NovelToon NovelToon
Pacar Sewa Satu Milyar

Pacar Sewa Satu Milyar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:241
Nilai: 5
Nama Author: Ddie

Andi, seorang akuntan kuper yang hidupnya lurus seperti tabel Excel, panik ketika menerima undangan reuni SMA. Masalahnya: dulu dia selalu jadi bahan ejekan karena jomblo kronis. Tak mau terlihat memprihatinkan di depan teman-teman lamanya, Andi nekat menyewa seorang pacar profesional bernama Nayla—cantik, cerdas, dan terlalu mahal untuk dompetnya.

Namun Nayla punya syarat gila: “Kalau kamu jatuh cinta sama gue, dendanya satu milyar.”
Awalnya Andi yakin aman—dia terlalu canggung untuk jatuh cinta.

Tapi setelah pura-pura pacaran, makan bareng, dan menghadapi masa lalu yang muncul kembali di reuni… Andi mulai menyadari sesuatu: dia sedang terjebak.
Antara cinta pura-pura, kontrak tak wajar, dan perasaan yang benar-benar tumbuh.

Dan setiap degup jantungnya… makin mendekatkannya ke denda satu milyar

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pura pura atau Realita?

Menjelang sore, matahari menyemburkan warna jingga merayap di atas permukaan jalan raya yang berdebu. Andi menarik tuas rem mobil perlahan, membiarkan mesin berhenti dengan suara lembut.

Ia tidak langsung kembali ke kantor—tempat selama ini terasa seperti rumah kedua dengan meja kerja rapi, rak berkas tersusun, dan aroma kopi instan yang tak pernah hilang. Ia justru memilih duduk diam di dalam mobil terparkir di bawah bayangan pohon flamboyan tua. Daun-daun merahnya berguguran seiring datangnya musim kemarau, ada yang bergolek di atas kap mesin masih hangat, sebelum akhirnya menghilang ke dalam rerumputan.

Kata-kata Dio masih menggantung di kepalanya, bagai asap rokok tak terlihat jelas, tetapi terasa nyata hingga membuat dadanya sesak.

Mereka bertemu di kedai kopi lawas sejak masa kuliah masih menyimpan aroma kayu tua dan kenangan lama. Dio duduk di sisinya, wajahnya dulu selalu ceria kini tampak lebih matang, dengan kerutan halus di sekitar mata seolah menyimpan banyak cerita.

“Jalan selalu punya pintu cadangan, kan, Ndik?” ucap Dio sambil mengaduk kopi hitamnya. “Pekerjaan aman yang bisa lu andalkan, relasi terkelola rapi, semuanya sudah lu siapkan matang. Lu selalu mengunci rapi segalanya, memberi label ‘darurat’ kalau ada yang mulai mengganggu ritme.

" Memang begitu hidup gue."

"Tapi Nayla…” Dio terdiam sejenak. “Entah bagaimana, dia berdiri tepat di ambang pintu itu—tidak memaksa menutupnya rapat atau membukanya lebar-lebar. Seolah dia tahu batasan yang lu buat, tapi juga tak mau pergi.”

Andi menghela napas panjang, menyentuh layar ponsel di atas dasbor. Ia tahu Dio tidak berbicara tanpa alasan. Temannya itu selalu pandai membaca orang, terutama dirinya yang sudah berteman sejak SMA.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Nama grup muncul di layar: REUNI ANGKATAN ‘08 — FINAL COUNTDOWN. Grup WhatsApp yang bertahun-tahun terdiam itu kini ramai. Seseorang menandainya:

“Andi lu datang kan? Jomblo bukan alasan klise, awas lu kalau bawa Mama."

Ia membaca pesan itu berulang kali tanpa ingin membalas. Kenangan dulu terasa ringan, kini terasa berat seperti batu di dada. Mereka akan bertanya tentang pekerjaan, pernikahan, keluarga—tentang bagaimana ia bisa menjadi orang “berhasil” seperti yang mereka duga. Tapi apa yang harus ia katakan? Bahwa ia sedang bermain peran dalam hidupnya sendiri? Bahwa hubungannya dengan Nayla— awalnya hanya kontrak untuk menghindari tekanan keluarga—ternyata sudah mulai mengubah segalanya?

