereka tidak bertanya mengenai ciri-ciri pelaku. Apa kau masih ingat, Nyonya?"

Wanita renta itu mengangguk dengan cepat. "Te-tentu aku masih ingat, anak muda. Si pencuri itu, dia menggunakan sepatu runcing yang terbuat dari kulit. Bajunya berwarna biru muda dengan rompi yang lumayan lusuh. Dia juga menggunakan sorban berwarna putih yang terlihat baru."

"Untuk ukuran wanita tua, daya ingatmu masih sangat tajam, Nyonya. Aku sangat kagum." Abyad memuji si wanita renta yang terlihat malu-malu setelah mendengar kata-kata manis dari Abyad. "Tunggulah sebentar di sini. Siapa pun! Tolong bantu nyonya ini untuk berdiri dan tolong berikan segelas air kepadanya."

Abyad mulai berlari mengikuti jejak Basril dan Sabina yang sudah sangat jauh. Walaupun masih kesal akan tugas ini, tapi Abyad menjalankannya dengan sungguh-sungguh.

"Baiklah, berdasarkan penjelasan wanita tua itu, si pencuri sepertinya adalah anak muda." Abyad mengusap daun telinganya. "Ke mana dia akan pergi setelah mendapatkan barang rampasannya?"

Abyad mengikuti jalanan kota Qusra yang berkelok-kelok. Kerumunan warga terkadang menyulitkannya. Abyad memperhatikan sekitar dengan seksama.

"Tunggu dulu," Abyad tiba-tiba berhenti dari larinya. "Sorban putih yang masih baru? Hmm, sepertinya aku tahu dia di mana."

***

"Ya ampun, Sabina, aku lupa menanyakan ciri-ciri si pencuri. Bagaiman kita akan mengetahuinya?" Basril menepuk dahinya.

Sabina hanya diam. Dia juga merasa kesal karena telah lalai. Sebuah tindakan yang membuat Sabina merasa malu, tapi dia tidak akan mengatakannya.

"Kalian ini memang tidak bisa berbuat banyak jika tidak berada di dekatku." Abyad tiba-tiba muncul dari balik tembok rumah warga. "Aku tahu di mana si pencuri itu berada. Ayo, ikuti aku!"

Basril dan Sabina hanya bisa saling tatap, lantas mulai mengikuti ke mana Abyad mulai berjalan. Abyad tidak menjelaskan arah tujuannya. Tapi jalan yang dipilihnya membuat Basril tidak tahan untuk bertanya.

"Kita akan ke mana? Ini bukannya daerah para orang kaya?"

"Memang benar. Dan si pencuri berada di sini." Abyad mengangkat bahunya.

"Dari mana kau tahu?" tanya Basril lagi.

"Sorban putih. Wanita tua itu berkata si pencuri menggunakan itu. Dan masih baru. Kita harus berterima kasih dengan ingatan tajam yang dimiliki si wanita tua. Aku jadi bisa menyimpulkan di mana pencuri itu berada."

"Apa hubungannya dengan sorban putih? Kau selalu berbelit-belit, Abyad." Basril bertanya dengan tidak sabaran.

Abyad mendengus. "Dan kau selalu tidak sabaran, Basril. Sorban putih itulah petunjuknya. Ingat, sorban putih hanya dikenakan oleh orang-orang dari selatan, lebih tepatnya orang-orang Uluk. Mereka adalah pedagang yang kaya raya dan selalu berjualan. Terutama di akhir tahun ini."

Basril tampak terkejut. "Kau menuduh orang-orang dari Uluklah pencurinya? Mereka itu kaya raya, lantas untuk apa mereka mencuri dari seorang wanita renta?"

"Permainan." Abyad mengangkat telunjuknya. "Walaupun mereka kaya raya, itu tidak menjadikan alasan bagi mereka untuk bermain hal seperti itu. Aku mengetahuinya dari buku di perpustakaan di Kastil Ajjar. Dan, begitulah tabiat mereka."

Basril mengerutkan alisnya. Bentuknya sudah sangat berkerut saking bingungnya. "Aku tidak paham, Abyad. Bagaimana denganmu, Sabina?"

Sabina hanya melemparkan senyum ke arah Basril. Basril tahu, itu artinya Sabina sudah paham penjelasan Abyad.

"Kau bisa bertanya langsung ke orangnya, Basril. Itu dia." Abyad menunjuk segerombolan pemuda yang sedang tertawa dengan riang di depan sebuah gedung kesenian kota Qusra. Ciri-cirinya sama seperti yang dijelaskan si wanita renta, dan salah satu pemuda itu tampak sedang menggengam sebuah tas yang lebih cocok dikenakan oleh perempuan.

"Tunggu apa lagi? Tangkaplah dan laksnakan tugas kalian!" kata Abyad santai.

Sabina dan Basril saling tatap lagi. Keduanya tersenyum karena mereka tahu perasaan Abyad sudah jauh lebih baik. Tanpa diberi perintah lagi, keduanya sudah berlari menuju gerombolan pemuda yang terkejut itu.

1
rajes salam lubis
lanjutkan thor
tetap semangat dong
rajes salam lubis
abas pamannya widura
rajes salam lubis
tetap semangat
rajes salam lubis
mantap mantap mantap
rajes salam lubis
lanjutkan
rajes salam lubis
mantap
rajes salam lubis
kirim kopi ah
tetap semangat thor
rajes salam lubis
kereeennn
rajes salam lubis
mantap
rajes salam lubis
keren
rajes salam lubis
lanjutkan
rajes salam lubis
mantap
rajes salam lubis
lanjutkan
rajes salam lubis
mantap
rajes salam lubis
lanjutkan
rajes salam lubis
ok mantap
rajes salam lubis
mantap abyad,macam detektif
rajes salam lubis
truss semangat
rajes salam lubis
mantap mantap
rajes salam lubis
lanjutkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!