Hannah adalah wanita bercadar yang menyimpan masa lalu kelam. Pertemuannya kembali dengan Faz, lelaki yang pernah menolongnya, membuat cinta tumbuh hingga mereka hampir bertunangan.
Namun sebuah rahasia membuat mereka tak bisa bersama. Saat Hannah harus merelakan cintanya, Arif—lelaki yang diam-diam telah lama mencintainya—datang membawa sebuah lamaran.
Di antara cinta, luka, dan takdir, Hannah harus menentukan jalan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka Lama
“Hi, Assalamu’alaikum. Aku Hannah. Fotografer yang akan memotret kamu kelak.”
Pesan itu sudah dikirim Hannah sejak dua belas jam yang lalu.
Namun sampai sekarang, belum ada satu pun balasan dari Faz.
Hannah kembali membuka Instagram. Layar ponselnya masih menampilkan percakapan yang sama. Pesannya berdiri sendiri, tanpa tanda-tanda akan mendapatkan jawaban.
Ia mengembuskan napas pelan.
“Apakah kata-kataku terdengar seperti orang gila?”
Hannah mengerutkan kening.
Mungkin terlalu tiba-tiba.
Mungkin terlalu sok akrab.
Atau jangan-jangan Faz menganggapnya aneh karena akun Instagram Hannah bersifat private.
Akhirnya Hannah membuka profil Faz.
Jarinya berhenti beberapa detik di atas tombol Follow.
“Ya Allah…”
Ia ragu.
Namun setelah menarik napas panjang, akhirnya ia menekan tombol itu.
Setidaknya sekarang Faz tahu bahwa dirinya benar-benar orang yang menghubunginya. Bukan akun palsu. Bukan seseorang yang berniat buruk.
Hannah kembali menatap layar.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Lima belas menit.
Tidak ada balasan.
Ia meletakkan ponselnya di atas meja, tetapi beberapa detik kemudian tangannya kembali meraihnya.
Tetap tidak ada.
“Hannah, makan dulu.”
Suara Ibu dari ruang makan membuat Hannah tersentak.
“Nanti, Buk.”
“Kamu dari tadi pegang HP terus.”
“Iya, Buk.”
Hannah tersenyum tipis, berusaha terdengar biasa.
Namun setelah ibunya pergi, senyum itu menghilang.
Dadanya kembali terasa sesak.
Entah mengapa, menunggu balasan dari Faz membuat sesuatu yang sudah lama ia kubur kembali mengetuk-ngetuk pikirannya.
Sebuah kejadian yang selama bertahun-tahun berusaha ia lupakan.
Sebuah malam yang seharusnya menjadi kenangan indah setelah kelulusan.
Namun justru berubah menjadi mimpi buruk yang tidak pernah benar-benar selesai.
---¤---
“Han, aku nggak bisa ikut acara sampai selesai. Kamu harus jaga diri baik-baik.”
Riri merapikan tasnya sebelum pergi. Ia tiba-tiba dihubungi rumah bahwa ibunya sakit.
“Al, aku titip Hannah, ya.”
Alya mengangguk.
“Tenang saja, Ri. Hannah akan aku jaga.”
“Aku akan baik-baik saja, Ri,” Hannah ikut meyakinkan.
Saat itu Hannah benar-benar percaya pada mereka.
Hari itu adalah acara kelulusannya.
Dan untuk pertama kalinya sejak kelas tujuh SMP, Hannah melepas hijabnya.
Semuanya bermula dari ajakan sederhana.
Mereka berkumpul di rumah Fawwaz, teman sekelas mereka yang terkenal paling berada. Awalnya hanya makan-makan, bercanda, dan mengambil foto bersama.
Sampai akhirnya Alya mengusulkan sesuatu.
“Han, ikut ke tempat lain, yuk. Kami berencana ke tempat ke dua."
“Ke mana?”
“Diskotik.”
Hannah langsung menggeleng.
“Nggak, Al.”
“Ayolah, Han. Nggak seru kalau sekelas nggak lengkap. Riri sudah nggak ikut. Masa kamu juga nggak ikut?”
Hannah diam.
“Hanya sekali, Han. Please.”