\=\=

Di sisi lain kota, Nayla duduk di lantai kamar kosnya yang sempit namun bersih. Kamarnya hanya memiliki satu jendela kecil menghadap ke jalan belakang, di mana suara kendaraan dan obrolan dari warung terdengar jelas. Di sudut, ada lemari plastik biru yang sudah menguning dan meja lipat kayu goyah untuk buku-buku serta alat tulisnya.

Ia menatap layar ponsel tanpa benar-benar membaca apa pun. Nayla tahu Dio bertemu Andi hari ini—bukan karena Andi memberitahunya, tapi karena Dio adalah orang yang jujur dan lugas. Ia juga paham alasan di balik pertemuan itu: Dio pasti khawatir dengan Andi, tampak kuat di luar namun sebenarnya terbebani.

Andi biasanya cepat membalas pesan, bahkan sekadar dengan satu kata. Malam ini, jam sudah menunjukkan pukul sembilan lewat seperempat, tapi belum ada balasan dari pesannya beberapa jam lalu: “Kabar baik, tugas akhir gue sudah lulus revisi. Akhirnya bisa lega sedikit.” Ia tahu ada sesuatu yang terjadi.

Saat layar ponsel akhirnya menyala, Nayla menarik napas dalam sebelum membukanya. Isinya singkat, " Gue ketemu Dio."

Nayla tidak langsung membalas meletakkan ponsel di pangkuannya sejenak, lalu menatap jendela mulai dihiasi titik-titik lampu. Pertemuan itu pasti bukan sekadar obrolan biasa. Ia mengambil ponsel lagi dan mengetik:

Terus? Apa katanya?

Tiga titik muncul di layar, hilang, lalu muncul lagi. Ia bisa membayangkan Andi berpikir serius sebelum menulis:

Dia tanya soal reuni. Tapi… dia bilang lu bukan cuma ‘teman’ buat gue tapi membuat gue lebih manusiawi.

Nayla tersenyum kecil, mengusap permukaan meja lipat kasar. Ia sudah lama menduga orang-orang dekat Andi mulai sadar bahwa hubungan mereka bukan sekadar yang mereka kira. Meski sudah menduga, dan sempat berharap dugaannya salah—bahwa ini permainan peran sampai waktu disepakati. Ia mengetik lagi: Dia tahu soal kontrak kita?

Dia nggak bilang langsung, tapi dia tahu tanpa gue jelaskan.

Nayla memejamkan mata. Bukan karena takut, tapi karena lelah dengan semua kebohongan dan hal yang harus disembunyikan. Awalnya, ia hanya berempati pada Andi ditekan keluarga untuk segera menikah. Namun seiring waktu, ia sadar dirinya mulai terlibat secara emosional dengan pria tampak kuat tapi sangat lembut di dalam. Ia mengetik dengan jujur:

Berarti kita harus lebih jujur dari yang kita rencanakan—terutama pada diri sendiri.

\=\=

Hari-hari berikutnya berjalan dengan ritme aneh bagi mereka. Tidak ada pertengkaran atau drama, bahkan tidak ada percakapan terlalu dalam tentang apa yang akan terjadi. Semuanya justru terasa terlalu normal—seperti dua orang yang tahu badai akan datang, tapi masih menyiram tanaman dengan tenang.

“Latihan” pacaran yang mereka sepakati di awal perlahan berubah. Pertemuan di kafe atau taman tak lagi sekadar pura-pura. Andi mulai mengirim pesan untuk memastikan Nayla sudah makan. Nayla memberi nasihat saat Andi menghadapi masalah kerja. Kadang mereka hanya duduk diam bersama, tanpa perlu kata-kata.

Suatu malam, pukul sebelah lewat lima puluh, ponsel Nayla bergetar. Andi mengirim pesan:

Nay… boleh gue ke rumah sekarang? Kalau tidak sibuk.

Kenapa tiba-tiba? Sudah larut.

Pengin cerita. Gue bawa makanan, lu pasti belum makan.

Nayla diam sejenak. Pria itu pasti sedang memikirkan sesuatu berat. Ia akhirnya membalas: “Baiklah. Tapi kamar gue kecil.”

