NovelToon NovelToon
Bertukar Takdir Dengan Kembaranku

Bertukar Takdir Dengan Kembaranku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: raya Abc

Emma dan Ella Taylor, sepasang gadis kembar, terpisah sejak kecil akibat perceraian orang tua. Emma tumbuh di New York menjadi wanita pemarah dan sulit mengendalikan emosi, sementara Ella yang dibesarkan di Inggris justru bersifat pendiam, penakut, dan terbiasa mengalah.

Setelah dua puluh tahun, mereka bertemu secara tak terduga di atas kapal pesiar mewah.
Saling bercerita tentang beban hidup masing-masing, keduanya mengambil keputusan nekat untuk bertukar identitas dan menjalani hidup satu sama lain.

Akankah pertukaran ini menjadi jalan keluar, atau justru menjerumuskan mereka ke dalam masalah yang jauh lebih rumit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raya Abc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keluarga Harrington

Emma masih berjalan di belakang Ralph.

Rasa kesalnya belum juga hilang.

Setiap kali mengingat senyum tipis pria itu beberapa menit yang lalu, ia semakin jengkel.

"Menyebalkan."

"Benar-benar menyebalkan."

Begitu memasuki ruang tamu utama...

Keluarga Harrington telah berdiri menyambut mereka.

Sepasang suami istri berusia sekitar lima puluh tahun duduk di sofa utama.

Di samping mereka berdiri seorang pria muda berusia sekitar tiga puluh tahun dengan penampilan rapi.

Ralph lebih dulu menyapa.

"Lord Harrington."

Pria paruh baya itu tersenyum.

"Ralph."

Mereka berjabat tangan singkat.

"Lama tidak bertemu."

"Kau semakin sibuk."

"Begitulah."

Percakapan khas para bangsawan.

Singkat.

Formal.

Emma hanya berdiri di samping Ralph.

Lord Harrington kemudian mengalihkan pandangannya.

"Lady Alexander."

Emma mengangguk pelan.

"Selamat siang."

Lady Harrington tersenyum hangat.

"Sudah lama sekali kita tidak bertemu."

Emma hanya membalas dengan anggukan.

"Ya tentu saja aku minta maaf."

"Akhir-akhir ini cukup sibuk."

Lady Harrington tampak sedikit terkejut.

Biasanya Ella akan meminta maaf berkali-kali.

Hari ini...

Jawabannya jauh lebih lugas.

Semua mulai duduk.

Pelayan menyajikan teh.

Emma hanya memperhatikan.

"Nyonya."

Hannah hendak menuangkan teh ke cangkir Emma.

"Tidak."

Hannah langsung menghentikan tangannya.

"Aku bisa menuangnya sendiri."

Emma mengambil teko itu.

Menuangkan teh dengan tenang.

Lalu mengembalikan teko ke tempatnya.

Gerakannya sederhana.

Namun membuat Lady Harrington memperhatikannya cukup lama.

"Lady Alexander tampaknya lebih mandiri sekarang."

Emma mengangkat cangkirnya.

"Mungkin."

Lady Harrington tertawa kecil.

"Itu perubahan yang bagus."

Emma tidak menanggapi.

Pembicaraan kemudian beralih ke bisnis keluarga.

Emma sama sekali tidak tertarik.

Ia mengambil sebuah buku dari meja kecil di samping sofa.

Membukanya.

Membaca.

Lord Harrington berhenti berbicara.

Lady Harrington juga berkedip beberapa kali.

Belum pernah ada yang membaca buku saat tamu masih berbincang.

Ralph melirik Emma.

"Apa yang sedang kau lakukan?"

"Membaca."

"Aku bisa melihat itu."

Emma membalik halaman.

"Berarti tidak perlu bertanya."

Lady Harrington menahan senyum.

Putranya bahkan menundukkan kepala agar tidak tertawa.

Ralph tetap tenang.

"Kita sedang menerima tamu."

"Kalian sedang berbicara bisnis."

Emma masih fokus pada bukunya.

"Aku tidak mengerti bisnis keluargamu."

Lord Harrington justru tertawa pelan.

"Biarkan saja, Ralph."

"Setidaknya dia jujur."

Ralph tidak membalas.

Beberapa menit kemudian...

Putra keluarga Harrington, Adrian, akhirnya berbicara.

"Lady Alexander."

Emma mengangkat kepala.