Hannah menatap Alya cukup lama.
“Baiklah.”
“Yees! Go!”
Alya langsung bersorak.
Namun sesampainya di kamar, Alya justru memperhatikan pakaian Hannah.
“Kamu harus ganti baju.”
“Kenapa?”
“Masak ke diskotik kayak ustadzah?”
Hannah menunduk melihat pakaiannya. Ia masih mengenakan seragam putih abu-abu dengan jilbab putih lebar dan jaket panjang hingga lutut.
“Apa yang salah?”
“Lihat yang lain, Han.”
Hannah menoleh.
Teman-temannya sudah berganti pakaian. Sebagian besar memang masih mengenakan hijab dalam keseharian, tetapi malam itu mereka melepasnya.
“Kamu juga harus lepas hijabmu, Han.”
Hannah terdiam.
“Terus jaket ini terlalu besar. Pakai jaketku saja.”
Alya menyodorkan jaket denim pendek.
“Tapi bagaimana kalau Ibu marah?” suara Hannah mengecil. “Aku nggak pernah melepas hijab, Al.”
“Ini rahasia.”
Alya tersenyum meyakinkan.
“Ibumu nggak akan pernah tahu.”
“Tapi…”
“Nggak apa-apa, Han. Sekali seumur hidup.”
Alya menggenggam tangannya.
“Anggap saja hari ini hari paling bahagia. Kita bebas melakukan apa saja.”
Hannah masih ragu.
Namun akhirnya ia mengalah.
Itulah pertama kalinya Hannah melepas hijab setelah bertahun-tahun.
Alya membantunya berdandan. Rambut panjang Hannah yang selama ini tertutup hijab kini terurai. Seragamnya ditata agar tidak terlihat terlalu formal, kemudian jaket denim pendek dikenakan di atasnya.
Alya tersenyum puas.
“Kamu cantik sekali, Princess.”
Fawwaz yang melihatnya pun ikut tersenyum.
“You're beautiful, Han.”
Beberapa pasang mata tertuju kepada Hannah.
Hannah salah tingkah.
Ia tidak tahu harus merasa senang atau justru malu.
“Baiklah. Mari kita berangkat,” ajak Alya.
Malam itu mereka pergi.
Malam yang awalnya Hannah kira akan menjadi kenangan indah setelah kelulusan.
Namun ternyata justru menjadi malam yang paling ingin ia hapus dari hidupnya.
---¤---
Hannah mengedipkan mata.
Napasnya tiba-tiba terasa berat.
Ingatan itu berhenti tepat di sana.
Tidak.
Ia tidak mau mengingat kelanjutannya.
Tangannya mencengkeram ponsel lebih erat.
“Jangan…”
Suara Hannah nyaris tak terdengar.
Ia memejamkan mata.
Namun semakin ia berusaha mengusirnya, semakin jelas bayangan itu datang.
Lampu yang berkelap-kelip.
Suara musik yang memekakkan telinga.
Tawa orang-orang.
Dan kemudian—
Sebuah tangan.
Dorongan keras.
Tubuhnya terhuyung.
Hannah membuka mata lebar-lebar.
Jantungnya berdegup semakin cepat.
Ia tidak sanggup mengingat apa yang terjadi setelah itu.
Yang ia tahu, malam itu telah mengubah dirinya.
Dan sejak malam itu pula, Hannah tidak pernah lagi menjadi Hannah yang sama.
Ponselnya kembali bergetar.
Hannah tersentak.
Matanya langsung tertuju pada layar.
Satu notifikasi Instagram.
Jantungnya kembali berdebar.
Namun kali ini bukan karena masa lalu.
Nama Faz muncul di layar.
Faz membalas pesanmu.
Tangan Hannah mendadak dingin.
Ia menatap notifikasi itu cukup lama.
Di satu sisi, ia ingin segera membukanya.
Di sisi lain, sebuah ketakutan aneh kembali muncul.
Bagaimana jika pertemuan mereka kelak membuka kembali semua luka yang selama ini susah payah ia sembunyikan?
semangat terus kaa😍😍
semangat nulis
mampir juga di karyaku Rotinya Manis, Rin😊