Setengah jam kemudian, ketukan lembut terdengar di pintu. Nayla membuka dan melihatnya berdiri dengan dua bungkus nasi goreng hangat, wajahnya tampak lelah, tapi penuh keseriusan.

Mereka duduk di lantai, punggung bersandar ke kasur, dan makan nasi goreng dari wadah yang sama. Tangan mereka kadang bersentuhan, bahu berdekatan, tanpa rasa canggung.

“Ini bukan bagian dari kontrak kita, kan?” tanya Nayla tiba-tiba, menatap nasi goreng di depan mereka.

“Yang mana?”

“Datang ke tempat gue… melihat hidup gue sesederhana ini.”

Laki laki itu memandang sekeliling kamar, kecil, tapi bersih dan rapi. Buku tersusun di meja, baju dilipat dalam lemari, tanaman kecil di jendela memberi kesan segar. Tidak ada yang disembunyikan atau dipamerkan. Semuanya apa adanya.

“Gue tidak lagi merasa ini cuma latihan, Nay,” jawabnya mata lembut. “Gue hidup benar untuk pertama kalinya, kebohongan dan topeng yang gue pakai selama ini mulai terlepas.”

“Itu yang berbahaya. Karena kalau kita sudah nyaman dengan kebenaran, kita tak bisa kembali ke dunia kebohongan.”

Mereka diam sejenak, hanya terdengar napas dan suara kendaraan di luar.

“Kak,” Ia memecah kesunyian. “Kalau nanti di reuni ada yang tanya… gue ini siapa bagi kakak—apa yang akan kakak jawab?”

Andi menatapnya lama, tanpa keraguan. “Kamu mau gue jawab apa? Bilang saja yang ingin lu dengar.”

Nayla menggeleng, senyumnya tetap ada. “Jawab yang paling tidak membuat kakak malu pada diri sendiri. Itu yang paling penting.”

\=\=

Dua hari sebelum reuni, ponsel Andi berdering. Dari Mamanya kali ini, ia tidak menghindar.

“Halo, Mama.”

“Mama baik-baik saja, Nak,” suara ibunya lembut. “Mama tidak mau menyelidiki hidupmu. Mama hanya ingin tahu … kamu pulang untuk siapa ?"

Pertanyaan sederhana itu membuat Andi terdiam merenung, mencari jawaban di dalam hati.

“Aku akan datang sebagai Andi, Mama,” jawabnya akhirnya, tegas. “Bukan sebagai anak harus memenuhi ekspektasi orang, bukan sebagai pria sukses harus selalu kuat. Hanya sebagai diriku sendiri—dengan semua kelebihan dan kekurangannya.”

Di seberang telepon, ibunya terdiam sesaat.

“Baik,” katanya kemudian. “Mama tunggu Andi yang itu, ingat janji mu dengan mama dan Sofia."

Telepon ditutup. Andi menatap langit-langit, dadanya terasa ringan dan berat sekaligus.

Malam sebelum reuni, Nayla berdiri di depan cermin kecilnya. Ia tidak berdandan berlebihan hanya memastikan satu hal: besok, ia akan melangkah bukan sebagai peran.

Pesan Andi masuk:

"Besok gue jemput.."

"Keputusannya?

Gue belum tahu hasilnya. Tapi gue tahu arahnya.

Cukuplah itu.

Di luar, malam Jakarta berdengung pelan. Reuni tinggal hitungan jam.Dan di antara kontrak, masa lalu, dan kemungkinan kehilangan—dua orang yang awalnya hanya sepakat berpura-pura akhirnya berdiri di titik yang sama tidak lagi bersembunyi dan ancaman satu milyar akan mendekat.

1
Greta Ela🦋🌺
Dah ketebak pasti si Nayla/Facepalm/
Ddie: 🤣🤣 ...ya gitu dk...Nayla
total 1 replies
Greta Ela🦋🌺
Jadi dia ini anak mama yang manja ya/Chuckle/
Ddie: ya begitu lah dk ...kalau dk gak begitu ya..mandiri ...mandi sendiri
total 1 replies
Ddie
lucu absurd tapi mengena di hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!