"Ya?"

"Kudengar kau baru kembali dari kapal pesiar."

"Benar."

"Aku juga suka berlayar."

Emma mengangguk.

"Oh."

Hening.

Adrian kembali mencoba.

"Mungkin lain kali kita bisa berdiskusi tentang tempat-tempat yang pernah dikunjungi."

Emma menutup bukunya.

"Bisa."

Adrian tampak senang.

"Luar biasa."

"Kalau waktunya ada."

Senyum Adrian perlahan memudar.

Emma melanjutkan dengan nada datar.

"Karena aku tidak suka mengobrol terlalu lama."

Lady Harrington hampir tersedak tehnya.

Lord Harrington kembali tertawa.

"Anakku..."

katanya sambil menepuk bahu Adrian.

"...sepertinya kau baru saja ditolak dengan sangat sopan."

Adrian tersenyum kaku.

"Kurasa begitu."

Emma mengernyit kecil.

"Aku tidak menolak."

"Aku hanya menjelaskan kebiasaanku."

Lord Harrington tertawa lebih keras.

"Menarik."

Selama hampir satu jam...

Ralph lebih banyak berbicara mengenai urusan keluarga dan bisnis.

Sesekali ia melirik Emma.

Wanita itu sama sekali tidak mengganggu pembicaraan.

Namun juga tidak berusaha menyenangkan siapa pun.

Ia menjawab jika ditanya.

Selain itu...

Ia lebih memilih diam.

Aneh.

Tetapi...

Tidak memalukan seperti yang semula Ralph bayangkan.

Justru beberapa kali Lord Harrington terlihat menikmati jawaban-jawaban lugas Emma.

Setelah makan siang ringan selesai...

Keluarga Harrington akhirnya pamit.

Lord Harrington menjabat tangan Ralph.

"Terima kasih atas jamuannya."

"Kapan-kapan datanglah ke kediamanku."

"Tentu."

Lady Harrington kemudian menghampiri Emma.

"Lady Alexander."

Emma menoleh.

"Ya?"

Wanita paruh baya itu tersenyum lembut.

"Perubahanmu cukup mengejutkan."

Emma mengangguk.

"Aku sering mendengar itu."

"Tapi..."

Lady Harrington melirik Ralph sekilas.

"...entah kenapa, menurutku sekarang kau tampak lebih hidup."

Emma sedikit terdiam.

Belum sempat ia menjawab...

Lady Harrington sudah berjalan pergi mengikuti suami dan putranya.

Pintu utama tertutup.

Rumah kembali sunyi.

Emma mengembuskan napas panjang.

"Akhirnya selesai."

Ia berbalik hendak kembali ke perpustakaan.

Namun suara Ralph menghentikannya.

"Emma."

"Apa lagi?"

Ralph berdiri beberapa langkah darinya.

Tatapannya tenang.

"Hari ini..."

Emma menunggu.

"...kau melakukannya dengan baik."

Emma mengangkat sebelah alis.

"Itu pujian?"

"Ya."

Emma memandang Ralph beberapa detik.

Lalu berkata datar,

"Aneh."

"Apa?"

"Baru pertama kali aku mendengar kau memuji seseorang."

Ralph tidak menjawab.

Emma berbalik dan melanjutkan langkahnya menuju perpustakaan.

Sementara Ralph tetap berdiri di tempat.

Untuk pertama kalinya...

Ia mulai menyadari sesuatu yang mengganggu pikirannya.

Semakin sering ia memperhatikan istrinya...

Semakin sulit ia mengalihkan pandangan darinya.

Bahkan rumah yang dulu terasa begitu sunyi...

Kini seolah selalu memberinya kejutan setiap hari hanya karena kehadiran seorang wanita yang tak pernah bisa ia tebak.

-------

Sementara itu...

Di seberang Samudra Atlantik.

New York baru menunjukkan pukul tiga sore.

Jam kerja masih belum berakhir.

Ella menatap layar komputernya dengan serius.

Tumpukan dokumen masih memenuhi meja kerjanya.

Sejak bertukar kehidupan dengan Emma, ia berusaha menyelesaikan setiap pekerjaan sebaik mungkin.

Walaupun...

Ia masih sering merasa gugup.

Tok.

Tok.

Pintu ruangannya diketuk pelan.

Ella mengangkat kepala.

"Masuk."

Roman membuka pintu.

Seperti biasa.

Setelan jas hitam.

Ekspresi datar.

Tatapan tajam.

Ia membawa beberapa map berwarna biru.

"Dokumen proyek Lexington."

Roman meletakkan map itu di atas meja.

"Direktur William ingin laporan akhirnya besok pagi."

Ella langsung mengambilnya.

"Baik."

Roman tidak langsung pergi.

Tatapannya justru tertuju pada Ella.

"Kau terlihat lelah."

Ella tersenyum kecil.

"Sedikit."

"Kalau pekerjaan terlalu banyak..."

Roman berhenti sejenak.

"...aku bisa mengambil sebagian."

Ella tampak terkejut.

"Tidak apa-apa."

"Aku masih sanggup."

Roman mengangguk pelan.

"Kalau begitu."

Ia berbalik.

Namun baru dua langkah...

Suara notifikasi dari ponsel Ella terdengar.

Ella melirik layar.

Senyumnya perlahan menghilang.

Ayah.

Roman sempat memperhatikan perubahan ekspresi itu.

"Kabar buruk?"

Ella menggeleng pelan.

"Bukan."

"Hanya pesan dari keluarga."

Roman tidak bertanya lagi.

"Kalau begitu aku kembali bekerja."

"Terima kasih."

Setelah Roman keluar, Ella baru membuka pesan itu.

Ayah

"Malam ini pulanglah lebih awal. Ayah ingin makan malam bersamamu. Sudah lama kita tidak menghabiskan waktu berdua."

Ella membeku.

Ia membaca pesan itu berulang kali.

Jantungnya mulai berdegup lebih cepat.

"Astaga..."

gumamnya lirih.

Ia belum pernah bertemu ayah Emma sejak pertukaran.

Selama ini mereka hanya saling bertukar pesan singkat.

Sedangkan makan malam...

Berarti mereka akan berbicara cukup lama.

Ella langsung membuka aplikasi pesan.

Jarinya bergerak cepat.

Ella

"Emma, kalau kau melihat ini balas pesanku." "Ayahmu hm maksudku ayah kita mengajakku makan malam nanti. Aku mulai panik."

Pesan terkirim.

Namun tidak ada balasan.

Di Inggris saat itu sudah hampir pukul sembilan malam.

Emma kemungkinan besar sudah tidur.

Ella menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Tenang..."

"Kau hanya perlu menjadi Emma."

Kalimat itu justru membuatnya semakin gugup.

Emma sangat berbeda dengannya.

Emma berbicara cepat.

Tegas.

Kadang ketus.

Sedangkan dirinya...

Bahkan meminta tambahan saus di restoran saja sering merasa sungkan.

Ia memejamkan mata beberapa detik.

Mengingat semua pesan dan cerita Emma tentang ayahnya.

"Ayahku memang keras."

"Tapi dia tidak banyak bicara."

"Kalau beliau mengajak makan, biasanya hanya ingin memastikan aku masih hidup dan belum membuat masalah."

Ella tersenyum tipis mengingat kalimat terakhir itu.

"Semoga saja..."

Tak lama kemudian ponselnya kembali bergetar.

Bukan dari Emma.

Melainkan dari William.

"Sebelum pulang, temui saya di ruang kerja."

Ella menarik napas panjang.

"Semoga hari ini cepat selesai..."

Ia merapikan dokumen di mejanya, mengambil map proyek, lalu berdiri.

Tanpa ia sadari...

Malam ini bukan hanya makan malam biasa.

Ini adalah pertama kalinya ia harus duduk berhadapan dengan pria yang telah membesarkan Emma seorang diri selama dua puluh tahun.

Dan berbeda dengan Ralph yang baru mengenal perubahan "Ella" beberapa hari...

Pria itu mengenal putrinya sejak lahir.

Sedikit kesalahan saja...

Bisa membuat penyamaran Ella mulai retak.

1
Sriza Juniarti
lanjut kk..terus berkaeya..bagus banget
Sriza Juniarti
lanjut kk
mulai ngikuti sepertinya menarik
putmelyana
omg seharian nyari cerita bagus akhirnya ketemu jga aku bakalan masukin daftar cerita favorit aku. gak sia² secrol cari cerita bagus akhirnya ketemu jga. next Thor ceritanya aku tungguin🥰
rhien90
lanjuuuutt kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!